
Christian saat ini turun dari mobil Vicky Begitu tiba di perusahaan dan membiarkan dua koper miliknya tetap di sana karena nanti akan dipindahkan ke mobil Ana.
Ia berjalan menuju ke arah lobby perusahaan bersama dengan sang asisten dan tentu saja mendapatkan penghormatan serta sapaan dari beberapa staf yang melihatnya.
"Aaah ... baru satu bulan pergi saja membuatku seperti sudah lama meninggalkan perusahaan ini." Christian melirik ke arah asisten pribadinya yang baru saja memeriksa ponsel setelah mendengar suara notifikasi. "Pesan dari siapa?"
Vicky yang baru saja masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusahaan bersama dengan bosnya tersebut, seketika menunjukkan benda pipih tangannya agar pria yang sangat dihormatinya tersebut membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh sang istri.
"Lebih baik Anda membacanya sendiri." Vicky tidak tahu harus berbuat apa ketika mendapatkan perintah dari bos perempuan perusahaan."
Sementara itu, Christian yang saat ini tengah menatap ke arah ponsel Vicky, mulai membuka suara untuk membaca pesan dari sang istri.
"Apa kamu sudah tiba di perusahaan? Rasanya tenggorokanku sangat kering dan ingin makan sesuatu yang hangat dan berkuah. Apa kamu bisa mampir ke salah satu penjual bakso? Tiba-tiba aku ingin makan bakso tanpa diberikan saos maupun sambal. Pasti rasanya sangat nikmat." Christian pesan dari Ana dan melirik ke arah sang asisten.
Karena lama-kelamaan merasa jika Ana terlalu bergantung pada Vicky dan khawatir jika nanti akan menimbulkan kenyamanan dan akhirnya berakhir dengan perselingkuhan.
"Apa istriku selalu meminta hal-hal pribadi seperti ini? Bahkan kamu malah seperti suami tengah melayani istri saat mengidam. Awas jika sampai kamu tertarik pada istriku karena akan benar-benar menghabisimu jika berselingkuh dengannya." Bahkan ia mengarahkan kepalan tangan ke arah wajah asistennya tersebut.
Christian melihat Vicky sangat santai dan tidak takut pada ancamannya. Bahkan bersikap datar seolah tidak memperdulikannya, sehingga membuatnya kesal.
Refleks ia mengarahkan pukulan pada lengan kekar di balik jas berwarna hitam tersebut. "Rasanya aku ingin membuat wajahmu babak belur saat menampilkan wajah datar dan dingin seperti itu."
Vicky saat ini hanya meringis sedikit ketika mendapatkan pukulan. Ia yang pegang sama sekali tidak pernah terpikir untuk berselingkuh dengan istri dari atasannya. Meskipun ia akui selama ini sangat mengagumi seorang Ana Maria, tapi tetap saja tidak akan berbuat gila seperti itu.
"Maafkan saya jika membuat Anda kesal, Tuan Christian karena memang dari dulu wajah saya seperti ini. Makanya tidak ada wanita yang menyukai saya karena takut pada wajah datar seperti ini." Menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
"Jadi, jika Anda sampai berpikir nona Ana lama-kelamaan menyukai saya, malah saya yang takut karena berpikir istri Anda tidak normal. Jadi, bagaimana dengan permintaan nona Ana? Apakah saya harus pergi membelikannya atau tidak?" Vicky menunggu keputusan dari bosnya yang terlihat sangat kesal padanya.
__ADS_1
Namun, ia tahu bahwa pimpinannya tersebut hanya sedang bercanda saja. Jadi, berpikir jika saat ini ia tidak pernah berpikir macam-macam ataupun mengambil hati dengan perkataan bosnya tersebut.
Sementara itu, Christian yang saat ini ingin mengajak Ana makan bakso di tempat favorit mereka dulu saat masih pacaran, sehingga menggelengkan kepala.
"Tidak perlu kamu belikan karena aku akan pergi sendiri bersama istriku." Ia pun kembali meninju dengan kekar masih setengah tersebut ketika mengingat ejekannya. "Istriku aku sangat normal dan tidak akan tertarik padamu. Jadi, jangan kuatir!"
Kemudian Christian saat ini berjalan menuju ke arah ruangan kerjanya. "Kembalilah ke ruanganmu dan jangan mengganggu kami." Mengibaskan tangannya dan berlalu pergi dari sang asisten menuju ke arah ruangan yang selama ini ditinggalkan satu bulan lebih.
Dengan berjalan mengendap-ngendap seperti seorang pencuri yang tidak ingin ketahuan, membuka pintu dengan sangat berhati-hati agar tidak terdengar oleh Ana yang beristirahat di dalam.
Hingga ia pun langsung membuka pintu ruangan khusus di pojok tersebut dan melihat istri yang sedang berbaring pada posisi memunggunginya dan seketika terkejut saat pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
Ana yang tadinya miring ke kanan sambil menunggu balasan dari Vicky yang sudah membaca pesannya, tadinya merasa aneh karena tidak langsung dibalas.
Hingga ia pun sangat terkejut begitu pintu tiba-tiba terbuka dan berpikir bahwa itu adalah Vicky yang masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Apalagi saat ini ia hanya mengenakan rok selutut dan melepaskan stocking dari kaki.
Pastinya menampilkan kakinya yang putih ketika berada di atas ranjang. Namun, saat berbalik badan, melihat sosok pria yang sangat dirindukannya sudah berdiri di depan pintu dan membuatnya berteriak dengan wajah terkejut.
"Surprise!" seru Christian yang saat ini tersenyum lebar begitu melihat raut wajah terkejut dari Ana Maria.
Bahkan tubuhnya seketika mundur ke belakang beberapa langkah saat Ana Maria menghambur memeluknya dengan sangat kuat.
"Kamu jahat, Sayang! Aku benar-benar terkejut mendapatkan surprise darimu. Kamu sukses membuatku merasa shock di saat aku sedang tidak enak badan." Ana berbicara sambil mengarahkan pukulan pada punggung lebar sang suami karena merasa sangat kesal sekaligus senang.
Apalagi sudah lama ia tidak mendapatkan sebuah kejutan dari sang suami. Ia merasa sangat bahagia hari ini ketika pria yang sangat dirindukannya sudah pulang dan langsung menuju ke kantor.
Christian yang bisa melihat bahwa wajah Ana sangat pucat dengan suara serak, kini membiarkan sang istri berbuat sesuka hati padanya agar meluapkan semua perasaan yang membuncah.
__ADS_1
Apalagi ia tahu bahwa Ana sangat merindukannya dan ia saat ini berpikir bahwa sang istri akan segera sembuh begitu melihatnya datang.
"Pukullah aku sepuas hatimu, Sayang. Aku tidak akan menolaknya karena tahu bahwa itu adalah sebuah ungkapan cinta dan kerinduan darimu." Saat Christian mengingat mengenai permintaan sang istri pada Vicky, membuatnya merasa sangat kesal.
Ana kini melepaskan pelukan dan beralih mencubit pinggang kokoh sang suami. "Dasar lebay, tapi aku suka melihatmu nakal seperti ini, Sayang karena sudah lama tidak melihat suamiku yang sangat mesum."
Sementara itu, Christian saat ini hanya terkekeh geli mendengar respon dari sang istri. "Tapi kamu suka aku yang mesum, kan? Makanya kamu tergila-gila padaku. Aaah ... kebetulan aku ingin bertanya padamu, Sayang."
Ana yang tadinya tertawa karena digoda oleh sang suami, kini mengerutkan kening ketika melihat dia di hadapannya tersebut seperti tengah serius.
"Bertanya apa?" tanya Ana yang saat ini juga penasaran ketika melihat pria yang sangat dirindukannya tersebut terlihat serius.
Kemudian Christian menceritakan apa yang tadi dibacanya dan meluapkan kecemburuan agar Ana mengerti apa yang saat ini dirasakan olehnya. Ia menatap tajam sang istri, berharap agar tidak mengulangi sesuatu yang membuatnya merasa cemburu.
"Wah ... apa bisa dibilang jika saat ini suamiku tengah cemburu? Bisa-bisanya kamu berpikir posisimu bisa digantikan oleh asistenmu. Astaga! Bukankah itu sangat konyol sekali?" Ana Maria akan tertawa terbahak-bahak ketika menganggap jika sikap sang suami sangat berlebihan.
Apalagi kecemburuan tidak berdasar yang dianggap sangat konyol karena hanya gara-gara ia memesan bakso. "Aku hanya ingin dibelikan bakso karena sedang tidak berselera makan dan merasa pusing akibat demam, tapi kamu malah berpikir macam-macam."
Bahkan saat Ana Maria tertawa mengejeknya, Christian selalu melihat jika senyum sang istri sangat manis dan selalu membuatnya terpesona, langsung menghubungkan bibir sensual berwarna nude tersebut.
Ia meluapkan kerinduan pada sang istri dan berharap jika sakit Ana segera sembuh.
Di sisi lain, Ana Maria yang selama ini sangat merindukan pria yang telah sibuk menyesap serta ******* bibirnya dan langsung ia balas dengan penuh gairah tanpa memperdulikan rasa pusing di kepala beberapa saat lalu.
Hingga ia pun melingkarkan tangan pada pinggang kokoh sang suami yang sudah mengirimkan gelenjar aneh di seluruh tubuhnya yang makin memanas.
Christian yang awalnya hanya ingin mencium Ana karena gemas serta sangat merindukannya, kini merasakan sang istri sudah mulai bergairah karena sudah berani berbuat nakal seperti biasa dengan bergerak menarik resleting celananya ke bawah.
__ADS_1
Tentu saja ia tahu apa yang diinginkan oleh sang istri ketika melakukannya. 'Aku tidak boleh terlihat loyo dan harus bisa membuat Ana puas, agar ia tidak curiga padaku. Padahal sebenarnya aku merasa sangat lelah dan berpikir jika Ana sedang sakit, sehingga tidak memintanya.'
To be continued...