
"Hari ini kamu pasti berhasil melengserkan kursi kepemimpinan CEO lama," ucap Mario yang beberapa saat lalu menunggu orang yang ditugaskan untuk memungut kertas hasil suara dari semua anggota meeting hari ini.
Bahkan ia dan Laura sendiri sudah memberikan suara dan tinggal menunggu giliran menyerahkan karena dua pria masih berkeliling meminta kertas suara.
Apalagi Mario kali ini ingin mengalihkan perhatian dari Laura agar tidak terus bersitatap dengan Christian yang tentu saja membuatnya merasa cemburu. Bahkan ia kali ini mengajak bicara dengan bahasa asing agar terlihat meyakinkan di depan semua orang.
Sementara itu, Laura yang dari tadi sangat percaya diri jika kursi kepemimpinan hari ini akan jatuh ke tangannya karena sudah menunjukkan kemampuannya untuk semakin memajukan perusahaan.
"Ya, kau benar. Kau lihat wajah para pengkhianat itu, kan? Sangat menyedihkan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan bajingan itu pun berniat kabur dariku dan berpikir bisa menghindar dengan tidak menemuiku lagi setelah menawarkan sahamnya." Laura terkekeh geli melihat raut wajah Christian yang tadi sangat terkejut dan berubah pucat seperti baru saja melihat hantu.
"Kau tadi juga melihatnya, kan?" Laura yang merasa jika sampai sekarang Christian masih tidak berhenti menatapnya, kini masih memandang Mario yang berada di sebelahnya.
Sengaja ia mengulas senyuman pada Mario agar terlihat akrab dan Christian berpikir bahwa ia dekat dengan pria yang ada di hadapannya tersebut.
Mario yang mengetahui akting dari Laura, kini mengikuti dengan mengulas senyuman yang sama meskipun jauh di dalam hati tidak menyukainya. Karena Laura melakukan itu hanya demi bisa membalas dendam pada sosok pria yang berada tak jauh dari tempat duduk mereka.
"Ya, aku juga melihatnya tadi saat wajahnya pucat dan seperti baru saja melihat mayat bangkit dari kuburnya." Saat Mario baru saja menutup mulut, melihat Laura yang seketika tertawa terbahak dan membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menatapnya.
Laura yang tidak bisa mengendalikan diri begitu kalimat terakhir yang diungkapkan oleh Mario sangat mewakili apa yang dirasakan oleh Christian.
Bahkan membuatnya seketika membekap mulut meskipun itu hanya sebuah kepura-puraan semata karena masih tetap tertawa lepas dan menunjukkan bahwa hari ini adalah hari paling membahagiakan baginya.
__ADS_1
"Ya, kau memang benar. Aaah ... aku sampai tidak bisa menahan diri saat merasa bahwa pria bodoh itu sudah masuk dalam perangkap." Laura kali ini sengaja berbicara lirih di daun telinga Mario karena tidak ingin ada yang mendengar serta ingin makin membuat Christian mengerti bahwa ia hidup bahagia tanpa pria itu setelah dihancurkan.
'Kau harus melihat jika aku bisa bertahan hidup setelah kau hancurkan menjadi serpihan abu. Aku bisa berjalan dengan tegak dan suatu saat giliranmu hancur menjadi debu dan tertiup angin tanpa menyisakan apapun,' gumam Laura yang baru saja menarik diri setelah berbisik di dekat daun telinga Mario.
Di sisi lain, sosok pria yang berada di barisan paling belakang, tak lain adalah Christian dan dari tadi terus menatap ke arah wanita dengan setelan berwarna merah itu.
'Wah ... Laura terlihat sangat bahagia sampai bisa tertawa selepas itu bersama dengan pria bernama Mario. Apa dia sama sekali tidak mengingat tentang semua kenangan indah kami saat masih bersama ketika melihatku?' Christian hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati tanpa berbuat apapun.
Sebenarnya ia tidak ingin melihat interaksi antara wanita yang pernah menjadi istri sirinya tersebut hingga melahirkan keturunan yang merupakan buah cinta mereka, tapi tetap saja tidak bisa mengalihkan perhatian.
Ia bahkan saat ini menatap ke arah sosok pria yang terlihat sangat mencintai Laura karena ia tahu tatapan seorang pria yang mempunyai perasaan spesial untuk seorang wanita.
"Apa mereka sudah menikah?" Kali ini Christian berbicara lirih dan didengar oleh salah satu pria dengan tubuh agak sedikit gemuk dan menatap ke arahnya sambil menanggapi.
Pria dengan rambut cepak tersebut masih menatap ke arah pria yang masih berusia jauh di bawahnya. Ia pun merasa penasaran dengan pilihan pria itu. "Kau tadi memilih siapa? Tuan Andika Syaputra atau Nona Anastasya?"
Christian yang menyadari kebodohannya karena keceplosan saat berbicara begitu melihat interaksi Laura dan Mario. Ia sebenarnya ingin sekali mengungkapkan semuanya. Bahwa ia sudah mengenal Laura dan bahkan menjadi pria pertama yang merenggut kesuciannya.
Namun, berpikir jika itu akan memperlihatkan kebodohannya sendiri karena tidak mempunyai bukti dan hanya akan ditertawakan oleh semua orang yang ada di ruangan meeting.
Apalagi semua foto-foto kebersamaannya dengan Laura tidak ada di ponselnya. Ia sudah memindahkan ke folder rahasia dan mengatakan jika pada Ana jika sudah menghapusnya.
__ADS_1
Padahal di kantor ia menyimpan di laptop dan seketika menyadari kebodohannya. "Sial!"
Suara Christian saat ini menggema di ruangan dan ia seketika bangkit dari posisi. Ia bisa melihat pandangan semua orang padanya, termasuk Laura dan Mario.
'Aku sampai lupa jika Ana datang ke kantor hari ini gara-gara mama membawa Valerio ke rumah. Jika sampai Ana membuka laptop dan melihat semua foto, video kebersamaanku dengan Laura, bisa mati aku!' sarkas Christian yang kini seketika menatap ke arah para petinggi di Perusahaan Prameswari.
"Maaf, ada hal penting yang tiba-tiba terjadi di perusahaan saya. Jadi, saya harus pergi sekarang. Mengenai hasilnya, tolong di share di grup!" Christian tidak menunggu tanggapan karena sudah buru-buru berjalan menuju ke arah pintu setelah membungkuk hormat pada semua orang.
Saat berjalan, ia berkali-kali menepuk jidatnya dan berlarian ke arah lift seperti dikejar anjing. "Sial! Bisa-bisanya aku lupa hal penting itu saat Ana tadi bilang pergi ke kantor karena bosan di rumah."
"Semoga aku tidak terlambat karena ini adalah hidup dan matiku!" ujar Christian yang menatap angka digital bergerak makin ke lobi.
Bahkan dalam hati ia merapal doa agar ketakutannya tidak terjadi. Saat ia sudah tiba di lobi, seperti tadi, berlari tanpa menatap siapapun menuju ke parkiran.
Hingga ia berpikir untuk bertanya pada asistennya tentang apa yang saat ini tengah dilakukan oleh Ana di ruangannya. "Semoga Vicky lakukan oleh Ana saat ini. Atau semoga saat ini istriku sedang bersama Vicky."
Ia yang baru saja mendaratkan tubuh di mobil, kini menunggu panggilan diangkat agar bisa langsung bertanya pada asisten pribadinya. Bahkan degup jantung tidak beraturan kala menunggu detik demi detik yang membuat hatinya seperti mau meledak.
Merasa menggenggam bom waktu yang setiap saat bisa menghancurkannya, sehingga rasa khawatir sekaligus ketakutan menguasai dirinya dan kini panggilan diangkat oleh Vicky.
"Halo, Presdir."
__ADS_1
"Katakan apa yang dilakukan istriku sekarang?" seru Christian yang saat ini menunggu jawaban dari seberang telpon dengan perasaan berkecamuk dan seperti berjalan di atas bara api yang mungkin sebentar lagi akan membakarnya menjadi abu.
To be continued...