
Sosok wanita dengan rambut keemasan memakai setelah kerja tanpa lengan dan terlihat sangat seksi yang saat ini tengah berada di dalam ruangan kerja, tengah fokus menatap ke arah layar komputer di hadapannya.
Hingga beberapa saat kemudian tersenyum lebar dan seketika berteriak, "Yes! Satu bidak catur masuk dalam perangkap dan berada dalam genggamanku." Saat baru saja menutup mulut, melihat pintu terbuka.
Bau harum espresso kesukaannya kini menguar di udara dan membuatnya tersenyum kala melihat sosok pria yang selama ini selalu berada di dekatnya dan mendukung serta membantunya.
"Saatnya bersantai, Anastasya. Bukankah kamu baru saja melihat kabar baik barusan?" ucap Mario yang kini sudah meletakkan cangkir berisi minuman favorit wanita itu.
Sementara itu, Laura yang kini merubah panggilan dengan Anastasia, saat ini langsung tersenyum simpul dan mengangkat ibu jarinya dengan wajah berbinar mengungkapkan apa yang dirasakan.
"Ini baru permulaan, Mario. Aku masih bermain-main saja dan belum benar-benar berperang. Saat aku mengangkat senjataku, kupastikan mereka akan hancur dan tidak akan pernah kumaafkan meskipun menangis darah dan berlutut di bawah kakiku sekali pun!"
Kemudian ia mengambil cangkir berisi minuman kesukaannya dan menyeruput perlahan setelah sesekali meniupnya.
"Memang tidak ada yang bisa menandingi espresso buatanmu. Kenapa ini selalu terasa nikmat dan sangat berbeda dengan yang kubeli di cafe-cafe? Rasanya aku ketagihan dan selalu ingin minum espresso buatanmu," ucapnya yang kini mematikan laptop karena memang hari telah larut.
Ia yang menatap ke arah jam tangannya, kini mengangkat pandangan kala mendengar kalimat bernada rayuan yang pertama kali diungkapkan oleh Mario.
"Tentu saja berbeda karena aku selalu menambahkan cinta di sana. Kamu saja yang tidak peka atau pura-pura tidak tahu." Mario yang sudah setahun ini menemani perjuangan wanita itu mulai dari nol, memberanikan diri untuk menambahkan candaan cinta.
Berharap mau membuka hati padanya setelah membuktikan kesetiaan yang selalu bersama wanita itu. Meskipun ia tahu jika hal yang diinginkannya sangat sulit digapai karena luka di hati cukup dalam, tapi tetap ingin menjadi obat untuk wanita yang telah merubah penampilan tersebut.
Ya, setelah Laura mengetahui pengkhianatan dari pihak keluarga pamannya, sengaja merubah penampilan untuk mengecoh beberapa orang yang diduga adalah mata-mata dari pihak lawan.
__ADS_1
Laura berpura-pura pergi ke New York, padahal yang sebenarnya adalah mendirikan sebuah perusahaan baru yang dibantu oleh beberapa teman kuliahnya di luar negeri.
Ia merubah rambutnya menjadi pirang seperti warga Eropa dan memakai softlens dan tentu saja kulit putihnya merupakan sebuah anugrah yang membuatnya terlihat sangat mirip dengan warga negara asing.
Apalagi kemampuannya berbahasa asing makin menambah nilai plus di mata semua rekan bisnisnya. Hingga setelah jatuh berdarah-darah penuh perjuangan, ia bisa merasakan hasilnya setelah satu tahun kemudian.
Perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi yang mencakup banyak hal itu telah sukses meraup keuntungan yang fantastis.
Saat pertama kali mendengar Mario mengungkapkan sesuatu yang sama sekali tidak ingin didengar, ia memilih kembali menikmati minumannya. "Jangan pernah berani masuk di ruangan yang porak poranda, Mario. Salah melangkah sedikit saja, kau akan terluka dan mungkin hancur sepertiku."
"Aku tidak ingin membuka hati pada siapapun setelah bajingan itu mengkhianatiku. Mungkin aku tidak akan segila ini jika dia berbicara baik-baik dan tidak membawa putraku. Tapi yang terjadi sebaliknya karena pengecut itu kabur membawa putraku saat aku tidak berdaya."
Saat mengingat hal yang membuatnya marah, kini Laura seketika melempar cangkir di tangannya hingga tercerai berai di lantai. Bahkan minuman berwarna coklat itu sudah menjadi penghias.
Laura tahu jika mungkin cangkir itu bisa disatukan kembali dengan lem, tapi tidak akan pernah bisa mengembalikan seperti sebelumnya karena hanya akan ada bekas di sana-sini.
Mario paham apa yang dimaksud oleh Laura. Apalagi sudah menjadi saksi dari perjuangan wanita yang telah dihancurkan oleh orang-orang yang dipercaya. Namun, ia tidak ingin menyerah dan tetap berharap menjadi tempat terakhir untuk berlabuh.
"Aku tahu itu, tapi jangan menyiksa diri selamanya dengan hidup sendirian tanpa membuka hati. Setiap manusia di dunia ini berhak bahagia dan kamu juga harus merasakannya setelah semuanya nanti berakhir."
"Memangnya apa rencanamu setelah semua yang kamu inginkan berhasil?" tanya Mario yang kini bangkit berdiri dari kursi dan mengambil pecahan cangkir yang ingin ia satukan lagi dengan lem meskipun membutuhkan banyak kesabaran.
Hingga ia tergores tajamnya cangkir itu begitu mendengar suara Laura yang seperti sebuah anak panah menghujam jantungnya saat ini.
__ADS_1
"Aku hanya ingin hidup bersama putraku, itu saja sudah lebih cukup bagiku. Aku tidak butuh laki-laki karena hanya akan membuatku muak ketika berkhianat." Laura yang sempat sekilas melihat berita viral di media sosial saat banyak pria berselingkuh, padahal mempunyai istri yang sangat cantik.
Kebenciannya pun makin bertambah pada lawan jenis dan tidak berniat untuk menikah lagi karena berpikir jika hidupnya yang damai akan berakhir dengan penderitaan.
Namun, ia merasa tertampar dengan kata-kata dari Mario yang membuatnya menelan saliva dengan kasar dan bingung harus bagaimana menanggapi.
"Bagaimana bisa kamu menyamakan semua laki-laki itu berengsek saat kamu yang memilih sendiri seorang pria beristri? Maaf jika aku menyinggung perasaanmu, Laura? Hanya saja aku geram dengan pemikiranmu yang menyamakan semua pria di dunia bajingan dan tidak ada yang baik."
Mario tidak memperdulikan darah yang keluar dari jarinya akibat tergores tajamnya cangkir yang pecah. Ia merasa hatinya saat ini terluka saat disamakan oleh Laura seperti seorang pria bajingan.
Padahal ia selama ini belum pernah dekat dengan seorang wanita dan baru merasakan jatuh cinta pada Laura. Namun, saat ingin serius malah dianggap tidak pantas untuk terluka seperti ia adalah seorang pengecut yang ketakutan.
Kini, ia bangkit berdiri dari posisinya yang awalnya berjongkok di lantai. "Sekarang katakan padaku! Apa alasanmu dulu memilih Christian yang sudah kamu ketahui adalah pria beristri, tapi masih tidak keberatan untuk bersamanya?"
Mendapatkan tatapan tajam mengintimidasi dari Mario, Laura bingung menjawab dan ia saat ini masih terdiam dan mengingat tentang apa yang dulu dikatakan pada Christian. Bahwa ia tidak keberatan menjadi wanita kedua karena jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hingga ia pun seketika tertawa terbahak-bahak mengingat hal yang membuatnya sadar jika dulu adalah seorang wanita yang sangat bodoh.
"Cinta ... aku dulu sangat bodoh karena percaya jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal semua itu hanya omong kosong!" sarkas Laura yang merasa sangat bodoh ketika mengingat dirinya yang dulu.
'Bisa-bisanya aku dulu berbicara sangat lebay dan sekarang semua itu terdengar sangat memuakkan. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku sangat mencintaimu. Aku rela menjadi teman tidurmu. Astaga, ternyata Laura benar-benar sangat bodoh!' umpatnya di dalam hati.
Hingga ia pun kini berkata dengan tegas dihadapan Mario. "Sekarang aku adalah Anastasya karena Laura yang bodoh karena cinta relah mati!"
__ADS_1
To be continued...