
Untuk menenangkan dan meyakinkan istrinya, Christian mengantar Ana Maria ke sebuah hotel mewah yang ada di kota itu. Bukan ia tidak peduli dengan Laura yang tengah berjuang melahirkan anak mereka.
Hanya saja, saat ini ia tetap akan mendahulukan istri pertamanya itu. Ia tidak ingin wanita itu semakin murka dan akan membuat kekacauan.
Terkadang rasa cemburu bisa membutakan seseorang dan membuat orang tersebut tidak bisa berpikir dingin. Jika sampai itu terjadi, Christian khawatir akan kehilangan istri dan calon anaknya.
Sementara itu, di rumah sakit, sosok wanita yang tengah mengalami kontraksi semakin kuat kini berteriak kencang.
“Argh! Dokter, kenapa ini semakin sakit?” Laura terus meraung kesakitan.
Pembukaan pada jalan lahirnya semakin bertambah, tetapi masih belum masuk pembukaan lengkap.
“Sabar, ya, Bu. Kami akan melakukan yang terbaik. Tinggal menunggu sebentar lagi, jalan lahir sang bayi akan terbuka sempurna,” ucap dokter wanita yang baru saja selesai memeriksa keadaan pasien.
"Di mana suami pasien?” tanya sang dokter pada perawat yang mendampinginya.
“Sepertinya sedang menunggu di luar, Dok. Akan saya panggilkan,” jawab perawat tersebut, kemudian berlalu pergi.
Tidak lama, perawat itu kembali dengan sedikit bingung. “Tidak ada siapa pun di luar, Dok,” ucap perawat tersebut sedikit berbisik, tetapi Laura masih bisa mendengar.
"Dimana suami saya, Suster? Dia tidak mungkin meninggalkan saya,” imbuh Laura.
“Mungkin suami Ibu sedang ke toilet. Ibu tidak perlu khawatir, ya. Suaminya pasti akan kembali. Kita akan lakukan pemeriksaan satu jam lagi. Suster akan menemani Anda di sini,” ucap dokter menenangkan.
Saat ini memang seharusnya Christian berada di samping Laura. Menemani wanita itu melalui kontraksi demi kontraksi yang lebih intens ia rasakan. Hanya berselang 30 menit, Laura kembali merintih kesakitan.
“Suster, apa suami saya sudah kembali?” tanya wanita itu,
“Belum, Nyonya,” balas sang suster. Wanita muda itu menghampiri pasien dan menanyakan apakah membutuhkan sesuatu.
Laura menggeleng. Sedetik kemudian, setetes cairan bening meleleh dari sudut mata wanita itu. Tidak mungkin suaminya selama itu jika hanya pergi ke toilet. Cairan bening itu semakin deras keluar dan merembes pada bantal.
“Anda baik-baik saja?” tanya perawat yang mendampingi pasien. Ia mendekat dan memastikan jika pasiennya itu baik-baik saja.
“Saya baik-baik saja, Suster. Hanya saja, rasa sakit ini semakin sering datang,” elak Laura.
Ia tidak mungkin mengatakan jika air mata itu adalah karena menangisi pria yang sangat idiharapkan kehadirannya di sana.
__ADS_1
“Mendekati pembukaan sempurna, memang akan sering mengalami kontraksi yang lebih intens dan semakin sakit, tapi tidak perlu khawatir. Hal ini memang wajar dirasakan oleh setiap wanita yang akan melahirkan,” imbuh suster menenangkan.
Satu jam berlalu, tetapi Laura masih belum mendapati suaminya datang. Rasa sakit akibat kontraksi kini telah menyatu dengan rasa kecewa dan sakit karena luka yang tak kasat mata yang ditorehkan oleh pria itu.
Kepergian Christian dengan wanita bernama Ana Maria, cukup memberi jawaban atas pertanyaan dalam pikiran Laura yang tengah gaduh dengan berbagai kemungkinan.
Jika saja Christian datang dan menemaninya saat ini, mungkin Laura akan siap mendengarkan alasan pria itu. Namun, pada kenyataannya, hanya kekecewaan yang ia dapat.
Merasa dibohongi dan dibodohi oleh pria yang ia anggap sebagai dewa penolong, jelas membuat kekecewaan itu semakin bertambah besar.
Selama ini, Laura sangat percaya pada Christian melebihi ia percaya pada diri sendiri. Rasa kagum yang telah tumbuh menjadi benih-benih cinta itu rupanya telah membuat Laura menjadi wanita bodoh.
Apa yang dikatakan Ana Maria ada benarnya. Seharusnya ia mencari tahu lebih dulu siapa pria yang menikahinya itu.
Kini, menyesal pun rasanya percuma. Tidak banyak yang bisa Laura lakukan. Yang ia tahu hanyalah seorang wanita sebatang kara yang dirawat oleh pria yang dicintai.
***
Di tempat lain, Christian masih berusaha untuk membujuk Ana Maria dan memberi pengertian pada wanita itu. Ia harus segera kembali ke rumah sakit dan menemani Laura. Ia tidak tahu apakah wanita itu sudah melahirkan atau belum.
“Kalau aku tidak kembali ke rumah sakit, kita tidak akan bisa mendapatkan putraku, Sayang.” Christian terus membujuk Ana Maria.
Ana Maria tetap tidak mau pulang ke Jakarta. Ia akan kembali ke sana jika Christian ikut bersamanya, sedangkan pria itu, tidak bisa meninggalkan kota tersebut secepatnya.
“Apa kamu ingin mneghabiskan waktu lebih lama dengan istri barumu itu?” Ana Maria menyebikkan bibirnya.
“Sayang, Ayolah. Bukankah kamu sangat ingin mendengar suara tangis bayi di istana kita. Aku mohon, bersabarlah sebentar lagi,” bujuk Christian.
“Kalau begitu, aku akan ikut ke rumah sakit,” balas Ana Maria dengan yakin.
Pria berkemeja biru muda itu hanya bisa menghela napas berat mendengar permintaan istrinya. Ia kemudian menghampiri wanita yang tengah duduk di sisi tempat tidur tersebut. Christian duduk bersimpuh di hadapan wanita itu.
“Apa kamu sedang meragukanku?” tanyanya kemudian. “Bukan aku tidak mengizinkanmu ikut bersamaku. Hanya saja, untuk saat ini waktunya tidak tepat, Sayang.”
“Bukankah kamu sendiri sudah mengkhianati kepercayaanku? Apa aku masih bisa memegang kata-katamu itu?” balas Ana Maria dengan senyum getir di sudut bibirnya.
“Aku tahu apa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan besar. Aku sebenarnya ingin memberimu kejutan, Sayang, tapi kamu lebih dulu mencari tahu,” elak Christian masih membela diri
__ADS_1
“Apa kamu pikir aku harus diam saja saat tahu ada yang aneh dengan sikap suamiku? Kamu ingin aku diam saja sampai mengatakan semua padaku? Bukan tidak mungkin kamu akan bertindak lebih jauh dari ini, Christian.”
Christian tidak membantah ataupun melakukan pembelaan lagi dengan apa yang istrinya katakan. Percuma saja menjelaskan pada wanita yang sedang dilanda cemburu dan amarah. Lebih baik ia diam.
Christian tidak bisa berdiam diri dengan tenang. Pikirannya terus tertuju pada Laura. Sekelebat bayangan wanita itu sedang merintih kesakitan memenuhi benak Christian.
“Pergilah temani wanita itu.”
Christian yang sedang membaringkan tubuhnya, tersentak mendengar ucapan Ana Maria.
Wanita itu baru selesai membersihkan diri. Sebuah handuk kecil masih melilit membungkus surainya.
“Orang suruhanku akan ikut bersamamu,” imbuh Ana Maria.
Ucapan wanita itu bagai angin segar yang berembus. Tidak masalah jika Ana meminta orang suruhannya untuk ikut bersamanya. Yang terpenting saat ini, ia bisa menjelaskan pada Laura dan meyakinkan wanita itu.
Sementara itu di rumah sakit, Laura yang sedang dilanda kesakitan yang semakin hebat mendera masih menunggu kedatangan sang suami datang.
Besar harapannya pria itu akan datang di detik ia akan melahirkan buah cinta mereka. Gejolak emosi semakin membuncah manakala ia tak juga melihat Christian. Ia bahkan terus mengerang kesakitan.
“Aku tidak akan membiarkan rasa sakit ini menjadi sia-sia, Christian. Kamu akan menyesal karena sudah menorehkan luka ini. Argh!” Laura menjerit kesakitan.
Ingin rasanya ia bangkit dari brankar dan melepaskan jarum infus yang menjadi penghubung cairan di atas sana. Ia ingin mencari pria itu dan memaki.
Ingin meluapkan amarah dengan berteriak sekencangnya. Namun, tenganya sudah terkuras karena erangan rasa sakit.
“Suster, saya sudah tidak kuat lagi,” teriak Laura. Perawat itu segera memanggil dokter.
Amarah itu melebur dan berganti dengan rasa sakit yang luar biasa. Seperti ada sesuatu yang memaksa untuk mendorong ke luar dari dalam perutnya.
Laura terus mengerang kesakitan. Bersamaan dengan itu, sebuah cairan yang berlendir mulai merembes, membasahi tempat tidur wanita itu.
“Kita lakukan persalinan sekarang. Ini sudah pembukaan sempurna,” imbuh sang dokter yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan.
Dua perawat yang ada di sana segera melakukan persiapan.
Laura ingin berteriak dan meminta agar dokter menunggu suaminya lebih dulu. Namun, lagi-lagi hanya erang kesakitan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Laura pasrah. Ia harus rela melahirkan tanpa ditemani oleh suaminya. Bukanlah hal mudah melalui hal sulit itu seorang diri. Lelehan kristal bening dan bulir keringat yang membasahi kening menjadi saksi jika wanita itu tengah berjuang mempertaruhkan nyawa.
To be continued...