365 Days With You

365 Days With You
Pantas mendapatkannya


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Vicky yang baru saja keluar dari ruangan istri dari bosnya, segera masuk ke ruangan yang selama ini menjadi tempat menghabiskan waktu seharian di perusahaan dan menganggapnya menjadi rumah kedua setelah apartemen yang ditinggali.


Sebenarnya dulu ia tinggal di tempat kos kecil di gang sempit karena memilih harga yang paling murah agar tidak boros dan bisa menghemat uang. Namun, setelah bekerja di perusahaan, langsung mendapatkan beberapa fasilitas.


Mulai dari mobil serta apartemen yang tentu saja membuatnya merasa seperti hidupnya berubah drastis setelah mengenal Christian.


"Ini harus segera diketahui oleh tuan Christian karena jika sampai nona Ana curiga, bisa jadi aku yang disalahkan. Padahal bukan aku yang melakukan kesalahan."


Vicky saat ini mencoba untuk menghubungi nomor bosnya yang dari tadi tidak mengangkat panggilannya dan benar-benar penasaran apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh pria itu di rumah sakit.


'Tidak mungkin Tuan Christian melakukan malam pertama setelah merasa sah menikahi wanita itu, kan?'


Refleks Vicky merasa bahwa perkataannya sangat konyol dan berpikir jika itu akan membuat otaknya travelling ke mana-mana.


"Dasar bodoh!" umpat Vicky yang saat ini berkali-kali menepuk jidat begitu menyadari pikirannya yang sangat kacau.


"Tuan Christian bahkan terlihat sangat mengkhawatirkan nona Laura. Bahkan sampai sekarang belum juga sadar lagi semenjak kemarin."


"Kasihan tuan Christian yang selalu bertanya-tanya. Apakah nona Laura hilang ingatan dan melupakannya atau masih mengingat semua kenangan mereka di New York?"


Meskipun hanya sekilas tahu mengenai sesuatu yang menjadi penyebab mereka tidak sengaja bertemu, tapi merasa jika ada ikatan batin di antara bosnya dengan wanita yang masih belum sadarkan diri tersebut.


Bahwa semuanya terjadi karena takdir dan tidak bisa dihindari. Hingga ia yang berniat untuk duduk di kursi kerjanya, tidak jadi melakukannya karena melihat ponsel dalam genggamannya berdering dan menunjukkan nomor bosnya yang tadi berkali-kali dihubungi.


Tanpa membuang waktu karena ingin segera melaporkan semua yang terjadi secara langsung bukan hanya melalui pesan, sehingga langsung membuka suara begitu menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, Tuan Christian. Anda dari mana saja? Kenapa dari tadi tidak bisa dihubungi? Padahal ini sangat urgent."


Vicky benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengungkapkan semuanya agar bosnya tidak sampai ketahuan oleh sang istri jika saat ini sudah berada di Jakarta dan menikah dengan wanita lain.


Hingga ia mendengar suara bariton dari seberang telpon yang seperti kelelahan dan membuatnya mengerutkan kening karena bertanya-tanya apa yang baru saja dilakukan oleh pria yang sangat dihormatinya tersebut.


"Istriku baru saja dipindahkan ke ruangan dan aku harus bolak-balik pergi mengurus semuanya sendiri dan membersihkan tubuhnya dengan air hangat seperti yang diperintahkan oleh perawat. Aku benar-benar sangat terkejut membaca pesan darimu. Ana tidak terluka sama sekali, kan?"


Vicky saat ini tidak memikirkan mengenai masalah tubuh istri bosnya tersebut lecet atau tidak, tapi hal yang membuatnya pusing adalah berusaha untuk memberikan sebuah warning.


"Tuan, nanti sore istri Anda akan datang ke sana dan Anda tidak boleh berkeliaran di sekitar area rumah sakit. Jadi, lebih baik diam di dalam ruangan. Biar saya yang menyuruh orang untuk datang ke rumah sakit agar bisa membantu Anda."

__ADS_1


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dikatakan oleh Vicky pada bosnya, tapi berpikir bahwa saat ini ia tidak bisa melakukannya karena khawatir jika dinding mempunyai telinga dan terdengar oleh orang lain tentang pembicaraannya.


"Baiklah. Aku benar-benar sangat lega jika Ana baik-baik saja. Aku tidak tahu harus bagaimana jika sampai ia juga mengalami kecelakaan dan aku harus mengurusnya. Apakah aku harus membelah tubuhku agar bisa mengurus mereka berdua?"


Christian benar-benar berharap jika Ana baik-baik saja karena saat ini ia ingin fokus mengurus Laura yang sangat membutuhkannya. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar suara yang sangat tidak asing.


"Kamu sedang berbicara dengan siapa?" tanya Ana yang saat ini sudah masuk tanpa permisi dan melihat pria yang berdiri di dekat meja kerja tersebut seperti gugup dan langsung mematikan sambungan telpon.


Ia memicingkan mata karena merasa aneh melihat sikap mencurigakan dari asisten pribadi suaminya. "Aku tadi mendengar kamu mengatakan rumah sakit. Memangnya siapa yang berada di rumah sakit?"


"Atau kamu tengah mengurus pria kecelakaan itu dengan menyuruh seseorang?" tanya Ana yang saat ini berjalan mendekat dan menatap ke arah ponsel yang dipegang oleh Vicky.


Ia sebenarnya sangat ingin meminta ponsel pria yang lebih muda darinya tersebut, tapi berpikir jika itu adalah sebuah privasi dan mungkin merasa tidak nyaman jika dicampuri urusannya.


Saat Vicky tadi mendengarkan suara bariton dari seberang telpon yang tak lain bosnya berbicara sangat konyol dan mengingat mengenai pelajaran saat SMP mengenai amoeba yang membelah diri.


Awalnya ia ingin tertawa, tapi seketika tidak bisa melakukannya begitu melihat tatapan tajam penuh mengitimidasi yang dilakukan oleh wanita yang seolah mengarahkan tatapan pada ponsel dalam genggamannya.


'Mati aku! Jika sampai nona Ana meminta ponsel ini, sudah dipastikan tuan Christian tidak akan selamat dan aku pun akan berakhir. Cepat putar otak dan mencari sebuah alasan yang logis diterima oleh wanita ini!'


Hingga ia pun memilih untuk memasukkan ponsel miliknya agar tidak terus ditatap oleh wanita yang penuh dengan kecurigaan itu.


"Saya belum sempat menghubungi seseorang untuk mengurus semua hal yang berhubungan dengan korban kecelakaan tadi."


Kemudian menunggu apa yang akan disampaikan oleh wanita yang seperti tengah menelisik untuk memastikan kebenaran dari apa yang disampaikannya.


Vicky bahkan saat ini berpikir jika ia serasa berdiri di depan hakim yang akan memberikan sebuah putusan atas apa yang dilakukannya. Padahal ia hanyalah perantara dan bukan merupakan pelaku sebenarnya.


'Rasanya seperti kesulitan bernapas saat nona Ana menatap tajam padaku. Semoga ia percaya dan membebaskanku dari lingkaran api yang seperti hendak membakarku, gumam Vicky yang saat ini tengah menunggu suara dari Ana yang membuatnya khawatir.


Hingga ia pun saat ini berpikir jika wanita itu memaksa merebut ponselnya, akan membantingnya agar tidak ketahuan.


Bahkan sudah berpikir sampai sejauh itu demi bisa melindungi pria yang tadi langsung mematikan sambungan telpon begitu mendengar suara sang istri.


'Tuan Christian enak bisa kabur begitu saja, sedangkan aku harus menghadapi nona Ana terlebih dahulu,' gumamnya yang kini mendengar suara wanita di hadapannya tersebut.


Ana membuang rasa penasarannya karena berpikir jika itu tidak sopan saat mencampuri urusan orang lain meskipun merupakan asisten pribadi suaminya, tetap memiliki sebuah hal yang patut disembunyikan.

__ADS_1


"Sepertinya ada masalah pribadi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain dan tengah kamu sembunyikan dariku. Aku pun tidak mungkin memaksamu untuk bercerita padaku, kan?"


Ana bahkan berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok pria yang masih tidak bergerak dari tempatnya. "Sebenarnya, tadi tujuanku datang ke sini adalah ingin bertanya apakah suamiku meneleponmu semalam atau hari ini?"


Ia merasa jika itu sangatlah penting dan membuatnya ingin segera mengetahuinya. Apalagi dari kemarin malam menahan diri untuk tidak mengganggu sang suami.


Karena berpikir sangat sibuk bertemu dengan rekan bisnis serta mengecek beberapa tempat yang ditargetkan untuk pemasaran.


Sebenarnya Vicky merasa sangat lega karena hal yang dikhawatirkan tidak terjadi. Namun, di saat bersamaan memikirkan hal yang membuatnya harus menjawab tanpa berpikir karena jika terlalu lama malah akan dicurigai.


Refleks langsung menggelengkan kepala agar wanita di hadapannya tersebut percaya sepenuhnya mengenai kebohongannya. Karena tidak mungkin ia mengatakan baru saja dihubungi bosnya tersebut dan pastinya akan terjadi perang dunia.


"Saya belum dihubungi oleh tuan Christian, nona Ana. Sepertinya tuan Christian sangat sibuk karena memang jam kerja di sini dan luar negeri sangat berbeda. Saat Anda tidur, tuan Christian bekerja dan begitu pun sebaliknya."


Kemudian kembali mengungkapkan alasan agar wanita itu tidak ragu pada sang suami. "Mungkin tuan sangat lelah dan juga berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa cepat kembali ke Jakarta."


Ana saat ini terdiam karena tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan yang baru saja diungkapkan oleh Vicky. Sebenarnya ia tadi memang sempat berpikiran seperti itu.


Bahwa sang suami bekerja keras agar bisa segera kembali ke Jakarta. Jadi, sekarang merasa lega dan tidak berpikir macam-macam lagi pada sang suami.


"Sepertinya kamu benar. Aku memang terlalu posesif pada suamiku. Baiklah. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu dan jangan lupa urus tentang pria yang tadi kecelakaan karena aku tidak ingin ada gosip miring menerpa perusahaan saat suamiku tengah berusaha untuk melebarkan sayap."


Kemudian Ana berlalu pergi meninggalkan asistennya tersebut dan bernapas lega setelah tidak lagi berpikir macam-macam pada sang suami karena ia tahu bahwa Vicky pun juga belum di telpon.


Seolah ia tengah membandingkan lebih penting mana ia dan asisten pribadinya tersebut yang seperti sudah dianggap saudara sendiri dan bisa sering bersama pergi dengan sang suami.


Sementara itu, refleks Vicky seketika memegang dadanya yang benar-benar berdetak sangat kencang seolah hampir meledak saat itu juga ketika mendapatkan tatapan tajam dari wanita yang tak lain adalah istri bosnya.


"Alhamdulillah, akhirnya aku selamat dan terbebas sementara! Pasti tuan Christian saat ini merasa sangat kebingungan. Aku harus memberitahunya melalui pesan karena tidak ingin lagi tertangkap basah saat menelpon."


Vicky pun berjalan menuju ke arah tempat duduknya dan mendaratkan tubuh di sana karena merasa seperti sangat lemas hanya dengan mendapatkan tatapan tajam dari bos perempuan.


Tuan, syukurlah semuanya masih aman dan nona Ana sama sekali tidak tahu jika Anda berada di Jakarta. Saya akan berusaha untuk terus melindungi agar rahasia Anda tidak terbongkar.


Kemudian langsung mencet tombol kirim dan berpikir jika mulai hari ini ia tidak akan pernah bisa hidup tenang karena selalu berbohong.


''Maafkan aku, nona Ana. Jika suatu saat nanti anda membenciku karena telah bekerja sama dengan tuan Christian, tidak akan merasa keberatan karena itu memang pantas kudapatkan.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2