
Laura beberapa saat lalu keluar dari toilet karena sakit perut. Nasib baik ia belum memakai kebaya pengantin setelah selesai dihias oleh make up artist. Tadi ia bahkan menyuruh dua perias itu untuk menjaga putranya yang tengah asik tiduran di atas ranjang dengan menonton film kartun di YouTube.
Setelah putranya keluar dari Rumah Sakit, ia berusaha untuk mencurahkan kasih sayang penuh pada bocah laki-laki yang awalnya selalu merengek dan tidak mudah dihibur. Ia berpikir jika putranya merindukan sosok Ana yang selama ini menjadi ibu.
Jadi, berusaha untuk bersabar serta tidak pernah mengeluh dan melakukan apapun agar putranya diam dan tidak rewel. Hingga lama kelamaan usahanya membuahkan hasil karena putranya seolah merasa nyaman bersamanya yang selalu menyayangi dengan sepenuh hati.
Jadi, tidak pernah merasa kebingungan ketika Valerio menangis Dan menganggap itu adalah sebuah hal biasa.
Ia yang saat ini berjalan mendekati para perias, merasa lega dan tersenyum melihat putranya yang sangat penurut. Hingga ia mendengar suara salah satu wanita yang memuji.
__ADS_1
"Putra Anda sangat penurut, Nyonya. Biasanya anak seusia ini tidak pernah bisa diam dan ingin berjalan ke sana kemari sampai membuat orang tua lelah mengikuti. Apalagi saya mengalaminya sendiri ketika pulang kerja," seru wanita dengan memakai blazer peach dan rambut digelung ke atas.
Laura hanya tersenyum dan memilih untuk mengiyakan perkataan dari wanita di hadapannya karena tidak ingin menjelaskan bagaimana susahnya menaklukkan putranya dulu di awal-awal.
"Iya, putraku sangat pintar dan tahu jika mamanya sedang sibuk. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, sangat mudah untuk membuat balita tenang dengan memberikan tontonan kesukaan. Apalagi kartun itu sangat disukainya." Laura yang tadinya berniat untuk mengambil ponselnya di atas meja rias, kini mendapatkan sebuah informasi.
"Tadi ada yang menelpon, Nyonya Laura. Mungkin penting." Ia kini menatap wanita yang sudah terlihat sangat cantik meskipun belum memakai kebaya pengantin.
'Apa yang diinginkannya?' gumam Laura yang saat ini masih menatap ke arah layar ponselnya. Ia .emang sengaja mengaktifkan mode getar semenjak tidur bersama dengan putranya agar tidak merasa terganggu ketika ada telepon.
__ADS_1
Hingga ponselnya kembali bergetar dan jantungnya seperti di hunus tombak tajam karena sangat hafal dengan nomor itu. Nomor lama Christian yang dulu masih menjadi suaminya. Bahkan tanpa pikir panjang langsung bertanya apa mau pria itu.
"Laura, sebenarnya aku ...." Christian yang berada di seberang telepon, seolah merasa ragu untuk bertanya. Ia sebenarnya tidak ingin membuat Laura salah paham, tapi tetap saja tidak bisa mengendalikan diri.
Namun, seolah suaranya tercekat di tenggorokan dan tergagap karena merasa bingung harus bagaimana menjelaskan apa yang ada di pikirannya saat ini.
Laura benar-benar keren karena rasa penasarannya tidak kunjung mendapatkan jawaban. "Apa kau menelponku hanya untuk diam seperti ini? Kalau begitu, aku matikan saja teleponnya."
Christian yang khawatir kehilangan kesempatan, seketika berteriak, "Tidak! Tunggu, Laura. Jangan lakukan itu karena aku ingin berbicara denganmu. Apa kamu menikah dengan Mario karena mencintainya?"
__ADS_1
"Ataukah karena ingin memberikan hukuman padaku agar bisa merasakan apa yang kamu rasakan dulu? Aku harap kamu mau menjawab jujur," seru Christian yang seketika merasa lega karena sudah melepaskan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
To be continued...