
Keringat membasahi kening Laura. Ia melirik jam digital yang ada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Napas Laura terengah, detak jantung belum stabil karena mimpi itu. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam lalu mengembuskannya.
Mimpi itu terasa begitu nyata. Sangat jelas bayangan dua jasad orang yang ia sayang terbujur kaku di atas barankar rumah sakit. Sudah cukup lama mimpi itu hilang, tetapi kenapa sekarang ia kembali mimpi hal yang serupa seperti beberapa tahun lalu.
Laura memilih untuk membasuh wajahnya dan duduk di sofa kamar. Ia membuka jendela, membiarkan angin malam membelai kulitnya. Langit masih gelap, tetapi Laura enggan untuk kembali memejamkan mata. Ia takut mimpi buruk itu akan kembali datang.
Laura kembali mengingat perkataan dokter jika ia pernah mengalami amnesia saat pertama kali kecelakaan.
Mungkin saat amnesia itulah mimpi buruk yang selama ini hadir tidak pernah datang. Jika dipikir-pikir, ia memang sudah banyak kehilangan ingatan sejak saat kepulangannya ke tanah air.
Teh hangat yang ia buat beberapa menit lalu masih mengepulkan asapnya. Laura menyesap perlahan minuman itu. Ia merasa hidupnya begitu rumit.
Rasa rindu pada orang-orang yang sudah tak lagi bersamanya memaksa mata untuk memproduksi kelenjar lakrimal dan membuat air bening itu menetes. Laura memeluk lutut yang ia lipat dan menelungkupkan wajahnya di sana.
Dulu, saat ia sedih, sang mama selalu memeluknya dan menenangkan.
Bayangan masa lalu berkelebatan. Semua tampak jelas dan begitu nyata. Laura menatap langit gelap di luar sana.
Ia kini mengingat sesuatu.
“Laura, hati-hati, Sayang.” Wanita berparas ayu dengan tutur kata yang lembut itu terlihat khawatir saat melihat gadis kecilnya terus berlari. “Larinya jangan terlalu kencang. Nanti kamu bisa jatuh.” Wanita itu mengingatkan putri kecilnya.
“Mama, tolong Laura. Papa terus ngejar Laura,” rengek gadis berusia delapan tahun itu. Rambutnya yang diikat dua keatas bergoyang-goyang karena gerakannya.
Gadis kecil itu segera menghambur ke dalam pelukan sang mama dan bersembunyi di sana.
“Pa, udah ah. Kasihan Laura. Lihat tuh, dia sampai keringatan gini,” omel wanita itu pada pria yang ikut menyusul duduk di atas karpet yang terbentang di atas rumput hijau.
Wanita itu mengusap kening sang putri dan meminta gadis kecil tersebut untuk minum lebih dulu. Keluaga kecil itu sedang mengadakan piknik yang sering mereka lakukan untuk menghabiskan waktu bersama.
“Mama curang. Kan papa juga capek, Ma. Masa yang dikasih minum cuman Laura aja,” protes pria itu.
"Papa kan udah tua, masa mau dimanja juga, sih,” sanggah gadis kecil itu sembari memanyunkan bibir mungilnya.
“Enak saja. Papa masih gagah dan tampan gini, masa dibilang udah tua,” ujar pria itu tidak terima dengan ejekan putri kecilnya. Keluarga itu kemudian tertawa bersama.
Seindah itulah kehidupan Laura dulu. Terlahir dari keluarga kaya raya yang dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya. Apapun yang Laura inginkan akan dipenuhi oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Berbeda dengan beberapa temannya yang lain, yang kurang mendapat perhatian dari kedua orang tua mereka. Laura justru mendapat limpahan kasih sayang dari keduanya.
Sesibuk apapun sang papa, pria itu selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Pun dengan sang mama. Meskipun terlahir dari keluarga kaya, orang tua Laura tidak pernah menggunakan jasa baby sitter untuk merawat anak mereka. Sang mama melakukan semuanya sendiri.
Laura hidup dengan sempurna. Namun, dunianya berubah 180 derajat setelah kepergian kedua orang tuanya. Gadis itu menjadi pendiam. Ia sangat kesepian. Tidak ada lagi tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah. Laura merasa dunianya berhenti berputar.
Laura menerima tawaran sang paman untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Pria itu tidak tega melihat keponakannya murung dan tidak mempunyai semangat hidup.
Sang paman berharap dengan mengirim Laura ke luar negeri, gadis itu akan mendapatkan banyak teman di sana dan tidak akan kesepian lagi. Ia berharap Laura bisa melupakan semua kenangan buruk di negaranya. Mendapat kehidupan baru yang lebIh menyenangkan di sana.
Meskipun berada di luar negeri, sang paman selalu memperhatikan Laura. Pria itu juga selalu memberikan apa yang Laura ingin.
Laura bahkan bisa tinggal di negara orang itu selama apapun yang ia mau. Bahkan sang paman sangat mendukung jika keponakannya itu ingin tinggal dan menetap di sana. Pria itu mengatakan jika ia tidak ingin melihat Laura sedih dan kesepian lagi.
Laura memang mempunyai banyak teman dan mendapat kebebasan. Ia bebas melakukan apapun yang ia inginkan di sana.
Berbelanja, nongkrong dengan teman-temannya. Namun keinginan untuk kembali ke negara tercinta pun tak kalah kuat. Ia rindu pergi ke tempat di mana dulu ia sering menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
Laura tidak pernah menyangka jika keputusan untuk kembali ke Indonesia justru membuat hidupnya semakin buruk.
Wanita itu menyeka lelehan bening yang membasahi pipi. “Kamu harus kuat. Enggak boleh lemah seperti ini. Kamu harus jadi perempuan kuat biar nggak ada yang merendahkan kamu lagi.
Kalimat hinaan dari Ana Maria tidak akan pernah ia lupakan. Wanita itu dengan kejam menghina Laura dan mengatakan jika ia adalah wanita ****** murahan. Laura menjadi luapan amarah Ana Maria tanpa wanita itu tahu fakta yang sebenarnya.
Tangan Laura mengepal dan matanya menggelap. Kalimat itu sangat menyakitkan. Laura berjanji pada diri sendiri jika ia akan menghancurkan keluarga itu dan membuat mereka menyesal.
“Paman?”
Laura ingat dengan satu-satunya keluarga yang ia punya. Bukankah keluarganya juga memiliki kekuasaan?
Ya. Ia bisa meminta bantuan sang paman dan menggunakan kekuasaan keluarganya untuk membalas dendam pada Christian.
“Kita lihat siapa yang paling berkuasa, Christian. Seringai jahat terbit di kedua sudut bibirnya.
“Sudah waktunya aku kembali pada keluargaku dan mengambil alih jabatan di perusahaan papa,” imbuh Laura.
“Bukankah dalam surat wasiat itu tertera kalau aku bisa mengambil alih semua aset kekayaan keluargaku setelah berusia 23 tahun?”
__ADS_1
***
Sampai matahari menyapa, Laura tidak lagi memejamkan mata. Semalaman ia sudah berpikir langkah apa yang akan diambil. Setelah menemui orang-orang yang terlibat dalam pernikahan sirinya, ia akan menemui sang paman.
“Paman pasti senang kalau tahu aku masih hidup. Mungkin selama ini paman tahu aku sudah meninggal karena kecelakaan itu.”
Laura tersenyum senang. Meskipun ia tidak cukup tidur, tetapi wajah lelah tak tampak sedikit pun. Semua rencana sudah tersusun dan semangat mengalahkan rasa kantuknya.
Menjelang makan siang, Laura pergi ke sebuah tempat untuk bertemu dengan seseorang.
“Mario!”
Laura melambaikan tangan pada pria berkemeja putih tersebut. Sebuah jas tersampir di tangan pria itu. Keduanya memutuskan untuk bertemu di restoran yang pernah mereka datangi. Sekalian makan siang bersama menjadi alasan Laura mengajak bertemu di sana.
“Maaf, ya, Mario. Aku selalu merepotkanmu,” imbuh Laura setelah memesan makan siang.
“Hei, kita adalah teman. Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu? Apa kamu lupa kalau aku masih punya utang tanggung jawab yang belum lunas,” balas Mario sembari mengulas senyum.
“Aku tidak akan lupa itu,” ucap Laura terkekeh.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, keduanya membahas perihal siapa yang lebih dulu akan mereka kunjungi. Ada satu hal yang harus Laura sampaikan pada pria yang duduk di depannya itu.
“Mario,” panggil Laura.
“Aku ingin bertemu dengan pamanku. Aku rasa ini sudah waktunya kembali pada keluargaku,” sambung Laura.
Tentu Mario cukup terkejut mendengar keinginan Laura. Selama ini ia belum menceritakan tentang wanita itu pada sang ayah dan ia belum meminta pendapat pria paruh baya tersebut.
“Apa kamu yakin?”
“Ya. Tenu saja. Memangnya, kenapa?” Laura balik bertanya saat melihat keraguan di wajah Mario.
Selama ini pria itu selalu mendukungnya, tapi kenapa sekarang Mario seolah-olah keberatan. “Kenapa Mario? Kenapa kamu seperti keberatan?”
Laura memicing, menelisik pria di depannya. Wajah Mario tampak gusar. Laura yakin pria itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Laura tidak bisa mendesak lebih jauh lagi karena pesana mereka sudah datang dan pelayan yang mengantar makanan memangkas obrolan keduanya.
__ADS_1
To be continued...