
Pagi hari di rumah keluarga Permana, terlihat empat orang tengah berada di ruang makan menikmati sarapan. Jika keluarga Permana makan seperti biasanya, berbeda dengan Laura yang saat ini sangat tidak berselera.
Laura sebenarnya ingin sekali melemparkan piring berisi nasi goreng spesial tersebut untuk melampiaskan amarah. Saat ia mengingat cerita Mario semalam, hanya kebencian yang dirasakan olehnya.
Ia lebih mudah marah dan tadi memporak-porandakan sprei dan bantal tanpa memperdulikan apapun. Meski nanti yang repot ia sendiri karena selalu merapikan sendiri ruangan kamar dan tidak mau pelayan masuk ke ruangan pribadi.
Hingga ia yang tadinya menundukkan kepala, kini mengangkat pandangan begitu suara pria paruh baya di hadapan memecah keheningan pagi yang terasa sangat mencekam itu.
"Laura, nanti setelah makan, kita bicara di ruang kerja. Ada hal penting yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Aldiansyah yang mengetahui jika putranya sudah menceritakan bagian inti.
"Iya, Om. Aku sudah menyiapkan hati untuk melihat semua kejahatan dari para iblis berkepala manusia itu. Bahkan sudah mempunyai rencana penting untuk merebut perusahaan dengan caraku dan membuktikan bahwa gen orang tuaku yang hebat mengalir dalam darahku." Laura yang tadi pagi bangun tidur menyadari kebodohannya.
Bahwa ia tidak perlu ke New York untuk bertemu dengan sahabatnya. Ia langsung mengecek semua akun media sosial sahabatnya dan mengirim pesan dari sana.
__ADS_1
Bahkan meminta nomor dan mengatakan tentang insiden yang dialami kala baru tiba di Jakarta. Tentu saja teman-temannya merasa sangat iba padanya dan bersedia membantunya untuk membalas dendam.
"Aku sangat mendukungmu, Laura. Hanya saja, kamu butuh tenaga untuk membalas dendam pada mereka. Jadi, kamu harus makan meskipun tidak berselera karena menghadapi masalah." Laura yang dari tadi bisa melihat Laura tidak berselera makan, langsung menasihati.
Bahkan ia menatap ke arah sang ibu agar ikut memberikan support system untuk wanita bernasib malang itu.
"Laura, kami sudah menganggapmu sebagai keluarga sendiri. Hidup ini terus berjalan dan anggap cobaan berat yang menimpamu adalah sebuah cara untuk melatih mental dan kekuatanmu menghadap ujian dari Tuhan." Wanita paruh baya bernama Aqila Rahma itu kini masih tidak mengalihkan pandangannya.
Ia pun bangkit berdiri dari posisinya saat sudah menghabiskan sarapan. "Jangan membuang-buang rezeki, Laura. Nanti semuanya menjadi tidak berkah. Jika kamu tidak punya selera, tetap makan demi kesehatanmu agar menjadi kuat dan tidak lemah. Biar aku suapi dan anggap aku mamamu."
"Tante, biar aku makan sendiri." Laura menahan tangan wanita paruh baya itu, tapi kembali mendapatkan sebuah penolakan.
"Tidak. Biar aku menyuapimu karena ingin merasakan punya anak perempuan." Masih menunggu Laura membuka mulut.
__ADS_1
Karena merasa tidak enak mendengar kalimat terakhir ibu Mario, akhirnya Laura membuka mulut dan menikmati suapan demi suapan dari sosok wanita paruh baya itu.
Mungkin ia akan menangis tersedu-sedu saat mengingat sang ibu yang telah lama pergi hanya gara-gara disuapi. Namun, ia sadar jika semalam sudah berjanji untuk menjadi seorang wanita yang kuat dan takkan menangis lagi.
Hingga ia kini ingin semua orang yang ada di sana mengetahui keputusannya. "Oh ya, aku sampai lupa bilang. Mulai hari ini, jangan memanggilku Laura lagi karena dia telah mati. Aku akan membalas dendam dengan nama lain. Tolong panggil aku Anastasya!"
Laura berharap kesedihan yang dirasakannya akan berubah setelah mengganti nama panggilan. Ia berharap jika nama Anastasya akan membawa keberuntungan untuknya.
Refleks tiga orang yang berada di ruang makan itu saling bersitatap, tapi kemudian sama-sama mengangukkan kepala.
"Baiklah, Anastasya," ucap Mario yang kini langsung menyahut dan mengungkapkan sesuatu yang ingin diketahuinya. "Lalu apa rencanamu untuk membalas dendam pada mereka?"
Laura yang saat ini sudah menyusun rencana di otaknya, mengungkapkan sebagian rencananya karena memang sekarang tidak percaya sepenuhnya pada orang lain.
__ADS_1
"Aku akan membeli saham Perusahaan Prameswari dan menjadi pemegang saham tertinggi." Laura bahkan sudah mengumpulkan banyak uang yang dikumpulkan selama bertahun-tahun di New York.
To be continued...