365 Days With You

365 Days With You
Mengatakan sendiri


__ADS_3

Laura yang kini melihat putranya menangis tersedu-sedu di atas ranjang, langsung mendekat dan merayu agar diam. Bahkan berniat untuk menggendongnya. Namun, saat ia hendak melakukannya, mendengar suara serak yang terdengar sangat jelas.


"Mamaaa!" seru Valerio yang kini masih menangis tersedu-sedu sambil mengucek matanya.


Laura merasa bingung harus menyebutkan sebagai siapa dan juga tidak mungkin menyerahkan putranya pada Ana—wanita yang sangat beruntung karena dicintai oleh laki-laki sekelas Christian meskipun punya kekurangan.


"Sayang, ada Tante di sini. Ayo, kita minum susu sambil mainan robot dan mobil-mobilan," bujuk Laura yang merasa sangat deg-degan jika putranya tidak mau dan terus menangis tersedu-sedu.


Valerio yang tadinya menangis tersedu-sedu, kini sudah membayangkan punya mainan baru. Akhirnya ia pun langsung mengulurkan tangannya begitu digendong. Intinya ia ingin mainan baru.


Saat Laura tersenyum bahagia karena berhasil membuat putranya melupakan mama palsunya, ia mengingat sesuatu hal. Hingga begitu menggendong Valerio, hendak berjalan keluar malah melihat 3 pria yang saat ini berdiri tak jauh darinya.


"Kalian? Sejak kapan kalian berada di sini? Lalu apa yang kalian lakukan di kamarku?" Ia biasanya tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke ruangan kamarnya, tapi hari ini malah ada 3 pria yang berada di hadapannya.

__ADS_1


"Sejak mendengar suara tuan Valerio menangis, Nona Laura," ucap Vicky yang sedikit banyak mengetahui tentang bocah laki-laki itu karena sering ke rumah bosnya.


Hingga ia pun merasa lega begitu melihat sosok wanita yang merupakan ibu kandung Valerio tersebut berhasil meluluhkan putranya.


"Memangnya Anda sudah menikah dan mempunyai anak?" sahut sang pengawal yang ada di Amerika dulu.


"Kamu pastinya sudah sangat hafal denganku. Jika aku besar di New York sana dan pastinya nggak akan pernah menghancurkan diri sendiri hanya demi nafsu dan berakhir punya anak diluar nikah," ujar Laura yang masih ingin merahasiakan tentang putranya.


Hingga ia pun beralih menatap ke arah Mario. "Tolong kamu handel semuanya. Kejadian hari ini benar-benar tidak boleh diketahui oleh musuh."


"Siap, nona Anastasya," sahut Mario yang kini telah berpikir untuk tidak mengatakan pada mantan pengawal Laura demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, seperti contohnya paman dan sepupu tahu tentang Valerio.


"Kalian ikut aku!" sarkas Mario pada dua pria yang ia tahu tidak ada urusan dengannya. "Jelaskan apa yang kalian inginkan hingga datang ke sini?"

__ADS_1


Karena memang tidak ingin membuang waktu lebih lama, kini Vicky langsung menjelaskan niatnya. "Saya ingin nona Laura berjaga-jaga karena dari dulu Perusahaan Prameswari seperti banyak penipunya."


'Memangnya apa yang ingin dikatakan oleh Vicky?' gumam Laura yang baru saja selesai membuatkan susu untuk putranya.


Ia kini mendaratkan tubuhnya di sofa dan memangku putranya. "Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku hingga datang ke apartemenku?" Menatap ke arah asisten pribadi mantan suaminya.


'Apakah dia ingin menyampaikan pesan dari Christian?' gumamnya dengan rasa penasaran luar biasa pada pria yang masih memakai setelan lengkap di hadapannya tersebut.


Hingga saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara dering ponsel milik Vicky yang langsung diserahkan padanya.


"Tuan Christian yang akan mengatakannya sendiri secara langsung, Nona Laura," ucap Vicky yang tadi sudah mengirimkan pesan pada bosnya jika ia berada di apartemen mantan istri siri tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2