365 Days With You

365 Days With You
Sebuah saran


__ADS_3

Tidak ada lagi pembahasan tentang keinginan Laura untuk kembali ke keluarganya. Setelah makan siang, keduanya pergi ke rumah ketua RT di mana Laura tinggal.


Karena pria itu adalah salah satu saksi saat Christian dan Laura melangsungkan pernikahan. Hanya pria itu yang Laura ingat. Selebihnya, Christian-lah yang mengurus. Mulai dari mencari penghulu yang akan menikahkan mereka dan dua orang saksi lainnya.


Rumah ketua RT di komplek tempat tinggal Laura sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya. Rumah Laura tepat berada di bangunan yang berseberangan dengan rumah RT tersebut. Hanya saja, memang tidak saling berhadapan.


Mario memarkirkan mobilnya di halaman rumah Laura. Mereka memilih untuk berjalan kaki saja ke rumah seberang sana.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya benda itu terbuka. Seorang gadis berdiri dan menyapa ramah kedua tamunya.


“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya gadis itu.


“Saya Laura. Salah satu warga komplek sini. Rumah saya di sana,” ucap Laura menunjuk bangunan miliknya yang berada di seberang jalan komplek. “Saya ingin bertemu dengan pak Rafi. Apa beliau ada di rumah?” tanya Laura.


“Em, ayah sedang pergi ke luar kota, Kak,” jawab gadis remaja itu.


“Kira-kira kapan beliau kembali?”


“Saya kurang tahu, Kak. Ayah tidak memberitahu saya.”


“Baiklah. Kami akan kembali lagi nanti,” balas Laura. “Terima kasih, ya.”


Remaja itu tersenyum dan mengangguk sopan. Ia menutup pintu setelah kedua tamunya berlalu pergi.


Akhirnya Laura mengajak Mario kembali ke rumahnya. Entah kenapa perasaan Laura mengatakan jika gadis itu sedang berbohong. Baru tadi pagi ia melihat RT itu saat sedang membuka jendela rumah.


“Kamu baik-baik saja, Laura?” tanya Mario yang menyadari perubahan pada ekspresi Laura.


“Em, tidak apa-apa.” Aku hanya sedang memikirkan nama salah seorang saksi lain,” dusta Laura. Ia tidak ingin mengatakan kecurigaannya pada Mario. Biar ia saja yang akan mencari tahu sendiri.


“Mario, bagaimana menurutmu dengan keinginanku untuk kembali pada keluargaku?” tanya Laura. Ia masih ingin mendengar pendapat Mario.


“Kenapa kamu tiba-tiba ingin kembali sekarang?”


“Kamu tahu, bukan? Keluargaku adalah salah satu pengusaha ternama di negeri ini. Aku rasa jika kembali ke sana, akan lebih mudah untuk membalaskan dendamku pada Christian. Aku bisa melakukan apapun dengan uang dan kekuasaan, bukan?” Laura menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.


Mario tidak langsung menjawab. Pria itu sedang berpikir, jawaban apa yang akan ia berikan agar bisa diterima oleh Laura.


Mario memang membenarkan perkataan Laura jika ia memiliki kekuasaan dan uang, maka akan lebih mudah untuk wanita itu membalaskan dendamnya. Namun, Laura tidak bisa dengan mudah masuk dan mengambil alih perusahaan keluarganya.


“Laura, boleh aku memberikan saran? Entah ini bisa kamu terima atau tidak, tapi aku harap bisa menjadikan saranku ini sebagai bahan pertimbangan,” ucap Mario meminta izin wanita itu lebih dulu.


“Tentu saja Mario. Menurutmu, untuk apa aku mengatakan ini padamu kalau bukan untuk meminta pendapatmu,” balas Laura sembari tersenyum manis.

__ADS_1


Mario mengalihkan pandangan ke arah lain. Jantungnya tidak baik-baik saja setiap melihat senyum wanita itu yang sangat memesona.


“Kamu tahu, Laura. Perusahaan milik papamu bukanlah perusahaan biasa. Meskipun dalam surat wasiat itu tertera jika kamu adalah ahli waris dan penerus perusahaan, tetapi tidak semudah itu untuk menduduki jabatan tertinggi di perusahaan."


"Kita belum tahu, apakah posisi direktur utama itu diisi oleh pamanmu atau masih kosong. Butuh rapat dan persetujuan dari para petinggi perusahaan dan para penanam saham di sana untuk menyetujui itu."


"Maaf, bukan aku meragukan kemampuanmu, tapi kita berpikir secara logis saja. Sebaiknya kamu pahami lebih dulu bagaimana perusahaan Prameswari Group sebelum masuk ke dalamnya."


Mario ingin menunda Laura kembali pada keluarga karena menyimpan sebuah rahasia besar yang belum ia sampaikan pada wanita itu.


"Kita harus mengambil kepercayaan para penanam saham agar mereka yakin jika kamu mampu memimpin perusahaan itu.”


Laura diam mendengarkan dengan seksama apa yang Mario katakan. Ia mencerna setiap kalimat yang pria itu ucapkan, mencoba berpikir dengan baik.


Terlalu egois memang jika ia memaksa untuk tetap masuk ke dalam perusahaan dan menduduki jabatan tertinggi di sana.


Apalagi Laura hanyalah seorang wanita yang baru saja lulus dari sebuah universitas di New york. Ya, ia kini sudah mengingat semuanya. Bagaimana bisa ia berakhir amnesia saat pulang dari luar negri.


Laura tahu bahwa nilai terbaik saja tidak cukup. Tentu para penanam saham di perusahaan tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.


Mereka tidak akan mau perusahaan itu dipimpin oleh seorang wanita yang tidak berpengalaman dalam bisnis dan hanya bermodalkan sebuah surat wasiat saja. Laura harus memberikan sebuah bukti dan kunci agar bisa diterima oleh mereka.


Apa ia harus memulai dari bawah? Menjadi seorang karyawan biasa dulu misalnya. Laura kembali bimbang dengan niatnya.


“Laura,” panggil Mario yang berhasil membuyarkan pikiran wanita itu. “Aku ingin mengatakan satu hal padamu,”sambung pria itu.


“Apa itu, Mario?”


“Aku tidak tahu sejauh apa akan selalu di sisimu untuk membantu. Aku tahu kamu pasti akan kembali pada keluargamu. Jika kelak kita tidak lagi bersama seperti ini, jangan pernah percaya pada orang lain melebihi percaya pada dirimu sendiri."


"Dunia ini sangat kejam. Kamu harus pandai-pandai memilih mana orang yang sungguh-sungguh mendukungmu, dan mana yang hanya memanfaatkanmu saja."


"Tidak selamanya orang baik itu baik, dan tidak selamanya orang jahat itu memang jahat. Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mencapai apa yang ia inginkan."


"Tahta dan jabatan bisa membutakan mata hati seseorang. Orang baik saja bisa berubah menjadi monster saat ambisi untuk mencapai kekuasaan sudah menguasai diri. Dia akan melakukan apapun untuk mencapai posisi itu.”


“Apa dunia bisnis juga sekejam itu, Mario?” Laura menatap tajam pria di depannya dan mendapat anggukan dari pria itu.


“Bukan hanya dunia bisnis saja. Saat kamu memasuki dunia yang berkaitan dengan kekuasaan maka kau harus benar-benar jeli dan hati-hati.”


“Apa aku tidak bisa mempercayai siapa pun di perusahaan? Termasuk pamanku sendiri?” tanya Laura lagi.


“Yang berhak menilai itu adalah dirimu sendiri. Yang jelas, percayalah pada diri sendiri dan berpikirlah dengan baik saat akan mengambil sebuah keputusan." Mario tengah memberikan sebuah kata kunci agar wanita di hadapannya tersebut mengerti dan mulai mencari tahu.

__ADS_1


"Aku yakin kamu adalah wanita yang cerdas dan kuat. Kamu tahu, bukan? Semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kencang pula angin yang menerpanya. Butuh akar yang kuat dan kokoh untuk membuat pohon itu tetap berdiri dan terus tumbuh semakin tinggi.”


Laura diam menatap pria di depannya. Ia benar-benar sangat bingung dengan apa maksud dari pria yang berbicara panjang lebar itu.


"Apa kamu akan meninggalkanku, Mario? Kamu berpesan seolah-olah akan meninggalkanku,” ucap Laura yang kini hanya berpikir ke arah sana.


Mario mendengar pertanyaan Laura seolah mulai sedikit merasa ragu atas keputusan yang diambil. Ia sengaja melakukan itu demi kebaikan wanita yang mempunyai nasib malang karena masalah kekuasaan.


“Tidak. Selagi aku mampu, akan menemani dan membantumu. Bukankah saat kamu jadi pemimpin perusahaan kelak, akan menjadi wanita karier yang super sibuk?” seru Mario yang kini mencoba untuk menguraikan suasana serius di antara mereka.


“Tentu saja, tetapi bukan berarti aku akan melupakan kebaikanmu, Mario,” balas Laura. Wanita itu mencebikkan bibir. “Mario,” panggil Laura.


“Hem?”


“Apa aku bisa mempercayaimu? Apa kamu bisa menjaga kepercayaanku?” tanya Laura dengan wajah yang berubah serius.


“Aku tidak bisa menjawab itu. Aku ingin kamu menilai sendiri. Apalagi kamu pernah mendapatkan pengkhianatan dari orang yang sangat kamu cintai."


"Jadi aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku. Aku hanya ingin membantumu. Kamu tahu Laura, patah hati yang disengaja itu adalah saat terlalu percaya kepada orang lain dan bergantung pada orang tersebut.”


“Apa kamu percaya padaku? Maksudku, bagaimana jika aku hanya memanfaatkan kebaikanmu untuk kepentinganku saja?”


Laura hanya mengendikkan bahu karena tidak yakin dengan pertanyaan pria itu. “Itu bukan urusanku. Aku tidak bisa memaksakan kehendak seseorang dan tidak berhak mengatur niat dan keinginan seseorang."


"Jika dengan memanfaatkanku bisa mencapai tujuanmu, kenapa tidak? Anggap saja itu sebagai tanggung jawabku. Seperti yang pernah aku katakan padamu."


"Bukankah aku mempunyai utang? Jangan terlalu serius, Laura. Aku tidak ingin isi kepalamu dipenuhi oleh hal-hal aneh. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengantarmu ke rumah sakit terus.” Mario terkekeh dengan ucapannya.


“Oh, jadi selama ini kamu keberatan menemaniku?” Ketus Laura. “ Kamu tenang saja, aku akan membayarmu jika sudah menjadi pemimpin perusahaan kelak.”


“Bagaimana kalau kamu membayarnya dengan menemaniku makam malam nanti?” tawar Mario. Pria itu tersenyum jahil.


“Apa kamu sedang mengajakku berkencan?” Laura menelisik.


“Ternyata rasa percaya dirimu terlalu tinggi.” Mario bangkit dari duduknya.


Kemudian mengambil jas yang ia sampirkan pada sandaran sofa. “Aku harus kembali ke kantor. Banyak klien yang harus aku temui,” pungkasnya.


“Baiklah. Jemput aku jam tujuh malam dan aku yang menentukan di mana kita akan makan malam. Aku tidak menerima negosiasi,” balas Laura sedikit berteriak karena Mario sudah berada di ambang pintu utama.


“Terserah. Jika jam tujuh belum siap. Aku akan pergi sendiri,” balas Mario sembari berjalan dan menghilang di balik pintu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2