
Beberapa saat lalu, pengawal yang tengah sibuk menyuapi es krim di mulut bocah laki-laki yang terlihat sangat menyukainya, seketika menatap darah itu yang terbuka dan menampilkan dua bosnya yang sudah masuk ke dalam.
Ia seketika bangkit berdiri untuk membungkuk memberi hormat, tapi dilarang oleh bosnya dan kembali duduk. "Saya tidak tahu cara untuk merayu anak ini selain memberikan banyak makanan manis, Bos."
Laura yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapan putranya, sama sekali tidak menanggapi perkataan dari pengawal dan berniat untuk meminta putranya agar bisa menggendong atau memangku putranya sambil menyuapi.
Hanya saja, ia merasa bingung bagaimana harus memulainya dan tidak membuat putranya takut padanya. Ia mandiri sekilas ke arah Mario untuk meminta saran apa yang harus dilakukannya sekarang karena tidak ingin terlihat bodoh ataupun memberi kesan menakutkan.
Akhirnya Mario yang mengerti apa yang dimaksud oleh Laura dan mengarahkan wanita itu untuk duduk di sebelah pengawal agar bisa lebih dekat dan membiasakan diri terlebih dahulu.
"Duduk dan lihat Valerio dulu. Baru nanti kamu akan mengerti apa yang harus dilakukan," lirih Mario di telinga Laura.
Laura saat ini seperti patung ketika menuruti perintah Mario, tapi akhirnya ia tersenyum ketika melihat wajah menggemaskan dan tampan dari putranya. Meskipun saat ini terlihat belepotan karena ada banyak sisa es krim di sekitar mulut.
Akhirnya ia refleks membuka tas dan mengambil tisu untuk berniat membersihkan sisa es krim di mulut putranya. "Biar kubersihkan, Sayang."
Kemudian dengan perlahan ia membersihkan area sekitar mulut putranya yang kini juga tengah menatapnya. Bahkan ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan debu jantung tidak beraturan karena saat ini merasa sangat takut sekaligus khawatir jika sampai putranya menolak karena takut padanya.
Namun, yang terjadi tidak seperti yang dipikirkan karena saat ini putranya hanya diam ketika dibersihkan olehnya dan membuatnya bisa bernapas lega. "Sudah bersih dan tampan lagi, Sayang."
Laura saat ini sebenarnya ingin segera mengulurkan tangannya untuk meminta putranya dari pengawal yang sedang memangku, tapi mencoba untuk bersabar dan membiarkan Valerio membiasakan diri untuk melihatnya terlebih dahulu.
'Sabar, Laura. Kamu tidak boleh gegabah dan membuat putramu takut,' gumam Laura yang saat ini mempunyai sebuah ide di kepalanya dan langsung mengetik pesan pada ponsel Mario yang masih berada di dalam tasnya.
Kamu bilang pada anak laki-laki itu ingin pergi ke toilet karena sakit perut dan berikan padaku. Biar aku yang melanjutkan menyuapinya es krim.
Kemudian langsung mengirimkan pesan dan memberikan kode agar pengawal membacanya.
Pria yang saat ini mengerti perintah dari bosnya tersebut, segera melakukan apa yang diinginkan wanita itu dan menatap bocah tidak laki-laki di pangkuannya. "Jagoan, Om sakit perut, Sayang. Valerio sama Tante dulu makan es krimnya, ya. Om mau ke kamar mandi."
Bocah laki-laki yang saat ini hanya diam sambil menikmati es krim di mulut, kini merasakan tubuhnya sudah berada di pangkuan seorang wanita yang baru saja datang dan senyum padanya sambil berbicara.
"Sekarang Tante yang suapin Valerio." Meskipun sebenarnya sangat tidak menyukai panggilan tante, tapi terpaksa harus menerimanya karena tidak mungkin putranya langsung memanggil mama dan malah akan takut padanya ataupun mengingatkan pada wanita yang berperan sebagai mama palsu selama ini.
Hingga ia pun kini berpikir bahwa bisa memangku dan menyuapi putranya sudah merupakan anugerah paling berharga yang didapatkan saat ini.
'Ya Allah, jadi seperti ini rasanya menjadi seorang ibu? Rasanya benar-benar sangat membahagiakan dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,' gumam Laura yang saat ini sudah sibuk menyuapi es krim putranya.
Ia bakat saat ini menunduk untuk bisa mencium rambut kita berkilat hitam itu dan bola matanya seketika berkaca-kaca saat ini karena merasa terharu atas kebahagiaan yang didapatkan hari ini.
Hingga ia mendengar suara mungil menggemaskan dari putranya yang tidak dipahami olehnya dan membuatnya merasa kebingungan.
"Ium ... ium," ucap Valerio yang saat ini merasa haus dan ingin minum susu.
Sementara Laura saat ini masih berusaha untuk mencoba memahami apa yang baru saja diungkapkan oleh putranya yang masih berbicara tidak jelas.
"Ium? Sayang mau cium?" tanya Laura yang saat ini berusaha mengajak bicara putranya untuk mencari tahu apa yang diinginkan.
__ADS_1
Namun, ia melihat wajah yang tadinya terlihat senang menikmati es krim dan tampak menggemaskan itu berubah mencebikkan bibir dan merasa khawatir apa yang ditakutkan terjadi.
Ia beralih menatap ke arah Mario untuk bertanya. "Sepertinya bukan cium yang dimaksud Valerio. Apa kau mengerti, Mario."
Mario yang sebenarnya dari tadi juga ikut mencari tahu apa yang dimaksud oleh bocah laki-laki itu, tapi tidak memahaminya, sehingga berpikir jika saat ini ikut kebingungan.
"Aku juga tidak tahu apa yang dimaksud putramu. Kira-kira apa yang diinginkannya?" Baru saja ia menutup mulut, seketika mendengar suara tangisan dari bocah yang memang dari tadi mencebikkan bibir.
Hingga ia pun merasa kebingungan juga, sama seperti respon yang ditunjukkan oleh Laura.
Laura yang sudah menduga jika putranya akan menangis karena tadi mencebikkan bibirnya, buru-buru bangkit berdiri dari posisi memangku dan berusaha untuk menenangkan dengan memeluk erat tubuh mungil yang juga ia usap beberapa kali bagian punggungnya.
"Sayang, jangan nangis, ya. Valerio mau apa? Katakan sekali lagi agar Tante mengerti. Cup ... cup, Sayang." Laura yang tengah berusaha untuk menenangkan putranya, mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukan sang ibu dulu kala ia menangis.
Hingga ia seketika mengingat hal paling penting dari seorang anak kecil dan menoleh pada Mario yang masih berdiri tak jauh dari hadapannya. "Mario, aku sekarang tahu."
"Tahu apa?" Mario memicingkan mata saat melihat Laura yang masih sibuk menenangkan putranya. Hingga ia pun mengerti dan berpikir jika apa yang baru saja dikatakan Laura benar.
"Sepertinya putraku haus dan ingin minum susu. Suruh pengawal membeli susu untuk anak berusia 1 tahun ke atas. Belikan yang paling mahal dan juga jangan lupa botolnya sekalian." Kemudian Laura kembali melanjutkan untuk menenangkan bocah laki-laki yang masih terus menangis di pelukannya tersebut.
Tanpa berniat untuk menanggapi Laura, seketika Mario buru-buru berjalan menuju ke arah pintu keluar untuk menemui pengawal.
Namun, saat membuka pintu, ia menoleh ke arah Laura. "Tunggu sebentar dan terus berusaha tenangkan putramu."
Laura yang melihat pintu sudah tertutup, kini kembali mengusap lembut punggung putranya agar tidak menangis lagi. Ia benar-benar tidak tega melihat putranya yang haus dan ingin minum susu, sehingga rewel dan tidak bisa berhenti menangis.
Berganti dengan suara napas teratur dari bocah yang dipeluknya erat. Meskipun terkadang sesekali sesenggukan, tapi lama-lama berubah teratur.
"Putraku tertidur," lirih Laura yang kini merasa sangat lega karena akhirnya bisa membuat putranya berhenti menangis.
Bahkan ia seketika berkaca-kaca pernah merasa sangat terharu atas apa yang baru saja ditunjukkan oleh putranya karena bisa tertidur di gendongannya.
"Nikmat mana lagi yang Kau dustakan." Suara Laura saat ini benar-benar serak ketika mengungkapkan perasaan memuncak yang dirasakan begitu melihat malaikat kecil itu sudah terisi pulas dan bernapas dengan teratur.
Ia refleks langsung menunduk untuk mencium wajah tampan putranya yang masih dihiasi bulir air mata. Kemudian untuk mendapatkan tubuhnya di kursi dan membersihkan bekas air mata itu.
"Terima kasih, Sayang karena kamu kini tertidur dan Mama bisa melihatmu dengan sepuasnya seperti ini." Laura tidak berhenti mengucap syukur atas apa yang hari ini didapatkan.
Bahwa kebahagiaan luar biasa kini dirasakan dan membuatnya tidak berhenti menatap ke arah wajah menggemaskan putranya yang saat ini terpejam dan tertidur pulas dipelukannya.
"Mama tidak tahu harus bagaimana untuk menenangkanmu jika masih terus menangis. Melihatmu tidur seperti ini, membuat Mama ingin selalu memelukmu dan tidak akan pernah melepaskannya." Laura kembali mencium wajah putranya yang diakuinya sangat tampan.
Ia tidak memperdulikan bulir air mata yang saat ini lolos tanpa seizinnya karena meluapkan segala perasaan bergejolak yang menunjukkan kebahagiaan tidak terkira.
Hingga ia yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya dari wajah malaikat kecilnya tersebut, melihat pintu yang dibuka dan Mario berjalan masuk ke dalam. Seketika ia langsung mengarahkan jari telunjuk pada bibirnya agar Mario tidak berisik dan membangunkan putranya.
"Tidur?" Mario mengerutkan kening karena merasa tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini karena suasana seketika berubah hening dan sangat berbeda dengan beberapa saat lalu yang dipenuhi dengan tangisan memekakkan telinga.
__ADS_1
Laura kini menganggukkan kepala dan tersenyum simpul, selalu berbicara dengan sangat lirih agar tidak didengar putranya yang tengah larut dalam alam bawah sadar. "Putraku pasti tadi menangis karena mengantuk. Sepertinya dia terbiasa minum susu sebelum tidur, jadi membuatnya rewel."
"Untungnya aku bisa menenangkannya dan dia tertidur pulas seperti ini. Rasanya sangat tidak percaya, tapi ini yang terjadi. Sepertinya inilah yang disebut ikatan batin antara ibu dan anak sangat kuat. Aku sangat yakin jika ibu palsu itu tidak bisa melakukannya tanpa memberikan susu." Laura saat ini mengusap lembut rambut hitam berkilat putranya.
"Rambutnya sepertiku, Mario. Lurus dan lebat," lirih Laura yang tidak berhenti tersenyum kala melihat putranya yang sangat damai di pangkuannya.
"Anak laki-laki biasanya lebih mendominasi gen dari ibunya. Karena kata banyak orang, aku sangat mirip dengan mamaku. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" Mario ingin mengetahui langkah selanjutnya.
Laura yang saat ini mengalihkan perhatiannya dari putranya, kini menatap ke arah Mario. "Aku ingin mengajaknya pulang ke apartemen. Aku ingin memeluknya saat tertidur."
"Lalu kapan kamu berencana untuk memulangkan putramu agar tidak menimbulkan masalah?" Mario ingin mengingatkan Laura agar tidak berpikir untuk selamanya tinggal dengan putranya saat masalah belum dibereskan.
Apalagi ia tadi berpikir jika Laura hanya sebentar saja bertemu dengan anak laki-laki yang tengah tertidur pulas itu.
Sementara itu, Laura yang saat ini tengah menatap Mario, seolah memikirkan keputusan paling tepat hari ini. "Aku pasti akan memulangkan putraku setelah puas bersamanya."
Saat baru saja menutup mulut, ia malah mendengar suara bariton Mario yang seperti ibarat sebuah tamparan untuknya.
"Mana mungkin kamu akan merasa puas tinggal bersama dengan putramu? Astaga, rasanya aku benar-benar pusing memikirkanmu. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikanmu karena aku sendirian juga ikut senang sekaligus bahagia melihatmu akhirnya bisa bersama dengan Valerio seperti ini."
Mario yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu, kini meminta Laura segera bangkit berdiri dari posisinya. "Kita pergi sekarang! Aku akan mengantarmu."
Seketika wajah Laura berbinar begitu perintahnya dituruti oleh Mario. "Terima kasih, Mario. Memang kamu selalu bisa mengerti aku," ucapnya yang kini buru-buru bangkit berdiri. "Tolong bawakan tasku karena aku kesusahan."
Mario kini berjalan mendekat dan mengambil tas jinjing Laura yang ia ketahui memiliki harga sangat fantastis karena dari New York. Kemudian mengikuti sosok wanita yang terlihat bahagia tersebut berjalan keluar dari restoran.
Ia mengambil ponsel miliknya dan menelepon pengawal yang tadi disuruh untuk membeli susu agar mengantarkan ke apartemen karena tidak mungkin terlalu lama menunggu di restoran, sedangkan bocah laki-laki itu butuh tempat yang nyaman untuk berbaring saat tidur.
Beberapa saat kemudian, Laura masuk ke dalam mobil setelah pintu dibukakan oleh Mario. Begitu melihat pria itu mengemudikan mobilnya, ia mengungkapkan sedikit kekhawatirannya.
"Apa kau tadi melihat ke sekeliling, Mario? Tidak ada yang mengenali kita, kan? Atau ada orang yang berasal dari Perusahaan Prameswari?" Laura masih mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Mario tentang menunjukkan kelemahannya.
"Aku sama sekali tidak takut ada yang memanfaatkanku, tapi aku lebih khawatir jika putraku disakiti." Laura kini bernapas lega begitu melihat Mario langsung menggelengkan kepalanya.
"Setahuku tidak ada dan semoga memang tidak ada. Lain kali jangan pilih restoran karena itu juga merupakan tempat umum yang bisa siapa saja datang ke sana dan melihatmu. Tahu begini, tadi langsung ke apartemenmu saja." Mario melirik sekilas ke arah anak laki-laki yang tengah larut dalam alam bawah sadar itu.
"Putramu pasti sangat lelah, sehingga bisa tertidur nyenyak seperti itu," ucap Mario yang kembali fokus menatap jalanan ibu kota yang cukup padat di hari ini.
Laura yang membenarkan perkataan dari Mario, kini merutuki kebodohannya sendiri. "Iya, kau benar. Seharusnya tadi langsung membawa putraku ke apartemen saja. Aku tidak pernah menyangka jika bisa dengan mudah menidurkannya seperti ini."
"Valerio benar-benar adalah darah dagingku dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kami, sekalipun Christian maupun Ana Maria," ucapnya dengan kembali mencium pucuk kepala putranya.
Ia bahkan saat ini sudah tidak sabar ingin membaringkan putranya di ranjang nyaman miliknya dan memeluknya dengan sangat erat. Bahkan hanya membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sangat bahagia, apalagi benar-benar melakukannya.
"Putraku, Mama sangat menyayangimu, Sayang. Semoga suatu saat nanti, kamu memanggilku mama dan kita bisa bersama selamanya," ucap Laura sambil mengusap lembut kening Valerio yang mengeluarkan peluh dan membuatnya menambah suhu AC di dalam mobil.
To be continued...
__ADS_1