
"Astaghfirullah, Sayang. Bicara apa sih kamu! Jangan ngelantur kemana-mana. Jika aku tahu kamu selalu lagi mengatakan hal yang tidak-tidak, tidak akan mau bicara padamu." Christian yang sama sekali tidak pernah berpikir sampai jauh ke sana, kini menatap tajam sang istri yang masih pucat itu.
Ia merasa seperti tidak dihargai perjuangan dan pengorbanannya sampai menjatuhkan talak pada Laura meskipun masih sangat mencintainya. Jadi, merasa sangat marah sekaligus kesal mendengarnya.
"Lebih baik kamu makan buah pesananmu sekarang," ucapnya sambil membukakan kotak makanan berisi potongan buah-buahan yang tadi dibeli.
Ana yang sebenarnya merutuki kebodohannya karena berpikir sampai mati dan akan dilupakan oleh suami serta Valerio, hanya diam dan kebingungan.
"Maafkan aku. Bukan itu maksudku karena hal itu tadi terlintas sekilas di pikiranku. Bukankah semua orang sakit selalu berpikir negatif dan ke mana-mana? Aku ingin kamu menyuapiku." Ana yang saat ini melihat sang suami duduk di kursi sebelahnya, merasa tidak punya tenaga.
"Kenapa aku seperti tidak punya tenaga hanya untuk makan?" lirihnya yang kini membuat gerakan tangan mengepal dan membuka perlahan.
__ADS_1
Christian yang saat ini tidak tega pada Ana sekaligus mengingat jika sosok sang istri memang sangat pucat wajahnya, kini mengangguk perlahan.
"Tanpa kamu menyuruh, aku akan menyuapimu, Sayang. Jangan ulangi kesalahanmu tadi karena itu membuatku merasa sangat tidak dihargai ketika berusaha untuk melakukan apapun demi kesembuhanmu selama ini." Kemudian menyuapkan potongan buah ke mulut Ana.
Ana hanya menjawab dengan mengangukkan kepala dan sudah membuka mulut, lalu mengunyahnya. "Memang benar apa yang kamu katakan, Sayang. Aku tidak akan pernah mengulanginya. Aku ingin sembuh dan fokus berobat."
Christian yang saat ini tengah fokus menyuapi, kini mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mengenai penyakit yang diderita oleh Ana. Ia yang sebenarnya merasa sangat penasaran dengan apa yang tadi dilihat Ana saat menelpon sang ibu.
Saat ingin keluar dari ruangan ketika tengah malam, ia malah melihat Ana mengigau dan berkeringat sambil merintih seperti merasakan kesakitan. Akhirnya tidak jadi pergi dan mengompres kening Ana karena demam.
Tadi pagi ia langsung mengatakan pada dokter yang memeriksa dan memang itu adalah efek dari obat yang bekerja. Ia sebenarnya khawatir jika Ana menyadari jika sang ibu tidak berada di rumah, tapi apartemen Laura.
__ADS_1
'Semoga Ana sama sekali tidak menyadarinya. Akan lebih baik jika mama tinggal bersama Laura untuk sementara waktu sampai kondisi Ana membaik,' gumam Christian yang nanti berniat untuk berbicara dengan sang ibu.
Ana yang baru saja selesai berbicara tentang Valerio, kini masih bisa mengingat bagaimana wajah polos anak laki-laki yang menurutnya semakin lama sangat mirip dengan sosok wanita itu.
Namun, ia berusaha untuk membesarkan hati meskipun tersiksa karena setiap hari harus menatap Valerio yang sangat mirip dengan wanita yang telah merebut kebahagiaannya.
'Aku yang ingin bisa melupakan wanita itu, tapi tidak bisa melakukannya saat wajah Valerio memiliki kemiripan hampir 80 persen. Namun, harus selalu berakting bahagia karena akhirnya suamiku bisa meneruskan jejak keturunan di keluarga Raphael,' gumam Ana yang saat ini merasakan nyeri luar biasa pada bagian bawah perut.
Namun, ia menahannya karena tidak ingin sang suami khawatir. 'Ya Allah, apa aku harus selalu merasakan sakit luar biasa seperti ini? Atau Engkau akan mengambil nyawaku dalam waktu dekat ini?'
To be continued...
__ADS_1