
Christian yang bisa mendengar kemurkaan Laura, saat ini menelan saliva dengan kasar. Perasaan bersalah yang selama satu tahun ini tidak bisa membuat hidupnya tenang makin terasa begitu mendengar sendiri jeritan hati Laura saat ini.
Ia mengerti bagaimana terlukanya hati seorang wanita yang baru saja melahirkan malah ditalak dan dibawa bayinya tanpa sepengetahuannya. Hal itulah yang setiap hari menghantuinya dan membuatnya dibayangi rasa berdosa pada sosok wanita yang bahkan masih dicintai.
Namun, tidak berdaya karena tidak tega pada Ana yang memiliki penyakit dan masih dalam masa penyembuhan hingga sekarang. Kini, Christian hanya bisa mengucapkan satu kata.
"Maaf."
"Bukan itu yang kuinginkan, Bajingan! Bahkan sampai kau berlutut dan sekali pun menangis darah di kakiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Jika kau ingin hidup tenang, kembalikan putraku, atau aku akan menghancurkanmu dan istrimu yang tidak berguna itu!" sarkas Laura di dalam mobil sambil mengepalkan tangannya dan digunakan untuk memukul pahanya sendiri.
Ia saat ini benar-benar butuh pelampiasan dan tidak bisa menahan puncak amarah yang seperti api membakar dirinya.
Hingga tangannya ditahan oleh Mario yang langsung mengarahkan pada lengannya.
"Jangan menyiksa diri sendiri hanya karena pria berengsek itu. Gunakan lengan atau bahuku saja," ucap Mario yang tidak tega melihat Laura melampiaskan amarahnya dengan menyakiti diri sendiri.
Sementara itu, Laura kini masih menatap Mario yang menahan tangannya. Hingga ia menyadari jika hanya dengan melihat foto putranya saja sudah membuatnya sangat lemah dan bodoh karena menunjukkan kelemahan di depan orang lain.
Sampai di mana ia menyadari semuanya dan mengembuskan napas kasar untuk menormalkan deru napas memburu yang menghiasi ruangan di dalam mobil.
Refleks Laura menggelengkan kepalanya dan memberikan kode pada Mario agar melepaskan kuasanya.
Akhirnya Mario yang tidak tega saat melihat permohonan Laura, kini percaya jika wanita itu tidak akan mengulangi. Hingga ia pun kini ingin melihat apa yang dilakukan oleh Laura selanjutnya.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir karena aku bukanlah seorang wanita lemah." Saat Laura yang kini baru saja menutup mulut, mendengar suara Christian yang seperti tengah mengungkapkan kekhawatiran.
__ADS_1
"Laura, apa yang kamu lakukan? Kamu menyakiti diri sendiri? Jangan lakukan itu! Lakukan padaku dan aku tidak akan pernah menolaknya karena pantas mendapatkannya. Kamu harus hidup bahagia, Laura. Kamu masih muda dan normal, pastinya akan bisa melahirkan anak lagi."
Christian yang beberapa saat lalu bisa mendengar suara Mario kala berbicara dengan Laura, benar-benar sangat khawatir dan ingin tahu apa yang dilakukan oleh wanita yang pernah menjadi istrinya itu saat menyakiti diri sendiri hanya karena berbicara dengannya.
Ia berusaha untuk memberikan sebuah saran dan penghiburan agar wanita itu kembali hidup bahagia, meskipun bukan bersamanya. Meski ia sebenarnya tidak rela, tetapi sadar harus mengikhlaskan.
"Aku mohon ikhlaskan Valerio untukku, Laura karena aku hanya memilikinya. Kamu tahu kan jika aku tidak bisa memiliki anak karena Ana yang tidak normal. Sementara kamu, masih muda, sehat dan normal serta cantik yang bisa mendapatkan segalanya, termasuk anak lagi." Christian sudah tidak tahu cara apa lagi untuk bisa membuat Laura melupakan Valerio.
Jadi, berpikir dengan memberikan sebuah pujian pada Laura, bisa membuat wanita di seberang telpon itu menyadari kelebihannya.
Di sisi lain, Laura yang merasa makin sesak napas atas kalimat yang dianggap tidak punya hati karena dengan mudah berbicara seperti itu padanya, kini seketika tertawa terbahak-bahak.
Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dulu sangat tergila-gila pada seorang pria yang bahkan tidak punya hati seperti Christian. Bahkan suara tawanya membuat ia menyadari bagaimana bisa menjadi seorang wanita bodoh.
Saat menertawakan diri sendiri yang sangat bodoh karena cinta, kini ia mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya dengan menatap ke arah Mario.
Ia benar-benar sangat muak berbincang dengan pria yang dianggap tidak punya perasaan karena tidak bisa mengerti apa yang dirasakan selama setahun belakangan ini.
Kemudian Laura menyerahkan ponsel milik Mario saat menatap pria itu. "Blokir nomor bajingan itu agar tidak pernah bisa menghubungi nomormu lagi dan jangan pernah angkat jika ada nomor asing yang menelpon karena aku yakin itu adalah pria sialan itu."
Saat ini, Laura merasa kepalanya panas dan seperti terbakar karena seharian melihat semua orang yang menjadi penyebab keterpurukannya.
"Aku ingin ke pantai. Antarkan aku pantai di dekat Villa-ku sekarang. Aku ingin menenangkan pikiran di sana. Setelah itu, kembalilah ke Jakarta." Laura kini berbicara tanpa menatap ke arah Mario dan bergerak menggelung rambut pirangnya ke atas.
"Kenapa hari ini sangat panas seperti berada di atas kobaran api?" sarkas Laura yang mengempaskan tubuhnya untuk bersandar pada jok mobil sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Mario yang hanya diam saja agar Laura lebih tenang saat menenangkan pikiran, kini menyalakan mesin mobil dan menambah kekuatan pendingin udara di dalam mobil. Kemudian kembali mengemudikan kendaraan menuju ke arah pantai yang berada di luar kota.
Selama ini Laura lebih suka menenangkan pikiran di daerah pesisir dan saat memiliki banyak uang saat bisnisnya sukses, membeli sebuah Villa di area pantai untuk tempat tinggal yang dianggap sebuah penghargaan atas kerja kerasnya untuk memiliki sebuah tempat nyaman saat liburan.
Ia melirik sekilas ke arah Laura yang masih memejamkan mata. "Kali ini berapa hari?"
"Aku tidak tahu." Laura yang masih memejamkan mata, belum memutuskannya karena perasaannya masih kacau balau.
Hanya saja, ia yang menyadari kebodohannya saat mengakui adalah Laura pada Christian, membuatnya merasa bersalah pada Mario. Kini, ia perlahan membuka mata dan menegakkan tubuh sambil menatap pria di balik kemudi itu.
"Maafkan aku karena tidak mendengarkan perintahmu tadi." Laura yang baru saja menutup mulut, merasa seperti mendapatkan sebuah tamparan keras atas tanggapan datar Mario.
"Seandainya maaf bisa menyelesaikan masalah, pasti kamu tidak akan pernah berada di posisi sekarang ini, Laura. Aku tidak butuh maafmu, tapi niatmu untuk tidak ceroboh melakukan kesalahan seperti tadi." Mario sebenarnya tidak tega memarahi Laura.
Namun, ia tidak ingin Laura terus-menerus melakukan hal sama jika nanti bertemu dengan Christian atau pun putranya yang sangat dirindukan. Hingga ia kini merasa seperti baru saja memarahi seorang anak kecil begitu melihat sikap yang ditunjukkan Laura.
"Aku janji tidak akan kembali menjadi Laura bodoh lagi. Aku akan kembali menjadi Anastasya yang tidak ceroboh dan terpancing emosi." Laura kini mengulurkan jari kelingkingnya agar Mario memegang janjinya.
"Baiklah. Aku percaya padamu, Anastasya! Aku baru menyadari bahwa Anastasya jauh lebih baik daripada Laura. Jadi, aku ingin membuang Laura yang lemah itu dan menggantinya dengan Anastasya yang kuat dan dingin." Terdiam menatap ke arah wanita di sebelah kirinya tersebut.
"Aku pun akan mencintai Anastasya yang datar dan keras hati itu sampai mau menerimaku." Mario refleks mengarahkan punggung tangan wanita itu dan memberikan sebuah kecupan di sana untuk menunjukan betapa besar cintanya.
Ia berharap suatu saat nanti wanita itu mau menerima cintanya yang tulus dan bisa membuka lembaran baru mengukir masa depan bahagia.
'Ya Allah, aku mohon dengan segala paksaan, kali ini, jodoh nggak jodoh, harus jodoh.'
__ADS_1
To be continued...