365 Days With You

365 Days With You
Melakukan segala cara


__ADS_3

Awalnya Laura berusaha untuk menenangkan putranya agar tidak menangis karena tidak percaya pada perkataan dari mantan mertuanya tersebut. Ia sama sekali tidak ingin berpisah dengan putranya dan mengantarkan pada wanita yang telah membuatnya kehilangan dan terluka.


Namun, meski sekuat apapun mencoba, ia tetap tidak berhasil menenangkan putranya yang terus menangis tersedu-sedu. Bahkan sampai berguling-guling di lantai dan membuatnya tidak tega melihatnya.


"Ya Allah, Ma. Kenapa putraku mengalami tantrum seperti itu hanya karena ingin bertemu dengan ibu palsunya? Aku benar-benar sangat tidak berarti untuk darah dagingku sendiri." Laura berubah murung kala melihat sosok anak laki-laki yang masih terus menangis itu.


Bahkan kalimat bernada penghiburan dari sang mertua tidak berhasil membuatnya tenang, tapi malah membuatnya makin kesal dan marah.


"Bukan seperti itu, Sayang. Maklumi saja tingkah putramu yang memang dari semenjak bayi sudah dirawat oleh Ana. Jadi, Valerio menganggap Ana adalah ibu kandungnya. Bahkan aku sebagai neneknya pun tidak bisa menenangkannya saat menangis. Lebih baik kita sekarang berangkat ke Rumah Sakit," ucap wanita paruh baya yang kini masih mengusap lembut punggung Laura.


Laura kini memicingkan mata karena kalimat terakhir membuatnya gagal fokus. "Maksud Mama? Kita? Apa Mama mau aku juga ikut untuk menemui wanita yang telah merebut putraku? Aku tadi memang memberikan kesempatan untuk melihat putraku, tapi bukan berarti aku memaafkannya."


Perasaan Laura yang makin berapi-api karena saat ini sama sekali tidak berniat untuk mengantarkan putranya pada wanita yang sangat dibenci meskipun tahu jika sedang sakit parah.


"Aku bukan malaikat baik hati, Ma. Jadi, jangan salah paham dengan menganggapku wanita berhati emas yang baik hati. Kalau Mama mau membawa putraku pergi menemuinya, aku tidak akan ikut." Kemudian berjalan mendekati putranya dan selalu berusaha untuk merayu serta menenangkan.


Merasa bersalah pada Laura, kini sang mertua ingin menguraikan kesalahpahaman tersebut.

__ADS_1


"Bukan begitu, Sayang. Mama sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Tadi memang keceplosan dan hanya menceritakan tentang sikap Valerio saat tantrum. Biar Mama saja yang membawanya ke Rumah Sakit untuk menemui Ana. Nanti Mama kembali ke sini setelah putramu tenang."


Kemudian ia makin merasa iba melihat Ana tidak berhasil menenangkan bocah laki-laki itu dan akhirnya memilih untuk menyerah.


"Aku kalah, Ma." Laura hanya berbicara 3 kalimat dan masih melihat putranya yang bersimbah air mata kala menangis tersedu-sedu di lantai.


'Aku benar-benar iri pada wanita itu karena telah berhasil merebut hati putraku,' gumamnya sambil berkaca-kaca.


Jujur saja ia tidak tega melihat putranya menangis dan akhirnya kini memilih untuk menyerah. "Kita pergi menemui mama, Sayang. Ayo, Tante gendong agar cepat ketemu mama."


Hingga rasa sakit itu makin bertambah besar kala melihat pergerakan dari putranya setelah mendengar perkataannya.


"Ma ma?" seru Valerio yang masih sesenggukan saat berbicara, tapi merasa senang karena mendengar tawaran tersebut yang menyebutkan sang ibu.


Laura kini membuka kedua tangan dan mengangguk perlahan dengan perasaan berkecamuk. Ia bahkan kini berakting tersenyum simpul. "Iya, kita temui mama sekarang."


"Ma ma!" ujar Valerio yang kini tertatih-tatih saat bangkit dari posisi dan berjalan mendekat karena tidak sabar ingin segera bertemu sang ibu.

__ADS_1


Laura yang awalnya sama sekali tidak berniat untuk menemui Ana untuk mengantar putranya, kini berubah pikiran dan langsung bergerak menggendong putranya.


Kemudian beralih menatap pada mertuanya yang masih berdiri di sebelahnya. "Ayo, Ma. Kita berangkat sekarang ke Rumah Sakit!"


'Sial! Aku sama sekali tidak menyangka jika akan berbuat segila ini dan mengabaikan dendamku pada wanita itu,' sarkas Laura yang saat ini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu keluar.


Ia bahkan saat ini hanya mengenakan hotpants dengan kaos polos dan sama sekali tidak perduli akan penampilannya yang biasanya selalu sempurna saat keluar apartemen.


Berpikir jika berganti pakaian terlebih dahulu, hanya akan membuat putranya kembali menangis. Sementara sekarang susah tenang dalam gendongannya.


"Kamu ikut ke Rumah Sakit, Sayang?" tanya wanita dengan tubuh sedikit gemuk saat berjalan mengekor di belakang Laura.


Ia awalnya ragu akan perkataan Laura, tapi begitu melihat jika menantunya tersebut terus berjalan menuju pintu keluar, kini akhirnya tidak perlu sebuah jawaban.


'Pasti menantuku akan melakukan segala cara untuk putranya,' gumamnya sambil memencet tombol lift begitu tiba di depan pintu kotak besi tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2