365 Days With You

365 Days With You
Harapan Christian dan sang mama


__ADS_3

"Menurut Mama bagaimana? Apakah ada kemungkinan jika CEO bodoh itu yang menjadi dalangnya setelah mendengarkan ceritaku?" Christian yang saat ini masih merasa khawatir pada keselamatan putranya, sehingga ingin mendapatkan dukungan dari sang ibu.


Tanpa pikir panjang, wanita paruh baya tersebut segera memencet tombol panggil pada nomor kepala pelayan di rumah yang saat ini tengah mengajak bermain cucunya.


Kemudian langsung memberikan perintah akan membawa pulang cucunya dan jika menangis diperintahkan untuk membeli mainan apapun yang disukai. Lalu ia pun beralih menatap ke arah putranya.


"Sepertinya ada kemungkinan jika pria itu yang melakukannya, tapi kita tidak punya bukti dan harus mencarinya. Jika benar pria itu yang melakukan ini pada Laura, jebloskan dia ke penjara setelah mendapatkan semua bukti yang mengarah padanya." Ia pun saat ini seketika menoleh begitu sekilas melihat pergerakan dari dokter yang baru saja keluar ruangan operasi.


Refleks Christian seketika menghadiri sang dokter yang baru saja menyelesaikan operasi dan berharap mendapatkan kabar baik. "Bagaimana keadaan dari istri saya, Dokter?"


Renita Padmasari kini mengerutkan kening begitu mendengar perkataan dari putranya yang mengaku sebuah hal konyol karena sudah menjatuhkan talak pada Laura satu tahun lalu. Namun, karena mendengar suara bariton dari sang dokter yang masih memakai seragam operasi, sehingga tidak membahasnya.


"Syukurlah operasi berjalan lancar dan luka tusukan tidak sampai mengenai organ vital. Hanya saja, pasien kehilangan banyak darah dan masih terus mendapatkan transfusi. Sebentar lagi, pasien akan dibawa ke ruangan perawatan untuk observasi kondisinya setelah operasi." Kemudian terlalu pergi meninggalkan ibu dan anak tersebut.


Saat ini, Christian dan sang ibu tengah sibuk mengucap syukur atas apa yang baru saja didengar. Hingga keduanya saling berpelukan untuk memberikan semangat masing-masing karena bahagia saat mendengar kabar baik ketika Laura bisa diselamatkan.


"Syukurlah keadaan Laura stabil dan operasi berjalan lancar," ucap Aaron yang masih memeluk sang ibu untuk meluapkan kebahagiaan.


"Laura adalah gadis yang kuat karena selalu selamat dari maut yang mengancam. Kali ini, kamu harus menyelidiki sampai terbukti siapa yang melakukan semua ini pada Laura. Orang itu harus membalas kejahatannya dengan mendekam di penjara dan merasakan dinginnya udara sel." Renita kini beralih menatap ke arah brankar yang baru saja keluar dari ruangan operasi.


Christian yang menjawab hanya dengan anggukan kepala karena kali ini ingin menjaga baik-baik Laura agar tidak ada yang kembali membahayakan nyawanya. Kini, ia berjalan mengikuti perawat yang mendorong berangkat keluar dari ruangan operasi menuju ke ruangan perawatan.

__ADS_1


Ia akan tidak mengalihkan perhatiannya dari wajah pucat Laura dan membuatnya teringat pada saat wanita itu mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan amnesia.


Ia kini menoleh pada sang ibu yang juga berjalan di sebelahnya. "Laura bahkan harus merelakan kehilangan ingatan beberapa tahun, saat kecelakaan dulu. Bahkan sampai sekarang belum sembuh, tapi sudah kembali mendapatkan kemalangan."


"Laura sudah mengingat semuanya. Apa kamu tidak tahu?" Renita Padmasari yang tadi mendengar saat Laura masih belum bisa menceritakan tentang keluarga besarnya, sehingga meminta waktu dan berharap ia mengerti.


Ia tadinya berpikir bahwa putranya mengetahui hal itu, tapi ternyata tidak dan membuatnya mengerutkan kening. "Sepertinya kamu benar-benar tidak tahu jika ingatan Laura telah kembali seutuhnya."


"Dari mana Mama tahu jika Laura sudah mengingat semuanya?" Christian memang belum sempat bertanya pada Laura karena wanita itu selalu marah saat melihatnya.


Saat masuk ke dalam ruangan perawatan, Renita Padmasari yang tidak ingin membuat bising, kini hanya menaruh jari telunjuk di mulut agar putranya diam saat perawat sibuk memindahkan Laura dan memasang alat-alat yang menopang kehidupan.


Christian akhirnya menuruti perintah dengan kode tersebut dan berpikir akan bertanya nanti. Ia sama sekali tidak menyangka jika Laura sudah mengingat tentang pertemuan pertama di New York, tapi masih sangat membencinya.


"Terima kasih, Suster," ucapnya saat melihat tiga orang perawat keluar dari ruangan setelah selesai.


Anggukan kepala dari para perawat saat keluar, menjadi jawaban dan Christian kini kembali beralih menatap pada sang ibu. "Ceritakan padaku bagaimana Mama tahu jika Laura sudah sembuh dari amnesia disosiatif yang dideritanya."


Tidak ingin membuat putranya terus menerus bertanya padanya, sehingga saat ini langsung menceritakan pembicaraan mengenai orang tua Laura yang dibunuh oleh pamannya sendiri.


"Apa? Itu benar-benar sangat gila karena uang bisa membuat gelap mata hingga menyingkirkan saudara sendiri. Siapa iblis itu, Ma? Aku akan membantu Laura untuk menjebloskannya ke penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," sarkas Christian yang merasa sangat kesal mendengar cerita dari sang ibu.

__ADS_1


"Mama hanya tahu itu karena Laura tidak menceritakan siapa orang jahat yang merupakan pamannya sendiri. Dia akan menyelesaikan sendiri karena sekarang tengah mengumpulkan bukti-bukti kejahatan dari pamannya." Menatap ke arah Laura yang masih berbaring tidak berdaya di atas panjang perawatan.


"Jika kamu ingin membantunya, harus mendapatkan maaf terlebih dahulu dari Laura, tapi sepertinya sangat sulit." Kemudian melangkah mendekati menantu kesayangannya dan mengusap lembut wajah pucat itu.


"Kenapa nasibmu selalu malang, Laura? Semoga suatu saat nanti kamu bisa hidup berbahagia dengan pria yang sangat mencintaimu dan meragukanmu serta melindungimu dari orang-orang jahat." Ia sengaja mengatakan itu untuk memancing respon dari putranya.


Hingga ia mendengar suara bariton dari putranya yang seperti orang marah dan tidak terima atas apa yang baru saja dikatakan.


"Mama, kenapa berdoa seperti itu saat ada putramu di sini? Apa Mama menganggapku adalah seorang pria yang tidak punya hati? Apalagi sampai sekarang aku masih sangat mencintai Laura, meskipun tidak bisa bersamanya," lirih Christian dengan suara menyayat hati.


Sang ibu yang tidak memperdulikan keluh kesah putranya, saat ini hanya diam karena kesal. Hingga beberapa saat kemudian menyampaikan apa yang pernah dikatakan oleh Laura padanya.


"Laura berkata pada Mama jika ia tidak berpikir untuk menikah lagi karena hanya ingin menghancurkanmu serta merebut Valerio. Mama bahkan tidak menyangka jika ia bisa berbicara seperti itu di depan ibu dari pria yang ingin dihancurkannya. Seolah sama sekali tidak takut pada mama." Melirik sekilas ke putranya untuk melihat reaksinya.


Christian memang pernah mendengar hal itu secara langsung, tapi tidak menyangka jika Laura juga mengungkapkannya pada sang ibu. "Sepertinya Laura berpikir bahwa Mama tidak akan memarahinya atau marah karena bisa mengerti perasaan sesama wanita."


"Iya, kamu benar, Christian. Bahkan Mama bilang jika berada di posisinya, juga akan membalas dendam padamu. Jika nanti kamu hancur dan berhasil membuat Laura puas atas tujuan yang membalas dendam padamu, Mama berharap ia berubah iba saat melihatmu."


"Lalu, kembali mengingat cinta kalian yang pernah bersemi di masa lalu dan akhirnya kembali bersama," lirih Renita Padmasari yang akhirnya menceritakan harapan besarnya.


Christian merasa bingung harus mengaminkan atau tidak karena kita hancur tidak akan bisa menjadi pria yang dibanggakan oleh orang-orang yang ada di sisinya. Jadi, hanya diam saja dan mengubah doa dari sang ibu dengan merapal di dalam hati.

__ADS_1


'Semoga Laura mau memaafkanku dan menerimaku kembali karena aku masih sangat mencintainya.'


To be continued...


__ADS_2