365 Days With You

365 Days With You
Operasi


__ADS_3

Mobil yang membawa Ana Maria ini sudah tiba di depan IGD dan beberapa kekurangan sudah keluar untuk membantu mengeluarkan pasien yang baru saja datang.


Sang lain yang dari tadi merasa sangat khawatir pada keadaan bosnya karena sudah kehilangan kesadaran ketika digerakkan lengannya, tapi tidak bergerak.


Ia tidak bisa berbicara apapun selain menatap ke arah pusat dan menyerahkan semuanya pada aparat medis. Bahkan rencana untuk melihat apartemen yang akan ditempati sementara juga gagal dan akhirnya memilih untuk katanya di rumah sakit menemani bosnya tersebut.


Ana Maria saat ini sudah diperiksa oleh dokter yang bertugas dan bertanya pada pihak keluarga yang ikut datang bersama.


Sementara sang pelayan yang memang ditugaskan untuk menemani serta memberitahukan tentang laporan dari pihak rumah sakit yang ada di Jakarta. Ia mengeluarkan laporan kesehatan yang memang sudah ia simpan, jauh sebelum bosnya tersebut keluar dari rumah sakit.


"Ini adalah laporan kesehatan dari majikan saya," ucapkan yang ditanya mengenai awal mula majikannya pingsan.


Sang perawat yang menerima laporan tersebut, langsung menyerahkan pada dokter dan diperiksa untuk dilakukan tindakan selanjutnya.


Selama menunggu bosnya diperiksa, dengan perasaan berkecamuk, ia bahkan belum bisa tenang sebelum melihat kelopak mata tersebut terbuka. I


"Nona, sadarlah. Anda harus kembali sehat karena dokter akan melakukan yang terbaik." Dengan sibuk merapal doa di dalam hati karena saat ini hanya bisa melakukan itu dan juga berharap para aparat medis bisa segera menyembuhkan majikannya.


Selama beberapa menit menunggu dan melihat jika dokter sudah memeriksa majikannya. "Pasien harus dioperasi setelah menjalani pemeriksaan intensif menyeluruh karena besar kemungkinan jika kanker sudah menyebar."


"Akan sangat berbahaya jika membiarkannya terlalu lama enakan semakin menjalar." Sang dokter makan sudah melaporkan semuanya agar segera dilakukan operasi.


Sang pelayan segera menceritakan apa yang seharusnya wanita itu lakukan hari ini. Bahwa hari ini seharusnya dilakukan operasi, tapi memilih untuk tidak melakukannya dan pergi ke rumah sakit itu.


Hingga sang dokter yang saat ini mulai mengerti semuanya, sudah menyuruh para perawat membawa ke ruang pemeriksaan intensif serta berlanjut ke ruang operasi.


"Tolong selamatkan majikan saya, Dokter," ucap setelah beberapa saat kemudian majikannya masuk ke dalam ruangan operasi.


Meskipun perawat dan dokter tidak menanggapinya, ia tetap berharap jika mereka mengerahkan seluruh kemampuan terbaik dan membuat keajaiban dengan tangannya untuk menyelamatkan sang majikan.

__ADS_1


"Nona Ana. Anda pasti akan baik-baik saja." Ia berusaha untuk memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif agar tidak membuatnya takut.


Bahkan ia kini mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruangan operasi dan merapal doa untuk yang terbaik bagi majikannya.


Hingga ia melihat pria yang tak lain adalah sopir berjalan mendekat dengan membawa paper bag di tangan. Tadinya ia berpikir jika pria itu sudah pergi karena dari tadi tidak melihatnya saat sudah berada di ruang IGD.


"Anda dari mana saja?"


Sang supir kini menyerahkan paper di tangannya pada wanita tersebut. "Ini untuk mengganjal perut serta ada minuman di dalamnya. Tadi aku mengurus semua pendaftaran dan yang lain karena bos yang langsung hubungi tadi menyuruh untuk membantu kalian."


Ia saat ini mendaratkan tubuhnya di sebelah kanan wanita tersebut begitu paper penting tangannya diterima dan diperiksa.


Wanita itu merasa sangat lega karena sudah dibantu dan ia tidak sendirian mengurus semuanya karena bukanlah orang yang pintar, apalagi harus berbicara dengan perawat serta dokter dengan bahasa asing.


"Terima kasih. Kau benar-benar membuatku sangat lega," ucap wanita tersebut setelah mengambil air mineral dan langsung meneguknya hingga tersisa separuh.


"Makanlah roti itu agar tidak lemas karena proses operasi pasti berjalan cukup lama." Pria yang saat ini melihat wanita itu terdiam sambil menatap ke arah pintu ruangan operasi, membuatnya merasa iba.


"Aku tidak bisa makan saat belum mengetahui hasil dari operasi majikanku. Semoga proses operasi berjalan lancar." Ia mengaminkan doanya sendiri dan masih fokus menatap ruangan yang menjadi tempat paling mengerikan bagi mayoritas orang jika memasukinya.


Semua itu karena ada dua kemungkinan yang dipertaruhkan setelah memasukinya, yaitu antara hidup dan kematian dan ia berharap jika poin pertama lah yang menjadi alasan bosnya memilih rumah sakit itu.


"Semuanya pasti baik-baik saja karena di sini ada banyak tim dokter terbaik yang dipercaya menyembuhkan penyakit apapun." Saat ia baru saja menutup mulut, dering ponsel miliknya berbunyi dan begitu melihat nomor dari bosnya, segera menggeser tombol hijau ke atas.


"Iya, Bos."


"Bagaimana keadaan temanku?"


"Sekarang teman Anda sudah berada di ruang operasi, Nona dan saya menemani wanita yang menemaninya."

__ADS_1


"Bagus. Tetap di sana sampai proses operasi selesai. Kau membantu wanita itu jika membutuhkan sesuatu karena dia tidak tahu apapun di sana. Aku serahkan semuanya padamu karena masih akan kembali satu minggu lagi."


"Baik, Bos," yang kini mematikan sambungan telepon yang sudah terputus.


Ia kembali menoleh ke arah pelayan wanita di sebelahnya. "Kata bosku, jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku. Nanti aku yang akan mengurusnya."


Lamunan pusat pelayan saat ini seketika musnah ketika mendapatkan kelegaan setelah mendengar pria tersebut berbicara. "Terima kasih. Oh iya, tadi tasku berada di mobil."


"Nanti aku akan membawa ke ruangan setelah Nona Ana dipindahkan. Sekarang tetap aman di dalam mobil karena tidak ada tempat untuk menyimpan." Sang supir tersebut mengambil satu bungkus roti dan menyerahkannya pada wanita itu setelah membuka kemasan.


"Jika kau pingsan karena tidak makan, aku akan kerepotan mengurusmu dan tidak ada yang menunggu bosmu itu setelah keluar dari ruangan operasi." Ia berharap dengan mengatakan itu akan membuat wanita tersebut segera menuruti perintahnya.


Pelayan saat ini pengangkutan kepala karena menyadari jika ia sangat bodoh jika sampai ikut sakit dan tidak menjaga bosnya yang menyerahkan hidup padanya karena mempercayainya untuk pergi menemani berobat ke luar negeri.


"Ya, kau benar. Aku tidak akan menyusahkan nona Ana," ucapnya yang saat ini sudah memasukkan roti setelah merobeknya dan mengunyahnya di dalam mulut.


"Nona, aku akan selalu menjagamu dengan baik selama berobat di sini. Kita akan kembali ke Jakarta setelah anda sembuh." Ia saat ini sudah mengunyah makanan dengan perasaan berkecamuk karena dipenuhi oleh kekhawatiran jika sampai operasi gagal.


Meskipun dari tadi berusaha untuk memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang positif, tetap saja membuatnya tidak bisa menghilangkan sedikit rasa takut yang dirasakan.


Hingga satu jam lebih telah berlalu dan pintu ruangan operasi pun belum terbuka. "Kenapa sangat lama sekali? Semuanya baik-baik saja, kan?"


"Jika tidak ada dokter ataupun perawat yang keluar untuk memberitahukan sesuatu mengenai proses operasi pasien, berarti semuanya berjalan dengan lancar. Jadi, tidak perlu merasa khawatir." Sang supir yang baru saja melihat jam tangan, merasa yakin jika sebentar lagi pintu ruangan operasi tersebut terbuka.


Benar apa yang saat ini dipikirkan karena setengah jam kemudian itu ruangan operasi terbuka dan dokter keluar.


Refleks wanita yang dari tadi menunggu proses operasi selesai, segera bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati dokter untuk bertanya bagaimana keadaan dari majikannya.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2