
Saat ini Laura mengantar sang suami ke depan karena taksi yang menjemput untuk mengantarkan ke bandara sudah datang. Sang suami tadi mengatakan bahwa tidak membawa mobil dan menyuruhnya untuk dua hari sekali memanasi mesin.
Jadi, memilih ke bandara dengan naik taksi. Ia pun kini menatap ke arah sang suami yang tengah membawa koper berisi beberapa pakaian ganti dan juga peralatan. Sebenarnya tidak ingin mengalami perpisahan dengan derai air mata karena tidak bertemu selama satu minggu saja.
Akan tetapi, tetap saja begitu melihat sang suami membawa koper dan dimasukkan ke dalam taksi oleh supir, seketika membuatnya merasa sangat bersedih karena ini adalah pertama kali mereka berpisah.
"Ternyata rasanya seperti ini berpisah dengan suami yang sangat dicintai," lirih Laura yang sudah berkaca-kaca bola matanya dan merasakan sentuhan lembut dari tangan dengan buku-buku kuat saat menghapus bulir kesedihan di pipinya.
"Bukankah sudah kubilang jangan bersedih. Nanti aku tidak tega meninggalkanmu, Sayang." Christian yang merasa tidak tega melihat sang istri berkaca-kaca bola matanya, kini memeluk erat serta mengusap punggung belakang demi menyalurkan aura positif.
Laura yang sudah membenamkan wajahnya pada dada bidang suami, saat ini makin keras menangis dan bulir air mata sudah menganak sungai menghiasi pipinya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri begitu melihatmu membawa koper. Aku pasti akan sangat kesepian saat kamu tidak ada di rumah. Apalagi malam ini aku harus tidur sendiri tanpamu." Laura saat ini tengah melingkarkan tangannya untuk memeluk erat pinggang kokoh pria yang saat ini membuatnya menjadi seorang wanita lemah.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Sayang. Satu minggu, kan? Jangan lebih dari itu, ya?" Laura yang masih belum melepaskan pelukannya, menatap ke arah sosok pria yang memiliki postur tubuh tinggi tegap itu.
Ia bahkan tidak memperdulikan bagaimana raut wajahnya saat ini dan pastinya terlihat sembab dan tidak cantik lagi di depan sang suami yang malah mencium bibirnya.
Sebuah nafsu karena hanyalah kecupan kecil serta tidak ada sesapan maupun ******* seperti biasanya. Ia bahkan tidak berkedip menatap intens wajah tampan pria yang lebih tinggi darinya tersebut.
"Iya, Sayang. Aku hanya pergi satu minggu dan akan kembali setelah pekerjaan selesai. Kamu harus segera masuk karena kalau tidak, aku akan terlambat, Sayang. Apalagi aku benar-benar tidak tega melihat wajahmu yang seperti ini, Sayang. Atau aku batalkan saja perjalanan bisnisku?"
Christian hanya ingin membuat Laura segera masuk ke dalam rumah dan tidak terus menangis karena bersedih saat berpisah dengannya. Sebenarnya ia juga merasa ada yang kurang jika harus meninggalkan Laura, tapi menyadari bahwa harus membagi waktu dengan Ana yang sudah lama ditinggalkan.
'Aku pasti akan mengalami hal yang sama ketika berpisah dengan Ana nanti. Rasanya aku berubah menjadi seorang pria bajingan yang berengsek berambisi untuk segera memiliki keturunan,' Aku mau Christian yang saat ini berusaha untuk menenangkan Laura dengan sebuah gertakan agar tidak lagi bersedih saat ia pergi.
Usahanya seketika berhasil begitu Laura melepaskan pelukan dan menghapus bulir air mata yang menghiasi wajah.
"Iya, Sayang. Maafkan aku karena membuatmu tidak tega meninggalkanku." Laura saat ini berpura-pura kuat agar pria yang sangat dicintainya tersebut segera berangkat.
Apalagi dari tadi supir taksi sudah berada di paling kemudi dan dengan sabar menunggu. "Pergilah, Sayang. Hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai di tujuan." Kemudian Laura mengucapkan salam perpisahan terakhir dengan mengecup pipi putih itu.
"I love you," ucapnya sambil memberikan simbol hati.
Christian sedikit merasa lega melihat sang istri sudah bisa menerima kepergiannya selama satu minggu dan ia melambaikan tangan setelah mengusap lembut rambut panjang yang terberai di bawah bahu tersebut.
"Iya, terima kasih. I love you too, Sayang." Christian kemudian melambaikan tangan dan berbalik badan untuk menuju ke arah taksi.
Ia kini sudah masuk ke dalam taksi dan membuka kaca jendela agar bisa kembali melambaikan tangan pada wanita yang masih berdiri tak jauh dari taksi. "Jaga kesehatan dan banyak beristirahat untuk memulihkan kondisimu."
"Iya, pasti." Laura saat ini masih membalas lambaian tangan sang suami dan berusaha untuk menahan agar bola matanya tidak kembali meloloskan bulir air mata.
Hingga beberapa saat kemudian sang supir mengemudikan kendaraan meninggalkan halaman rumah dan lama-kelamaan menghilang di balik jalanan.
Laura yang dari tadi menahan agar bulir air mata tidak jatuh membasahi pipinya, seketika menganak sungai begitu sang suami sudah berangkat menuju ke bandara.
Ia bahkan menangis tersedu-sedu sambil berjongkok di halaman rumah. "Kenapa hanya berpisah selama satu minggu saja membuatku seperti kehilangan suamiku selamanya. Ya Allah, lindungilah suamiku di manapun berada. Semoga suamiku segera kembali seperti yang dijanjikannya."
__ADS_1
Bahkan suara menyayat hati terdengar ketika Laura memanjatkan doa sambil menangis. Ia yang saat ini belum beranjak dari posisinya yang berjongkok di halaman rumah, mendengar suara dari wanita yang tadi datang dan akan bekerja sebagai pelayan.
"Nyonya, jangan bersedih karena tuan Christian akan kembali secepatnya. Anda harus bahagia karena memiliki seorang suami hebat seperti tuan Christian." Wanita paruh baya tersebut mencoba untuk menghibur majikan barunya agar tidak bersedih ketika ditinggalkan sang suami yang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Sementara itu, Laura saat ini mencoba untuk menormalkan perasaannya agar tidak makin menangis ketika mengingat sang suami yang sudah berangkat. Ia kini mencoba untuk berdiri dan menghapus bulir air mata yang menganak sungai di wajah.
"Iya, Bik. Aku mungkin terlalu berlebihan karena suamiku hanya pergi selama satu minggu saja, tapi ini adalah pertama kali ditinggalkan dan harus melakukan apapun tanpanya. Jadi, rasanya sangat berat dan menyakitkan. Mungkin seiring berjalannya waktu, perasaanku akan jauh lebih tenang."
Laura kini berniat untuk beristirahat di kamar karena tubuhnya serasa remuk redam saat satu hari dihajar 3 ronde oleh sang suami. "Aku tidak enak badan dan ingin beristirahat Bik."
"Iya, Nyonya. Anda beristirahat saja karena wajah sangat pucat. Tuan Christian berpesan pada saya bahwa Anda tidak boleh melakukan pekerjaan apapun dan hanya boleh beristirahat. Jadi, serahkan saja semuanya pada saya," ucap Imah yang saat ini melihat wanita cantik itu menganggukkan kepala dan berjalan menuju ke arah pintu utama.
Laura tidak ingin terus-terusan bersedih jika mengingat kepergian sang suami. Jadi, berencana untuk menghabiskan waktu seharian dengan tidur. Berharap dengan begitu tidak akan terlalu memikirkan pria yang sangat dicintainya.
Ia berjalan menaiki anak tangga dan langsung menuju ke arah ruangan kamar yang menjadi saksi bisu percintaan panas dan liar mereka selama satu minggu belakangan ini.
Laura bahkan meraba tempat tidur yang selama ini ditempati oleh sang suami. Bahkan aroma maskulin dari suamiku masih bisa kuhirup saat ini." Ia merasa jika aroma yang menguar di udara merupakan harum tubuh khas sang suami
Bahkan aroma parfum yang tadi dipakai oleh sang suami sebelum berangkat juga menguar di udara. "Sayang, bahkan kamu meninggalkan sesuatu yang tidak akan bisa kulupakan."
Laura saat ini mulai naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di tempat yang biasanya digunakan sebagai tempat berbaring sang suami. Ia saat ini telentang dengan menatap ke arah langit-langit kamar.
"Satu minggu. Hanya satu minggu suamiku pergi. Aku bisa mengisi waktu dengan menonton film kesukaan ataupun membaca novel-novel di aplikasi. Ya, aku pasti bisa melakukannya dan tidak akan kesepian."
Laura masih berusaha untuk menghibur diri sendiri agar tidak larut dalam pikirannya yang mengingat tentang kepergian sang suami melakukan perjalanan bisnis ke New York.
"Aku yang tadi fokus pada kesedihan karena ditinggalkan, mengatakan pada suamiku untuk membelikan. oleh-oleh khas dari sana." Laura saat ini menepuk jidat karena berpikir oleh-oleh ketika tengah bersedih memikirkan sang suami.
Sementara itu di tempat lain, yaitu di dalam taksi yang melintas menuju ke Jakarta, Christian saat ini menelpon asisten pribadinya untuk mengatakan bahwa ia saat ini sudah berangkat dari Bandung.
Ia menatap ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan memperkirakan akan sampai di Jakarta 3 jam lagi dan menyuruh Vicky untuk menjemputnya di apartemen. Ia berniat untuk pergi ke apartemen terlebih dahulu.
Karena oleh-oleh yang dulu dibawa untuk Ana berada di sana. Hanya beberapa barang-barang khas negeri Paman Sam itu dan untungnya bukan makanan.
Ia tahu bahwa anak lebih menyukai barang-barang daripada makanan karena selalu menjaga bentuk tubuhnya agar terlihat selalu seksi dan menarik di matanya.
Christian saat ini bersandar pada kursi penumpang dan meminjamkan mata. Ia sebenarnya merasa sangat lelah karena satu minggu ini benar-benar memforsir tenaganya untuk menyebarkan benih di rahim Laura agar segera hamil.
Tanpa memperdulikan jika ia sebenarnya sangat lelah, tetap saja ingin membuat Laura makin memujanya dengan kekuatannya di atas ranjang. 'Rasanya pinggangku mau patah, tapi nanti harus melakukannya dengan Ana juga.'
'Ia pasti akan curiga jika aku tidak melakukannya karena kamu sudah lama tidak bercinta. Astaga! Semoga aku tidak loyo nanti ketika melayani Ana.' Christian bahkan saat ini sudah membayangkan akan bercinta dengan Ana yang selalu bergairah.
Apalagi selama ini istri pertamanya tersebut sangatlah liar jika dalam urusan ranjang. 'Semoga nanti Ana yang liar, agar aku tidak terlalu memforsir tenaga ketika bercinta.'
Christian ingin memulihkan tenaganya dengan beristirahat. Ia sebelumnya menatap ke arah sang sopir dan menyuruhnya untuk membangunkan setelah sampai di Jakarta.
Sengaja ia tidak membawa mobil dan mengemudi sendiri karena tidak akan bisa beristirahat. Jadi, naik taksi adalah pilihan yang paling tepat menurutnya. Kemudian ia memejamkan mata dan berharap segera larut dalam alam bawah sadar agar bisa merehatkan tubuh serta otaknya.
__ADS_1
'Ana pasti sangat senang hari ini karena aku memberikan kejutan untuknya. Semoga semuanya berjalan lancar dan tidak ada kecurigaan dari istriku,' kuman Christian yang saat ini fokus untuk beristirahat.
Entah berapa menit berlalu, suara napas teratur terdengar memenuhi taksi yang melaju menuju ke arah Jakarta.
Sementara itu, sang supir yang saat ini fokus mengemudi, lihat jika penumpangnya sudah tertidur pulas. Ia merasa sangat heran kenapa pria itu memakai jasanya ketika memiliki mobil sendiri.
Namun, tetap merasa senang karena mendapatkan uang yang lumayan besar karena perjalanan dari Bandung ke Jakarta.
'Pria ini pasti punya banyak uang. Apalagi melihat mobil yang ada di rumah masih baru tahunnya. Sebenarnya apa pekerjaan pria ini? Tadi menyuruh orang untuk menjemputnya di apartemen. Kenapa harus ke apartemen? Baru kali ini aku penasaran dengan apa yang dilakukan penumpang.'
Sang supir sibuk bertanya di dalam hati sambil terus fokus mengemudi. Hingga tanpa terasa, waktu semakin berjalan. Tiga jam lebih mengemudikan kendaraan, kini mobilnya sudah memasuki area Jakarta.
Ia melirik ke arah spion dan melihat pria di kursi belakang tersebut tertidur pulas yang menandakan bahwa mungkin sangat kelelahan.
'Baiknya dibangunkan setelah tiba di apartemen atau sekarang?' gumam sang supir yang saat ini mempertimbangkan keputusannya.
Di saat bersamaan, ia mendengar suara dering ponsel yang diketahui adalah milik dari penumpang. Hingga ia melihat pergerakan dari pria di belakang yang langsung kemeja.
Christian yang tadinya tertidur pulas dan terbangun karena suara dering ponsel miliknya, seketika menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.
"Halo, Tuan Christian. Sekarang Anda sudah sampai mana? Kebetulan saya ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnis perusahaan dan mewakili nona Ana yang sedang tidak enak badan hari ini," ucap Vicky yang ingin memastikan ia tidak terlambat menjemput atasannya.
Sementara itu, Christian yang baru saja membuka mata, memeriksa sudah sampai di mana. Ia kini beralih menatap ke arah sang supir.
"Kita sudah memasuki area Jakarta, bukan?" Ia bertanya karena belum melihat gedung-gedung menjulang tinggi yang merupakan ciri khas dari ibu kota.
Sementara sang supir kini langsung mengangukkan kepala dan menjawab, "Iya, Tuan. Kita baru tiba memasuki Jakarta."
Christian yang masih berusaha untuk menyadarkan diri setelah bangun tidur, mengingat jika asistennya mengatakan bahwa sang istri tidak enak badan.
"Mungkin 45 menit lagi aku akan tiba di apartemen. Oh ya, apa yang kau katakan tadi? Istriku sedang tidak enak badan? Memangnya ia sakit apa?" tanya Christian hanya saat ini khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Ana.
"Hanya demam dan katanya sudah minum obat, Tuan Christian, tapi nona Ana masih berada di kantor untuk bekerja dan tidak mau saya sarankan pulang karena menjawab akan kesepian jika berada di rumah."
Vicky mengungkapkan semua yang diketahuinya agar bosnya tersebut habis memperhatikan istri pertama saat kembali ke Jakarta.
Apalagi selama beberapa minggu terakhir ini wanita yang sangat dihormatinya tersebut terlalu memforsir pikiran dengan menyelesaikan banyaknya masalah yang terjadi di Perusahaan.
Christian yang merasa sangat bersalah pada Ana, kini mengerti apa yang harus dilakukan agar suami istri mau beristirahat selama ia berada di rumah.
"Kalau begitu, setelah kamu selesai meeting dengan klien nanti, jemput aku di apartemen kan kita langsung berangkat ke perusahaan. Aku sendiri yang akan mengajak istriku pulang dan kamu selesaikan semua pekerjaan di kantor."
Entah mengapa Christian merasa lega karena sang istri saat ini sakit dan pastinya tidak akan meminta untuk dilayani di atas ranjang. Jadi, ia bisa beristirahat selama 1 hari untuk memulihkan tenaga yang sudah dihabiskan memuaskan Laura.
"Baik, Tuan Christian. Nanti saya akan langsung ke apartemen Anda begitu selesai meeting dengan klien," ucap Vicky yang menunggu jawaban dari bosnya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu." Kemudian Christian mematikan sambungan telpon fokus menatap ke arah jalanan ibu kota yang mulai dipenuhi kendaraan.
__ADS_1
'Kasihan Ana yang harus bekerja keras tanpa aku untuk menyelesaikan masalah yang dilakukan salah satu pekerja. Semoga dengan kedatanganku hari ini yang membuat kejutan untuknya, bisa langsung sembuh.'
To be continued...