
Christian yang saat ini duduk di sebelah ranjang perawatan Laura dengan menggenggam erat telapak tangan dengan jemari lentik itu. Ia tahu jika waktunya tidak banyak karena nanti harus menunggu Ana saat dioperasi, jadi memanfaatkan yang tersisa sebelum keluar dari sana.
"Laura, apa yang selama ini kamu sembunyikan dariku mengenai tentang hidupmu? Kenapa selalu ada orang yang berusaha untuk menyingkirkanmu dari dunia ini? Apa kamu mempunyai musuh di Jakarta?" Christian yang tadi menerima tas milik Laura dari dalam mobil, mengambil ponsel.
Namun, saat berniat untuk mengecek apa saja yang berada di dalam ponsel milik Laura tersebut, tidak bisa melakukannya karena memakai sandi. Jadi, ia mengembalikan ke dalam tas. Ia yang masih menatap ke arah wajah pucat wanita di hadapannya itu, terdiam karena memikirkan sesuatu.
"Mario ... apa dia tahu semua hal yang berhubungan dengan Laura?" Christian saat ini terdiam sejenak untuk mempertimbangkan apakah harus menghubungi pria yang terlihat sangat dekat dengan Laura itu atau menyembunyikannya.
Ia masih ragu dan juga bingung saat ini karena merasa khawatir jika Laura berpikir Mario yang menunggu dari awal hingga akhir dan kebaikannya tidak terlihat. Namun, di sisi lain juga ingin mengetahui mengenai siapa sebenarnya Laura yang sudah mengingat masa lalu.
"Mario pasti mengetahui semua hal tentang Laura karena mereka terlihat sangat dekat dan pria itu membantu ketika membawa putraku saat Ana kehilangan kesadaran." Setelah mempertimbangkan matang-matang mengenai keputusan yang akan diambil, kini Christian meraih ponsel di dalam saku celana.
Kemudian langsung menelpon kontak Mario dan menunggu selama beberapa saat sampai panggilannya dijawab oleh pria yang sama sekali tidak disukainya itu.
"Halo!" sahut Mario dengan sangat malas karena terpaksa mengangkat telepon dari pria yang tidak disukainya.
Begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon, Christian segera menanggapi. "Ada sesuatu hal penting yang ingin kutanyakan padamu!"
"Apa kau pikir aku mau menjawab pertanyaanmu? Aku bukan pengangguran yang bisa meladeni banyak pertanyaan darimu, Tuan Christian!" sarkas Mario yang saat ini tengah sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
Ia bahkan berniat untuk mematikan sambungan telepon karena berpikir tidak ada yang penting dari pertanyaan Christian. Namun, mengurungkan niat begitu mendengar pria di seberang telepon menyebutkan tentang wanita yang dicintainya.
"Laura saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati karena ada orang yang jahat menusuk pinggangnya. Lebih baik katakan padaku siapa sebenarnya Laura? Kenapa dari dulu ada banyak orang yang menginginkan kematiannya?" sarkas Christian yang saat ini sudah tidak sabar ingin tahu tentang hal yang ditutupi oleh Laura darinya.
Mario seketika membulatkan mata karena sangat khawatir dengan keadaan Laura. "Apa kau bilang? Laura ditusuk? Bagaimana keadaan Laura sekarang? Katakan di mana Laura sekarang dirawat!"
Mendapatkan banyak pertanyaan dari pria yang sama sekali tidak menjawab hal yang ingin diketahuinya, tentu saja membuat Christian sangat kesal. Ia merasa menjadi seorang pria tidak berguna karena tidak tahu menahu tentang perihal wanita yang pernah menjadi istri sirinya dan masih sangat dicintai.
"Katakan dulu padaku mengenai jati diri Laura! Baru aku akan mengatakan di mana keberadaannya. Cepat!" teriak Christian dengan wajah memerah karena kesal pada pria di seberang telepon yang merahasiakan semua hal mengenai mantan istrinya.
Jujur saja ia merasa sangat iri pada Mario karena lebih mendapatkan kepercayaan dari Laura daripada dirinya. Meskipun ia sadar jika semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri yang menyia-nyiakan wanita seperti Laura.
Merasa bisa mengetahui keberadaan Laura tanpa memberitahu tentang rahasia wanita itu pada Christian, kini Mario langsung mematikan sambungan telepon tanpa berbicara apapun. Kemudian langsung mengecek GPS dari ponsel Laura.
"Dasar bodoh! Apa dia pikir aku tidak bisa mencari tahu keberadaan Laura? Aku terlalu ceroboh karena percaya Laura hanya berada di rumah merawat putranya tanpa keluar, jadi sama sekali tidak mengecek GPS di ponselnya." Mario buru-buru bangkit berdiri dan langsung berjalan keluar dari ruangan kerja.
__ADS_1
Saat ini ia tengah berjalan sambil mencari tahu alamat dari ponsel milik Laura dan seketika tersenyum simpul setelah mengetahuinya. Ia bahkan berlari saat menuju ke lift dan begitu pintu terbuka, langsung masuk ke dalam.
"Laura, maafkan aku karena terlalu ceroboh dengan membebaskan tugas pengawal untuk melindungimu. Kenapa aku bisa seceroboh ini?" Ia menatap ke arah angka digital yang bergerak ke lobi perusahaan dan langsung berlari cepat menuju ke parkiran tanpa memperdulikan tatapan dari para staf yang melihatnya buru-buru.
Beberapa saat kemudian, ia sudah masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke rumah sakit. "Semoga saat ini Laura baik-baik saja dan tidak ada hal buruk dari efek penusukan itu."
Ia bahkan saat ini langsung menelpon bodyguard agar menuju ke rumah sakit. Setelah kecerobohannya hari ini, ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi dengan mendengarkan Laura yang tidak ingin dijaga saat berada di apartemen.
"Laura, jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk padamu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." Mario saat ini berpikir jika ia akan menyuruh dua orang berjaga di depan ruangan kamar Laura karena sangat yakin jika dalam dibalik penyerangan itu adalah dari keluarga Saputra.
Ia saat ini mengambil keputusan bulat untuk menyelesaikan semuanya karena tidak ingin kejadian hari ini terulang kembali. "Sepertinya kejahatan mereka sudah tidak bisa dibiarkan dan saatnya bergerak setelah nanti Laura membaik."
Bahkan sangat khawatir jika masih Laura berakhir nahas seperti orang tuanya karena korban keserakahan saudara sendiri. "Aku tidak akan mendengarkanmu lagi, Laura karena taruhannya di sini adalah nyawamu."
"Paman dan sepupumu itu bukanlah manusia, tapi iblis berkepala manusia karena menganggap nyawa bisa dengan mudah dihabisi hanya demi mendapatkan kekayaan tanpa harus merintis dari nol seperti orang tuamu."
Mario yang saat ini fokus mengemudi membelah kemacetan kota Jakarta, menambah kecepatan begitu jalanan sudah tidak terlalu ramai kendaraan melintas.
Hingga ia pun tidak butuh waktu lama tiba di rumah sakit dan langsung bertanya pada salah satu staf di ruang informasi. Kemudian sedikit berlari menuju lift dan mengirimkan pesan pada bodyguard yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke sana.
Hingga begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, mengedarkan pandangan setelah keluar dari sana untuk mencari ruangan Laura. Ia bahkan langsung membuka pintu begitu menemukannya tanpa memperdulikan ada Christian yang berada di dalam.
Kini, ia melihat sosok wanita yang masih tidak sadarkan diri dan sangat dikhawatirkan olehnya. Bahkan ada pria yang sangat dibenci masih duduk di sebelah kiri Laura dan sama sekali tidak diperdulikannya karena hanya fokus pada wanita yang dicintainya.
Saat ini, ia berpikir jika bertanya pada Christian tidak akan dijawab dan berniat untuk mencari informasi dengan menanyakan sendiri pada dokter yang menangani Laura.
Kemudian berjalan mendekat untuk menghampiri sosok wanita dengan kelopak mata masih tertutup rapat itu. "Laura, kenapa tidak bilang jika keluar dari apartemen? Aku yang terlalu bodoh karena berpikir kamu tidak akan keluar dan fokus mengurus putramu."
Saat hendak menggenggam erat telapak tangan Laura, ia mendengar suara bariton dari Christian dan membuatnya menatap dengan datar.
"Jangan coba-coba untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan memegangnya ketika tidak sadar!" sarkas Christian yang tidak rela jika ada yang berani menyentuh Laura tepat di depannya.
Sementara itu, Mario yang berusaha agar tidak terpancing emosi, kini menatap ke arah genggaman tangan Christian. "Apa kau tidak punya cermin? Sebelum berbicara, jangan lupa untuk melihat kesalahanmu sendiri. Lalu itu apa? Bukankah kau sedang mencari kesempatan dalam kesempitan?"
Mario yang saat ini menatap Christian menggenggam erat tangan Laura, sehingga benar-benar sangat marah karena jika wanita itu sadar, pasti akan langsung murka dan menendangnya.
__ADS_1
"Cepat lepaskan tanganmu karena Laura jijik padamu!" sarkas Mario yang saat ini memilih untuk non formal karena tidak berada di perusahaan yang pastinya akan selalu berbicara dengan sopan dan formal.
Hingga saat ia baru saja menutup mulut, melihat raut wajah memerah dari sosok pria yang bangkit berdiri dari kursi.
"Berengsek!" sarkas Christian yang saat ini ingin sekali meninju wajah pria di hadapannya tersebut.
Namun, ia berubah pikiran begitu mengetahui pergerakan dari jemari yang digenggamnya. Refleks ia menatap ke arah telapak tangan Laura yang bergerak. Namun, begitu menatap wajahnya, masih tetap memejamkan mata dan membuatnya langsung memencet tombol di punggung ranjang perawatan.
Hingga pada akhirnya berpikir bahwa itu pergerakan refleks saat menjelang sadar. "Laura, apa kamu mendengarku? Aku Christian dan dari tadi menunggumu saat dioperasi sampai sekarang. Kamu harus segera pulih dan memberitahuku siapa saja musuh yang mengincarmu."
Mario yang saat ini hanya diam karena mengetahui semuanya, di saat bersamaan mendapatkan tatapan tajam dan kalimat menohok yang membuatnya terkesan seperti seorang pria tidak berguna.
"Lebih baik cepat katakan padaku siapa sebenarnya Laura dan kenapa ada banyak orang yang menginginkan ia meninggal? Jika kau benar-benar peduli pada keselamatan Laura, harusnya memberitahuku agar ada banyak orang yang melindunginya," sarkas Christian yang berniat untuk melakukan segala cara kami melindungi sang mantan istri sirinya tersebut
Sementara itu, Mario yang tetap kekeuh untuk menjaga rahasia Laura karena tidak mungkin mengungkapkannya tanpa persetujuan. Jadi, tidak berniat untuk terpengaruh apapun yang dikatakan Christian.
"Kau tidak perlu mengajariku bagaimana caranya melindungi Laura karena kau telah membuat jiwanya mati semenjak satu tahun yang lalu dan sekarang jangan sok-sokan perhatian dengan mengkhawatirkannya." Puas menyindir Christian, ia pun menoleh ke arah pintu karena perawat datang dan langsung berjalan mendekat untuk memeriksa tanda-tanda vital.
"Apa yang terjadi? Tadi jari-jarinya sedikit bergerak, tapi kenapa tidak kunjung sadar?" tanya Mario yang saat ini merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
Ia merasa terlambat datang dan akhirnya ketinggalan informasi mengenai keadaan bosnya yang saat ini betah tadi hatinya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena itu adalah reaksi normal dari pasien yang perlahan-lahan akan sadar beberapa saat kemudian setelah obat bius menghilang total," seru salah satu perawat yang baru saja memeriksa keadaan pasien.
Kemudian mencatatnya dan menjelaskan jika beberapa jam kemudian pasien akan sadar sepenuhnya karena kondisinya sekarang jauh lebih stabil.
"Tidak perlu khawatir karena keadaan pasien sudah melewati tahap stabil. Kalau bisa, ajak terus berbicara agar nanti tidak shock ketika pertama kali terbangun karena biasanya akan mengigau." Kemudian memberikan kode pada salah satu temannya yang membawa troli obat agar keluar dari ruangan.
"Baik, Suster!" ucap Christian dan Mario secara bersamaan dan membuat mereka saling bersitatap sekaligus membuang muka.
Begitu perawat itu menghilang di balik pintu, Christian saat ini berjalan memutar ranjang perawatan Laura untuk bisa mendekati sosok pria yang sangat tidak disukainya tersebut.
Kemudian langsung meraih jas Mario dan menariknya agar semakin mendekat. "Cepat katakan padaku, siapa sebenarnya Laura!"
To be continued...
__ADS_1