
Laura seketika memberontak dan melepaskan pelukan. "Dasar mesum. Lepaskan aku! Aku sangat risi dan ingin mandi. Jadi, kamu keluar sekarang!"
Karena merasa tubuhnya sangat lengket dan ingin membuang semua keburukan di tubuhnya yang mungkin dibawa dari rumah sakit.
"Kamu keluar dulu, Sayang. Aku akan mandi dulu." Bahkan Laura langsung mendorong dada bidang itu agar keluar dari ruangan kamar.
"Kita mandi bersama saja, Sayang." Christian kini masih berusaha untuk membuat sang istri mengizinkan.
Namun, ia malah mendapatkan tatapan tajam mengintimidasi dan akhirnya keluar dari kamar dengan sangat terpaksa.
"Dasar suami mesum! Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu," seru Laura yang kini melihat-lihat terlebih dahulu ruangan pribadi mereka.
Sejauh mata memandang, semua furniture mewah yang ada di dalam kamar makin membuat keindahan ruangan terpancar.
"Uang memang bisa melakukan apapun. Termasuk menghiasi ruangan ini dengan segala kemewahan." Karena tidak ingin membuang-buang waktu, kini Laura sudah berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, Laura telah menyelesaikan ritual mandinya dan mulai berjalan keluar. Ia kini melihat penampilan tubuhnya di depan cermin yang ada di sebelah ranjang.
"Aku tidak boleh mengecewakan suamiku yang sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama yang sempat tertunda karena kecelakaan yang menimpaku."
Entah berapa menit berlalu ia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Hingga beberapa saat kemudian ia berbalik badan karena berniat untuk berjalan menuju ke ruangan ganti.
Namun, Laura merasa sangat terkejut begitu tiba-tiba pintu terbuka dan melihat Christ sudah berada di depannya dan tidak berkedip menatapnya.
Refleks ia yang saat ini tengah berdiri di dekat ranjang, membuatnya langsung memegangi handuk sebatas dada karena merasa sangat malu.
"Cepat keluar! Aku belum berpakaian," teriak Laura dengan wajah memerah yang menjelaskan ia merasa sangat malu karena Christian malah tidak langsung keluar dari kamar, tapi berjalan mendekatinya dan semakin membuatnya frustasi.
Sementara tanggapan berbeda kini terlihat dari sudut bibir Christian yang melengkung karena merasa sangat gemas melihat tingkah Laura yang sangat malu dilihat olehnya.
Ia yang tadi melihat Laura hanya mengenakan handuk sebatas dada, refleks mematikan sambungan telepon.
Berpikir jika nanti bisa menelpon kembali orang tuanya setelah selesai menggoda wanita yang terlihat malu padanya.
"Jangan berlebihan seperti itu, Sayang.. Tingkahmu seperti seorang remaja yang tengah malu-malu saja. Bahkan aku adalah suamimu yang sah. Jadi, tidak perlu semalu ini padaku. Tidak mungkin kamu akan bersikap seperti ini selamanya, kan?"
Masih menelan kasar saliva, Laura yang merasa tertampar dengan perkataan Christian, memilih untuk menormalkan perasaannya dengan cara memalingkan wajahnya.
Ia merasa sangat malu jika bersitatap dengan netra tajam kebiruan yang seolah berhasil menenggelamkannya ke dasar samudera.
"Kamu benar-benar sangat menyebalkan. Sudah kubilang keluar!"
__ADS_1
Meskipun memalingkan wajah, Laura bisa melihat bayangan sang suami yang berjalan semakin mendekatinya dan ia memilih untuk menghindar dengan melangkah ke sebelah kiri sedikit demi sedikit.
"Mau apa kamu?"
Ketakutan Laura malah semakin membuat Christian bersemangat. Apalagi ia yang saat ini melihat pipi putih wanita yang tidak berniat untuk melihatnya, berharap bisa mengangkat tangan untuk mencubit karena sangat gemas.
"Aku mau dirimu, Sayang."
Christian yang tersenyum menyeringai, kini melihat ekspresi wajah memerah dari sang istri yang langsung menghadapnya dan mendengar umpatan dari wanita yang sudah memberikan jarak pada mereka dengan cara mengarahkan tangan kanan yang baru saja keluar dari selimut tebal ke arahnya.
"Stop!" Berusaha menormalkan perasaannya yang gugup dengan cara menatap tajam sosok pria yang masih terlihat sangat santai tersebut.
Christian yang saat ini tengah berada di depan Laura hanya terhalang oleh tangan yang lurus mengarah padanya. Ia kemudian meraihnya dan mengecupnya untuk mengirimkan gelenyar pada setiap urat syarafnya.
Perbuatan nakal sang suami berhasil membuat urat syaraf Laura menegang dan ia serasa seperti ingin menggigit bibir bawahnya untuk menikmati sentuhan lembut itu.
Namun, berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri karena tidak ingin terintimidasi oleh perbuatan pria yang jelas-jelas tengah menggodanya, tetapi tidak mau mengakuinya.
Menyadari kebodohannya yang tadi hanya membiarkan kecupan Christian pada punggung tangannya, refleks langsung menariknya dan seketika lepas dari kuasa pria yang malah berjalan semakin mendekat dengan maju satu langkah.
Christian yang hanya terkekeh geli melihat kemurkaan Laura, kini mengangkat tangannya untuk mengusap pipi putih di hadapannya.
Di sisi lain, Laura yang seketika mengigit bibir karena perbuatan Christian berhasil membuat sensasi berputar pada perutnya hingga membuat aliran darahnya mengalir lebih cepat dan tubuhnya seketika memanas.
Menyadari bahwa perbuatan nakalnya akan melemahkan dirinya.
Apalagi saat respon tubuhnya yang jelas-jelas sangat mendambakan sentuhan pria yang masih belum berhenti menelusuri lehernya dan membuatnya refleks menggeliat dengan kepala mendongak ke atas.
Sementara bibirnya berkata jangan dan mencoba untuk tidak terlihat lemah di depan Christian.
"Aku kedinginan. Berhentilah." Mengerjapkan matanya karena merasa penolakannya malah terlihat seperti sebuah ******* dan ia memilih langsung memfilter ucapannya karena Christian langsung berhenti dan bergerak mundur agar bisa melihat wajahnya.
"Apa, Sayang? Apa kamu ingin aku menghangatkanmu?" sahut Christian yang kini memicingkan mata sambil tersenyum smirk.
"Astaga! Dasar pria penggoda. Keluarlah! Aku ingin berpakaian. Aah ... aku ingin pergi ke ruangan ganti untuk mencari pakaian lain karena kamu benar-benar gila." Kabur dari sosok pria yang berbuat nakal padanya menuju ke ruangan ganti.
Sementara itu, Christian tetap tidak menyerah karena terus mengikuti wanita yang sangat seksi itu. "Sayang, jangan pergi. Kita ini sudah suami istri. Jadi, wajar jika berbicara seperti ini dan melakukan apapun.
Laura seolah sudah sangat hafal dengan apa yang didapatkan hari ini. Ia pun menunjukkan kemeja yang dipegangnya pada sang istri.
"Memangnya kenapa dengan kemeja ini?" Merebut kemeja miliknya yang berwarna putih dan membuka kancingnya satu persatu. "Kamu akan terlihat sangat seksi memakai ini, Sayang. Aku sering melihat para wanita ...."
__ADS_1
Noah tidak bisa melanjutkan perkataannya yang belum selesai malah telah dipotong oleh wanita yang terlihat sangat kesal dan berjalan meninggalkannya menuju walk in closet.
"Dasar bajingan! Ternyata kamu menipuku!" umpat Laura yang saat ini seketika berpikir bahwa selama ini Christian selalu merayu wanita untuk memakai kemejanya.
Bahkan ia tadi bergidik ngeri saat membayangkan hanya memakai kemeja tanpa pakaian dalam.
'Aku bahkan balum memakai bra dan ****** *****. Jika memakai itu, hanya sekali singkap saja akan membuatku berakhir di atas ranjang karena perbuatannya.'
Baru saja Laura selesai mengumpat di dalam hati, ia hampir terhuyung ke belakang karena merasakan sebuah kuasa pada perut datarnya.
Merasakan tangan kuat Christian sudah menahan tubuhnya agar tidak berjalan, membuatnya berusaha untuk melepaskannya.
"Lepaskan tanganmu!" umpat Laura yang masih berusaha untuk membuka tangan kuat Christian di pinggangnya.
Tidak ingin menuruti perintah dari sang istri yang terlihat sangat marah dan salah paham padanya, membuatnya merasa harus segera membereskan kesalahpahaman.
"Aku bukan pria berengsek, Sayang."
"Aah ... kalau kamu bukan pria berengsek, lalu apa? Bajingan?" sarkas Laura yang serasi gejolak amarah bertalu-talu di dalam hatinya.
Jika beberapa saat yang lalu, Christian merasa sangat khawatir ketika melihat Laura, kini ia malah merasa sangat senang melihat aura kecemburuan yang tanpa sadar ditunjukkan oleh wanita yang tidak akan dilepaskannya.
"Jadi itu sebabnya kamu marah? Astaga! Jika aku tahu kamu cemburu, aku tidak akan khawatir seperti ini."
"Kamu memang benar-benar berengsek! Lepaskan tanganmu!"
Masih berusaha untuk melepaskan tangan yang berada di perutnya dan beberapa saat kemudian merasakan dekapan Christian mulai melonggar dan melihat bahwa tangan itu sudah mulai melepaskan kuasanya.
Tidak ingin berlarut-larut hubungan buruk di antara mereka, Christian memilih untuk berjalan dan berdiri di depan wanita yang masih memperlihatkan wajah masamnya.
Bahkan saat melihat Laura, hendak menghindarinya, kini ia langsung menahan kedua sisi tangannya dan juga menyatukan wajahnya dan kini terlihat sudah menempel dahi dan hidungnya.
"Kamu salah paham. Dengarkan aku, Sayang!"
Laura masih berusaha untuk melepaskan diri dengan menggerakkan tubuhnya tanpa membuka bibirnya karena wajah Christian sudah menempel dengan wajahnya hingga membuatnya bisa mencium aroma napas mint dari mulut pria yang berada tepat di hadapannya.
Pada akhirnya ia yang merasa percuma untuk melawan karena tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Christian, akhirnya hanya diam saja dan memilih untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pria itu.
'Dia benar-benar berhasil mengintimidasi dengan semua yang dilakukannya. Apalagi dalam posisi sedekat ini dengannya,' gumam Laura yang kini menunggu penjelasan dari pria yang masih menempelkan dahi serta hidung saling bersentuhan serta tidak lupa bibir yang saling bersentuhan hingga berhasil membuatnya merasa jantungnya ingin meledak saat itu juga.
To be continued....
__ADS_1