
Mario sebenarnya tadi sengaja bersikap sangat manis di depan Christian agar pria itu tidak punya pikiran untuk kembali pada Laura karena sekarang memiliki hubungan lebih dari seorang asisten pribadi.
Ia kini menatap ke arah sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut tengah berada di depan pusara Ana. Meskipun ia sama sekali tidak mendengar suara Laura, tetap saja mengerti apa yang ada di hati wanita itu.
'Aku harap setelah ini, semua permasalahanmu selesai, Laura. Aku ingin kita menikah dan hidup bahagia selamanya. Aku pun akan memenangkan hak asuh Valerio untukmu dan juga menganggapnya seperti putra kandungku sendiri,' gumam Mario yang masih dengan sabar menunggu wanita di atas kursi roda tersebut.
Sementara itu, Laura yang dari tadi menatap pusara dengan banyaknya taburan bunga tersebut, dari tadi berdoa di dalam hati untuk wanita yang dianggapnya jauh lebih beruntung darinya karena tidak merasakan sakit terlalu lama.
Hingga ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan awalnya tidak mau mengangkat, tapi saat dua kali berdering, membuatnya berpikir itu sangat penting.
Akhirnya ia mengambil dari saku pakaiannya dan langsung menggeser tombol hijau ke atas. Mendengar suara bariton dari pria yang menurutnya ingin menyampaikan kabar baik untuknya.
__ADS_1
"Halo, Nona. Saya baru menemukan sesuatu yang menarik. Entah akan berguna untuk Anda atau tidak informasi ini." Vincent kini mulai menceritakan semua hal mengenai Andika Syaputra tanpa terkecuali.
Bahwa pria itu memiliki hubungan dengan putri dari mantan pekerja Rendi Syaputra.
Laura yang saat ini seolah langsung memutar otak untuk menanggapi. "Sepertinya ada benang takdir yang menghubungkan mereka. Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri jawabannya. Kamu harus tahu jika aku informasi seperti ini benar-benar sangat berharga untukku," ucap Laura yang kini mulai mengucapkan terima kasih.
Bahkan bukan ia yang memutuskan sambungan telpon karena Vincent yang melakukannya. Kemudian ia menyerahkan ponselnya pada Mario begitu melihat beberapa video dan foto yang masuk.
Mario yang kini menganggukkan kepala, langsung memeriksa dan mencari tahu dengan menyuruh beberapa timnya mendapatkan semua informasi secara tepat dJ akurat.
"Sayang, apa kamu masih belum selesai? Kamu harus kembali lagi ke Rumah Sakit karena dokter telah memberikan toleransi hanya 2 jam." Ia memasukkan ponsel milik Laura ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pun sudah selesai mendoakan Ana di depan pusaranya yang masih basah. Ini adalah sebuah ucapan terima kasihku atas perjuangannya membesarkan Valerio dengan baik," ucap Laura yang kini sudah benar-benar lega karena setelah ini akan melakukan apapun untuk bisa merebut hati putranya.
'Perjuangan sebagai seorang ibu baru dimulai,' gumam Laura yang saat ini mulai merasakan kursi roda didorong oleh Mario untuk kembali ke mobil.
Mario yang saat ini fokus mendorong kursi roda, ingin mencari tahu sesuatu hal mengganjal di pikirannya. "Sayang."
"Heem?" Laura kini merasa ada sesuatu hal serius yang hendak ditanyakan padanya.
"Aku harap kamu fokus padaku sekarang dan jangan melihat Christian lagi karena sebenarnya aku sangat takut kehilanganmu," lirih Mario sambil berjalan mendorong kursi roda melintasi area pemakaman yang sangat terawat dan mudah dilalui tersebut.
To be continued...
__ADS_1