365 Days With You

365 Days With You
Menemui Ana


__ADS_3

"Bagaimana, Ma? Apa wanita itu curiga pada Mama berada di ruangan yang asing?" Laura yang tadi sudah membereskan bekas makanan, lalu menunggu mertuanya keluar dari kamar sambil menikmati buah anggur kesukaannya.


Ia mengerutkan kening begitu melihat mertuanya sudah kembali ke ruang makan, padahal baru beberapa menit meninggalkannya. Jadi, berpikir jika ada sesuatu yang tidak beres. Namun, saat melihat mertuanya menggelengkan kepala, ia bernapas lega.


Renita Padmasari kini kembali duduk di dekat menantu kesayangannya. "Tadi mama mengatakan untuk tidak berisik agar Valerio yang baru tertidur tidak terganggu. Jadi, mungkin dia sadar diri dan hanya melihat sebentar saja. Ia juga tidak berbicara banyak. Sepertinya Christian sedang tidak ada, makanya menelpon untuk memastikan sendiri."


Ia pun menjelaskan jika Ana adalah tipe wanita yang sangat teliti dalam hal apapun. Jadi, sebelum benar-benar yakin, tidak akan berhenti untuk mencari tahu.


Laura yang sudah banyak mencari banyak informasi tentang Ana, kini mengangukkan kepala karena sudah tahu. "Hal itulah yang membuat putra Mama sangat tergila-gila padanya. Saat pertama kali melihatnya di Rumah Sakit dulu, aku benar-benar sangat shock."


"Apalagi aku dalam keadaan kontraksi dan kesakitan luar biasa, tapi mendengar dia memperkenalkan diri sebagai istri sah. Bahkan aku saja merasa seperti tidak berharga jika berdiri di sampingnya. Penampilan seorang wanita karir yang sangat berkelas dan anggun menjadi ciri khasnya."


Laura memang dulu belum mengingat tentang siapa sebenarnya dirinya, jadi berpikir jika saat itu hanyalah seorang wanita sederhana yang tidak ada harganya.


"Ana Maria seperti tidak ada tandingannya karena terlihat sangat sempurna. Cantik, pintar, anggun adalah ciri khasnya. Namun, ternyata benar apa kata orang jika di dunia ini tidak ada yang sempurna." Laura pikir dulu ia adalah wanita paling menderita dan Ana adalah wanita paling beruntung.


Namun, saat ini ia menyadari jika semua manusia di dunia ini memiliki ujian masing-masing dalam versi berbeda. Karena Ana yang terlihat sangat beruntung itu ternyata sekarang menderita penyakit kronis.


Meskipun rencana awalnya tidak berubah pada Christian, tetap saja di hati kecilnya ada rasa iba pada nasib wanita yang selama ini dibencinya tersebut.


Wanita paruh baya tersebut bisa mendengar ada nada kegetiran defensif dari perkataan Laura dan langsung memeluknya. "Sayang, maafkan Christian karena berbuat sekejam itu padamu."

__ADS_1


"Aku adalah ibunya dan sangat tahu seperti apa Christian. Dia tidak pernah berbuat jahat selama ini, tapi melakukannya padamu karena kasihan pada Ana. Seandainya Ana tidak divonis penyakit kronis, mungkin sudah menceraikannya dan selalu bersamamu, Sayang." Bahkan berbicara dengan suara serak.


Tentu saja karena selama ini menganggap Laura seperti putri sendiri. Sebenarnya ia dulu juga sangat menyayangi Ana seperti layaknya putri kandungnya, tapi semua berubah saat bertahun-tahun tidak kunjung mendapatkan cucu.


"Kita semua hanya manusia biasa yang hidup di dunia untuk berperan sesuai dengan yang ditentukan. Jadi, aku sadar jika kita terkadang tidak bisa melakukan sesuatu yang diinginkan. Begitu pun denganmu yang harus hidup menderita karena terpisah dari Valerio." Ia pun kini berpikir untuk tidak menuntut Laura memaafkan putranya.


Ia bisa mengerti bagaimana Laura yang selama ini tertatih-tatih sendiri dengan berdarah-darah tanpa ada yang mengobati. "Jika aku jadi kamu, akan sangat membenci Christian. Apalagi kamu sudah tidak punya orang tua dan menanggung semuanya sendiri."


Dengan beberapa kali mengusap lembut rambut panjang keemasan yang tergerai di bawah bahu itu, ia kini merasakan tubuh yang dipeluk bergetar.


Laura yang tadinya tidak ingin memperdulikan semua perkataan wanita paruh baya tersebut terkait dengan Christian yang sangat dibenci, kini berubah lemah seketika kala mengingat orang tuanya yang ternyata meninggal karena ulah saudara sendiri.


Refleks ia menangis tersedu-sedu di pelukan mantan mertuanya tanpa memperdulikan apapun. Hingga bulir air mata sudah menganak sungai di wajahnya saat ini.


Renita Padmasari merasa sangat terkejut dengan apa yang didengar, seketika menarik diri dengan melepas pelukan agar bisa melihat wajah Laura. Ia yang selama ini mengetahui tentang wanita itu dari putranya, mengingat jika tidak menjelaskan tentang keluarganya.


"Apa, Sayang? Orang tuamu dibunuh? Siapa yang melakukan perbuatan sekeji itu? Lalu, apakah kamu saat ini sudah mengingat semuanya? Apa kamu sudah tahu tentang jati dirimu sesungguhnya?" tanya Renita Padmasari yang benar-benar sangat penasaran tentang mantan menantunya tersebut.


Laura yang saat ini masih berurai air mata, kini hanya mengangguk perlahan. Namun, ia tidak ingin membuka rahasia mengenai keluarga Prameswari karena tidak ingin rencananya gagal.


"Suatu saat nanti Mama pasti akan mengetahuinya, tapi sekarang aku tidak bisa cerita. Maafkan aku." Laura yang saat ini baru saja menghapus bulir kesedihan yang mewakili perasaannya, mendengar suara tangisan dan seketika bangkit berdiri dari kursi.

__ADS_1


"Putraku bangun, Ma." Laura berlarian ke kamar karena tidak ingin putranya terjatuh dari atas ranjang.


Begitu juga dengan Renita Padmasari yang berlari, tapi tidak secepat Laura karena sudah tua. Hingga ia melihat cucunya menangis tersedu-sedu di atas ranjang sambil menyebut mama.


"Sayang, Mama di sini," ucap Laura yang saat ini berniat untuk menggendong Valerio dan menenangkannya.


Namun, ia malah mendapatkan penolakan dari putranya yang terus menangis.


"Ma ma ... Ma maaa!" seru Valerio sambil menangis tersedu-sedu saat mengingat sang ibu yang tidak kunjung datang juga.


Laura yang masih tidak menyerah untuk mendiamkan Valerio, kembali mendapatkan penolakan dan bingung harus bagaimana saat ini. Ia berpikir jika ikatan batin dari darah dagingnya lebih baik, tapi kini meragukannya.


Ia menatap ke arah mertuanya yang malah diam saja dan tidak berniat untuk membantunya. "Mama, putraku nangis terus. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku buatkan susu dulu. Mama coba bujuk Valerio."


"Percuma, Laura." Renita Padmasari yang sudah pernah melakukannya, tapi tidak berhasil, kini pun berpikiran sama.


Ia saat ini pun yakin jika cucunya tidak akan mau diam sebelum bertemu dengan Ana yang memang sudah merawatnya semenjak bayi.


"Apa maksud Mama percuma? Belum juga dicoba sudah pesimis." Laura merasa kecewa karena mertuanya bersikap demikian. Namun, ia membulatkan kedua matanya begitu mertuanya mengungkapkan ide.


Ia berbicara dengan mencoba untuk memberikan pengertian pada Laura. "Valerio bersamaku seharian dan saat sudah menangis dan menyebut mama, itu berarti ia hanya menginginkan ibunya. Ana yang selama ini berperan sebagai ibunya, benar-benar sangat menyayangi seperti putra sendiri."

__ADS_1


"Jadi, ikatan batin di antara mereka pun terbina sangat kuat. Kita harus membawa Valerio untuk menemui Ana di Rumah Sakit." Ia pun kini langsung memencet tombol panggil pada ponselnya dan menghubungi nomor putranya.


To be continued...


__ADS_2