
Christian yang sudah kembali ke tempat duduknya dan menunggu sosok wanita yang tadi meninggalkannya karena mendapatkan telpon dari keluarga, tak lain adalah sang paman. Bahkan sesekali melihat ke arah pintu masuk agar bisa mengetahui jika Laura kembali setelah menerima telpon.
Karena tidak ingin mabuk, sehingga membuatnya hanya menatap ke arah botol minuman miliknya. Ia ingin dalam keadaan sadar saat melakukannya dengan wanita yang mengaku masih perawan padanya.
'Awalnya aku sangat percaya diri dengan mengagungkan cintaku pada Ana, tapi hanya dalam hitungan menit saja sudah berubah pikiran hanya gara-gara Laura. Bahkan aku tidak bisa berhenti begitu menyentuhnya,' gumam Christian yang tidak bisa melupakan perbuatannya saat mencium bibir sensual yang terasa manis itu.
Kini, Christian menyentuh tepi bibirnya saat mengingat perbuatannya yang mencuri ciuman pertama Laura yang tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Aku benar-benar sudah gila!" seru Christian yang kembali menatap ke arah pintu masuk dan memicingkan mata karena seseorang yang ditunggu tidak kunjung masuk juga
"Kenapa lama sekali? Ini bahkan sudah setengah jam berlalu," ucap Christian sambil melirik ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
Karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Laura lagi, Christian kini berjalan menuju ke arah pintu utama dan keluar untuk melihat di mana keberadaan wanita yang dicarinya saat menerima telpon.
Hingga ia saat ini masih mencoba untuk mencari Laura dan sangat khawatir jika terjadi pada wanita yang dianggapnya sangat polos itu. Ia mendadak mempunyai pikiran buruk jika sampai terjadi sesuatu.
Apalagi mengetahui bahwa negara bebas sangat rawan untuk seorang perawan seperti Laura. Ia saat ini merasa seperti baru saja menemukan berlian di lumpur dan ingin sekali melindunginya dari kotoran yang menutupi.
Jadi, tidak rela jika sampai Laura disentuh oleh pria lain yang tidak pantas. Meskipun ia sadar bukanlah seorang pria yang pantas untuk Laura karena sudah mempunyai istri yang sangat dicintai, tapi berpikir bahwa wanita itu mempunyai perasaan padanya dan ingin melakukannya dengannya.
"Laura, di mana kamu?" Christian bahkan saat ini mengempaskan tangannya untuk meluapkan kekesalan karena kehilangan Laura.
"Sial! Bahkan aku sama sekali tidak tahu kontak wanita itu karena berpikir bahwa ia akan kembali padaku karena sudah berjanji. Aku sangat yakin jika Laura bukanlah wanita yang suka mengingkari janji dengan pergi begitu saja."
__ADS_1
"Tapi apa yang harus kulakukan untuk bisa mencari tahu mengenai Laura?" Christian yang saat ini mencoba memikirkan apa yang harus dilakukannya, menepuk jidat berkali-kali begitu mengingat hal yang sempat terlewatkan.
"Dasar bodoh! Aku seharusnya ingat pada teman-teman Laura yang masih berada di dalam sana. Aku bisa mendapatkan kontak Laura dan juga mencari tahu tempat tinggalnya." Kemudian ia buru-buru berjalan menuju ke arah pintu masuk dan mencari tempat duduk teman-teman Laura yang tadi ditunjukkan.
Namun, Christian memicingkan mata saat meja telah kosong dan tengah dibersihkan oleh pegawai. Jadi, ia langsung menghampiri pria berseragam hitam tersebut.
"Ke mana para wanita yang tadi duduk di sini?"
"Sudah pergi beberapa menit lalu, Tuan. Mungkin masih di parkiran," ucap pegawai yang kini sudah membawa sampah berupa botol-botol minuman serta makanan.
Refleks Christian menepuk pundak pria tersebut dan langsung berjalan cepat menuju ke arah parkiran untuk mencari teman Laura. Ia masih sangat hafal pada mobil mewah milik beberapa wanita dengan rambut keemasan tersebut.
Apalagi warna-warnanya sangat mencolok dan mudah diingat. Ada warna merah, biru dan kuning. Namun, saat sudah tiba di parkiran dan mengedarkan pandangan ke tempat yang tadi diketahui ada beberapa mobil mewah terparkir rapi, tapi kini sudah tidak ada.
Bahkan membayangkan hal itu saja membuat Christian merasa sangat kesal sekaligus marah karena berpikir tengah dipermainkan oleh seorang wanita yang jauh lebih muda darinya.
Namun, ia yang mengingat bagaimana ekspresi dari Laura saat berbicara padanya tadi benar-benar terlihat layaknya seorang wanita polos. Ia kini menggelengkan kepala untuk tidak menyalahkan Laura yang tiba-tiba pergi.
"Tidak! Aku sangat yakin jika Laura mengalami masalah dan buru-buru pergi hingga tidak sempat berpamitan padaku. Apalagi aku tadi sudah membuktikan sendiri dengan menciumnya."
Christian masih berusaha untuk berpikir positif karena memang mengetahui bahwa Laura adalah seorang wanita muda yang sangat polos dan tidak pernah berhubungan dengan pria manapun selain dirinya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus kembali ke Jakarta besok. Mana mungkin bisa mencari Laura dalam waktu singkat di New York yang sangat luas?" Terlihat wajah Christian saat ini seperti tidak bersemangat dan sangat murung begitu pesimis untuk menemukan wanita yang membuatnya gila.
__ADS_1
Gila karena berani melakukan hal yang melanggar prinsip hidupnya bahwa selamanya akan mencintai satu wanita, yaitu Ana yang memiliki kekurangan tidak bisa memberikannya keturunan.
"Laura, kamu berhasil membuatku gila!" teriak Christian yang saat ini mendongak menatap ke arah langit yang dipenuhi dengan hamparan bintang-bintang berkelipan menghiasi suasana penuh keheningan yang dihadapinya.
Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari beberapa pengunjung yang berada di parkiran saat baru datang dan ada beberapa yang hendak pulang.
"Aku datang ke sini untuk mencari ketenangan dan melupakan masalahku sejenak, tapi yang ada malah mendapatkan masalah baru setelah mengenal Laura."
Kembali ia mengempaskan tangannya yang mengepal untuk meninju udara di sekitar demi melampiaskan amarah yang membuncah di dalam hatinya. Bahkan ia seolah mendapatkan sesuatu hal buruk yang membuatnya merasa seperti tengah dipermainkan oleh masalah.
Saat merasa hidupnya diwarnai dengan masalah, Christian yang putus asa kini mengambil ponsel untuk memesan taksi karena memilih untuk kembali ke hotel.
"Aku harus bersiap karena besok pagi harus ke bandara. Nasib baik aku sudah membelikan oleh-oleh untuk Ana dan orang tuaku kemarin, jadi tidak perlu pusing memikirkannya."
Beberapa saat kemudian, taksi yang dipesannya telah datang dan Christian sudah masuk dan duduk sambil bersandar pada punggung mobil.
'Lupakan apa yang terjadi hari ini dengan Laura, Christian. Anggap ia hanyalah masa lalu yang tidak pantas untuk dikenang,' gumamnya sambil menegakkan tubuh dan menatap ke arah jalanan kota New York dengan banyaknya bangunan tinggi di kanan-kiri yang dilalui.
Meskipun embusan napas kasar mewakili perasaannya saat ini yang kacau, tapi tidak ingin membuatnya berpikir jika pertemuan dengan Laura membuatnya merasa terpuruk.
"Aku tidak akan pernah merindukan Laura," ujar Christian saat ini ketika mengingat ciuman panas dan liar dengan wanita yang dianggapnya bak berlian di lumpur dan membuatnya merasa sangat bahagia meskipun hanya sekejap.
To be continued...
__ADS_1