365 Days With You

365 Days With You
Kembali


__ADS_3

Semalaman Laura tidak bisa tidur nyenyak karena terus mengingat tentang sosok pria yang ditinggalkan olehnya tanpa pesan dan membuatnya tidak rela karena kehilangan Christian.


Hingga ia merasa sangat kesal karena tidak bisa melakukan apapun demi bisa membuat pria itu tidak dalam masalah jika sampai pamannya mengetahui semuanya.


"Nasib baiknya adalah aku masih perawan dan hanya Christian yang bisa menyentuhku. Aku tidak mau pria lain karena hanya menginginkannya. Lagipula hari ini aku akan kembali ke Jakarta dan berharap bisa bertemu dengannya di sana."


Laura saat ini sudah bersiap untuk pergi ke bandara karena dua jam lagi jadwal penerbangannya dari New York ke Jakarta.


Ia saat ini menatap ke arah jam dinding dan menghubungi salah satu nomor pengawal yang selama ini selalu mengawasinya dan tinggal di apartemen sebelah.


"Halo, Vincent."


"Iya, Nona," sahut Vincent dari seberang telpon.

__ADS_1


"Belikan aku sarapan seperti biasanya. Aku ingin kamu yang membawanya dalam setengah jam. Aku tunggu di sini." Kemudian Laura mematikan sambungan telepon dan tidak banyak berbicara dengan pria itu karena ingin cepat-cepat pergi ke bandara.


Laura pun beranjak keluar dari kamar setelah memastikan penampilannya tidak berantakan. Jika ia merasa bahwa hidupnya tidak akan berarti dan sangat kesepian jika tidak ada wanita paruh baya yang saat ini bekerja untuknya


Wanita paruh baya tersebut sudah bekerja di keluarganya semenjak masih muda dulu dan ia bahkan masih bayi menurut cerita sang ibu. Ia mengetahui sifat wanita itu yang sangat baik hati padanya dengan menganggap seperti putri sendiri dan melayani sebaik mungkin.


Kesetiaan yang dibutuhkan oleh Laura dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena memiliki satu orang yang benar-benar peduli padanya tanpa memikirkan masalah harta.


"Bibik! Bibik Endah!" panggil Laura sambil berjalan menyusuri ruangan dalam apartemen.


Sementara itu, Laura saat ini menatap penuh kasih sayang pada wanita paruh baya di hadapannya. "Bik, Aku buru-buru pergi dan tidak sempat sarapan karena pesawat yang akan membawaku pulang Jakarta 2 jam lagi akan take off."


"Bibik, aku ingin memberikan sebuah kejutan pada keluarga di Jakarta tanpa memberitahu mereka." Laura sangat percaya pada wanita paruh baya itu. Jadi, ia tenang mengungkap rahasianya saat ini dan yakin tidak akan mengatakan pada pengawal yang nanti datang ke sini.

__ADS_1


Kemudian Laura memeluk erat tubuh wanita yang saat ini seolah mengerti apa yang diinginkan olehnya. "Aku pergi dulu, Bik."


"Hati-hati di jalan, Nona. Saya juga merasa tidak tega melihat Anda selalu kesepian di sini. Jadi, memang sudah sewajarnya berpikir untuk kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan kuliah dengan mendapatkan gelar."


"Tenang saja, aku tidak akan memberitahu pengawal ke mana Anda pergi. Nona harus baik-baik saja dan kembali dengan selamat hingga sampai rumah."


Laura saat ini hanya menganggukkan kepala dan tersenyum pada wanita paruh baya sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut.


"Aku akan baik-baik saja dan tiba dengan selamat," ucap Laura yang saat ini berjalan keluar dari apartemen menuju ke arah lobby.


Bahkan ia berjalan cepat karena mengejar waktu agar tidak bertemu dengan pengawal dan tidak memperdulikan ada orang lain yang menjadi bodyguard.


"Aaah ... semoga tidak ada yang terlewatkan atau terlupa." Laura sudah memesan taksi dan menunggu di depan jalan raya.

__ADS_1


"Kita akan bertemu lagi di Jakarta, Christian," ucap Laura yang sudah pasrah pada hidupnya yang diserahkan pada pria yang telah membuatnya menyerahkan ciuman pertamanya.


To be continued...


__ADS_2