365 Days With You

365 Days With You
Bertukar tempat duduk


__ADS_3

Christian mencoba untuk mengingat kembali tentang kisah cintanya dulu pertama kali jatuh cinta pada Ana, agar ia setia dan tidak menghianati sosok wanita yang sangat dicintai dari dulu hingga sekarang.


Bahkan merasa bahwa rumah tangganya yang sudah berjalan 10 tahun jauh lebih berharga daripada harga sebuah keperawanan.


"Aku tidak boleh menyakiti Ana dengan berselingkuh. Ana sangat mencintaiku dan selalu mendukungku hingga sekarang. Sudah banyak suka duka yang kami lalui dalam berumah tangga dan tidak boleh hancur begitu saja hanya karena masalah anak."


Embusan napas kasar terdengar sangat jelas mewakili perasaan Christian saat ini lebih kami ingat ia sempat tertarik pada tawaran Laura yang diketahui masih sangat muda dan pastinya labil.


"Laura .... "


Christian akui bawa sosok Laura berhasil membuatnya alangkah baik untuk tetap setia, meski pada awalnya ia bersikap sangat sinis pada wanita yang berusia jauh lebih muda darinya.


"Lupakan Laura, Christian. Lupakan wanita muda itu dan jangan sampai tergoda padanya," lirih Christian yang saat ini berusaha untuk melupakan wanita yang ia yang diyakini tadi adalah benar-benar Laura.


Jika sebelumnya merasa sangat yakin ingin mencari Laura di pesawat yang sama saat naik nanti, tapi setelah mendapatkan telpon dari sang istri, membuatnya tidak jadi melakukan karena ingin setia pada Ana.


Menganggap bahwa Tuhan menciptakan tulang rusuknya untuk Ana. Kini, ia melirik mesin waktu yang melingkari pergelangan tangan kiri dan menyadari suara dari operator bandara yang memberikan pengumuman penumpang menuju ke Jakarta segera masuk ke dalam pesawat.


"Akhirnya," ucap Christian yang seperti kapan di berdiri dari tempat duduk dan bernapas lega karena akhirnya perjalanannya akan segera dimulai.


Meskipun akan memakan waktu lebih dari 20 jam dan pastinya akan sangat membosankan berada di dalam pesawat tanpa Ana.


Bahkan memikirkan wanita lain yang membuatnya yakin berada di dalam pesawat yang sama. Saat berjalan, ia bahkan mengadakan pandangan untuk mencari Laura dari para penonton yang mulai satu persatu memasuki lawan menuju ke arah pintu masuk pesawat.


Meskipun bibirnya dari tadi mengatakan untuk melupakan Laura dan tidak mencarinya, tapi dalam hati kecil tetap saja bimbang dan masih berusaha untuk membenarkan pikirannya beberapa saat lalu.


'Laura, apa benar ia berada di dalam satu pesawat yang sama denganku menuju ke Jakarta? Jika benar, apakah bisa dibilang bahwa kami jodoh? Karena semua yang terjadi antara aku dan Laura seperti bukanlah sebuah kebutuhan semata.'


Saat Christian masih sibuk mengedarkan pandangan untuk mencari sosok wanita yang membuatnya gundah gulana, sedangkan di sisi lain, yaitu di bagian paling depan dan baru saja masuk ke dalam pesawat adalah Laura.


Ia tadi memang berangkat lebih awal agar bisa segera masuk karena mengetahui bahwa kursi penumpang yang dipesannya berada di bagian paling belakang.


Jika ia bisa membeli tiket jenis First Class atau Quiet Zone dan pastinya menawarkan fasilitas padanya karena harga tiket yang sangat mahal, tapi sengaja membeli tiket untuk penerbangan Low Cost Carrier yang tersedia Kelas Ekonomi.


Itu karena tidak ingin mencolok ketika kabur dari New York. Bahkan ia tidak memakai uangnya sendiri karena meminta bantuan dari salah satu sahabatnya dan akan mengganti setelah tiba di Jakarta.

__ADS_1


Itu karena semua pengeluaran yang dilakukannya selalu dilaporkan oleh Vincent pada sang paman. Ia benar-benar tidak bisa berbuat sesuka hati meskipun semua uang yang dikeluarkannya merupakan haknya karena berasal dari harta orang tuanya sendiri.


Meskipun merasa sangat muak karena hidup terkekang dalam hal apapun dan menganggap bahwa ia hanyalah seorang wanita yang terikat oleh kuasa sang paman, tapi berusaha untuk membesarkan hati bahwa semua itu adalah hal terbaik untuknya demi besar menjadi pewaris kata keluarga Prameswari.


Laura saat ini mencari nomor tempat duduk yang akan ditempati dan begitu menemukannya, ia segera duduk di tempat yang tersedia.


Dengan bernapas lega karena berada di bagian paling tepi. Ia bisa melihat ke arah luar, agar tidak merasa bosan. Karena akan menghabiskan waktu cukup lama di dalam pesawat selama dalam perjalanan menuju ke negara kelahiran yang meninggalkan banyak luka.


Embusan napas kasar terdengar sangat jelas mewakili perasaan Laura saat ini. "Jakarta, aku kembali. Papa, mama, kalian bangga padaku, bukan? Bukankah kalian merasa bangga bisa melihat streaming ini sudah meraih gelar dengan predikat terbaik?"


"Aku akan berusaha untuk pemimpin perusahaan yang sudah susah payah apa besarkan seperti kata paman. Meskipun harus mengorbankan masa beliau demi bisa meraih kesuksesan, aku sama sekali tidak menyesal."


Saat Laura menatap ke arah jendela, ia merasa seperti akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk kesekian kali.


"Selamat tinggal New York. Terima kasih karena sudah menjadi rumah kedua untukku selama 8 tahun terakhir ini. Aku bahkan dulu tidak pernah yakin bisa melewati semua ini sendirian tanpa siapa-siapa."


"Bahkan kedatangan paman ke sini bisa dihitung dengan jari, seolah ia tidak menyayangiku. Namun, aku berusaha untuk memahami situasi bahwa tugas paman jauh lebih berat karena bertahun-tahun harus memimpin perusahaan."


Saat Laura baru saja menutup mulut, ia yang bagus menatap ke arah luar, mengerjapkan mata begitu melihat sosok pria yang berjalan menuju ke arah pesawat.


Pria yang dari semalam membuatnya tidak bisa tidur nyenyak karena pergi meninggalkan tanpa pesan atas ancaman dari sang paman.


"Apa benar itu adalah Christian? Jadi, ia juga pulang ke Jakarta hari ini? Apakah ini yang dinamakan jodoh karena aku selalu bertemu dengannya tanpa direncanakan?" Laura merasa degup jantungnya berdetak melebihi batas normal begitu ia melihat seorang pria yang baru saja masuk ke dalam pesawat.


Pandangannya masih sangat normal dan bisa melihat jika pria yang baru masuk ikut dalam pesawat adalah pria yang sama dijumpainya di dalam klab malam semalam.


"Christian?" lirih Laura yang saat ini bersikap dengan iris berkilat sosok pria yang juga tengah menatap ke area belakang, seolah tengah mencari seseorang.


Bahkan Laura mengerjapkan mata dan menelan saliva dengan kasar begitu melihat pria yang berjalan ke belakang menuju ke arahnya. "Ternyata benar aku tidak bermimpi."


"Christian, berjalan ke sini? Apakah tempat duduknya ada di kelas ekonomi?" tanya Laura yang tidak yakin dengan pemikirannya karena mengetahui bahwa seorang Christian merupakan pria yang berasal dari keluarga berada jika dilihat dari apa yang dikenakan.


Namun, ia menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin karena ia sendiri berasal dari keluarga konglomerat dan bisa dengan mudah membeli tiket termahal, tapi malah memilih berada di kelas ekonomi.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Laura yang merasa sangat gugup karena melihat Christian semakin dekat, seketika mengempaskan tubuhnya di kursi penumpang dan menormalkan perasaan yang tidak karuan karena akan bertemu dengan pria yang semalam membuatnya berbuat gila untuk pertama kali.

__ADS_1


Jika semalam ia jangan berani karena dipengaruhi oleh minuman beralkohol dan menjadi orang lain, tapi kali ini seolah kembali menjadi seorang hawa yang menurut dan polos, sehingga bingung harus bagaimana menghadapi pria yang diyakini sebentar lagi akan sampai di hadapannya.


'Astaga! Apa yang harus kulakukan saat ini untuk menghadapi seorang pria yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kali?' Bahkan Laura seketika menyentuh bibirnya yang semalam dinikmati oleh pria yang telah mencuri ciuman pertamanya.


'Bahkan sampai saat ini aku tidak bisa melupakan perbuatannya yang membuat bibirku kebas dan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terbayang selalu.'


Hingga lamunan Laura seketika biar begitu mendengar suara dari pria yang sama dihafalnya dan tidak pernah dilupakan.


"Laura?" ucap Christian yang saat ini berdiri tepat di sebelah tempat duduk yang ditempati oleh wanita yang benar-benar telah membuatnya gelisah dan mengingkari perkataan yang tadi untuk melupakan Laura.


Bahkan kali ini ia tidak berkedip saat menatap wanita yang semalam ia bungkam bibirnya dan menikmati dengan penuh gairah hingga membuat hasrat seketika bangkit, tapi tiba-tiba ditinggalkan dengan alasan mengangkat telpon dari keluarga.


Mengingat hal itu, tentu saja membuat Christian merasa sangat kesal dan ingin menanyakan apa alasan Laura meninggalkannya tanpa pesan.


Bahkan ia berpikir perjalanan selama menuju ke Jakarta akan jauh lebih menyenangkan jika bisa duduk di sebelah Laura yang terlihat sangat terkejut melihatnya sampai tidak bisa berkata-kata.


"Ternyata penglihatanku benar-benar tidak salah karena bisa melihatmu di sini untuk kedua kali," ucap Christian yang saat ini mendapatkan sebuah tepukan pada pundaknya dan melihat ada seorang pria datang.


"Permisi," ucap seseorang pria muda dengan rambut keemasan telah menunjukkan nomor tempat duduk pada pria yang menghalanginya karena berdiri di dekat kursi penumpang.


Sementara itu, Christian yang saat ini merasa kecewa karena ada seorang pria muda dengan paras rupawan duduk di sebelah Laura dan berpikir macam-macam.


Tentu saja ia memang sedikit menyingkir agar pihak itu bisa masuk ke dalam dan duduk di sebelah Laura, tapi seperti merasa tidak terima jika pria itu berdekatan dengan wanita yang membuatnya merasa tidak tenang dari semalam.


'Tidak, Laura tidak boleh duduk dengan pria ini karena ia akan menggoda dan mengajaknya tidur bersama seperti yang dilakukan padaku,' gumam Christian yang benar-benar merasa gelisah jika apa yang dipikirkan benar-benar terjadi.


Sementara itu, Laura yang masih belum mengeluarkan sepatah kata pun karena merasa shock bisa bertemu dalam situasi yang tidak menguntungkan dan saat suasana hatinya tengah buruk, kini mengangkat pandangan dan melihat pria dengan paras rupawan yang membuatnya selalu jatuh cinta berkali-kali.


"Christian," lirih Laura dengan suara bergetar yang saat ini masih tidak mengalihkan pandangan.


Hingga ia melihat telagawati yang mendatangi tempat duduknya dan berbicara pada Christian.


"Permisi, Tuan. Apa yang bisa saya bantu? Bolehkah saya melihat tiket Anda?"


Christian yang saat ini mengetahui akan diusir dari tempat itu agar cepat duduk di tempatnya, seketika menjawab.

__ADS_1


"Sebentar!" Kemudian menoleh ke arah pria muda yang duduk di sebelah Laura dan menunjukkan tiketnya. "Apakah saya boleh bertukar tempat duduk dengan Anda?"


To be continued...


__ADS_2