
Ana yang baru beberapa saat lalu masuk ke dalam ruangan perawatan, kini melihat seorang pria yang tadi kecelakaan sudah digantung kakinya ke atas dengan diperban.
Bahkan bagian kepala serta tangan juga sama, memakai perban juga. Hingga ia pun melihat sosok wanita yang kini tengah hamil di sebelah pria yang langsung menyapanya.
"Selamat sore, Nyonya." Wanita hamil itu adalah merupakan sang istri dari pria yang terbaring lemah di atas ranjang.
Ia seketika membungkuk hormat pada wanita yang diketahuinya telah menjadi orang yang menanggung biaya rumah sakit, padahal jelas-jelas suaminya yang bersalah.
Kebiasaan ngebut di jalan selalu dilakukan dan susah untuk dibilangin karena ini adalah kedua kalinya mengalami kecelakaan di jalan dan membuatnya lelah.
Apalagi ia tengah hamil 7 bulan dan membutuhkan banyak biaya nanti, tapi jika suami kecelakaan, maka tidak akan bisa bekerja dan tidak ada penghasilan. Namun, hari ini mendapatkan berkah karena malah mendapatkan uang dari wanita yang menjadi korban ugal-ugalan suaminya.
"Silakan, Nyonya. Maaf karena perbuatan suami saya telah membuat kerugian untuk Anda. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi suami yang suka sekali ngebut di jalanan," ucapnya dengan menampilkan wajah penuh penyesalan.
Ia yang masih sangat muda, berakhir hamil karena melakukan hubungan sebelum menikah saat belum lulus dari sekolah, sedangkan suami adalah tukang ojek yang biasa mengantarkan pulang pergi ke sekolah.
Hingga berakhir berpacaran dan melakukan hubungan intim, lalu menikah sebelum lulus dari sekolah dan tidak bisa melanjutkan pendidikan karena malu perutnya semakin besar.
Sementara itu, Ana yang sama sekali tidak pernah menyangka jika istri dari pria itu masih sangat muda dan sudah hamil, sedangkan ia sudah menikah lebih dari 10 tahun, tapi tak kunjung hamil juga.
Ana kini berjalan mendekati wanita yang terlihat membuncit perutnya tersebut. "Berapa usia kehamilanmu? Kamu pun masih sangat muda. Aku sangat iri padamu karena di usia muda sudah hamil dan dalam hitungan beberapa bulan lagi akan memiliki seorang anak."
Ana dari dulu sangat suka melihat wanita hamil karena ia sangat ingin hamil dan membuat suaminya merasa bahagia saat mempunyai keturunan. Apalagi wanita tidak akan sempurna jika tidak hamil serta melahirkan anak untuk suami.
Ana sebenarnya ingin mengusap perut yang sudah mewujud itu, tapi khawatir jika berpikir macam-macam padanya, sehingga hanya melihatnya saja. Ia sebenarnya tidak tahu jika yang menjadi istri dari pria kecelakaan itu adalah seorang gadis masih sangat muda.
Hingga ia pun menatap ke arah Vicky dengan tatapan tajam karena tidak menceritakan padanya. Ia Kita kan pergi ke rumah sakit tidak membelikan apapun. Berbeda jika mengetahui bahwa istri dari pria itu tengah hamil besar, maka akan membelikan buah-buahan.
"Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa ada wanita hamil di sini? Kita bahkan pergi ke rumah sakit dengan tangan kosong. Sangat memalukan!" sarkas Ana yang masih menatap tajam asisten pribadi tersebut.
Refleks Vicky langsung membungkuk hormat karena ia yang dipusingkan oleh perintah dari bos laki-laki, tidak fokus ketika mengurus masalah kecelakaan.
Apalagi yang mengabarkan adalah salah satu orang suruhannya dan tidak mengatakan jika istri pria yang kecelakaan itu masih sangat muda dan hamil.
"Maafkan saya, Nona Ana. Saya tadi lupa tidak bertanya mengenai istri pria ini. Tapi saya sudah ...."
Vicky tidak bisa melanjutkan perkataannya karena diselah oleh wanita muda yang memiliki perut buncit tersebut.
"Nyonya, jangan berbicara seperti itu karena saya harusnya berterima kasih pada Anda. Apalagi sudah menanggung biaya rumah sakit dan memberikan uang untuk pegangan selama suami tidak bekerja. Saya benar-benar berterima kasih."
"Oh iya, saya masih berusia 17 tahun dan duduk di bangku SMA, tapi tidak melanjutkan sekolah setelah hamil." Meskipun sebenarnya merasa malu untuk menceritakan semuanya, tapi berpikir lebih baik mengatakan yang sebenarnya daripada berbohong.
Apalagi mengetahui bahwa wanita itu sangat baik dan tidak menyalahkan suaminya yang ugal-ugalan ketika naik motor. Ia tadi sempat berbicara saat suaminya sadar dan mengatakan hal yang sebenarnya.
Sebenarnya ia dan suami bertengkar di pagi hari saat hendak berangkat bekerja karena masalah ekonomi. Sang suami yang tidak bisa membelikan sesuatu yang diinginkannya, membuatnya marah-marah.
Padahal ia mengatakan tengah mengidam, tapi tidak dipenuhi dan membuatnya kesal, sehingga bertengkar dengan suami dan berakhir ngebut di jalan untuk meluapkan kemurkaan, sehingga mengalami kecelakaan.
Tapi ia seolah mendapatkan rezeki nomplok karena tadi saat di rumah sakit, ada seorang pria datang memberikan amplop coklat berisi uang dan membuatnya sangat terkejut dengan nominalnya.
__ADS_1
Hingga ia pun bisa membeli sesuatu yang diinginkannya, yaitu kalung dan gelang. Entah mengapa ia tiba-tiba ingin memakai kalung dan gelang saat hamil.
Namun, saat meminta pada sang suami untuk membelikan kecil-kecilan saja, malah dimarahi dan membuatnya kesal serta marah balik.
Ia sempat berpikir bahwa kecelakaan sang suami adalah berkah karena kini memegang banyak uang, jadi tidak merasa tiba pada pria yang saat ini sudah kembali tidak sadarkan diri karena pengaruh obat.
Jadi, melihat wanita yang sudah di tempatnya adalah bos dari pria yang memberikannya uang tadi, sehingga membuatnya sangat menghormatinya.
Ia bahkan sangat beruntung tidak bertemu dengan seorang wanita cantik dan terlihat sangat hebat karena memiliki banyak uang. Sementara ia masih muda, sudah sibuk dengan rumah tangga dan sebentar lagi melahirkan.
Padahal masa-masa remaja yang belum terpuaskan. Apalagi harus menjadi seorang ibu rumah tangga dan membuatnya menyesal telah melakukan kesalahan di usia muda, sehingga mengorbankan pendidikan yang tinggal satu tahun lagi.
Ana saat ini mengalihkan pandangan dari Vicky ke arah wanita muda dengan perut buncit tersebut. "Aku benar-benar sangat iri padamu karena masih sangat muda, tapi sebentar lagi akan melahirkan."
Merasa pujian yang keluar dari bibir merah sensual itu membuatnya merasa tertampar dan seolah tersindir, sehingga membuatnya murung.
"Padahal jika saya bisa memutar waktu, ingin sekali memperbaiki kesalahan. Saya akan fokus pada sekolah dan tidak pacaran sampai hamil dan malu melanjutkan sekolah dengan membuncit, sehingga harus keluar, ucapnya dengan suara lirih."
Ana mengucapkan mata karena sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan tanggapan seperti itu. Ia bahkan sangat tulus tadi ketika mengatakan sangat iri pada gadis muda itu.
"Aaah ... maafkan aku." Ana kini meminta izin. "Apakah aku boleh mengusapnya? Siapa tahu aku bisa ketularan nanti karena ingin juga bisa hamil sepertimu."
"Tentu saja boleh, Nyonya. Padahal saya sangat iri pada Anda karena merupakan seorang wanita cantik, elegan dan memiliki segalanya. Jadi, Anda belum punya anak? Memangnya, berapa lama Anda sudah menikah?" tanya gadis muda yang kini mengulurkan tangannya.
"Maaf karena dari tadi belum memperkenalkan diri. "Saya Ani. Tentu saja Anda boleh mengusap sepuasnya perut saya."
Ia pun langsung menjabat keluluran tangan gadis muda itu dan mengungkapkan perasaannya.
"Aku Ana. Ternyata nama kita hampir mirip, tapi masih kita sangat berbeda karena kamu jauh lebih beruntung." Menatap ke arah perut buncit itu.
"Aku bahkan sudah menikah selama 10 tahun, tapi Tuhan tidak mempercayaiku untuk memberikan keturunan." Ada nada kegetiran defensif yang kini membuat Ana mengalihkannya dengan mengusap lembut perut buncit itu.
Ia seketika membulatkan mata dan membekap mulut begitu merasakan perut yang diusapnya tadi bergerak. "Kenapa bisa bergerak seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan dan tidak boleh menyentuh perutmu?"
Ana sangat khawatir jika terjadi sesuatu hal pada kehamilan gadis muda itu karena benar-benar sangat terkejut tadi. Ia bahkan membulatkan mata dan membekap mulutnya melihat pergerakan kuat pada perut buncit itu.
Ia yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai kehamilan, sangat khawatir jika perbuatannya akan membuat gadis itu mengalami masalah.
Saat melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari bosnya setelah menyentuh kehamilan gadis itu, Vicky hanya geleng-geleng kepala karena baru pertama kali melihat kebodohan seorang Ana Maria yang sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai kehamilan.
Bahkan ia sebagai seorang pria saja tahu jika perut yang bergerak itu karena efek tanggapan dari bayi di kandungan yang memberikan sebuah respon pada sentuhan.
Ia tahu itu karena dulu sering mendengar temannya yang sangat excited ketika menceritakan tentang kehamilan istri. Jadi, tahu beberapa hal yang berhubungan dengan ibu hamil.
'Nona Ana ... nona Ana, ia cerdas dan hebat dalam mencari uang. Namun, bodoh dalam hal kecil mengenai kehamilan,' gumam Vicky yang kini hanya bisa mengungkapkan semuanya di dalam hati dan berniat untuk menceritakan pada bos laki-laki nanti.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini adalah sambutan atas sentuhan Anda tadi. Jadi, bayinya memberikan sebuah respon. Justru karena tandanya bayinya sehat, sehingga sangat aktif ketika diusap seperti ini," ucapnya sambil mengusap perutnya.
Nanti, ia terkekeh karena saat melakukannya sendiri malah bayinya tidak memberikan respon. "Ternyata Anda membuat bayi saya suka dengan sentuhan tadi, terbukti dia tidak bergerak saat saya yang melakukannya."
__ADS_1
Ana yang saat ini baru memahami beberapa hal mengenai kehamilan karena memang selama ini ia menutup diri dari saudara dan teman yang hamil. Ia khawatir jika mendengar pertanyaan seputar kehamilan saat tak kunjung hamil juga.
Hingga ia pun berpikir bahwa Tuhan sangat tidak adil pada para wanita pejuang garis biru yang secara finansial sudah siap lahir batin untuk memiliki keturunan.
Sementara para pasangan muda yang bahkan belum menikah bisa langsung hamil dan seringnya menggugurkannya karena tidak ada pertanggungjawaban dari pihak laki-laki.
Bahkan ia mendengar jika mereka itu kaum wanita yang disentuh langsung hamil. Sementara ia sudah memakai cara apapun, tapi tak kunjung hamil juga.
Kini, Ana kembali mengarahkan tangan pada perut membuncit itu. "Kalau begitu, biar aku mengusapnya sekali lagi."
"Iya, Nyonya. Silakan saja." Ani kini tersenyum saat melihat wanita cantik dan elegan itu terlihat sangat senang dan bersemangat saat mengusap perutnya.
Ia bahkan merasa iri hanya dengan melihat semua hal tentang wanita itu. Namun, menyadari bahwa hal yang sama dirasakan wanita itu karena iri padanya.
Ana kini sudah tidak membuang waktu dan langsung melakukannya dengan seulas senyuman selalu terukir di bibir. I tahu bahwa ujian rumah tangga setiap pasangan berbeda-beda dan kali ini seolah bisa melihat jika Tuhan memberikan manusia cobaan sesuai dengan porsinya.
Semua disesuaikan dengan porsi masing-masing dan manusia hanya tinggal berusaha untuk menjalani dan tidak menyerah.
"Semoga anakmu kelak menjadi anak yang bisa membanggakan orang tuanya. Aku jadi senang dan betah berada di sini. Apa aku boleh datang ke sini lagi setiap pulang kerja?" Ana berharap dengan sering berinteraksi dengan wanita hamil akan cepat ketularan.
Bahkan ia ingin membelikan beberapa perlengkapan bayi juga. Berharap semua kebaikannya akan menjadi pahala baginya dan bisa segera ketularan hamil.
"Tentu saja sangat boleh dan saya akan senang sekali, Nyonya. Anda boleh datang kapan saja." Ani awalnya merasa segan melihat wanita cantik itu, kini seolah bisa mengerti jika seorang wanita hebat seperti itu akan selalu datang hanya karena kehamilannya yang selalu disesali.
Ia bahkan ingin memutar waktu agar tidak menyia-nyiakan masa muda hanya dengan mengandalkan nafsu semata, sehingga berakhir hamil sebelum lulus sekolah.
Namun, karena melihat tanggapan positif dari wanita hebat itu, membuatnya seolah merubah mindset di pikirannya untuk bersyukur atas segala hal yang dimiliki. Ia sangat iba pada wanita cantik dan elegan yang ternyata memiliki sebuah masalah yang sangat menyesakkan.
"Semoga Anda segera hamil dan memiliki keturunan, Nyonya Ana," ucapnya dengan penuh ketulusan dan ia berharap sebentar lagi, wanita baik itu segera memiliki momongan.
Ana yang saat ini tengah bersemangat untuk mengusap lembut perut membuncit itu, kini langsung mengaminkan doa tulus itu.
"Terima kasih. Semoga aku bisa hamil sepertimu karena sudah tidak sabar ingin merasakan seperti apa wanita hamil itu, agar suamiku bahagia memiliki keturunan karena aku tidak tega melihatnya tertekan."
Ana bahkan kini berkaca-kaca bola matanya saat mengingat sang suami yang sangat mencintainya sampai sekarang. Bahkan sama sekali tidak punya keinginan untuk menceraikannya meskipun menjadi wanita yang belum kunjung hamil setelah 10 tahun menikah.
Sementara itu, Christian yang dari tadi diam melihat interaksi antara dua wanita berbeda usia itu, kini kembali merasa bersalah karena menyembunyikan fakta mengenai bosnya.
'Maafkan saya, Nona Ana. Anda pasti tidak akan lagi mau memuji suami jika mengetahui semua hal yang dilakukan oleh tuan Christian menikah lagi tanpa sepengetahuan Anda,' gumam Vicky yang kini memilih untuk membiarkan bosnya tersebut berbagi keluh kesah dengan gadis muda yang berhasil membuat seorang Ana Maria merasa iri.
Ia pun melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar dan mengambil ponsel miliknya untuk memberikan sebuah kabar yang kurang baik dan pastinya akan membuat bosnya kebingungan.
Bos, nona Ana akan setiap hari datang ke rumah sakit karena menyukai istri pasien yang mengalami kecelakaan itu tengah hamil besar. Nona Ana bahkan sangat senang hari ini melihatnya dan bisa sepuas hati mengusap perut wanita itu yang membuncit karena hamil 7 bulan.
Kemudian Vicky mengirimkan pesan yang tadinya membuatnya merasa sangat terkejut begitu mendengar Ana mengatakan akan datang setiap hari ke rumah sakit dan langsung kepikiran bosnya.
'Pusing ... pusing deh, Bos. Biarkan saja ia dipusingkan dengan masalah nona Ana karena aku sudah dipusingkan oleh Bos, jadi kami sama-sama pusing dan impas,' gumam Vicky yang saat ini tengah mendaratkan tubuhnya di atas kursi tunggu di depan ruangan tersebut dan menatap beberapa orang yang berjalan di hadapannya.
To be continued...
__ADS_1