365 Days With You

365 Days With You
Sudah memiliki segalanya


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dan Christian serta Ana sudah menemukan bukti-bukti penggelapan dana yang dilakukan oleh Anita. Karena besok Christian harus kembali ke Bandung, hari ini ia menyelesaikan masalah yang terjadi di Perusahaan.


Ia menyuruh Vicky khusus memanggil Anita untuk pergi ke ruangannya. Bahkan saat ini ia meminta izin pada sang istri untuk memberikan sebuah hukuman pada iparnya tersebut karena jelas-jelas melakukan penggelapan dana yang cukup besar dan membuat kerugian di Perusahaan.


"Apa kamu yakin untuk mengambil tindakan yang melibatkan aparat kepolisian?" tanya Christian yang saat ini ingin memastikan tentang keputusan dari sang istri.


Ana tanpa ragu menjawab pertanyaan sang suami karena ia benar-benar merasa sangat bersalah karena adiknya telah membuat kerugian di Perusahaan. Hingga ia pun kini berpikir jika kerja kerasnya selama ini ternoda oleh keluarga sendiri.


"Anita harus membayar kesalahannya karena berani menggelapkan dana perusahaan demi jiwa gila belanjanya. Itu benar-benar sangat keterlaluan, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkan aku karena aku pun ingin Anita mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ana yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Itu pasti mereka," sahut Christian yang saat ini berbicara sambil menatap sang istri dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.


Kini, Vicky berjalan di depan bersama dengan sosok wanita yang dari dulu sangat tidak disukainya karena sangat kecentilan dan berbeda dengan sang kakak yang lebih tegas dan anggun serta berwibawa.


"Nona Anita sudah datang, Presdir," sahut Vicky yang saat ini memberikan sebuah kode agar wanita yang berada di depan pintu dan berjalan masuk ke dalam.


Sementara itu, Anita yang saat ini merasa jika perbuatan curangnya ketahuan oleh kakak dan iparnya begitu melihat tatapan tajam menelisik dari mereka.


"Pagi, Kak dan Kakak ipar. Apa ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan padaku?" Anita masih belum berniat untuk jujur karena berharap jika kekhawatirannya tidak terjadi. Hingga ia melihat kode dari iparnya menatap ke arah Vicky.


Vicky yang sudah membawa tab di tangan, melihat kode dari bosnya untuk menunjukkan sebuah bukti dari apa yang ditemukan olehnya, sehingga kini langsung menyerahkan ke tangan sosok wanita di hadapannya.


"Lebih baik Anda mengaku sebelum bos melaporkan perbuatan curang ini pada pihak berwajib," sarkas Vicky yang kini bisa melihat ekspresi wajah Anita seketika berubah pucat.


Sementara itu, Christian dan Ana hanya menjadi penonton tanpa mengatakan apapun karena ingin melihat bagaimana perubahan wajah seorang Anita.


Anita kini memegang tab milik Vicky yang menampilkan beberapa transaksi yang dilakukan dengan rekening fake dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.


"Ini ...." Refleks ia langsung berjalan mendekati pasangan suami istri yang tengah duduk di sofa tersebut. "Kakak, aku bisa menjelaskan semuanya. Ini adalah sebuah fitnah. Aku sama sekali tidak melakukan kecurangan apapun di perusahaan ini."


Karena merasa sangat marah saat adiknya masih tidak mau mengakui kesalahannya, refleks Ana bangkit berdiri dari posisinya yang duduk di atas sofa dan menghampirinya.

__ADS_1


"Setelah bukti jelas-jelas ada, tapi kamu masih bisa mengelak? Tega-teganya kamu berbuat hal buruk pada kakakmu dan iparmu sendiri, Anita!" sarkas Ana yang saat ini berteriak untuk meluapkan kemurkaan yang sudah meledak ketika melihat adiknya tidak mau mengakui kesalahan.


Ia seperti tidak mempunyai muka lagi di hadapan sang suami karena membuat adiknya bekerja di perusahaan yang sudah lama dibesarkan dengan susah payah.


"Rasanya aku ingin menampar serta menarik rambutmu karena tidak tahu diri karena berani berbuat curang di perusahaan iparmu sendiri yang sudah setiap bulan memberikan gaji cukup besar untukmu. Tapi tidak ingin mengotori tanganku untuk menghukummu. Biar para polisi yang menyelesaikan semuanya!"


Ana tadinya berpikir bahwa adik perempuannya tersebut mau mengakui kesalahan dan meminta maaf pada sang suami, sehingga ada kemungkinan untuk tidak membawa kepolisian. Namun, ternyata pemikirannya salah dan membuatnya saat ini menyerah pada perbuatan adiknya.


"Kak, aku bisa menjelaskan semua itu. Jangan melibatkan kepolisian atas masalah ini." Anita yang saat ini melihat sang kakak tidak memperdulikannya karena berlalu pergi mendekati sang suami, menatap ke arah iparnya.


"Kakak ipar, aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong maafkan aku karena khilaf melakukan kesalahan dengan memakai uang perusahaan demi kepuasan membeli barang-barang yang kuinginkan. Aku bersedia dihukum dan mengembalikan uang itu dengan dipotong gaji." Anita menyatukan kedua tangan dengan menampilkan wajah memelasnya.


Ia berharap mendapatkan belas kasihan dari sang ipar saat tidak mendapatkan dari kakaknya. "Tolong jangan menjebloskan aku ke penjara. Aku akan melakukan apapun untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi, Kakak ipar. Aku janji."


Christian yang dari tadi hanya diam melihat adik iparnya mengakui kesalahannya, benar-benar sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan kemurkaannya. Ia masih memikirkan perasaan sang istri yang jauh lebih terluka.


Hanya embusan napas kasar serta memijat pelipisnya kala mendengar pengakuan dari iparnya yang dengan mudahnya berkata akan mengganti uang yang jelas-jelas bukan dalan jumlah yang kecil.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu berani berbuat curang di perusahaan yang telah memberikan gaji lumayan untukmu, Anita. Bisa-bisanya kamu menyakiti perasaan kakakmu sendiri yang selama ini selalu berbuat baik padamu." Christian bahkan memijat pelipis kala memikirkan kesalahan fatal Anita.


Hingga ia ingin mengakhiri semuanya agar membuatnya tenang dan hubungannya bersama sang istri tidak terkena imbasnya. "Baiklah. Aku sudah mengambil keputusan untuk kesalahan yang kamu perbuat. Sekarang kamu pilih salah satu sebagai hukumanmu."


Semua orang yang ada di ruangan itu memiliki perasaan berbeda kala mendengar keputusan dari pimpinan perusahaan.


Ana yang sudah menyerah dan ikhlas atas hukuman dari sang suami pada adiknya, sedangkan Anita yang sangat ketakutan jika sampai berakhir di penjara dan yang terakhir adalah Vicky yang makin dibuat penasaran atas hukuman apa yang dijatuhkan seorang ipar pada saudara sang istri yang dianggap tidak tahu diri.


'Kira-kira apa hukuman seorang pimpinan perusahaan pada iparnya yang hampir membuat perusahaan bangkrut?' gumam Vicky yang kini masih berdiri di tempatnya dan menatap ke arah Amira yang masih berlutut di lantai. 'Dasar wanita bodoh! Seharusnya dia tahu dampak dari perbuatannya itu menghancurkan kakaknya sendiri.'


Anita yang masih dengan perasaan berkecamuk menunggu hukuman dari iparnya sambil mengumpat di dalam hati karena selama ini ia selalu merasa iri pada kebahagiaan sang kakak karena memiliki seorang suami yang baik dan terbilang sempurna seperti iparnya tersebut.


Sementara nasib percintaannya selalu kandas dan membuatnya sampai sekarang belum menikah. Bahkan ketika iparnya berniat untuk menjodohkan dengan Vicky, malah ditolak pria itu dan membuatnya sangat membenci sang asisten pribadi.

__ADS_1


'Aku meluapkan emosi dengan menggelapkan dana perusahaan dan tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Sial! Kira-kira apa yang akan dilakukannya padaku?' gumam Anita yang masih dengan berdebar-debar menunggu keputusan dari iparnya tersebut.


Karena sudah muak melihat adik iparnya, kini Christian langsung mengungkapkan keputusannya. "Yang pertama adalah aku akan menjebloskanmu ke penjara dan kamu tidak perlu mengganti uangnya."


"Sedangkan pilihan kedua adalah segera angkat kaki dari perusahaan ini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi, tapi dengan catatan kamu harus mengganti uang yang kau gelapkan itu dengan mencicilnya pada kakakmu." Christian ingin mengubah iparnya agar tidak lagi gila belanja barang mewah dan berpikir itu demi kebaikannya.


Ana yang kini merasa yakin jika adiknya akan memilih yang kedua, kini menatap tajam adiknya. "Cepat pilih yang mana!"


Anita yang tanpa pikir panjang memilih poin kedua karena tidak ingin berakhir di penjara. "Aku akan mengganti uang perusahaan dengan mencicilnya setelah mendapatkan pekerjaan."


Kini, Christian beralih menatap ke arah Vicky. "Buatkan surat pernyataan dan suruh dia tanda tangan di atas materai!" Kemudian beralih pada iparnya. "Pergilah!"


"Baik, Presdir." Vicky kini beralih menatap ke arah wanita yang baru saja bangkit berdiri setelah cukup lama berlutut di lantai. "Ikut saya, Nona Anita."


Kemudian berjalan keluar setelah ia berpamitan pada bosnya dan Anita pun mengekor pria yang sangat dibencinya tersebut.


'Aku benar-benar sangat muak melihat asisten sialan yang berlagak ini. Aku doakan dia tidak menikah seumur hidup!' umpat Anita yang saat ini tengah menatap ke arah punggung lebar pria yang berani menolaknya.


Sementara itu di dalam ruangan, kini Ana sekali lagi meminta maaf pada sang suami dan memeluk erat tubuh kekar pria yang besok akan kembali ke luar negeri. "Sayang, terima kasih karena memberikan sebuah kesempatan pada adikku dengan menyuruhnya memilih."


"Iya, Sayang. Semoga Anita berubah menjadi seorang wanita yang baik dan bertanggungjawab sepertimu. Saat aku pergi besok, jangan terlalu memikirkan adikmu. Fokus saja pada hidupmu karena kamu sudah banyak membantunya. Jangan lupa jaga kesehatan agar tidak gampang sakit," ucap Christian yang kini memeluk erat tubuh sang istri agar tidak terlalu bersedih saat ia pergi.


"Berat sekali rasanya harus berpisah lagi dan menjalani hubungan LDR, Sayang." Ana berbicara dengan suara serak karena efek menahan tangis.


Christian yang saat ini berniat untuk menghibur agar sang istri tidak bersedih, kini mengusap lembut lengan Ana. "Lama-lama kamu akan terbiasa, Sayang. Semua ini juga demi masa depan kita. Jadi, jangan berpikir menjalin hubungan LDR bukanlah sebuah akhir. Suatu saat kita akan tersenyum dengan kesuksesan yang kita usahakan."


Ana hanya diam karena ia bingung harus menanggapi bagaimana. Lagi-lagi ia hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan keluh kesah yang selama ini dirasakan.


'Kesuksesan seperti apa lagi, sayang. Kita sebenarnya sudah memiliki segalanya, kecuali keturunan, kamu tidak bisa mengerti apa yang kurasakan saat ini dan memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2