
Mario tadinya membiarkan Laura tenang dan meluapkan perasaan, kini merasa terkejut begitu mendengar ada panggilan telepon dan begitu melihat wanita itu tanpa pikir panjang menggeser tombol hijau, berpikir bahwa pengawal yang menghubungi.
Namun, seketika pikirannya teralihkan begitu melihat Laura hanya diam saja dan mendengarkan. Ia memberikan sebuah kode agar Laura memencet loudspeaker karena ingin mendengarkan pembicaraan itu.
Nasib baik Laura mengikuti perintahnya dan sudah menyalahkan loudspeaker. Hingga ia bisa mendengar suara seorang pria yang tak lain adalah Christian Tengah mengumpat dan berpikir ia lah yang mengangkat telepon.
"Halo, Mario! Apa kau sengaja menghindariku karena dilarang oleh Laura mengangkat telepon dariku? Aku tidak akan pernah mengganggumu jika tidak ada urusan penting. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk berbicara dengan. Apakah saat ini kau sedang bersamanya? Tolong katakan pada Laura bahwa aku ingin berbicara hal penting dengannya!"
Christian yang saat ini sedang mengemudikan kendaraan, tetapi bingung harus ke mana karena tidak tahu keberadaan dari wanita yang ingin diajaknya bertemu dan membicarakan mengenai masalah masa lalu.
Jadi, ia memilih menepikan mobil di tepi jalan sepi dan menghubungi kembali nomor Mario yang sudah beberapa kali ditelepon, tapi tidak diangkat dan membuatnya merasa frustasi. Namun, ia berniat tidak menyerah dan tidak berhenti sebelum panggilannya.
Jadi, begitu diangkat, langsung mengungkapkan keinginannya tanpa bertele-tele untuk menyapa ataupun bersikap manis. Apalagi ia sama sekali tidak menyukai pria bernama Mario itu dan membuatnya sangat muak melihat senyumannya pada Laura ketika berada di ruang meeting tadi.
Ia saat ini memicingkan mata karena masih belum ada tanggapan dari seberang telepon. "Halo! Apa kau mendadak bisu atau takut padaku, Mario Permana?"
Sementara itu di sisi lain, Laura yang tadinya berniat untuk membuka suara melampiaskan amarah pada Christian, tidak jadi melakukannya karena ponsel di tangannya sudah direbut oleh Mario.
Bahkan pria itu memberikan sebuah kode dengan menaruh jari telunjuk pada mulut agar diam dan tidak berbicara menanggapi Christian.
"Biar aku yang berbicara," lirih Mario seperti berbisik pada Laura agar tidak terdengar oleh pria yang sangat tidak disukainya.
__ADS_1
Kemudian ia tidak membuang waktu dan berusaha untuk bersikap tenang dan tidak terpancing amarah atas kemurkaan Christian padanya karena tidak mengangkat telpon, sehingga mengumpatnya.
"Aaah ... maaf, saya saat ini sedang berada di jalan dan mengemudi. Jadi, tadi masih fokus karena ada kendaraan yang mendahului. Oh ya, Anda siapa dan siapa Laura yang dimaksud? Apakah Anda salah sambung? Tapi Bagaimana Anda bisa mengetahui nama lengkapku?" Ia berbicara layaknya seperti orang bodoh sambil melirik sekilas ke arah Laura yang masih diam mendengarkan.
Bahkan ia bisa melihat saat ini Laura Tengah meremas kedua sisi pakaian berwarna merah yang dikenakan hingga kusut.
Bagaimana perasaan terluka yang ditahan oleh Laura bisa dimengerti olehnya, jadi tidak ingin semakin menambahnya dengan berbicara pada sosok pria yang menjadi penyebab utama wanita itu berkali-kali menguras air mata.
"Paling tidak, saat Anda menghubungi orang, harus memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara." Mario yang tengah berbohong, masih menunggu luapan emosi dari Christian dan membuatnya merasa senang bisa memancing amarah pria yang ingin sekali diajaknya berduel satu lawan satu untuk membalaskan dendam Laura.
Dari dulu ia ingin sekali meninju wajah pria itu untuk memberikan pelajaran karena telah menyakiti perasaan seorang wanita yang menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya.
"Wah ... ternyata kau sangat pandai berakting. Aku mempunyai kenalan seorang produser serta sutradara yang bisa membantumu menjadikan aktor terkenal. Aku tahu jika kau saat ini mengenalku dan mengetahui siapa sebenarnya Laura yang tak lain adalah Anastasya." Christian berbicara dengan wajah memerah karena sangat kesal berbicara pada Mario.
"Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu. Perkenalkan, aku adalah Christian Raphael yang merupakan mantan suami Laura yang saat ini menyamar menjadi Anastasya di perusahaan Prameswari. Apa sekarang kau puas dengan penjelasanku?" Ia saat ini merasa seperti orang bodoh karena menjelaskan sesuatu yang bahkan sudah diketahui.
Ia kini ingin kembali mendengar perkataan konyol apalagi dari pria yang seperti berusaha untuk menggoda Laura dengan senyuman yang dianggap dibuat-buat.
"Oh ... Tuan Christian Raphael yang tadi tiba-tiba meninggalkan perusahaan? Maaf karena tidak tahu jika Anda yang menelpon. Saya juga tidak menyimpan nomornya, jadi tidak mengetahui jika itu adalah Anda. Hanya saja, saya masih belum paham dengan siapa yang dimaksud, tapi akan menyampaikan Apa yang anda sampaikan pada nona Anastasya."
Mario yang baru saja menutup mulut, kini membulatkan mata karena Laura malah merebut ponsel miliknya dan membuka suara, sehingga membuatnya kesal karena wanita itu tidak patuh padanya dan memilih untuk menanggapi Christian yang sangat ingin bertemu.
__ADS_1
"Katakan sekarang!" sahut Laura yang dari tadi sudah berusaha untuk menahan diri sekuat tenaga agar tidak meladeni pria yang sangat dibenci.
Namun, pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh putranya dan ingin segera merebut dari wanita yang bukan seharusnya merawatnya. Jadi, ingin tahu apa yang akan disampaikan Christian dan akan ia layani demi bisa mendapatkan kembali putranya.
'Aku tidak akan tinggal diam setelah melihat putraku karena hanya ingin merebutnya,' gumam Laura yang saat ini mendengar suara bariton dari pria yang sangat dibenci.
"Akhirnya kamu bicara juga, Laura? Kamu menyamar sebagai Anastasya dan masuk ke perusahaan Prameswari hanya untuk menyingkirkanku, kan? Demi ambisimu untuk membalas dendam padaku karena menceraikanmu dulu," ujar Christian yang masih berusaha untuk membuka pembicaraan agar Laura tidak menutup panggilan.
Jujur saja ia merasa sangat senang karena akhirnya bisa berbicara dengan sosok wanita yang diketahuinya ingin membalas dendam atas perbuatannya di masa lalu.
Hingga ia seketika merasa kehilangan tenaga kala apa yang dikatakan oleh Vicky benar.
"Kau salah, bangsat! Jadi, jangan sok tahu mengenai aku. Aku ingin putraku kembali. Kau sama sekali tidak berhak merebutnya dariku. Aku yang mengandungnya selama 9 bulan lebih dan berjuang mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya." Wajah Laura kini berubah memerah yang mewakili perasaannya saat ini.
"Lalu, iblis sepertimu langsung membawa bayi yang masih merah itu dan menjauhkan dari ibu kandungnya. Apakah kau pantas disebut manusia, haah!" sarkas Laura yang sebenarnya belum puas mengumpat pria di seberang telpon, tapi deru napas memburu membuatnya tidak bisa melanjutkannya.
Ia masih berusaha untuk menormalkan perasaannya saat ini yang bergejolak seperti bom waktu dan akan meledak untuk menghancurkanku pria di seberang telpon.
Hingga suara lirih tertangkap indra pendengarannya dan membuatnya makin murka pada Christian karena bukan itu yang diinginkannya dari pria itu.
To be continued...
__ADS_1