
"Dia sebenarnya tengah sakit kanker serviks dan Christian meninggalkanmu bukan karena sudah tidak mencintaimu, tapi kasihan pada Ana. Memang saat mengambil keputusan dulu, sama sekali tidak berbicara pada kami orang tuanya, tapi aku sangat yakin jika dia pun selama ini hidup menderita karena meninggalkanmu."
Renita Padmasari yang saat ini ingin membersihkan nama putranya dari kesalahpahaman agar tidak terlihat sangat buruk di mata mantan menantunya, kini mengusap lembut punggung tangan Laura yang seketika berhenti mengunyah makanan di mulutnya.
"Aku yakin jika Ana tidak sakit, putraku pasti sudah lama menceraikannya dan tetap bersamamu, Sayang. Namun, putraku terlalu baik hati dan memilih untuk mengorbankanmu karena berpikir bahwa kamu bisa menjalani hidup lebih baik karena masih cantik dan merupakan wanita normal." Mengembuskan napas kasar yang mewakili perasaan saat ini.
"Itu yang selalu dikatakan oleh putraku saat aku murka dan memarahinya karena menjatuhkan talak padamu setelah melahirkan. Jadi, aku mohon padamu, Sayang, jangan terlalu membencinya karena Christian pun menderita juga." Bahkan ia sampai berkaca-kaca mengingat putranya.
Bahwa iba pada nasib buruk putranya yang lebih memilih untuk terus mempertahankan rumah tangga dengan seorang wanita yang bahkan sama sekali tidak menguntungkan baginya, dibandingkan hidup berbahagia dengan segala kesempurnaan dengan Laura.
Sementara itu di sisi lain, Laura yang saat ini masih terdiam di tempatnya karena tidak pernah berpikir sampai ke sana, bingung harus berkomentar apa. Akhirnya ia mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas tentang mantan suami yang sangat dibenci.
__ADS_1
"Makanan ini benar-benar sangat lezat, Ma. Terima kasih karena sudah mau repot menyiapkan makanan untukku. Saat ini, aku hanya ingin fokus pada putraku dan pekerjaan tanpa memikirkan lainnya." Hingga ia pun kini bisa melihat raut wajah penuh kekecewaan yang tengah disembunyikan oleh mantan mertuanya tersebut.
Renita Padmasari yang awalnya berpikir jika Laura akan mengerti posisi sulit putranya dan langsung memaafkannya, sebenarnya merasa tidak puas dengan pengalihan pembicaraan.
Namun, ia tidak ingin memaksakan kehendak dan berusaha untuk mengerti tentang luka di hati Laura tidak mudah dihilangkan begitu saja. Ia kini bangkit berdiri dari posisinya dan tersenyum simpul serta mengusap pundak Laura.
"Mama mengerti, Sayang. Kamu lakukan apapun yang menurutmu benar. Oh ya, Mama baru ingat jika tadi melihat buah anggur cukup banyak di kulkas. Biar sekalian Mama hidangkan untuk pencuci mulut." Saat ia berjalan menuju ke arah lemari pendingin, sama sekali tidak memperdulikan larangan Laura.
'Apa benar semua yang dikatakan mama? Ataukah mama hanya tengah membela putranya agar aku mau memaafkan Christian?' gumam Laura yang kini menatap ke arah mantan mertuanya sudah mengambil buah anggur kesukaannya dan mencuci sebelum dihidangkan di atas meja.
Bahkan bisa melihat wanita dengan siluet sedikit berisi itu berbicara di depan wastafel.
__ADS_1
"Mama dulu tidak bisa menemanimu saat hamil karena berada di New York. Jadi, sekarang ingin menebusnya. Kamu tidak boleh protes." Saat baru saja menutup mulut, ia mendengar suara dering ponsel miliknya yang berdering dan langsung membersihkan tangannya dari air.
"Siapa yang menelpon?" Kemudian menatap ke arah Laura begitu melihat kontak di ponselnya.
Laura yang kini bertatapan dengan mantan mertuanya, kini seolah mengerti. "Apa Christian yang menelpon Mama?"
"Bukan. Ini Ana, pasti dia ingin melihat Valerio," ucap Renita Padmasari yang berjalan mendekati Laura dan menunjukkan ponselnya.
"Angkat saja, Ma. Biar dia tidak curiga karena aku tidak ingin jadi seorang pembunuh karena dendam padanya dengan mengatakan jika saat ini Valerio bersamaku." Kemudian kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
To be continued...
__ADS_1