365 Days With You

365 Days With You
Menghabisi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke Rumah Sakit, Christian tidak berhenti merapal doa demi keselamatan wanita yang saat ini bersimbah darah dan masih menutup rapat matanya.


Hingga beberapa menit kemudian, mobil ambulans yang membawa korban kecelakaan tersebut sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan operasi.


Sementara itu, Christian masih tetap setia berada di samping wanita yang berada di atas brankar tersebut. Ia bahkan kali ini benar-benar sangat takut jika sampai wanita yang saat ini tidak sadarkan diri tersebut tidak tertolong.


Begitu melihat seorang pria berseragam yang sudah diduga itu adalah dokter yang akan melakukan operasi, refleks langsung mengungkapkan apa yang dirasakan.


"Dokter, tolong selamatkan pasien ini. Lakukan apapun yang bisa membuatnya selamat dari maut!" Wajah Christian yang sangat mengenaskan karena dipenuhi oleh air mata dan juga aura kekhawatiran terlihat jelas saat ini.


Sementara itu, sang dokter menganggukkan kepala karena tidak mungkin ia langsung berjanji karena belum mengetahui keadaan dari pasien yang akan dioperasi.


"Kami pasti akan berusaha sebaik mungkin, Tuan. Lebih baik Anda berdoa agar semuanya berjalan lancar dan pasien bisa diselamatkan." Kemudian berlalu pergi meninggalkan pria dengan wajah mengenaskan itu.


Christian yang tadi langsung menganggukkan kepala dan masih berdiri di depan ruangan operasi dengan wajah kacau dan degup jantung tidak beraturan karena dipenuhi rasa kekhawatiran luar biasa.


"Laura, kamu harus sembuh, Sayang. Kamu tidak boleh pergi karena aku akan sangat kehilanganmu. Bukankah kamu berjanji padaku? Jadi, kamu harus menepati janjimu padaku." Christian saat ini tidak memperdulikan penampilannya yang sangat kacau.


Satu-satunya yang membuatnya merasa lega adalah Laura masih bernapas. Paling tidak, saat ini masih mempunyai harapan bahwa wanita yang sangat ingin ia lindungi tersebut masih hidup.


Hingga ia mendengar suara bariton dari pria yang merupakan sopir taksi membawa dua koper miliknya.


"Tuan! Ini barang-barang Anda," ucap sang supir yang tadi bertanya pada perawat di mana keberadaan pasien korban kecelakaan dan begitu mengetahui bahwa langsung dibawa ke ruangan operasi, ia pun datang ke sana.


Bahkan tadi ia sudah bertanya mengenai temannya yang ternyata tidak tertolong begitu tiba di rumah sakit dan langsung di bawa ke ruangan jenazah. Ia sudah mengabari pihak keluarga agar segera datang ke rumah sakit.


Jadi, ia berencana untuk membantu pihak keluarga dari sesama supir sebagai bentuk duka cita. "Saya harus pergi sekarang, Tuan!"

__ADS_1


Christian saat ini menatap ke arah sang supir dan mengetahui bahwa teman pria itu sudah tidak bisa tertolong. Ia pun mengucapkan terima kasih dan mengambil uang dari dalam dompet miliknya.


Karena ia belum sempat menukarkan atau mengambil uang dari ATM, kini menyerahkan uang Dollar yang berada di dompetnya pada pria di hadapannya tersebut yang mempunyai jasa besar padanya karena bisa membuatnya bertemu kembali dengan Laura yang kecelakaan.


"Aku tidak punya uang rupiah, jadi tukarkan ini saja. Ini setara dengan uang tiga juta. Sekali lagi terima kasih karena telah membuatku bisa bertemu lagi dengan kekasihku. Tapi aku turut berdukacita atas apa yang terjadi pada temanmu. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya."


Sang supir yang saat ini tengah menatap ke arah uang yang diberikan oleh pria tersebut, kini tidak berniat untuk menerima uang sebanyak itu dari pria yang ada di hadapannya.


"Subhanallah, ini terlalu banyak, Tuan. Anda tidak perlu memberikan uang sebanyak ini."


Christian kini menggelengkan kepala karena ia sama sekali tidak keberatan dan menganggap itu sebagai bentuk ucapan berduka cita pada supir yang telah meninggal itu.


"Tolong diterima dan sebagian berikan pada keluarga almarhum. Ini saya anggap sedekah dan berharap bisa menambah amal baik saya. Semoga kekasih saya yang berada di dalam ruangan operasi sana selamat dari maut."


Merasa bahwa semua niat dari pria di hadapannya tersebut tidak boleh ditolak karena sudah mengatakan bersedekah, sehingga membuatnya menerimanya.


Bahkan ia tidak menyangka jika itu ditukar ke rupiah bisa menjadi tiga juta. Bahwa satuan seratus Dollar sebanyak dua lembar itu akan menjadi 30 lembar uang seratusan ribu rupiah.


Apalagi ini adalah kali pertama ia mendapatkan pembayaran dalam mata uang asing. Kini, ia membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.


"Semoga kekasih Anda selamat dari maut setelah dioperasi, Tuan," ucap sang supir yang pamit undur diri meninggalkan pria tersebut.


Namun, saat ia berjalan menuju ke arah lorong sepi di rumah sakit, melihat beberapa polisi yang tadi sempat bertanya padanya mengenai perihal keluarga temannya.


Ia hanya mengangguk perlahan untuk menyapa dan terus melangkahkan kakinya menuju ke jalan keluar. Bisa ditebak jika para polisi itu akan menanyakan perihal korban yang menjadi kecelakaan dari ulah supir truk yang mengantuk serta rem blong.


Bahkan ia tahu jika supir itu sudah diamankan para polisi tadi agar tidak mendapatkan kemurkaan dari orang-orang yang mungkin akan main hakim sendiri.

__ADS_1


Sementara itu, Christian yang tadinya hendak duduk di kursi tunggu, tidak jadi melakukannya saat melihat dua polisi datang mendekat.


"Selamat pagi, Tuan. Saya ingin mencari informasi mengenai korban kecelakaan yang Anda kenal. Apakah Anda sudah mengabari pihak keluarga?" tanya salah satu polisi yang saat ini mewakili rekannya.


Karena tidak ingin berbohong dengan apa yang diketahuinya, kini Christian menceritakan semua hal yang berhubungan dengan Laura mengenai pertemuannya di klab malam serta hubungan mereka yang lebih dekat.


Beberapa saat kemudian, ia mengakhiri ceritanya dan langsung meminta pendapat mengenai apa yang harus dilakukannya. "Jadi, seperti itu ceritanya, Pak."


Bahkan Christian tadi mengetahui bahwa Laura tidak mengabari keluarganya karena ingin memberikan sebuah kejutan, tapi tidak menyebutkan siapa keluarganya.


Namun, ia berjanji akan tetap di sisi Laura sampai menemukan pihak keluarga wanita itu. Kini, ia melihat polisi sudah mencatat semua penjelasannya.


"Sebenarnya yang paling aneh adalah, kenapa korban sama sekali tidak membawa identitas diri saat pulang dari luar negeri?" Salah satu polisi yang lain berkomentar karena merasa ada sesuatu yang mencurigakan.


Christian mengerutkan kening karena jelas-jelas ia tadi melihat Laura membawa tas berwarna hitam. Bahkan ia sempat merutuki kebodohannya karena tadi tidak mengecek tas milik Laura untuk mencari tahu identitas diri wanita itu.


"Padahal tadi Laura membawa tas dan pastinya berisi semua data diri berupa paspor dan lain-lain. Lalu, di mana tas milik Laura? Apa ada yang mencurinya?" Christian ingin meminta pendapat dari para polisi karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini.


Ia khawatir jika kecelakaan ini disengaja dan dilakukan oleh orang-orang yang ingin menyingkirkan Laura. 'Apa ada yang ingin berbuat jahat pada Laura?'


Christian yang saat ini tengah memikirkan berbagai kemungkinan buruk, kini kembali bertanya pada polisi.


"Bagaimana dengan supir truk yang menjadi penyebab utama kecelakaan? Apa sudah mendapatkan keterangan darinya?"


Christian ingin bertemu dengan supir itu dan memberikan pelajaran karena telah menyebabkan Laura berada di ruang operasi dan sang supir telah meninggal. Jika bisa ia akan menghabisi pria itu jika sampai Laura tidak selamat.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2