365 Days With You

365 Days With You
Hanya menjadi penonton


__ADS_3

Vicky saat ini baru saja tiba di apartemen atasannya dan langsung menuju ke arah lift. Tadi ia diberitahu agar ke atas untuk membantu membawa dua koper milik bosnya tersebut. Satu koper berisi beberapa oleh-oleh untuk Ana Maria yang dulu belum sempat diberikan saat pulang dari New York.


Ia saat ini menatap angka digital saat ada di dalam lift. "Syukurlah tuan Christian kembali saat nona Ana sedang tidak enak badan. Jadi, tuan bisa memberikan perhatian pada istrinya yang sudah lama ditinggalkan."


Saat ini, pintu kotak besi tersebut terbuka dan Vicky langsung berjalan menuju ke arah unit apartemen bosnya. Saat hendak memencet bel pintu, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara dering ponsel miliknya.


Ia seketika meraih benda pipih di balik saku jasnya dan mengerutkan kening begitu melihat yang menelpon adalah Ana Maria. "Apa ada sesuatu yang terjadi pada nona Ana?"


Karena merasa khawatir pada bos perempuan tersebut, Vicky langsung menggulir tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telepon yang terdengar serak.


"Halo, Vicky. Nanti saat kamu kembali ke kantor, belikan aku Paracetamol di apotik. Sekalian roti untuk pengganjal perut. Aku males makan nasi dan hanya akan makan roti sebelum minum obat. Entah mengapa kepalaku semakin bertambah pusing dan demam," ucap Ana sambil memijat pelipis yang terasa berat.


Ana Maria bahkan saat ini sudah beristirahat di ruang yang ada di sudut kiri tempat khusus dengan ranjang kecil yang cukup untuk ia merebahkan tubuh.


Vicky yang saat ini makin merasa khawatir pada keadaan Ana Maria, langsung membuka suara. "Iya, Nona Ana. Saya akan membeli obat di apotik dan mungkin setengah jam lagi tiba di perusahaan. Lebih baik Anda beristirahat dan jangan memikirkan pekerjaan dulu."


Ana Maria saat ini berbicara sambil memejamkan mata karena kepalanya terasa berat. "Iya. Aku bahkan tidak bisa membuka mata karena mata terasa pedas serta kepala rasanya berat sekali. Makanya saat ini aku sedang beristirahat dan tidak mengerjakan apapun."


Saat Vicky hendak membuka suara untuk menanggapi, di hadapannya terbuka dan seketika mengarahkan jari telunjuk untuk membuat bosnya yang baru saja keluar tersebut tidak membuka suara.


Ia memberikan kode bahwa yang berbicara di telpon adalah Ana Maria agar bosnya tersebut tidak mengacaukan untuk memberikan sebuah kejutan saat pulang.


Sementara itu, Christian saat ini ingin mengetahui apa saja yang dibicarakan oleh sang istri dengan asisten pribadinya tersebut. Ia merebut ponsel di tangan Vicky dan memencet loudspeaker dan berbisik untuk Vicky berbicara.

__ADS_1


"Iya, Nona Ana. Seharusnya tadi Anda pulang saja seperti yang saya katakan. Jadi, bisa beristirahat dengan nyaman di rumah," sahut Vicky yang saat ini menatap ke arah bosnya tersebut.


Hingga suara serak dari seberang telepon membuatnya bersikap dengan atasannya tersebut. Seolah mereka benar-benar mengkhawatirkan keadaan Ana Maria yang sedang sakit.


"Aku bosan berada di rumah karena akan selalu mengingat suamiku yang belum pulang. Aku lebih betah berada di kantor karena sibuk bekerja hingga bisa menghilangkan rasa rinduku padanya untuk sementara waktu." Ana yang merasa seperti seorang wanita galau tengah curhat, merasa malu dan akhirnya mengakhiri perkataannya.


"Baiklah. Nanti setelah kamu kembali, langsung masuk saja ke ruanganku dan ketuk pintu ruangan pribadiku agar aku mendengarnya."


"Baik, Nona Ana. Setelah saya tiba di perusahaan, langsung menemui Anda untuk memberikan obatnya." Vicky gini mendengar jika panggilan telepon sudah terputus dan atasannya mengembalikan benda pipih tersebut.


Christian merasa bersalah pada Ana karena terlalu membuat wanita itu bekerja keras saat ia tidak ada. "Istriku ternyata benar-benar sakit, tapi tidak mau pulang karena merindukanku. Aku tidak tega saat mendengar ia berbicara seperti itu, tapi yang terjadi adalah aku hanya bisa pulang selama satu minggu saja."


"Apalagi sudah berjanji pada Laura yang tadi menangis tersedu-sedu ketika aku berangkat. Jika aku mengetahui bahwa Ana sedang sakit, pasti akan mengatakan pada Laura lebih dari seminggu." Christian terdiam sejenak karena merasa bingung harus bagaimana.


Vicky saat ini membenarkan perkataan dari bosnya tersebut karena berpikir bahwa Ana Maria sakit karena merindukan sang suami yang sudah lama pergi.


"Saya sangat yakin jika nona Ana akan segera sembuh jika ada Anda di sampingnya. Jadi, Anda bisa pulang tepat waktu." Vicky tahu bahwa bosnya tersebut pasti akan lebih memilih istri baru daripada istri pertama.


Apalagi masih masa-masa pengantin baru dan dipastikan jika para pasangan tidak akan melewatkan honeymoon. Kini, ia memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jas dan mengangkat dua koper milik bosnya tersebut.


"Kita harus segera kembali ke perusahaan agar Anda bisa segera bertemu dengan nona Ana. Pasti nona Ana akan merasa sangat bahagia melihat Anda sudah pulang. Bahkan mungkin menjadi obat penyembuh bagi nona Ana." Vicky berjalan di sebelah bosnya yang tersenyum bahagia layaknya pengantin baru.


Christian yang saat ini berjalan menuju ke arah lift dan membiarkan asisten pribadinya membawa dua koper miliknya karena sangat lelah ketika tenaganya setiap hari diforsir.

__ADS_1


"Kau benar. Aku sangat yakin jika istriku akan segera sembuh hanya dengan melihat kedatanganku. Ia pasti sakit karena rindu padaku. Meskipun ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, kerinduan adalah menjadi alasan utama."


Christian tahu bahwa dua koper miliknya terasa berat dan tidak berniat untuk membantu Vicky. "Aku benar-benar sangat lelah dan ingin ada yang memijat tubuhku, tapi tidak mungkin menyuruh istriku yang sedang sakit."


Ia saat ini tengah memikirkan untuk merilekskan otot-ototnya yang kaku karena setiap hari bercinta dengan Laura. Hingga ia berpikir untuk pergi ke tempat spa, tapi khawatir jika Ana akan marah.


Kemudian menoleh ke arah asistennya tersebut untuk menanyakan sesuatu yang ada di pikirannya. "Apa kamu punya keahlian untuk memijat?"


Vicky yang mengerjakan kedua mata karena merasa bingung tiba-tiba mendapatkan pertanyaan yang dianggap sangat konyol. Ia memang bisa memijat siapapun asalkan mau, ingin melakukannya untuk pria yang sangat dihormatinya tersebut.


Refleks langsung menggelengkan kepala. "Saya tidak pernah memijat siapapun, Tuan. Jika saya capek, akan pergi ke tempat pijat tunanetra. Jadi, laki-laki akan dipijat dengan laki-laki begitu pun sebaliknya."


Kemudian melanjutkan umpatan di dalam hati pada bosnya tersebut. 'Enak saja bos mau merepotkanku dengan menyuruhku memijatnya karena kelelahan bercinta dengan istri baru.'


'Bos yang enak dan aku kebagian capeknya,' keluh Vicky yang saat ini berharap bosnya tersebut mau melaksanakan apa yang dikatakan barusan agar tidak merepotkannya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mencobanya saat santai nanti, tapi akan bertanya terlebih dahulu pada Ana apakah mengizinkanku untuk dipijat tunanetra." Christian kemudian berjalan menuju ke arah lobi apartemen setelah lift terbuka.


Sementara di sisi lain, Vicky kembali sibuk meluapkan apa yang ada di pikirannya, meski hanya melalui umpatan di dalam hati. "Memangnya bos minta izin pada nona Ana untuk menikah lagi?'


'Sekarang malah berbicara konyol apa-apa harus meminta izin pada nona Ana yang sudah ditipu mentah-mentah.' Vicky yang hanya menjadi penonton, ingin melihat bagaimana akhir dari nasib pria yang memiliki dua istri tersebut.


'Apakah tuan Christian akan memilih salah satu di antara istrinya ataukah kehilangan keduanya dan hidup menderita tanpa cinta.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2