365 Days With You

365 Days With You
Memasuki tahap dewasa


__ADS_3

"Bohong! Aku sangat yakin jika kamu hanya membual, kan? Aku baru percaya setelah melihatnya sendiri dengan mata kepalaku untuk menilai mana di antara kami yang paling cantik!" sarkas Laura yang tengah mengerucutkan bibir dan menampilkan wajah masam.


Bahkan sambil mengeluarkan tangan agar pria di sebelahnya tersebut segera memberikan ponsel miliknya. "Cepat berikan padaku ponselmu!"


Sementara itu, Christian yang merasa serba salah karena bingung harus melakukan apa. Namun, ia ingin menyadarkan Laura karena tadi menyuruhnya untuk berbohong.


"Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk membual demi bisa menghiburmu agar tidak bersedih? Sekarang aku melakukan apa yang kamu inginkan, tapi tetap saja salah dan tidak benar di matamu."


Karena tidak punya pilihan dan tidak ingin membuat Laura terus-terusan marah padanya saat tidak dituruti, akhirnya dengan terpaksa ia mengambil ponsel miliknya yang sudah dalam mode pesawat dari saku celana.


Ia bahkan saat ini merasa seperti tengah berbicara dengan seorang anak kecil yang merajuk saat tidak dituruti permintaan dan membuatnya harus memperluas kesabarannya.


Meskipun merasa sangat malu karena diejek oleh Christian, tetap saja tidak membuat Laura mengurungkan niat untuk merebut ponsel dari tangan dengan buku-buku kuat tersebut.


Ia seketika membuka ponsel Christian yang tidak dikunci dengan sandi seperti miliknya karena selama ini ia menganggap bahwa benda pipih tersebut adalah sebuah privasi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.


Namun, ia merasa sangat senang sekaligus bangga karena dengan mudahnya Christian memberikan benda privasi tersebut padanya dan memastikan tidak ada rahasia apapun di antara mereka.


Tentu saja ia langsung membuka galeri dan membuka gambar yang dipikirnya penuh dengan foto dari istri Christian. Namun, ia harus banyak segera ke bawah karena pada bagian atas dipenuhi gambar kota New York dan foto-foto Christian yang terlihat sangat tampan.


"Wah ... ternyata kamu juga suka mengambil gambar seperti seorang wanita," ucap Laura yang terkekeh ketika melirik sekilas ke arah Christian yang hanya diam saja saat diejeknya.


Ia bahkan saat ini memanjakan mata melihat foto-foto pria tampan yang memesona itu.


Berbeda dengan Christian yang hanya diam saja karena tidak ingin membantah tuduhan dari Laura. Ia membiarkan Laura berpikir sesuka hati atas dirinya.


'Padahal sebenarnya aku tidak suka mengambil gambar, tapi semua itu adalah keinginan Ana yang sering meminta fotoku saat berada di New York untuk dipamerkan pada beberapa teman temannya,' gumam Christian yang saat ini tidak berkedip menatap ke arah wanita dengan pandangan fokus pada ponsel miliknya.


Tanpa ia sadari, senyumnya mengembang ketika melihat wanita yang masih terlihat serius menundukkan kepala sambil scrol galeri miliknya.


'Laura, kamu memiliki pesona tersendiri yang membuatku tidak bisa lepas darimu. Sementara Ana, ia memang wanita yang membuatku merasakan cinta pertama dan sekarang tidak tega meninggalkannya.'


Saat Christian memanjakan mata untuk melihat sosok wanita yang membuat perasaannya galau, berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Laura ketika melihat beberapa foto-foto kebersamaan pria yang dicintainya dengan istri.


Posisi intim seperti memeluk, merangkul, mencium terlihat semua olehnya dan ia tidak jadi fokus pada wajah wanita yang menjadi saingan terberatnya karena sekarang berubah menjadi cemburu saat melihat kebersamaan pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


"Sial!" umpat Laura yang seketika melemparkan ponsel milik Christian ke bawah untuk meluapkan rasa cemburu yang menyeruak di dalam hatinya.


Christian yang merasa terkejut atas perbuatan tiba-tiba Laura yang membanting ponselnya, seketika membungkuk untuk mengambil benda pipih yang masih bernasib baik karena hanya retak bagian lcd.


Namun, ia bisa mengerti apa yang menjadi alasan Laura tiba-tiba membanting ponselnya. "Inilah alasanku tadi melarang untuk tidak melihat ponselku."


"Kenapa kamu bandel sekali, Laura! Aku berusaha untuk menjaga perasaanmu agar tidak terluka, tapi kamu malah sengaja ingin merasakannya. Sekarang kamu berniat untuk menyalahkanku?" tanya Christian yang saat ini langsung memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.


Ia membiarkan ponselnya mati dan tidak berniat untuk mengaktifkannya karena ingin fokus menenangkan perasaan wanita yang tengah cemburu sekaligus terluka melihat foto-fotonya dengan sang istri.


"Maafkan aku, Laura. Aku tidak seharusnya marah padamu. Aku seharusnya menghiburmu agar tidak terus-terusan cemburu padaku." Christian berniat untuk meraih telapak tangan wanita yang masih tidak bersuara, tetapi menunjukkan wajah masam padanya.


Namun, penolakan Laura membuatnya tidak berkutik dan bingung harus melakukan apa karena wanita itu seolah tidak ingin disentuh olehnya. Akhirnya ia hanya diam dan membiarkan Laura tenang terlebih dahulu sebelum kembali berusaha untuk menenangkan perasaan wanita yang tengah dikuasai oleh api cemburu.


Laura benar-benar sangat cemburu dan tidak menyangkal apa yang dirasakan saat melihat keintiman Christian yang bahkan sah melakukan apapun pada istrinya. Ia akui bahwa istri pria yang membuatnya merasakan cinta pertama tersebut memang sangat cantik dan anggun.


Kalau boleh jujur, ia bahkan insecure dan tidak percaya diri jika dibandingkan dengan wanita yang sangat beruntung menjadi istri Christian yang sangat dicintai.


Namun, ia menyadari kesalahannya karena jatuh cinta pada seorang pria yang sudah mempunyai istri. 'Ini gara-gara aku minuman beralkohol sialan yang membuatku gila karena menghampiri Christian.'


'Aku tidak mungkin menghampiri Christian saat sadar karena pastinya akan malu dan hanya bisa melihatnya dari jauh untuk mengagumi wajahnya yang tampan serta tubuh proporsional yang menjadi idaman para wanita.'


Padahal jelas-jelas ia sendiri yang meminta Christian menunjukkan ponsel agar bisa melihat seperti apa istri pria yang dicintainya tersebut. Ia saat ini beralih menatap ke arah pria yang masih menampilkan wajah penuh rasa bersalah.


"Kenapa kau terus ada membuatku semakin jatuh cinta padamu dengan perbuatanmu yang seperti ini? Aku mohon hentikan tebar pesona padaku jika tidak bisa bertanggung jawab!" sarkas Laura yang saat ini mengeluarkan ponsel miliknya dan langsung membuka kamera.


Tanpa meminta izin atau menunggu persetujuan dari Christian, Laura seketika mengarahkan kecupan pada baby dengan rahang tegas itu dan beberapa kali memencet kamera.


Bahkan tidak hanya itu karena Laura yang tidak ingin kalah saing dengan istri sah dari Christian, kini makin mendekatkan diri agar terlihat sangat intim dan memeluk untuk mendekatkan posisi mereka.


Kemudian mengarahkan kamera dan beberapa kali jepret dalam berbagai posisi. Bahkan Laura tidak puas jika hanya mengambil sedikit gambar dengan Christian.


Ia sudah melakukan berkali-kali karena ingin memenuhi galeri ponsel yang selama ini dipenuhi dengan foto-foto pemandangan di New York, berubah dipenuhi foto-foto kebersamaannya dengan pria yang sangat dicintainya.


Meskipun ia tahu tidak akan pernah bisa memiliki Christian yang tidak bisa meninggalkan istrinya hanya demi dirinya, tapi berpikir ingin menyimpan semua kenangan mengenai pria yang pernah membuatnya merasa bahagia walau hanya sekejap saja.

__ADS_1


"Ini aku anggap sebagai permohonan maafmu," ucap Laura yang saat ini mulai memeriksa hasil jepretannya dan beberapa kali tersenyum menatap kebersamaannya dengan pria yang seperti berusaha untuk membahagiakannya.


Ya, ia sangat bahagia dan menghargai usaha Christian yang selalu tersenyum ketika ia mengambil foto kebersamaan mereka.


Bahkan sama sekali tidak perduli jika ada orang yang menghujatnya adalah seorang pelakor karena berani mencintai pria beristri. "Aku dulu sangat membenci pelakor yang serakah karena mengincar suami orang."


"Tapi sama sekali tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini karena menjadi seorang pelakor," lirih Laura yang sama sekali tidak menyesali perbuatannya ketika mencintai Christian meskipun sudah tahu bahwa pria itu mempunyai seorang istri yang sangat dicintai.


Hingga ia seketika mengalihkan pandangan dari ponsel miliknya begitu melihat respon dari Christian yang seperti tengah menghiburnya agar tidak menyalahkan diri sendiri.


"Kamu bukan pelakor, Laura karena kamu hanya wanita polos yang mengikuti kata hati saat pertama kali jatuh cinta pada pria yang salah. Cinta tidak pernah salah, tapi terkadang orang tidak mau mengakui bahwa tempatnya lah yang salah."


Christian yang saat ini merasa perasaan Laura sudah jauh lebih tenang dan tidak lagi dipenuhi oleh api cemburu, kini kembali menggenggam arah telapak tangan dengan jemari lentik yang diarahkan pada bibirnya dan melabuhkan sebuah kecupan di sana.


"Jangan pernah menyesali kata hatimu yang memilihku untuk menjadi cinta pertamamu. Aku pun juga tidak pernah menyesal karena tergoda pada wanita polos sepertimu. Apakah kamu bisa menceritakan mengenai tujuan datang ke Jakarta?"


Christian ingin tahu apakah Laura akan berada di Jakarta selamanya atau sementara. Baru ia memutuskan apa yang harus dilakukannya pada wanita muda yang diibaratkan bunga baru mekar dan masih banyak menyimpan sari madu yang membuat para kumbang mendekati.


Di sisi lain, Laura yang seketika menaikkan pandangan dari ponsel ke wajah Rafael, kini tengah menimbang-nimbang keputusannya. Apakah ia akan mengatakan semuanya mengenai jati dirinya yang merupakan putri dari keluarga Prameswari atau merahasiakannya.


'Apa yang sebaiknya aku katakan pada Christian? Apa aku jujur atau berbohong padanya?' gumam Laura yang saat ini berpikir jika ia harus fokus pada tujuannya terlebih dahulu sebelum mengutamakan cintanya.


Apalagi sudah berjuang selama bertahun-tahun untuk meraih mimpinya yang dituntut menjadi wanita dengan gelar terbaik dalam bisnis agar bisa melanjutkan perjuangan sang ayah.


'Tidak! Aku akan mengatakan pada Christian setelah berhasil menjadi pemimpin perusahaan Prameswari Grup dan mewarisi seluruh harta kekayaan keluargaku,' gumam Laura yang kini memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Berapa nomor ponselmu, Christian? Aku akan menghubungimu nanti setelah menyelesaikan masalahku di Jakarta," ucap Laura yang seketika meringis menahan rasa nyeri pada kening.


Karena menganggap panggilan Laura yang polos dan mempunyai usia lebih muda darinya cukup jauh, membuat Christian menyentil kening wanita muda itu agar tidak sesuka hati memanggilnya.


"Jangan memanggil nama saja seperti itu karena aku jauh lebih tua darimu, Laura?"


"Astaga!" Laura masih beberapa kali mengusap keningnya. "Lalu aku harus memanggil apa? Brother? Abang? Atau seperti di Drakor, oppa?"


Christian merasa bingung menentukan panggilan yang pantas untuknya dan kini hanya mengendikkan bahu. "Terserah kamu, tapi jangan memanggil nama saja karena di mataku, kamu hanyalah bocil yang baru memasuki tahap dewasa."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan memanggilmu Honey saja," sahut Laura yang kini tersenyum smirk karena merasa puas dengan jawaban Christian yang menyerahkan keputusan padanya.


To be continued...


__ADS_2