365 Days With You

365 Days With You
Tidak akan berbicara


__ADS_3

Andika saat ini langsung mematikan sambungan telepon karena ingin menghubungi asisten pribadi sang ayah. Ia ingin menyuruh untuk memeriksa ruangan sang ayah karena khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk.


Bahkan ia sampai meninju beberapa kali pahanya untuk meluapkan amarah serta kekhawatiran karena perbuatannya malah membuat sang ayah tidak menjawab perkataannya.


Hal yang saat ini dipikirkan adalah sang ayah kini pingsan karena mengalami serangan jantung karena perkataannya yang membahas mengenai kantor polisi.


'Harusnya aku tidak mengatakan apapun pada papa. Jika sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri,' gumam Andika yang saat ini masih menunggu panggilan darinya diangkat oleh asisten pribadi ayahnya.


"Cepat angkat!" teriaknya tanpa memperdulikan apapun karena satu-satunya yang dipikirkan adalah sang ayah.


"Diam atau kusumpal mulutmu dengan kaos kaki!" sarkas polisi yang saat ini berada di kursi depan karena merasa bising mendengar teriakan pria tersebut.


"Bagaimana aku bisa diam jika papaku mungkin saat ini mengalami hal-hal buruk? Saat ini tidak menjawab setelah ku panggil berkali-kali. Jika sampai terjadi sesuatu pada papaku, apa kau mau bertanggung jawab, haah!" Andika yang sama sekali tidak merasa takut pada polisi, masih terus menunggu jawaban dari asisten pribadi sang ayah.


"Jika itu terjadi, bukankah semuanya salahmu karena membuat ulah serta melakukan kejahatan dengan melakukan percobaan pembunuhan pada nona Anastasya?" Kini, pria yang saat ini mengemudi, menyahut sambil melihat sekilas ke arah spion.


Ia ingin menyadarkan pria yang dianggap sangat arogan dan sok berkuasa tersebut agar tidak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukan.


Saat Andika berniat untuk membuka mulut menanggapi perkataan kasar dari polisi yang menyindirnya habis-habisan, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara dari asisten pribadi sang ayah dan seketika membuat perasaannya sedikit lega.


"Halo, Tuan Andika. Maaf karena saya baru saja keluar dari toilet, jadi tidak mengangkat telepon dari Anda," ucap sang asisten yang kini mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerja dan seketika membulatkan mata serta bangkit kembali berdiri untuk melaksanakan perintah demi memastikan apa yang terjadi.


"Cepat ke ruangan papaku karena tadi aku menelponnya dan tiba-tiba tidak bersuara. Aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. Cepat cek sekarang!" Andika bahkan saat ini beberapa kali mengepalkan tangan serta membukanya hingga berkali-kali untuk menenangkan perasaan yang tidak karuan karena dipenuhi oleh kekhawatiran.


"Baik, Tuan. Saya ke sana sekarang," ucap sang asisten yang kini buru-buru membuka pintu dan berjalan ke arah ruangan di sebelah kanan.


Di mana ruangan presiden direktur berada dan ia awalnya mengetuk pintu, lalu langsung membukanya. Seketika ia membulatkan mata dan berteriak sambil masih memegangi ponsel di dekat daun telinga.


"Presdir! Apa yang terjadi?" Ia kini menghambur dan memeriksa apakah atasannya tersebut masih berdenyut nadinya atau tidak.


Bahkan dengan tangan gemetar yang saat ini mewakili perasaannya karena khawatir jika atasannya tersebut tidak bernapas lagi. "Tuan, Presdir saat ini jatuh tergolek di atas lantai dan tidak sadarkan diri. Saya sedang memeriksa apakah masih bernapas."


"Ternyata benar apa yang ku khawatirkan dari tadi. Aku akan langsung menghubungi ambulans untuk segera datang ke kantor." Andika tidak ingin mendengar perkataan selanjutnya dari sang asisten karena ia sangat takut.


Ia tidak ingin mendengar pria itu mengatakan jika sang ayah sudah tidak bernapas dan penyebabnya adalah dirinya. Dengan tangan gemetar dan suara serak karena khawatir jika sang ayah kehilangan nyawa karenanya, kini langsung menghubungi ambulans agar segera datang ke perusahaan.


Bahkan ia tidak lagi menelpon sang asisten untuk bertanya apakah sang ayah masih bernapas atau tidak. Saat ini hanya mengirimkan pesan untuk bertanya.


Papa masih bernapas, kan?


Setelah memencet tombol kirim, ia masih tidak mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Papa harus baik-baik saja. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri jika sampai terjadi sesuatu."


Ia saat ini menutupi kebodohannya karena melakukan perbuatan ceroboh. Kini, ia mengingat sosok wanita yang membuatnya melakukan semua ini.


'Cleopatra dan Laura yang merupakan suhu sepupu sialan itu. Lihat saja nanti, aku akan menghabisi kalian. Bahkan Cleopatra, aku pun tidak akan melepaskanmu,' sarkas Andika yang saat ini mengepalkan tangan kanan dan melihat notifikasi masuk.

__ADS_1


Dengan perasaan berkecamuk karena takut sekaligus khawatir, kini ia beneran saliva dengan kasar begitu membuka pesan dari sang asisten pribadi ayahnya.


Presdir masih bernapas dan saya sudah meminta bantuan beberapa pegawai untuk membantu melakukan tindakan pertama karena saya tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini sebelum ambulans datang.


Dengan sedikit bernapas lega, ia pun saat ini mengempaskan tubuhnya dan bersandar di jok mobil polisi. Bahkan ia memejamkan mata dan merapal doa sebisanya untuk sang ayah agar tetap hidup.


'Pa, jangan pergi karena harus membalas dendam pada Laura yang akan merebut semuanya dari kita. Aku tidak akan bisa melakukannya sendirian dan membutuhkan bantuanmu, Pa,' gumam Andika yang saat ini masih memejamkan mata dan beberapa saat kemudian mendengar suara dari polisi yang ada di kursi depan.


"Apa ayahmu baik-baik? Sepertinya kau sudah sedikit tenang karena tidak seperti tadi," ucap salah satu pria berseragam yang kini menoleh ke belakang.


Sementara itu, Andika yang sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi, bahkan masih memejamkan mata. Ia sangat membenci para aparat kepolisian yang sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaannya tadi dan malah mengejeknya menjadi penyebab semua yang terjadi pada sang ayah.


'Anjing menggonggong kafilah berlalu,' gumamnya di dalam hati dan membuatnya kini merasa seperti seorang pria tidak berguna karena tidak bisa menemani sang ayah ketika sedang mengalami sesuatu yang buruk.


"Dasar bisu dan tuli!" sarkas polisi yang merasa menyesal karena bertanya sebagai bentuk kepedulian sesama manusia.


Ia pun melirik ke arah rekannya yang sedang mengemudi dan memberikan sebuah kode. Hingga rekannya tersebut mengerti dan seketika mengerem mendadak seolah akan menabrak sesuatu dan menghindar.


"Aaah ... kenapa tiba-tiba ada anjing menyeberang jalan?" ucapnya yang saat ini tengah mengarang sebuah cerita dan tertawa di dalam hati karena melihat dari spion saat tersangka terhempas tubuhnya ke depan dan terkejut.


Andika yang tadinya mengingat tentang sang ayah, seketika tercebur lembab ke depan begitu mobil berhenti secara mendadak. Hingga ia pun kini meringis menahan rasa nyeri pada bagian kening ketika terhempas di bagian depan.


"Kalian bersekongkol melakukan semua ini, kan? Aku tahu jika kalian melakukannya secara sengaja!" sarkas Andika yang menatap tajam ke arah dua polisi di depan terlihat santai seperti tidak sengaja melakukannya.


"Namanya juga anjing, pasti berbuat sesuka hati karena tidak pernah bersekolah!" sindir pria yang tadi kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh tersangka.


Sementara yang berada di balik kemudi hanya tertawa mendengarnya. "Tapi anjing pelacak sepertinya bersekolah karena dilatih sedemikian rupa. Bukankah itu bisa dibilang bersekolah?" ucapnya yang kini kembali fokus mengemudi dan merasa puas bisa memberikan pelajaran pada tersangka yang sangat arogan dan dianggap tidak tahu sopan santun.


Merasa dicuekin dan tidak ditanggapi oleh dua polisi tersebut, Andika yang duduk di kursi belakang, kini menatap kesal dan mengepalkan tangan sambil kembali membenarkan posisinya untuk lebih tegak.


'Sialan! Dua polisi itu benar-benar ingin merasakan bagaimana dipecat secara tidak hormat. Papa mempunyai kenalan, siapa tahu merupakan atasan dari mereka dan bisa memecat. Lihat saja nanti, aku benar-benar akan membalas dendam,' sarkasnya dengan sangat kesal ketika membayangkan rasa sakit di keningnya karena terhempas jok mobil.


Ia kini tidak lagi memejamkan mata karena khawatir akan kembali merasakan hal seperti tadi. Sampai akhirnya ia memilih untuk fokus pada apa yang akan dilakukannya karena harus membalas dendam pada sepupunya.


'Laura, kamu tidak akan pernah bisa merebut semuanya dariku. Lihat saja nanti! Semua perjuangan papaku yang selama ini memimpin perusahaan tidaklah sebanding dengan surat wasiat dari papamu yang mati itu.' Saat ia sibuk memikirkan cara untuk menyingkirkan sepupunya agar tidak merebut semua miliknya selama bertahun-tahun, kembali mendengar dering ponsel miliknya.


Begitu melihat yang menelpon adalah asisten pribadi sang ayah, kini dengan perasaan berkecamuk, langsung menggeser tombol hijau ke atas untuk mendengarkan kabar dari pria itu.


"Halo, Om."


"Tuan, sekarang presdir sudah berada dalam ambulans menuju rumah sakit. Saya saat ini berada di hadapannya dan sudah mendapatkan oksigen untuk membantu pernapasan. Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada presdir. Saya menelpon hanya ingin mengatakan ini. Anda akan langsung ke rumah sakit, kan?" tanya sama asisten yang saat ini tidak mengalihkan perhatian dari atasannya yang masih memejamkan mata tersebut.


Sementara itu, Andika memejamkan mata dan menghembuskan napas kasar karena merasa menyesal tidak bisa melihat sang ayah.


"Aku lupa memberitahu Om jika saat ini ditangkap oleh polisi. Tolong hubungi pengacara untuk segera datang ke kantor polisi dan membebaskanku. Aku harus melihat keadaan papa. Om juga hubungi mama karena aku tidak berani melakukannya. Katakan semuanya yang terjadi karena memang pada kenyataannya akulah yang bersalah."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu dan tidak berniat untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya, Andika mematikan sambungan telepon sebelum sang asisten pribadi ayahnya tersebut bertanya apa hal yang membuatnya ditangkap polisi.


Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Hingga ia menyadari jika mobil telah berbelok ke area kantor polisi. Dengan perasaan berkecamuk karena dari dulu sangat membenci tempat itu, ia sangat malas untuk turun, tapi begitu mendengar suara teriakan dari pria berseragam yang duduk di kursi depan, tentu saja membuatnya kesal.


Ia bahkan merasa tidak nyaman dengan tangannya yang masih diborgol. Membayangkan akan mendekam di sel karena tuduhan percobaan pembunuhan, Andika saat ini memikirkan apakah pria yang dibayarnya itu mengkhianatinya.


'Padahal aku sudah membungkam mulutnya dengan uang. Bagaimana bisa Laura melaporkanku kepada polisi? Apakah dia mempunyai bukti kuat? Apakah pria itu yang bersaksi?' Berbagai macam pertanyaan kini berputar dalam otaknya.


Ia akan mencari tahu sendiri dan berharap pengacara bisa membuatnya terbebas hari ini agar segera bertemu dengan sang ayah di rumah sakit.


Hingga ia yang langsung dibawa ke salah satu ruangan, kini menatap ke sekeliling.


"Diam dan tunggu di sini sampai orang yang menginterogasimu datang," ucap polisi yang tadi mengemudikan mobil.


Kemudian terlalu pergi meninggalkan pria yang dilaporkan membuat onar serta melakukan percobaan pembunuhan pada wanita bernama Laura Anastasya Prameswari.


Pintu pun ditutup dan kini hanya keheningan yang tersisa di ruangan tersebut, sehingga membuat Andika terdiam memikirkan cara untuk bisa segera enyah dari tempat itu.


"Semoga pengacara keluarga segera datang. Aku benar-benar sudah sangat muak berada di sini," ucapnya dengan beberapa kali mengembuskan napas kasar, sehingga memenuhi ruangan yang sunyi senyap dan dianggapnya sangat bau debu.


Entah berapa lama ia menunggu, merasa waktu seolah sangat lambat dan benar-benar kesal karena belum juga ada yang datang, baik dari pihak polisi maupun pengacaranya.


Ia kini melirik ke arah mesin waktu di pergelangan tangan kirinya untuk memastikan berapa lama menunggu. "Kenapa lama sekali? Bahkan ini sudah setengah jam aku duduk di sini seperti orang bodoh."


Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara pintu yang dibuka dan ada pria dengan berpakaian hitam membawa laptop serta buku. Berpikir jika itu adalah orang yang akan menginterogasinya, kini seketika menjawab karena masih menunggu.


"Apa pengacara aku belum datang? Aku tidak akan menjawab apapun sebelum pengacaraku tiba," ucap Andika yang saat ini melihat pria tersebut duduk tepat di hadapannya dan menatap tajam seperti hendak memangsanya.


"Lebih baik Anda memudahkan pemeriksaan dan mau bekerja sama agar hukuman lebih ringan," seru pria yang kini baru saja membuka laptop dan menunggu hingga layar menyala.


Bahkan ia dari dulu sangat tidak suka dengan para tersangka kaya belaga seperti pria dihadapannya tersebut. "Jangan berpikir jika kekuasaanmu bisa membeli hukum di sini karena itu tidak berlaku saat ada bukti-bukti yang kuat untuk menyeretmu mendekam di balik jeruji besi."


Saat Andika merasa jika itu adalah saat yang pas untuk mencari tahu tentang bukti apa yang dimiliki oleh kepolisian yang tentu saja mendapatkannya dari pihak Laura.


"Sebenarnya bukti apa yang kalian miliki hingga berani menangkapku? Aku akan menuntut kalian semua yang terlibat dalam penangkapanku agar dipecat dari pekerjaan!" sarkasnya dengan tatapan tajam tanpa merasa takut.


Bahkan saat ini berpikir jika sebentar lagi akan mengetahui apa yang membuatnya bisa ditangkap oleh para polisi hingga membuat sang ayah tidak sadarkan diri.


Sementara itu, pria berseragam itu hanya terkekeh karena tidak berniat untuk menceritakannya. Kemudian mulai menanyakan beberapa poin untuk menginterogasi tersangka mengenai percobaan pembunuhan yang dilakukan beberapa bulan lalu.


"Apa kau mengakui jika menyuruh orang untuk mencoba menusuk nona Laura?"


Andika yang merasa kesal karena tidak diberitahu tentang bukti itu, kini memilih untuk diam. "Sudah aku katakan jika aku tidak akan berbicara sebelum pengacaraku datang."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2