
"Ini tempatnya, Sayang." Christian memarkirkan mobil di seberang jalan karena tidak ada tempat di depan area lapak pedagang tersebut.
Ia dari tadi cari lapak pedagang bakso beranak dan merasa lega begitu menemukannya. Ia kini melepaskan satu pengaman dan mengajak sang istri keluar dari mobil.
"Oh ya, kamu dimakan di sana atau dibawa pulang?" Christian berbicara seperti itu sebenarnya hanya untuk berbasa-basi dengan sang istri karena ingin menormalkan perasaannya ketika merasa gugup saat pertama kali hendak makan di tempat yang belum pernah dikunjungi, berbohong pada Ana sudah pernah ke sana.
Tentu saja saat ini ia takut jika nanti melakukan kesalahan sedikit saja, sudah dipastikan Ana akan tahu kebohongannya. Niatnya adalah ingin melihat beberapa orang yang makan di sana terlebih dahulu sebelum memesan.
'Aku mungkin akan menyuruh Ana untuk duduk terlebih dahulu agar tidak melihatku saat memesan. Jadi, aku bisa bertanya banyak hal pada pedagangnya nanti agar tidak melakukan kesalahan di depan Ana,' gumam Christian yang saat ini sudah melihat pergerakan dari sang istri yang keluar dari mobil dan diikutinya.
Ia seketika memeluk sang istri saat menyeberang jalan. "Kamu belum menjawabku, Sayang."
"Pertanyaanmu sama sekali tidak perlu dijawab karena pasti kamu sudah mengetahui jawabannya. Bukankah aku tidak pernah membungkus bakso saat makan bersamamu? Karena makanan berkuah jauh lebih enak rasanya masih mengepulkan asap daripada dingin." Ana saat ini tengah menatap intens sang suami yang seperti merasa malu begitu menyadari kebodohannya.
Di sisi lain, Christian hanya menggaruk tengkuk belakang sambil tersenyum malu. "Iya, Sayang. Aku hanya sedang bercanda agar wajahmu tidak cemberut terus seperti ini." Mencubit gemas pipi putih sosok wanita yang ada di sampingnya tersebut.
Hingga ia melihat Ana mengerucutkan bibir karena kesal dengan perbuatannya. Hingga langkah kakinya memasuki lapak pedagang bakso beranak yang membuatnya menatap sekeliling untuk terlebih dahulu mencari tempat yang kosong dan menyuruh Ana duduk.
Christian melihat dua tempat kosong yang ada di sudut kanan. Kemudian menunjuk ke arah kursi tersebut. "Sayang, kamu duduk di sana saja. Biar aku yang pesan."
Refleks Ana menggelengkan kepala karena saat ini langsung berjalan menuju ke arah kasir. "Mbak, bakso beranak 2, tapi yang satu kuah pedas dan satu kuah tidak pedas. Minumannya jeruk hangat dan dingin ya."
Kasir yang saat ini tengah mengetik pada layar komputer, menyebutkan nominalnya. "Apa tidak tambah lagi yang lainnnya?"
__ADS_1
Ana saat ini hanya menggelengkan kepala dan mengambil uang dari dalam dompet, lalu memberikan lembaran merah pada kasir tersebut. Hingga ia mendengar suara barisan dari sang suami yang baru saja mendekatinya sambil menunggu kembalian.
"Sayang, kamu sudah pernah ke sini? Bagaimana kamu bisa tahu memesan baksonya melalui kasir?" Christian benar-benar perasaan penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Ana.
Meskipun itu membuatnya selamat dari rasa malu sekaligus kecurigaan Ana, tetap saja merasa aneh.
Ana yang tadinya menunggu kembalian, kini menoleh ke arah sang suami setelah menerima uang dari kasir. "Aku belum pernah ke sini dan tadi melihat ada yang masuk dan langsung berjalan ke kasir untuk memesan. Aku cuma mengikuti mereka saja."
Kemudian Ana melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah kursi nomor 25 karena di sana kebetulan kosong. "Masa itu saja tidak tahu. Bukankah sebelum memasuki suatu tempat, harus terlebih dahulu dilihat ke sekeliling?"
Christian merasa malu sekaligus lega dan mendaratkan tubuhnya di hadapan anak yang memang dari dulu sangat cerdas dalam menghadapi apapun. Hingga ia pun saat ini berpikir jika sok wanita yang duduk di hadapannya tersebut memiliki kesempurnaan kecuali belum memberikan keturunan.
'Seandainya Ana bisa melahirkan keturunanku, mungkin aku adalah seorang suami paling beruntung di dunia ini. Aku tidak mungkin berniat untuk menduakannya,' gumam Christian yang saat ini memikirkan tentang Laura yang ditinggalkan.
Saat memikirkan tentang banyak hal, Christian terus sadar dari lamunannya begitu melihat anak menggerakkan tangan tepat di depan wajahnya.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu kesal padaku karena aku yang memesan makanan?" tanya Ana yang merasa sangat heran ketika melihat sang suami malah melamun seperti tengah banyak beban pikiran.
Saat ini, Christian seketika memegangi pinggang tangan Ana dan menatapnya intens. "Sayang, berjanjilah padaku, sampai kapan pun tidak akan pernah meninggalkanku. Aku takut jika kamu pergi dariku hanya gara-gara tidak kunjung hamil."
Christian merasa bahwa Ana memiliki banyak kelebihan dan membuatnya selalu mencintai wanita itu, tapi malah mempunyai firasat jika sang istri akan pergi meninggalkannya.
Mungkin kekhawatirannya memang berdasar karena saat ini menyembunyikan Laura dari sepengetahuan Ana.
__ADS_1
Pastinya jika mengetahui hal itu, Ana akan benar-benar pergi meninggalkannya dan mungkin sangat membencinya. Bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa jika sampai Ana meninggalkannya karena sangat mencintai istri pertamanya tersebut.
Tentu saja melihat sikap yang dianggap sangat berlebihan dari sang suami, anggap sangat konyol karena seharusnya ia lah yang berada pada posisi seperti itu.
Bahwa wanita lah yang selalu kalah dalam segi apapun ketika tidak bisa menjadi seorang istri yang sempurna. "Sayang, kenapa sikapmu sangat aneh hari ini?"
"Apa kamu takut aku pergi meninggalkanmu karena kamu selingkuh dariku?" tanya Ana dengan raut wajah penuh kecurigaan. Apalagi tidak biasanya sang suami bersikap seperti itu. Ia menganggap hal tersebut sangat berlebihan dan aneh.
Di sisi lain, ia berpikir jika pria bersikap sangat aneh tersebut mungkin memiliki selingkuhan hingga merasa bersalah padanya. Jadi, merasa takut jika ia tahu, akan langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Christian emang takut tentang hal tersebut sama persis seperti apa yang dikatakan oleh Ana, tapi sengaja mengarang cerita untuk membuat wanita itu percaya.
"Sebenarnya dari tadi aku mengingat tentang ceritamu saat mamaku mengatakan hal yang tidak baik padamu. Aku takut jika kamu merasa tersinggung dengan perkataan yang dan langsung pergi meninggalkanku." Masih mencoba untuk mengarang sebuah hal yang bisa membuat sang istri merasa bahagia, Christian mencoba untuk menyelami perasaan Ana saat ini.
"Apalagi aku masih belum bisa memenuhi keinginan untuk menyewa rahim seorang wanita demi mendapatkan keturunan. Aku takut kamu tidak bisa bertahan 365 hari lagi," ujar Christian yang saat ini tengah menatap ke arah wanita yang malah berkaca-kaca tersebut.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu lagi karena aku akan selalu bertahan pada pernikahan kita." Ana yang merasa sangat dicintai oleh sang suami, kini mencium punggung tangan dengan buku-buku kuat itu.
Hingga pesanan mereka datang dan membuat Ana menyuruh sang suami untuk menikmati bakso beranak yang membuatnya serasa ngences seketika melihat kuah merah menggoda dengan bakso besar yang didalamnya ada telur puyuh, daging cincang, hati ayam dan sambal.
"Ayo, habiskan bakso beranak ini sekarang!" ujar Ana yang kini masih belum melihat pergerakan sang suami yang hanya diam menatapnya, tapi beberapa saat kemudian mulai menikmatinya.
"Siap, Sayang. Selamat makan," ucap Christian yang kini mulai menikmati makanan favoritnya tersebut dan melupakan apa yang dikatakan tadi.
__ADS_1
To be continued...