
"Kenapa kamu menyuruh semua orang yang hadir dalam meeting hari ini untuk memakai pakaian serba hitam?" Mario yang baru saja tiba di apartemen mewah yang selama ini menjadi tempat tinggal Laura, langsung disuruh memberikan pengumuman di grup pemegang saham.
Ia termasuk pembicara Laura yang nantinya akan menjawab pertanyaan dari para anggota meeting. Itu karena dari dulu memberikan sebuah berita jika sosok Anastasya tidak fasih berbahasa Indonesia karena semenjak kecil berada di luar negeri.
"Apa kamu menganggap jika meeting hari ini adalah pemakaman bagi semua orang? Khususnya sepupumu dan pria berengsek itu karena pamanmu sudah tua dan pensiun mengurus perusahaan." Mario kini memasukkan ponsel miliknya di saku jas berwarna merah.
Tadi pagi ia mendapatkan telpon dari Laura untuk memakai pakaian dengan warna merah agar sama, sedangkan begitu tiba di hadapan wanita itu, malah disuruh mengumumkan di grup.
Sementara itu, Laura yang kini masih belum berganti pakaian karena hanya mengenakan kimono berwarna putih serta handuk kecil di rambutnya, hanya terkekeh geli membayangkan apa yang akan terjadi di ruang meeting nanti.
__ADS_1
"Memang hari ini adalah pemakaman untuk para pengkhianat itu. Sementara aku adalah api yang akan menghanguskan mereka sampai menjadi abu. Itulah kenapa aku ingin memakai pakaian berwarna merah, sedangkan para pengkhianat itu memakai warna hitam yang berarti sebuah duka."
Bahkan ia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana reaksi orang-orang yang membuatnya ingin segera bertepuk tangan penuh kemenangan hari ini. "Aku harus memakai softlens lagi agar terlihat seperti bule beneran. Padahal aku sebenarnya sangat malas ribet seperti ini."
Ia yang selama ini tidak pernah menampakkan dirinya di depan semua staf Perusahaan Prameswari Grup karena sudah mewakilkan semuanya pada Mario.
Namun, hari ini harus datang karena akan mengambil alih kursi kepemimpinan dari sepupunya dan tentunya untuk membalas dendam pada pamannya.
Ia tadinya berpikir menunggu Laura di parkiran, tapi disuruh masuk ke apartemen dan membuatnya heran. Hingga ia mengerti begitu melihat wanita itu ternyata belum bersiap.
__ADS_1
"Bukankah kamu membutuhkan waktu untuk merias diri? Ini sudah mendekati waktu meeting, tapi kamu masih sangat santai seperti itu?" Melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Bahwa waktu semakin berjalan, tapi Laura masih bersantai seperti bermalas-malasan. Hingga ia mengerti jika Laura sengaja melakukan itu.
"Aku ingin mereka semua menungguku karena selama ini aku sudah bosan menunggu. Tidak apa-apa jika sekali-kali menyuruh orang menunggu, kan? Lagipula aku akan menjadi pemimpin perusahaan dan mereka tidak akan berani melawanku karena akan kudepak jauh-jauh jika melakukannya."
Laura yang kini bangkit berdiri dari sofa, memberikan sebuah kode bahwa ia akan ke kamar untuk ganti pakaian. Tanpa merasa khawatir jika pria itu akan macam-macam padanya karena percaya jika Mario adalah orang baik dan selalu menjaganya.
'Aku tidak ingin melihat bajingan itu, tapi dia lah yang akan melihatku dan terkejut karena aku adalah orang yang menjadi CEO di perusahaan yang membuatnya tertarik pada bisnis properti.' Laura sudah membayangkan memasuki ruangan meeting dan pria yang tak lain adalah mantan suaminya itu melihat kedatangannya.
__ADS_1
Kini, ia sudah memilih pakaian paling cantik yang sengaja disiapkan dan juga merias wajahnya agar terlihat makin memesona di hari pertama kali akan bertemu kembali dengan sosok pria yang ingin segera dihancurkan tanpa tersisa.
To be continued...