
Christian sebenarnya ingin segera mengandeng atau menggendong wanita yang ada di hadapannya tersebut, tapi ia tetap memakai etika kesopanan pada Laura dan masih menunggu jawaban iya lolos dari bibir sensual yang baru disesap dan dilumatnya.
Hingga ia pun dengan sabar menatap intens wajah dengan pahatan sempurna di setiap sudut hingga membuatnya tidak rela mengedipkan mata walau hanya sejenak.
'Aku baru menyadari bahwa Laura sangat cantik. Apalagi ia masih sangat muda dan masih polos dalam hal apapun. Bukankah aku kenapa merasa sangat beruntung jika bisa memilikinya?' gumam Christian yang saat ini melihat bibir sensuar di hadapannya terbuka.
"Christian, aku tidak ...."
Laura tidak bisa melanjutkan perkataannya karena mendengar suara teriakan yang memanggil namanya dan beberapa saat kemudian merasakan sebuah tepukan pada pundaknya.
Ia seketika menolehkan kepala dan melihat sahabatnya sudah berada di hadapannya.
"Anastasya! Pamanmu menelpon. Bukankah kamu paling takut padanya dan tidak pernah melewatkan satu panggilan pun dari pamanmu?" ucap sosok wanita dengan rambut kemasan yang langsung mengulurkan ponsel.
Sementara itu, Laura yang seketika membulatkan mata karena saat ini berada di klab malam dengan suara bising saat pamannya menelpon. Kemudian ia mengambil ponsel miliknya dari sahabatnya tersebut dan menoleh ke arah Christian.
"Aku harus menerima telpon dulu dari paman. Tunggu di sini!" ucap Laura dengan berteriak karena bersaing dengan suara memekakkan telinga dari DJ.
Christian hanya mengangguk perlahan meskipun sebenarnya merasa sangat kecewa karena tidak langsung mendapatkan jawaban iya, tetapi tadi Laura malah menyebutkan kata tidak.
__ADS_1
Meskipun tidak dilanjutkan, tetap saja membuatnya berpikiran buruk. Namun, berusaha untuk tidak menampilkannya di depan wanita muda yang membuatnya tertarik.
"Baiklah! Aku akan menunggumu di kursiku tadi." Menunjuk ke arah tempat duduknya yang masih kosong dan berharap Laura segera datang padanya setelah berbicara ditelepon dengan sang paman.
Ia sebenarnya merasa heran pada Laura karena saat masih bersamanya malah berniat mengangkat telpon dari sang paman. Padahal menurutnya itu tidak penting karena berpikir bahwa orang tua jauh lebih penting dibandingkan paman.
Di sisi lain, Laura seketika menganggukkan kepala dan berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar setelah memberikan kode pada sahabatnya akan menerima telepon di luar Club.
Ia tidak ingin sang paman mendengar suara memekakkan telinga dari DJ dan pasti akan mengomel padanya jika ketahuan berada di sebuah klab malam.
Sebenarnya panggilan telpon yang pertama sudah mati, hingga ia kembali mendengar suara dari ponselnya yang berdering tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, selamat pagi, Paman," sahut Laura yang kini mengetahui bahwa waktu di Jakarta jam sembilan pagi karena di New York masih pukul sepuluh malam.
Laura kini seketika mengedarkan pandangan ke sekeliling area depan Club malam karena berpikir jika ada yang tengah menguntitnya.
'Sialan! Siapa orangnya yang menjadi kaki tangan pamanku?' gumam Laura yang saat ini tengah kebingungan untuk menjawab.
Namun, ia merasa penasaran dengan siapa orang yang menjadi kaki tangan pamannya. Setahunya, ia sudah lolos dari bodyguard-nya, tapi ternyata masih ada yang lainnya.
__ADS_1
"Apa Paman tidak bosan menyuruh orang untuk mengikutiku. Sesekali aku butuh refreshing, Paman.
"Refreshing dengan mencium seorang pria di tempat umum, begitu?" sarkas pria paruh baya di seberang telpon.
Laura saat ini hanya bisa menahan kesabaran agar tidak sampai melempar ponsel miliknya ke tanah demi meluapkan emosi. Bahkan ia ingin sekali meledakkan amarahnya, tapi berpikir bahwa itu sangat tidak sopan pada satu-satunya keluarga kandung sang ayah.
"Baiklah, aku tidak akan mencium pria lagi. Maafkan aku, Paman."
"Paman tidak butuh maafmu, tapi butuh bukti. Kembali ke apartemen sekarang karena ada yang mengawasi semua gerak-gerikmu saat ini. Paman melakukan ini semua demi kebaikanmu, Laura."
Karena tidak ingin berdebat untuk menjelaskan apapun pada sang paman, akhirnya Laura yang merasa sangat kesal, kini mengiyakan perintah dan menutup telpon.
Apalagi ada orang yang membuntuti tanpa sepengetahuannya, tentu saja membuatnya tidak berkutik. "Christian, maafkan aku. Aku tidak mungkin mengorbankan seluruh perjuanganku selama 8 tahun di sini."
Kemudian Laura berjalan menuju ke arah mobilnya dan langsung mengemudikan kendaraan meninggalkan area club malam dengan perasaan berkecamuk.
"Bagaimana dengan nasib Christian? Ia pasti akan menungguku lama dan tidak menyadari bahwa aku telah pergi. Christian, maafkan aku karena tidak bisa berpikir jernih saat ini," ucap Laura yang masih fokus menatap ke arah depan saat mengemudi.
Jujur saja ia merasa jatuh cinta pada Christian dan benar-benar berbunga-bunga tadi ketika pria itu membalas perasaannya.
__ADS_1
Namun, ia berpikir jika saat ini tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan pria yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama serta merasakan ciuman pertama dengan Christian.
To be continued...