
Sang dokter yang baru menyelesaikan proses operasi, kini bisa melihat jika pria yang tadi memohon dengan wajah mengenaskan itu sudah berada di hadapannya. Hingga ia pun tidak membuang waktu untuk menjelaskan hasil operasi.
"Operasi berjalan lancar, saat ini pasien masih kritis. Semua itu karena terjadi benturan sangat keras pada bagian kepala dan juga tadi banyak mengeluarkan darah saat dioperasi. Semoga pasien bisa melewati masa kritisnya."
Sang dokter kini terdiam sejenak karena melihat ekspresi wajah dari sosok pria yang masih memancarkan kekhawatiran itu. Ia ingin mengatakan tentang satu kemungkinan yang mungkin terjadi menimpa pasien kecelakaan.
Christian tidak bisa berkata-kata selain memohon pada sang dokter tersebut. "Tolong lakukan apapun untuk kekasihku, Dokter. Berapapun biayanya, pasti akan saya bayar."
Masih berharap mendapatkan sebuah keajaiban, Christian rela mengeluarkan kocek besar demi bisa membuat Laura kembali sehat. Meskipun ia tahu bahwa yang bukan segalanya karena jika takdir sudah menentukan, maka tidak akan pernah bisa lari atau mengejarnya.
Bahkan jawaban dari dokter sudah diduga olehnya. Kini ia hanya bisa berdoa agar Laura bisa melewati masa kritisnya.
"Tentunya Anda pasti sudah tahu bahwa ini bukan soal uang, Tuan. Bahkan meskipun pasien sudah melewati masa kritis, ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Anda juga harus siap menerimanya."
Sang dokter pun tidak bertele-tele karena kini menjelaskan kemungkinan buruk yang diduganya dari hasil operasi pada kepala korban kecelakaan yang berkali-kali mengalami benturan pada kepala.
Sementara itu, Christian benar-benar sangat lemas karena belum selesai ia menenangkan hatinya dengan Laura yang saat ini kritis, tapi sekarang malah kembali mendengar sesuatu yang membuat tubuhnya meremang.
Ia sangat takut akan terjadi kemungkinan buruk lainnya pada Laura. Jika sampai terjadi hal lebih buruk pada Laura, ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghadapinya. Dengan suara bergetar, Christian kini membuka suara.
"Kemungkinan buruk apa yang akan terjadi, Dokter? Jelaskan padaku!" Christian bahkan menelan ludah setelah selesai bertanya.
Sementara sang dokter kini menjelaskan sesuatu yang kemungkinan besar akan terjadi dan berharap tidak lebih buruk dari perkiraan.
"Jadi, karena dampak buruk akibat benturan keras pada kepala pasien, kemungkinan besar saat melewati masa kritis adalah bisa mengalami kematian otak atau amnesia. Tapi semoga saja perkiraan ini tidak terjadi," ucap sang dokter yang merasa sangat menyesal harus menjelaskan kemungkinan buruk dari hasil operasinya.
Refleks Christian mundur satu langkah dengan tangan terhempas ke bawah. Kalimat dari sang dokter bagaikan petir di siang hari yang meluluhlantakkan dunianya.
"Ya Tuhan! Kematian otak? Amnesia? Cobaan apa lagi yang menimpamu, Laura. Kenapa hidupmu jadi seperti ini saat pertama kali kembali ke tanah kelahiran?" tanya Christian dengan wajah dipenuhi kekhawatiran yang dari tadi tidak menghilang, tapi malah bertambah.
Sang dokter tidak ingin mengatakan sesuatu yang terdengar sangat mengerikan dan menjelaskan singkat mengenai sesuatu yang jarang didengar oleh orang.
"Jadi, mati otak merupakan kondisi ketika seluruh aktivitas otak terhenti secara permanen. Pasien yang mengalami kondisi ini berada pada keadaan koma dan tidak akan sadar kembali."
"Jadi pasien yang mengalami mati otak membutuhkan obat-obatan dan alat bantu, seperti mesin ventilator, agar bisa bernapas dan agar jantungnya tetap berdetak. Pasien tidak akan bisa kembali sadar atau bernapas sendiri, karena otaknya sudah tidak berfungsi."
Perasaan Christian seketika hancur begitu mengetahui sesuatu yang dianggap sangat mengerikan di telinganya. Ia berharap itu tidak akan terjadi pada Laura dan kini lebih mengharapkan jika Laura amnesia saja.
"Semoga kekasih saya mengalami amnesia saja daripada koma, Dokter. Apalagi amnesia hanya penyakit yang berkaitan dengan gangguan memori. Biarkan kekasihku mengalami hilang ingatan hingga mengalami gangguan dalam membuat memori baru."
__ADS_1
Christian berpose akan mengisi kenangan baru yang lebih indah dari masa lalu Laura yang ia tahu hidup mandiri semenjak kecil karena efek orang tuanya yang meninggal semenjak usianya 15 tahun.
Ya, hanya sebatas itu saja ia tahu tentang Laura karena wanita itu sangat merahasiakan tentang jati dirinya. Ia berpikir jika benar itu terjadi pada Laura, pasti akan melupakannya.
Namun, ia akan melakukan apapun untuk membuat Laura jatuh cinta padanya lagi dan menikahi serta menjaganya.
Sang dokter kini menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan untuk menenangkan pria tersebut. "Kita akan mengetahui semuanya setelah melihat perkembangan dari pasien."
"Tentu saja kami akan terus memantau kondisi korban yang sekarang akan dipindahkan ke ruang ICU. Setelah melewati masa kritis, kita akan pindahkan ke ruangan."
Kemudian sang dokter berjalan meninggalkan sosok pria di hadapannya karena harus beristirahat sebentar sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Christian masih berdiri terpaku di tempatnya.Beberapa saat kemudian, para perawat sudah mendorong brankar yang di atasnya ada Laura dengan kepala terbungkus rapat.
Tentu saja melihat wajah pucat dengan mata tertutup itu membuatnya tidak tega dan ingin sekali mengusap pipi putih Laura yang masih kritis.
"Laura, kamu harus sembuh, Sayang." Kemudian Christian hendak mengikuti langkah para perawat yang membawa Laura.
Namun, ia mengingat tentang koper-koper miliknya dan akhirnya mengambilnya, lalu berjalan menuju ke arah ruangan ICU dan melihat dari kaca saat para perawat itu memasang banyak alat di tubuh Laura dan membuatnya merasa tidak tega.
"Laura, bahkan kamu masih sangat muda, tapi sudah mengalami kejadian buruk seperti ini. Kecelakaan, operasi, koma, amnesia. Bertahanlah dan berjuanglah untuk tetap hidup agar kita bisa bersatu."
"Semoga aku diizinkan untuk menunggu di dalam." Christian bahkan saat ini berpikir jika ia tidak akan pernah meninggalkan Laura walau bagaimanapun caranya.
Ia saat ini bahkan sama sekali tidak memikirkan Ana karena hanya Laura dan Laura. Apalagi mengetahui jika saat ini Laura tidak punya keluarga karena semua identitasnya hilang bagai ditelan bumi.
Begitu para perawat keluar, Christian langsung menghampiri salah satu wanita berseragam tersebut. "Apa saya bisa menunggu di dalam, Suster?"
"Iya, Tuan. Hanya boleh satu orang yang berada di dalam." Perawat itu melirik ke arah koper-koper di sebelah kiri tempat duduk. "Anda tidak boleh membawa koper-koper itu ke dalam karena ruangan harus steril. Anda juga harus mengikuti petunjuk yang ada di dalam."
Christian langsung mengangguk perlahan sebagai tanda mengerti. "Iya, Suster. Saya mengerti." Tapi ia bingung jika sampai barang-barang pesanan Ana akan hilang.
Namun, di saat bersamaan mendapatkan jalan keluar dan merasa sangat lega.
"Anda bisa menitipkan di kantor yang ada di sebelah sudut sebelah kiri dari sini. Saya permisi dulu." Mengangguk perlahan dan berlalu pergi dari ruangan ICU untuk melakukan tugas selanjutnya.
Tadi Christian langsung berterima kasih pada sang perawat dan kini berjalan menuju ke arah ruangan kantor yang tadi disebutkan.
Beberapa saat kemudian, ia berlalu pergi dari sana dan mulai berjalan menuju ke arah ruangan ICU. Sebelumnya ia sudah membaca peraturan di ruangan itu dan melakukan yang diperintahkan.
__ADS_1
Kemudian berjalan masuk mendekati sosok wanita yang terlihat sangat mengenaskan dengan banyak alat menopang tubuh serta suara-suara alat tersebut membuat bulu kuduknya merinding.
Bahkan ruangan yang sangat sunyi tersebut seperti sangat menakutkan karena harus mendengar suara-suara dari mesin yang menempel di tubuh Laura.
Kini, ia mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sebelah ranjang perawatan tersebut sambil tidak mengalihkan pandangan dari wanita dengan wajah pucat tersebut.
"Aku datang, Sayang," ucap Christian yang saat ini tengah menyentuh telapak tangan dengan jemari sangat lentik dan indah itu.
"Kamu harus melewati masa kritis ini, Sayang. Kamu tidak boleh mengalami kematian otak. Lebih baik kamu amnesia karena aku akan menghiasi ingatanmu dengan kenangan-kenangan bersama kita."
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku untuk kesekian kalinya. Bahwa kamu akan mencintaiku lagi seperti pertama kali bertemu di Club malam." Christian kini mengangkat telapak tangan Laura dan melabuhkan sebuah kecupan di sana.
"Aku sangat mencintaimu. Bukankah itu yang ingin kamu dengar dariku? Jadi, bangunlah karena aku akan setiap hari mengatakannya padamu, Sayang. Tapi bangunlah dan lewati semua masa kritis agar bisa kembali melihatku."
Entah mengapa ia selalu melow kala melihat wajah pucat wanita yang masih muda itu mendapatkan sebuah kemalangan luar biasa.
Bahkan saat usia masih sangat muda sudah mengalami kejadian buruk yang pastinya akan meninggalkan jejak kelam dalam kehidupannya.
Namun, Christian berdoa agar Laura melewati ini semua dan tidak akan mendapatkan sebuah kemalangan lagi. Bahkan kini ia masih terus berbicara dengan harapan Laura bisa mendengar suaranya dan akhirnya lolos dari masa kritis.
Sesekali ia mencium punggung tangan dan terkadang kening untuk membuat wanita yang masih memejamkan mata tersebut segera sadar.
Karena ingin mengabadikan semua kenangan bersama Laura, kini Christian mengambil ponsel miliknya untuk mengirimkan pesan pada asisten pribadi.
Saat pulang kerja, belikan aku ponsel baru dan bawa ke rumah sakit.
Kemudian memencet tombol kirim sambil menatap ke arah layar yang retak. "Biar Ana melihat info dulu dan aku akan beralasan jatuh di lantai. Lalu ia pasti akan berinisiatif untuk membelikan yang baru untukku."
Sebenarnya Christian biss saja membeli lagi dua ponsel, tapi sikap berlebihan dari Ana membuatnya tidak mungkin melakukan itu. Jadi, ia pun memilih untuk meminta Vicky Syailendra membelikan satu.
Christian yang masih menggenggam erat telapak tangan Laura, kini memikirkan sesuatu yang sangat menggangu pikirannya.
"Semoga kamu tidak amnesia seperti yang dikatakan dokter. Karena jika itu terjadi, bagaimana aku bisa mengetahui tentang ulah supir itu benar-benar mengantuk atau hanya berpura-pura saja karena ada yang menyuruhnya?"
Christian tetap tidak bisa mengalihkan perhatian dari wajah cantik itu, tapi ia pun merasa matanya pedas karena kurang tidur.
"Kita terlalu banyak berbincang di pesawat dan aku tidak bisa menahan mataku yang pedas ini, Sayang. Aku akan menemanimu tidur, tapi kamu harus bangun jika aku terbangun nanti "
Kemudian Christian membungkukkan badan dan mau terus menggenggam erat telapak tangan Laura.b
__ADS_1
To be continued...