
"Tuan Christian, Anda harus tenang dan kuat karena saat ini nona Ana sudah tenang di atas sana dan juga tidak merasakan sakit lagi," seru Vicky yang saat ini masih berjongkok di lantai sambil menepuk-nepuk punggung bosnya.
"Anda harus mengurus semua proses pemakaman untuk almarhumah." Saat Vicky mengerti bagaimana perasaan hancur bosnya, jadi masih berusaha untuk menghibur agar tidak makin terpuruk.
Sementara itu, Christian sibuk menyalahkan diri sendiri karena tadi tidak menanggapi Ana, tapi malah sibuk memikirkan tentang Laura. Ia merasa sangat yakin jika Ana akan sembuh setelah dioperasi, tapi tidak pernah menyangka jika ternyata malah kebalikannya.
Ia saat ini mengacak rambutnya dengan kasar untuk melampiaskan penyesalan yang dirasakan. "Suami macam apa aku ini? Bahkan saat istri berkeluh kesah sebelum operasi karena dikuasai oleh kekhawatiran malah tidak dipedulikan dan memikirkan wanita lain."
Meskipun ia menyalahkan diri sendiri atas perbuatannya, tapi saat ini sadar jika penyesalan tidak ada gunanya sama sekali. Bahwa ia harus memperbaiki semuanya dengan memuliakan Ana untuk terakhir kalinya saat dimakamkan.
"Aku tidak akan memperbaiki semuanya." Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya dan saat berniat untuk mengurus semuanya, mendengar suara lirih yang sangat ia hafal dan membuatnya menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Ana," seru Laura yang saat ini duduk di kursi roda dan didorong oleh Mario.
Setelah ia mendapatkan kabar dari mertuanya tentang Ana, tidak bisa berdiam diri di ruangan begitu mengetahuinya. Jadi, mengungkapkan pada Mario agar mengantarkannya untuk menemui Christian yang diketahuinya tengah merasakan kesedihan mendalam saat ditinggalkan.
Nasib baik Mario sama sekali tidak melarangnya karena ia khawatir jika alasan baru selesai dioperasi membuatnya dilarang pergi. Jadi, merasa sangat lega karena Mario bisa mengerti.
Ia yang tadi dari jauh bisa melihat sosok pria yang duduk di lantai saat dikuasai oleh kesedihan, entah mengapa merasa tidak tega. Padahal ia dari dulu memikirkan bisa balas dendam pada pria yang telah berbuat kejam padanya.
"Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Ana dan dilapangkan kuburnya." Laura mengakhiri perkataannya dengan meminta izin pada Christian. "Apakah aku boleh melihat jenazah Ana untuk terakhir kali? Aku bahkan sama sekali belum bertemu dengannya semenjak dirawat di sini."
Laura bahkan saat ini merasa sangat menyesal karena ia sama sekali tidak menampakkan diri dengan berpikir jika wanita itu bisa saja makin drop begitu melihatnya. Namun, semua pemikirannya salah karena meskipun tidak menunjukkan dirinya, Ana ternyata juga meninggal.
__ADS_1
"Jika kamu ingin menemuinya untuk tidak berniat menghina Ana, aku mengizinkannya. Ana bahkan tidak pernah suka menyusahkan orang lain dan selalu mandiri meski apapun yang terjadi. Jadi, tolong jangan mengumpatnya atas masa lalu," ujar Christian yang saat ini mengungkapkan kekhawatirannya.
Bahwa Laura akan mengungkit tentang masa lalu yang berhubungan dengan Valerio. Itulah yang terpikirkan oleh Christian saat ini. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih saat melihat Laura yang ia ketahui akan membalas dendam padanya dan sang istri.
"Aku manusia yang masih memiliki hati nurani, jadi jangan berpikir sesuatu yang merendahkan harga diriku." Laura kini menatap tajam ke arah Christian karena menganggap ia adalah seorang wanita tidak punya hati.
Padahal faktanya, ia dulu disakiti tanpa memperdulikan perasaannya. Tentu saja ia merasa sangat terhina atas pemikiran Christian, tapi berpikir jika waktunya akan terbuang sia-sia jika sibuk membenarkan diri sendiri.
'Bahkan kau yang dulu tidak punya hati karena menyakitiku, tapi aku pun tetap mendapatkan pemikiran buruk meski sudah menjadi korban,' gumam Laura dengan wajah kecewa.
To be continued...
__ADS_1