365 Days With You

365 Days With You
Keinginan Mario


__ADS_3

Renita Padmasari saat ini baru saja mengirimkan pesan pada putranya yang dengan pasrah menyerahkan Valerio pada Laura. Ia merasa jika putranya sangat lemah dan semakin terluka, sehingga memilih untuk tidak mengungkapkan penolakan atas apapun yang dihadapi.


Ia bahkan dari tadi belum masuk kembali ke dalam ruangan perawatan sang cucu. Di mana di sana ada Laura yang masih menunggu Valerio. "Laura, tega-teganya kamu melakukan ini pada putraku yang tengah hancur setelah ditinggalkan sang istri."


Ia berbicara dengan sangat lirih karena tidak ingin didengar oleh siapapun yang melintas, baik perawat maupun pihak keluarga pasien di sekitar area tersebut.


Hingga ia merasa tertampar dengan perkataannya sendiri dan hanya bisa menghembuskan napas kasar serta memijat pelipis karena merasa tidak pantas mengatakan itu karena Laura dulu jauh lebih menderita daripada putranya.


"Bisa-bisanya aku berbicara seperti ini tanpa mengingat penderitaan Laura di masa lalu karena perbuatan putraku yang pergi dengan membawa bayi merah yang baru saja dilahirkan tanpa sepengetahuan sang ibu." Menyadari sikap egois yang dirasakan, kini ia menatap ke arah ponselnya.

__ADS_1


Tadi ia merasa sangat emosi sekaligus khawatir pada psikis putranya mungkin bisa terguncang dengan kejadian bertubi-tubi yang dirasakan, sehingga langsung menyuruh putranya untuk menikah lagi meskipun mengetahui itu adalah perintah konyol.


"Maafkan Mama, Christian karena terbawa emosi sesaat dengan kejadian hari ini. Mulai sekarang , Mama tidak akan pernah ikut campur dengan kehidupanmu karena semua ini terjadi juga atas kesalahanku." Ia berpikir bahwa jika dulu tidak memaksa putranya untuk menikah lagi agar bisa melanjutkan keturunan keluarga besar Raphael, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


"Aku tidak akan mengulangi kesalahanku di masa lalu dengan mengandalkan emosi serta ego dan memaksa putraku memenuhi keinginanku." Ia lalu mengetik pesan pada putranya untuk memperbaiki keadaan.


Sayang, tadi Mama sangat emosi dan juga shock. Lupakan saja kata-kata konyol yang tadi dan hiduplah sesuai dengan keinginanmu karena mulai hari ini Mama tidak akan pernah memaksa atau memerintah.


"Baiklah. Aku sekarang akan mengikuti air yang mengalir saja dan semoga kedepannya akan menjadi lebih baik. Laura dan putraku bisa berhubungan baik dengan adanya Valerio yang menjadi penengah di antara mereka." Saat ia berniat untuk membuka pintu di hadapannya, tidak jadi melakukannya ketika indra pendengar menangkap suara pariton sosok pria yang baru saja datang.

__ADS_1


"Nyonya, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Apakah Anda tidak keberatan dan mau meluangkan waktu sebentar?" Mario yang baru saja mengantarkan Cleopatra ke depan sampai naik taksi, tadi langsung menuju ke arah IGD.


Begitu pertama kali yang dilihatnya adalah sang ibu dari mantan suami Laura, sehingga berpikir untuk mengungkapkan niat baiknya. Ia seketika merasa sangat lega begitu melihat anggukan kepala dari wanita paruh baya tersebut.


"Bicaralah!" Renita Padmasari sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh pria yang kini sudah menjadi pilihan Laura dan tidak berpikir untuk kembali pada putranya, sehingga membuatnya benar-benar sangat kecewa, tapi tidak bisa berbuat apapun.


"Sekarang saya dan Laura sudah menjalin hubungan lebih dari teman dan berniat untuk ke jenjang yang lebih serius. Jadi, saya mohon untuk tidak berpikir menjadikannya menantu lagi."


"Juga saya mohon dengan sangat, tolong nasihati Christian agar tidak berharap pada Laura karena sebentar lagi kami akan menikah." Mario yang menatap intens mantan mertua sang kekasih, di saat bersamaan melihat Laura yang baru saja keluar dari pintu.

__ADS_1


"Menikah?" Laura membulatkan mata karena merasa jika perkataan Mario terlalu jauh karena baru saja menjalin hubungan.


To be continued...


__ADS_2