
Mario sudah menduga jawaban dari wanita yang saat ini terlihat tertawa miris ketika mengingat kesalahan di masa lalu karena mencintai seorang pria yang sudah memiliki istri. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya menyalahkan Laura karena mengetahui jika Christian turut andil dalam kesalahan yang terjadi.
Apalagi saat itu Laura hilang ingatan saat kecelakaan dan tidak ada siapapun yang bisa menolong, sehingga berakhir dinikahi oleh Pria beristri yang hanya memanfaatkan untuk memiliki keturunan.
'Bahkan sebenarnya aku sangat heran dengan pria itu yang menyia-nyiakan wanita lebih sempurna dari istrinya karena tidak bisa memberikan anak. Aku sangat heran kenapa Christian membuangmu begitu saja dengan mengambil buah cinta kalian dan menyerahkannya pada istrinya yang memiliki keterbatasan itu.'
Mario benar-benar tidak habis pikir dan tidak bisa mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaan yang menari-nari di otaknya saat ini karena yang mengetahui hanyalah Christian.
Kini, ia memilih untuk menanggapi sesuai dengan apa yang dirasakannya pada Laura. "Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa menolak atas perasaan yang tiba-tiba muncul itu, Laura."
"Kamu dulu jatuh cinta pada pria beristri dan tidak bisa menolak Christian, sehingga rela menjadi istri siri. Itulah yang dinamakan cinta dan bisa membuat siapapun jatuh dan juga bahagia. Begitu pun denganku yang jatuh cinta padamu dan tidak bisa menghilangkan perasaanku sampai sekarang."
Mario tidak ingin menuruti perintah Laura untuk melupakan cintanya karena yakin lambat laun wanita itu akan membuka hati setelah melihat ketulusannya yang benar-benar mencintai tanpa memandang status.
Bahwa ia adalah seorang perjaka, sedangkan bisa dibilang Laura merupakan janda anak satu yang ditinggalkan oleh suami. "Aku akan membuktikan bahwa lebih baik dari pria itu dan bisa mencintaimu setulus hati."
Laura sebenarnya ingin sekali segera menolak pernyataan cinta Mario agar melupakannya dan mencintai wanita lain, tapi karena mengerti bahwa semua yang dikatakan pria itu benar, akhirnya tidak ingin membantah dan membiarkannya.
"Aku sudah memperingatkanmu dan jika sampai nanti kamu sakit hati karena perbuatanku yang menolakmu berkali-kali, jangan salahkan aku." Laura saat ini menunjukkan dokumen yang baru saja dikeluarkan dari laci.
"Lihatlah hasil usaha kita karena sekarang aku menjadi pemegang saham tertinggi di perusahaan orang tuaku Setelah 1 tahun berjuang dan dibantu olehmu serta papamu. Aku Prameswari Grup." Laura melihat jika Mario sama sekali tidak tertarik untuk menatap ke dokumen yang ditunjukkan karena lebih fokus menatapnya.
Tentu saja ia tahu arti dari tatapan seorang Mario yang sangat tergila-gila padanya dan tidak pernah terlihat dekat dengan satu wanita manapun selama ini.
"Jangan terus-menerus menatapku seperti aku ini seorang bidadari saja yang membuatmu terpesona, sehingga tidak berkedip seperti itu." Laura yang baru saja menutup mulut, kini kembali mendengar kalimat bernada pujian yang lebih terdengar seperti rayuan seorang pria.
Mario ingin sekali menaklukkan wanita cantik di hadapannya tersebut, tapi menyadari jika itu sangatlah susah, sehingga saat ini hanya bisa mengungkapkan apa yang dirasakan.
"Aku sudah jatuh cinta padamu ketika pertama kali melihatmu di rumah sakit saat tidak sengaja menabrakmu. Saat itu, pertama kali aku melihat seorang wanita yang menangis, tapi terlihat sangat cantik dan menawan. Rasa ingin menghapus air mata di wajahmu dulu kutahan dan hanya rasa iba yang tersisa begitu mengetahui apa yang terjadi padamu."
Mario yang terdiam ketika mengingat momen pertama kali bertemu dengan Laura yang menangis tersedu-sedu ketika mencari putranya yang dibawa kabur oleh sang suami.
"Saat itu, rasanya aku ingin memelukmu dan menenangkan agar tidak terus-menerus menangis karena sedih memikirkan putramu yang dibawa oleh pria berengsek itu. Hanya saja, aku takut jika kamu malah menganggap aku mengambil keuntungan, saja dan tersiksa dengan rasa iba."
Ia yang baru saja mengakhiri ungkapan isi hati saat momen pertama kali terpesona pada Laura, merasa kesal dengan ekspresi wajah datar seorang wanita seperti tidak punya hati.
"Mungkin Laura yang dulu akan langsung berbunga-bunga dan jatuh cinta pada seorang pria tampan dan mapan sepertimu, Mario. Kamu benar-benar sangat pandai merangkai kata untuk meluluhkan hati seorang wanita." Akhirnya Laura tidak jadi menunjukkan surat kepemilikan saham yang sudah berpindah tangan padanya.
Ia yang selama ini dibantu oleh beberapa temannya di New York untuk merebut kembali perusahaan orang tuanya, tidak lupa Mario serta orang tuanya yang sangat mendukungnya. Ingin mengungkapkan jika besok berniat untuk menampakkan diri di perusahaan pertama kali.
Namun, karena dari tadi mendengar pujian dari Mario, sehingga belum mengungkapkan rencananya pada pria itu.
"Saat ada seorang pria tulus yang mencintaimu, kamu tolak mentah-mentah. Tapi saat ada seorang pria bajingan yang membuatmu tergila-gila, kamu rela melakukan apapun meskipun itu tidak masuk akal." Akhirnya Mario yang selama ini geram pada Laura karena dianggap terlalu bodoh dalam hal cinta, berusaha untuk menyadarkannya.
__ADS_1
Ia tahu jika Laura tidak akan tersinggung atas perkataannya yang terdengar kasar karena bersifat menunjukkan pembinaan dari kebodohan yang dilakukan di masa lalu.
Benar saja apa yang dipikirkan olehnya karena suara tawa dari Laura kini menggema di ruangan kerja tersebut. Meskipun ia merasa bulu kuduknya meremang ketika melihat wajah Laura yang seperti tidak punya hati ketika tertawa datar.
"Iya, kau memang benar. Hal itulah yang membuatku merasa heran pada diri sendiri. Bagaimana aku bisa sebodoh itu menjadi seorang wanita saat memiliki pendidikan yang baik dan bergelar tinggi serta menempuh pendidikan di luar negeri."
Laura saat ini memijat pelipis ketika mengingat tentang kebodohannya yang sangat mempercayai Christian. Bahkan jika boleh jujur, sampai sekarang tidak pernah bisa melupakan momen-momen kebahagiaan yang tercipta di antara mereka.
Ia menatap ke arah kalender kecil di atas meja dan bergerak untuk memegangnya. "Aku bahkan sampai hafal dengan berapa lama kami bersama dan mengakhiri dengan sebuah kebencian ketika aku melahirkan."
"Bahkan aku sama sekali tidak pernah menyangka jika itu terjadi tepat 365 hari bersama bajingan itu. Dari mulai aku berada di rumah sakit saat kecelakaan sampai aku melahirkan dan ditalak serta putraku di bawah diam-diam. Bahkan sekarang sudah satu tahun kejadian itu berlalu dan aku belum bisa menghilangkan semuanya dari pikiranku."
Laura saat ini terdiam menatap ke arah gelas berisi air putih yang berada di atas meja dan menggenggamnya dengan gerakan memutar. "Terkadang aku ingin amnesia lagi agar tidak mengetahui sifat asli dari orang-orang jahat yang membohongiku."
"Jika aku menghantamkan gelas ini ke kepalaku, apakah aku akan kembali amnesia?" Kemudian mengangkat gelas yang dari tadi digenggamnya.
Namun, ia yang sudah menyangka perbuatan Mario saat menghentikannya, membuatnya terkekeh geli. Apalagi saat ini bisa melihat jika pria di hadapannya terlihat sangat mengkhawatirkannya dan menganggap apa yang disampaikan akan dilakukan.
"Jangan gila, Laura! Jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada kepalamu, Bagaimana kamu akan melanjutkan rencana untuk menghancurkan orang-orang jahat itu?" Mario yang saat ini masih berdiri di hadapan Laura, terdiam ketika melihat ekspresi wajah wanita itu.
"Aku lebih suka Laura yang lemah daripada Anastasya karena bisa melindungi dan merasa berguna di sisimu. Namun, sosok Anastasya yang sekarang seperti tidak membutuhkan siapapun dan membuatku seperti tidak layak untuk berada di sisimu." Mario memang tidak suka mengubah nama panggilannya karena selalu merasa seperti itu.
Bahwa selama ini menyukai sosok Laura yang tersakiti dan lemah daripada Anastasya yang datar dan dingin. Apalagi saat melihat tawa dan tatapan mengintimidasi dari wanita di hadapannya tersebut, seperti seorang pria naif tidak berguna.
"Astaga!" Seketika Laura tertawa terbahak-bahak karena kalimat terakhir dari Mario membuatnya sakit perut.
Meskipun ia tahu jika itu adalah sebuah perhatian dari seorang pria yang mencintainya dengan tulus, luluhkan hatinya yang sudah mati rasa karena ulah satu-satunya pria yang membuatnya jatuh cinta.
"Jadi, kamu berpikir bahwa kepalaku ini sama sekali tidak pantas karena tidak sebanding dengan kekuatan dari gelas itu?" Laura kembali terkekeh geli melihat wajah polos Mario yang seketika menganggukkan kepala.
"Ya, kamu benar. Sebenarnya kepalamu itu sangat lemah dan tidak bisa digunakan untuk menguji kekuatan gelas. Berbeda dengan kepalaku yang jauh lebih kuat dan tidak akan mengalami masalah meskipun dihantam oleh gelas kaca itu."
Mario kemudian mendekatkan kepalanya pada Laura. "Atau kamu ingin mencobanya? Siapa tahu kamu ingin memastikan sendiri kekuatan kepalaku dengan kepalamu."
Merasa sangat terhibur saat selalu bersama dengan Mario, Laura bahkan sampai mengeluarkan bulir air dari bola matanya karena sibuk tertawa. "Aku sadar jika selama ini memiliki seorang penghibur yang handal."
"Terima kasih, Mario karena berkatmu, aku bisa bangkit dari keterpurukan dan berada di titik sekarang setelah banyak perjuangan. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak bertemu denganmu dulu di depan rumah sakit." Laura kini merasa sangat haus dan memegangi tenggorokannya.
Hingga ia tersenyum simpul karena Mario mengerti dengan kode darinya saat langsung memberikan gelas berisi air putih tersebut. "Terima kasih."
Mario kini hanya menggelengkan kepala karena bukan itu yang diinginkan olehnya selama ini. "Jika aku boleh meminta balas budi darimu, terima saja cintaku karena jawaban Terima kasih sama sekali tidak penting untukku."
Ia saat ini masih melihat Laura yang tengah meneguk air putih dan menghabiskannya tanpa tersisa. Hingga ia kini merasa lega karena Laura tidak menghantamkan gelas itu pada kepala dan menaruh kembali di atas meja.
__ADS_1
"Untuk saat ini lupakan harapanmu itu karena aku tidak sedang berniat untuk membalas budi. Aku sekarang masih fokus menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan orang tuaku dan juga menghancurkan Christian dan istrinya."
Laura awalnya hanya mengincar Christian karena menipunya, karena pria itu melakukan untuk istrinya, sehingga tidak bisa menutup mata pada wanita itu. Apalagi ia berpikir bahwa wanita yang diketahui bernama Ana itu Tengah merawat putranya dan merebut posisi ibu darinya.
Jadi, berpikir untuk sekaligus menghancurkan pasangan suami istri tersebut tanpa memperdulikan apapun dan merebut putranya dari mereka.
"Setelah rencanaku berhasil dan berhasil merebut putraku dari mereka, baru aku akan memikirkan balas budi yang kamu maksudkan itu." Ia sebenarnya merasa risi ketika Mario masih memanggilnya Laura dan selalu mengingatkannya pada hubungan dengan Christian.
Jadi, kali ini memilih untuk mengungkapkan hal yang membuatnya merasa tersiksa selama setahun belakangan ini. "Saat nama Laura kembali disebut, yang terngiang di telingaku adalah panggilan si berengsek itu."
"Jadi, aku semakin tidak bisa melupakan Christian jika kamu tetap memanggilku seperti itu. Tolong Jangan pernah lagi menyebut nama itu agar aku bisa sepenuhnya melupakan kenangan buruk di masa lalu!" Kali ini Laura lebih tegas mengungkapkan alasannya agar Mario tidak lagi memanggil nama yang ingin dikuburnya dalam-dalam.
Meskipun nama itu adalah kesayangan dari orang tuanya, ia tetap ingin menghilangkan itu untuk memulai hidup baru. Hidup tanpa bayang-bayang masa lalu dan membuatnya harus berakhir menjadi istri terbuang dan ibu tidak berguna.
Mario seketika menelan kasar saliva begitu mendapatkan tatapan tajam menghunus dari Laura. Akhirnya ia tidak ingin menjadi seorang pria yang menyakiti wanita yang dicintai dan mengangguk perlahan.
"Maafkan aku. Baiklah. Mulai Hari ini aku tidak akan pernah memanggilmu itu lagi. Aku akan memanggil Anastasya mulai sekarang agar bisa melupakan si berengsek kamu pikirkan." Mario kini berniat untuk pergi dari ruangan kerja itu karena hari sudah larut.
"Beristirahatlah agar besok bisa segar dan beraktivitas lebih semangat." Ia yang berniat berjalan menuju ke arah pintu keluar, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara wanita yang kini berjalan mendekat.
"Tunggu! Aku belum mengatakan hal yang penting bahwa besok akan pergi ke perusahaan Prameswari group untuk memberikan sebuah kejutan kecil atau shock terapi untuk paman serta sepupuku. Jadi, aku butuh bantuanmu sebagai bodyguard agar tidak ada yang berani menyentuhku."
Ia memang tidak ingin membawa banyak orang untuk melindunginya karena berpikir jika itu hanyalah dilakukan oleh orang-orang pengecut. Jadi, berpikir akan menyuruh Mario untuk menemaninya dan percaya jika pria itu selalu melindunginya.
Mario memang sudah mengetahui rencana wanita di hadapannya itu, tapi tidak menyangka akan secepat ini dan langsung menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
"Oke, Tuan putri. Anggap semuanya beres karena aku ingin melihat Bagaimana seorang Anastasia menghancurkan para kecoa yang menghalangi jalannya." Mario kembali melihat senyuman di bibir sensual berwarna merah jambu tersebut dan membuatnya makin terpesona.
"Astaga, kau menyebut para pengkhianat itu para kecoak. Sepertinya sebutan itu memang sangat cocok untuk mereka karena kecoa hanya pantas berada di tempat kotor seperti sifat mereka yang sangat menjijikkan karena berkhianat pada saudara sendiri," sarkasnya dengan wajah memerah yang dipenuhi oleh kilatan amarah.
Mario yang mendukung sepenuhnya perbuatan Laura karena ikut merasa kesal serta marah pada orang-orang jahat itu yang tega menyakiti wanita polos.
"Kita akan mengembalikan para kecoak itu ke tempatnya, yaitu di tempat yang kotor seperti yang dilakukan mereka ketika melakukan hal-hal yang kotor," ujar Mario yang kini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya.
"Memangnya jam berapa kita akan datang ke perusahaan Prameswari Grup?"
"Jam 10 karena itu adalah waktu di mana meeting para pemegang saham dilakukan untuk membahas mengenai masalah keuntungan. Anastasya akan keluar menunjukkan diri sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaan Prameswari Grup."
Senyuman mengembang kini tampak jelas dari sudut bibir Laura ketika membayangkan jika besok akan menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang telah berkhianat.
"Semoga pamanmu tidak mengalami stroke begitu melihat kamu kembali sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaan." Mario ingin makin membuat Laura bersemangat di hari pertama menginjakkan kaki di perusahaan orang tuanya.
Laura yang kini hanya terkekeh menanggapi, sudah membayangkan jika itu benar-benar terjadi. "Aku akan langsung bertepuk tangan untuk mengucapkan selamat sekaligus berduka cita."
__ADS_1
To be continued...