
"Tidak menerima perjodohan orang tua bukanlah menjadi sebuah alasan untuk mengejek anak tidak tahu di untung, Pa!" sarkas Andika Syaputra yang saat ini sama sekali tidak merasa tersinggung ataupun kesal pada perkataan dari sang ayah.
Hanya saja ia memang tidak tertarik untuk menikah saat sesuatu yang masih belum selesai dirasakannya.
Sementara itu, Rendi Syaputra saat ini menatap tajam ke arah sosok putranya. "Apa kau sama sekali tidak berniat untuk menikah? Papa bahkan sudah tua dan sampai sekarang belum menimang cucu. Bagaimana jika Papa mati sebelum melihatmu menikah?"
"Papa akan panjang umur karena punya banyak dosa. Justru orang yang baik dan jarang melakukan dosa, biasanya selalu berumur pendek. Jadi, jangan bicara melantur!" Kemudian Andika yang malas berdebat dengan sang ayah, seketika berjalan menuju ke arah kemudi dan langsung masuk ke dalam.
Ia seketika menyalakan mesin mobil agar bisa segera kabur dari hadapan pria yang selalu saja mengomel seperti seorang wanita dan membuat telinganya terasa panas.
Sementara itu, Rendi Syaputra yang Bahkan masih belum selesai berbicara dengan putranya, tapi malah sudah ditinggal pergi, tentu saja membuatnya merasa sangat marah. Namun, selalu saja tidak bisa bersikap keras pada putranya karena hanya satu-satunya yang dimiliki.
"Anak itu kapan sadarnya! Bisa-bisanya dengan santainya mengatakan ayahnya sendiri banyak dosa." Ia bahkan saat ini memijat pelipis karena selalu saja merasa pusing ketika berbicara dengan putranya yang tidak pernah serius menanggapi apapun yang dikatakan olehnya.
"Jika kau benar-benar melihat Papa mati, apa masih bisa berbicara sesantai itu?" Ia yang saat ini masih berdiri di tempatnya, hanya bisa mengembuskan napas kasar menghadapi putranya yang selengek'an.
Merasa sangat kesal memikirkan putranya yang tidak bisa diatur, ia kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lobi dan langsung masuk lift menuju ke ruang kerjanya.
Beberapa saat kemudian, ia melangkah menuju ke arah ruang kerja setelah keluar dari lift. Namun, mendengar sesuatu dari ruang pantry khusus di lantai tempatnya bekerja. Ia yang mendengar suara bariton dari sana, ingin mengetahui apakah benar yang saat ini dipikirkan.
Ia mendengar suara dari Vincent yang tengah berbicara di telepon saat berada di ruang pantry. Ingin tahu pengawalnya itu berbicara dengan siapa dan membicarakan apa, sehingga berdiri di dekat pintu.
"Saya akan memikirkannya dan belum bisa mengambil keputusan sekarang!" ucap Vincent yang tadi berniat untuk membuat kopi karena merasa sangat mengantuk saat tidak ada pekerjaan, mendapatkan telepon dari Laura.
Ia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya karena akan berbahaya jika ada yang mendengar. Meskipun mengetahui bahwa saat ini tidak ada orang di lantai tempat bosnya berada karena sedang pergi melayat dan tidak mengajaknya, tetap saja merasa tidak nyaman.
"Aku harus menghancurkan orang-orang jahat di perusahaan dan membuat orang tuaku tenang dengan menghukum mereka. Aku tahu jika kau sudah lama bekerja dengan pria tua bangka itu, tapi apakah akan menutup mata melihat kejahatan yang dilakukan oleh bosmu, mentang-mentang memberikan gaji besar?" Laura yang tadi sudah menyusun rencana untuk segera membuat laporan di kepolisian mengenai kejahatan dari pamannya, berusaha untuk mendapatkan beberapa saksi.
Jadi, saat nanti dibutuhkan suatu waktu, ia sudah tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan dan perlu kesediaan dari orang yang ia percaya bisa menjadi saksi di pengadilan.
Apalagi mengetahui bahwa Vincent sempat mendengar pembicaraan dari pamannya mengenai rencana untuk membunuhnya jika tidak setuju mengembalikan posisi Andika Syaputra sebagai CEO perusahaan.
"Kamu harus mau dan tidak ada kata penolakan!" ucap Laura dari seberang telepon karena mengetahui jika Vincent sebenarnya adalah seorang pria yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan seperti membunuh orang lain karena pamannya menyuruh orang khusus yang melakukan itu.
__ADS_1
Namun, ia sampai sekarang belum menemukan orang yang dulu disuruh untuk membunuh orang tuanya selayaknya mendapatkan kecelakaan. Jadi, sedikit susah untuk langsung menang di pengadilan.
Ia berniat untuk mencari tahu siapa orang suruhan pria yang menyebabkan orang tuanya kecelakaan. "Seandainya kok bisa membantuku untuk mencari tahu orang suruhan pria tua bangka itu yang menyebabkan kecelakaan orang tuaku."
Vincent saat ini mendengar nada putus asa dari wanita yang diam-diam ia sukai, merasa iba karena berpikir jika Laura merasakan luka yang sangat dalam saat membahas tentang orang tuanya yang dibunuh oleh paman sendiri.
"Aku tidak janji, tapi akan mengusahakannya. Baiklah. Aku kembali bekerja dulu," ucap Vincent yang saat ini tengah mengaduk kopi yang baru saja diseduh begitu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapan dari Laura.
Ia sebenarnya benar-benar tidak suka jika Laura menghubunginya ketika jam kerja di perusahaan pernah menganggap jika itu sama dengan bunuh diri. Jadi, tadi hanya menjawab sekilas karena tidak ingin ada yang mendengar.
'Seperti kata tuan Rendy jika dinding di perusahaan mempunyai telinga. Aku benar-benar harus berhati-hati dan tidak ceroboh dalam menghadapi semua hal yang berhubungan dengan anak Laura,' gumam Vincent yang saat ini tengah menatap ke arah kopi yang baru saja diseduh dan mengeluarkan asap mengepul di udara.
"Harum kopi selalu seperti aromaterapi yang membuat tenang dan menghilangkan rasa capek di badan. Nikmatnya lagi bisa menghilangkan rasa kantuk luar biasa yang kurasakan karena tidak ada pekerjaan di kantor."
Ia yang berniat untuk menyeruput kopi dengan terlebih dulu meniupnya, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara bariton dari atasannya yang baru saja masuk ke dalam ruangan pantry.
"Jadi, kau tidak suka dibebaskan hari ini karena aku pergi dengan putraku tanpamu?" tanya Rendi Syaputra yang saat ini merasa penasaran dengan siapa Vincent berbicara.
"Tuan mau kopi?" Vincent yang saat ini berpikir jika pria di hadapannya tersebut mendengar pembicaraannya tadi dengan Laura, sehingga mengalihkan kegugupannya.
"Boleh," sahut Rendy yang saat ini melihat silat belakang pria dengan bahu lebar tersebut tengah membuat kopi.
'Sebenarnya dia tadi berbicara dengan siapa? Apa dia mempunyai seorang kekasih yang tidak ku ketahui? Padahal aku sudah bilang agar jangan berhubungan dengan wanita karena hanya akan menjadi penghancur bagi seorang pria,' gumamnya ya saat ini masih menunggu kopi untuknya selesai dibuat.
Sementara itu, Vincent yang saat ini berpikir jika bosnya tersebut mendengar pembicaraannya beberapa saat lalu, sehingga saat ini membuatnya mencoba untuk menormalkan perasaan yang gelisah.
'Jika tuan bertanya dengan siapa aku berbicara di telepon, aku harus mencari jawaban paling tepat dan tidak membuatnya merasa curiga,' gumam Vincent yang saat ini sedikit merasa tenang karena kontak Laura ia beri nama seorang pria, yaitu teman lama.
Sampai pada akhirnya ia berbalik badan setelah berhasil menyelesaikan kopi untuk bosnya tersebut yang ingin dihancurkan oleh keponakan sendiri karena melakukan kejahatan pada orang tuanya.
Ia kini menaruh cangkir berisi kopi hitam tersebut ke hadapan bosnya. "Silakan, Tuan."
Rendi Syaputra yang lebih suka menyeruput kopi begitu dibuat dengan menuangkan ke tatakan dan meniup sesekali sebelum diminum. Ia kita akan melakukannya sampai kopi di gelas habis.
__ADS_1
"Kopi buatan memang sangat nikmat dan berbeda dari orang lain. Itulah mengapa aku tidak mengizinkan orang lain membuatkan kopi kecuali dirimu." Rendi jebakan kini melihat kopi milik Vincent masih belum diseruput sama sekali.
"Anda terlalu memuji, Tuan." Vincent saat ini menunggu pria di hadapannya mengatakan sesuatu. Bahkan perasaannya tidak karuan karena khawatir akan diinterogasi.
"Minumlah karena jika dingin tidak nikmat. Ada suatu yang ingin ku bicarakan denganmu, tapi nikmati dulu itu karena punyaku saja sudah habis." Rendi mengibaskan tangannya agar Vincent melakukan perintahnya.
Tidak ingin membuat bosnya tersebut merasa tidak enak, sehingga melakukan perintah dan menghabiskan kopi miliknya yang sudah tidak terlalu panas. Beberapa saat kemudian, ia yang merasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan, sehingga seketika membuka suara.
"Iya, Bos. Ada apa? Katakan saja apa yang harus saya lakukan."
Rendi yang tadi berbicara dengan putranya, merasa curiga ada sesuatu yang terjadi dan tidak diketahuinya. Jadi, ingin menyuruh pria di hadapannya tersebut mencari tahu.
"Kenapa aku berpikir jika putraku tidak mau menikah ataupun dekat dengan wanita lain karena dia sedang menunggu seseorang? Aku ingin kau mencari tahu itu. Apakah benar apa yang kupikirkan tentang putraku." Rendi bahkan merasa khawatir jika ia mati dalam waktu dekat ini karena sering merasa sesak dan berpikir itu adalah jantungnya bermasalah.
Namun, ia tidak berniat untuk memeriksakan diri ke dokter karena khawatir hanya akan berakhir di rumah sakit dan tidak bisa leluasa berbuat apapun seperti sekarang.
Vincent yang sebenarnya mengetahui sesuatu karena dulu pernah sekali putra dari bosnya tersebut meracau saat mabuk. Namun, ia tidak pernah mengatakan apapun pada siapapun dan disimpan hanya untuk diri sendiri.
Kini, ia menatap ke arah bosnya tersebut dan mulai membuka suara untuk menjelaskan apa yang diketahui tentang Andika Syaputra.
"Dulu saya ditelepon ketika tuan mabuk-mabukan di klub dan mengantarkannya pulang. Saat saya mengemudi dan Tuan duduk di sebelah kiri, mendengar tuan meracau dengan menyebutkan nama seorang perempuan. Bahkan juga menyebutkan binti nama bapaknya. Aneh, tapi memang itu yang terjadi."
Saat Rendy juga merasa sangat aneh, kini merasa penasaran dengan siapa nama wanita yang membuat putranya tidak tertarik menikah sampai saat ini. "Siapa nama wanita itu? Siapa tahu bisa pramukanya dan memaksanya untuk menerima putraku."
"Memangnya apa hebatnya wanita itu hingga menolak putraku?" geram Rendi Syaputra jika saat ini makin penasaran dengan siapa sosok wanita yang membuat putranya tergila-gila.
Vincent saat ini membenarkan kegeraman dari bosnya tersebut pada wanita yang sepertinya menolak Andika Syaputra ia bahkan memiliki segalanya yang diimpikan oleh semua kaum hawa.
"Saya mengingat jika namanya adalah Cleopatra binti Jauhari. Namanya benar-benar luar biasa dan membuat saya tidak pernah lupa," ucap Vincent yang saat ini merasa aneh ketika melihat sosok pria di hadapannya seperti sangat terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan.
Sementara itu, Rendi yang saat ini membulatkan mata karena ia tahu siapa gadis yang disukai oleh putranya. 'Tidak mungkin! Dia adalah putri dari pria yang kusuruh untuk membuat mobil kakakku dan istrinya kecelakaan. Dari mana putraku mengenal putri dari pria itu?'
To be continued...
__ADS_1