
"Jangan berbuat gila di sini! Ini rumah sakit!" seru Laura yang kini baru saja mendorong dada bidang pria dengan tatapan parau di hadapannya tersebut.
Karena merasa sangat bergairah, tapi tidak bisa berbuat apapun, kini Christian langsung mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga sosok wanita yang ada di hadapannya.
"Sayang, aku sudah sangat bergairah. Sampai rumah, kita lanjutkan, ya. Kita sudah menikah, tapi belum melakukannya. Jadi, hari ini adalah malam pertama kita." Christian kemudian menarik diri untuk bisa melihat sosok wanita yang kini memerah wajahnya dan membuatnya tahu jika sang istri tengah malu.
Sementara itu, Laura yang merasa tubuhnya seketika menghangat karena mendapatkan sebuah bisikan dengan kalimat nakal. Hingga ia pun seketika mencubit pinggang sang suami untuk menghilangkan kegugupannya.
"Jangan bicara tentang itu. Dipikirkan nanti saja." Laura kini melihat sosok perawat yang membawa kursi roda baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan dan seketika membuatnya merasa lega.
'Selamat. Perawat itu menyelamatkan aku dari kenakalan suami. Aku benar-benar sangat malu dan gugup saat membayangkan malam pertama,' gumam Laura yang tersenyum pada sang perawat.
"Selamat siang, Nona. Apa semuanya sudah siap?" tanya sang perawat yang bertugas untuk membantu pasien pulang.
Saat Laura hendak menjawab, mengurungkan niat kala sang suami membuka suara.
"Sudah, Suster. Saya baru selesai berkemas dan mobil sudah siap di belakang." Christian memang menyuruh Vicky mengurus pembelian mobil baru dan hari ini membawa supir.
Ia butuh mobil untuk perjalanan, sehingga membeli yang baru karena tidak mungkin membawa mobil dari Jakarta. Itu akan membuat Ana Maria merasa curiga.
"Baiklah. Kalau begitu saya antarkan ke belakang sekarang." Sang perawat beralih menatap ke arah pasien. "Silakan duduk di kursi roda, Nona."
Laura kini langsung turun dari ranjang perawatan yang sudah dua minggu lebih menjadi saksi dari perjuangannya berjuang. Kini, ia merasa sangat lega sekaligus senang karena akhirnya bisa pulang ke rumah.
"Terima kasih, Suster." Duduk di kursi roda dan berpikir bahwa itu sebenarnya berlebihan karena ia bisa jalan.
Namun, karena ingin menghargai perawat, sehingga memilih patuh dan keluar dari ruangan dengan naik ke kursi roda.
Sementara Christian yang berjalan mengekor di belakang dari tadi tidak berkedip menatap siluet sang istri dan sudah membayangkan banyak hal mengenai perbuatan intim mereka nanti saat di rumah.
'Tunggu saja nanti. Aku akan membuatnya merasa beruntung menjadi wanitaku,' gumam Christian yang kini tersenyum smirk.
Begitu tiba di belakang area Rumah Sakit, yaitu lokasi penjemputan, kini Christian memasukkan barang-barang ke dalam bagasi setelah sang supir membukanya.
"Terima kasih atas semuanya, Suster," ucap Laura yang baru saja bangkit berdiri dari kursi roda dan sebelum masuk ke dalam mobil, ia menatap ke arah sang suster.
__ADS_1
"Iya, Nona. Semoga Anda selalu sehat dan tidak pernah kembali lagi setelah kontrol," sahut sang perawat yang kini tersenyum menanggapi salam perpisahan dari pasien.
Laura dan Christian seketika bersamaan mengucapkan aamiin dan kini saling bersitatap sambil tersenyum.
"Wah ... kompak sekali. Itu adalah hebatnya pasangan suami istri yang bisa kompak dan memilki pemikiran atau firasat yang sama."
"Hati-hati di perjalanan, saya akan kembali." Sang perawat pun tersenyum simpul dan meninggalkan pasangan suami istri yang menurutnya sangat serasi dan romantis.
Apalagi ia tahu jika perjuangan seorang suami saat merawat istrinya sungguh luar biasa dan membuatnya merasa kagum.
Sementara di sisi lain, Christian menyuruh Laura segera masuk ke dalam mobil karena ingin segera tiba di rumah barunya. Bahkan hanya menatap Laura saja sudah membuat wajahnya memanas karena terbakar gairah.
'Sial! Rasanya dari tadi sesak dan ingin segera keluar dari sarang,' umpat Christian yang kini langsung menutup pintu kala Laura patuh pada perintahnya.
Ia pun berjalan memutar dan masuk lewat pintu sebelah kiri. Kemudian duduk di sebelah sosok wanita yang malah terlihat diam itu. "Jalan, Pak!"
"Baik, Tuan," sahut sang supir yang kini menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan keluar dari area Rumah Sakit.
Mobil berwarna hitam itu kini melaju membelah jalanan kota yang terkenal dengan sebutan kota kembang itu.
Refleks Christian bergerak untuk semakin mendekat dan ingin memeluk erat sosok wanita di sebelahnya tersebut.
"Sayang."
"Ehm ...." Laura yang sebenarnya tengah sibuk menormalkan perasaan kala berada di pelukan sang suami selalu membuat jantungnya seperti mau terlepas dari tempatnya saat ini. Akhirnya hanya bisa menjawab singkat.
Christian yang kini masih sibuk mengusap punggung tangan dengan jemari lentik itu, menyampaikan sesuatu yang ada di pikirannya.
"Papa dan mamaku ada di luar negeri dan belum bisa menjengukmu selama di rumah sakit. Tapi mereka ingin berbicara denganmu di telpon. Apa kamu mau berbicara dengan mereka nanti?" tanya Christian yang pagi ini mendapatkan sebuah kabar jika orang tuanya telah tiba di New York.
Orang tuanya sangat senang begitu mengetahui ia memutuskan untuk menikah lagi dan ingin bisa berbicara dengan menantu yang menjadi satu-satunya harapan bagi keluarga Raphael.
Laura yang sebenarnya selama ini sibuk bertanya mengenai mertua, tapi tidak berani mengungkapkan, sehingga seketika berbinar begitu bisa mendapatkan sebuah pencerahan.
"Tidak apa-apa. Aku malah senang jika mereka ingin berbicara denganku. Aku pun ingin menyapa mereka, meskipun tidak bisa mengingat apapun di masa lalu." Laura bahkan sudah tidak sabar untuk berbicara dengan mertua, sehingga dari tadi sudut bibirnya melengkung ke atas karena senang.
__ADS_1
Christian kini merasa sangat lega karena Laura tidak merasa asing atau pun malu hanya karena amnesia. "Kalau begitu, aku akan menelpon mereka setelah tiba di rumah saja."
Ia tidak ingin berbicara saat berada di dalam mobil karena berpikir sangat tidak nyaman. Kini, makin mengeratkan pelukannya dan sama sekali tidak mau membahas mengenai malam pertama karena sang istri jelas-jelas terlihat malu.
Setengah jam kemudian, mobil mewah yang membawa Christian dan Laura telah memasuki Area pelataran rumah yang terlihat sangat asri karena ada banyak bunga bermekaran di halaman.
Christian turun terlebih dahulu dan membuatnya membukakan pintu untuk Laura. "Silakan, Tuan putri."
"Iiish ... aku bukan tuan putri." Laura hanya terkekeh geli mendengar panggilan yang dianggap sangat konyol.
Hingga wajahnya seketika berubah berbinar kala indra penglihatan dimanjakan warna-warni bunga yang tengah bermekaran.
"Cantiknya." Berjalan mendekati bunga-bunga yang diantaranya adalah mawar, Kamboja, Bougenville, anggrek dan beberapa yang lain.
Christian kini menerima kunci mobil dan sang supir pamit pergi. Hingga ia bisa mendengar suara dari sang istri yang terlihat sangat bahagia. Ia hanya diam memperhatikan siluet sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut meluapkan kebahagiaan.
'Bahkan sangat mudah membuat Laura senang. Ternyata ia pecinta bunga seperti mama. Pasti mama senang mendengarnya,' gumam Christian yang kini berjalan menuju ke pintu utama dan membuka pintunya setelah mengambil kunci di bawah pot bunga.
Ia berniat untuk menaruh barang-barang ke dalam kamar terlebih dahulu dan berpikir jika Laura akan lama melihat bunga-bunga itu.
Beberapa menit kemudian, Laura yang sudah puas melihat warna-warni bunga, kini berbalik badan dan berjalan memasuki pintu utama. Sejauh mata memandang, segala interior rumah membuatnya tercengang karena jauh lebih cantik dilihat langsung daripada di video.
"Rumah kami sangat indah dan nyaman." Laura kini menatap ke arah anak tangga dan berpikir jika Christian ada di lantai dua, sehingga naik ke atas.
Hingga ia pun melihat sang suami baru saja keluar dari ruangan. "Apa itu adalah kamar kita?"
Christian yang tadi baru saja membereskan pakaian miliknya dan Laura, berniat untuk menyusul ke depan. Namun, ia tidak jadi melakukannya karena senang melihat Laura berjalan masuk ke dalam perangkapnya.
"Iya, Sayang. Ini adalah kamar kita. Masuklah!" Membuka pintu dan menunggu hingga Laura masuk ke dalam untuk melihat ruangan pribadi yang akan menjadi tempat mereka memadu kasih nanti dan hari-hari berikutnya.
Sementara itu, Laura yang sebenarnya merasa gugup, kini mencoba untuk menormalkan perasaannya agar tidak menghilangkan pemikiran yang negatif.
'Suamiku tidak akan langsung menyerangku saat masuk ke dalam ruangan kamar, bukan?' gumam Laura yang kini bisa merasakan sejuknya AC menusuk pori-pori kulitnya.
"Kenapa AC dinyalakan?" Akhirnya hanya itu kata yang membuatnya membuka suara.
__ADS_1
"Agar kita nyaman saat bercinta nanti, Sayang." Christian kini berjalan mendekat dan memeluk erat tubuh Laura dari belakang.
To be continued...