
"Kamu seperti seorang ahli ceramah saja, tapi semua yang kamu katakan itu memang benar dan harus kulakukan. Aku memang tidak boleh menyerah dan harus optimis bahwa operasi akan berjalan lancar dan penyakitku hilang," ujar Ana yang saat ini kembali merasakan kenyeriaan di bagian bawah tubuhnya.
Ia memilih untuk menenangkan pikiran dan juga mengambil napas teratur seperti anjuran dari dokter tadi ketika rasa sakit mulai menyerang karena efek dari obat sudah perlahan menghilang.
"Apa yang ada rasakan, Nona?" Vicky seketika bangkit berdiri begitu melihat raut wajah istri dari bosnya tersebut berubah seperti menahan kesakitan.
"Biar saya panggilkan dokter!" Vicky yang merasa khawatir pada keadaan dari bosnya tersebut, berniat untuk berlari keluar, tapi tidak bisa melakukannya saat pergelangan tangannya ditahan oleh wanita yang masih berbaring di atas ranjang perawatan tersebut.
"Tunggu! Tidak perlu memanggil perawat ataupun dokter karena mereka pasti akan datang saat jam tiba untuk memberikan obat yang disuntikkan ke dalam infus." Ana yang berbicara sangat lirih sambil menahan rasa sakit yang membuat peluhnya bercucuran, kini berniat untuk menyuruh Vicky duduk kembali.
Namun, seolah tenaganya habis untuk sekedar berbicara dan akhirnya hanya diam saja. Tapi tiba-tiba melihat Vicky yang entah kapan mengambil sapu tangan, kini membersihkan peluh di wajahnya.
"Anda pasti sangat kesakitan, Nona Ana, sehingga bisa berpeluh sebanyak ini." Vicky yang sangat tidak tega melihat wajah penuh dengan peluh itu, kini langsung bergerak untuk menghapusnya.
Bahkan sama sekali tidak ada pemikiran apapun karena hanya merasa iba pada nasib wanita yang selalu tampil anggun dan sempurna itu.
Sementara itu, Ana yang tadinya menahan pergelangan tangan Vicky agar tidak pergi, langsung melepaskannya dan sama sekali tidak menyangka saat pria itu malah kini fokus membersihkan peluh di wajahnya.
__ADS_1
Kini, ia hanya terdiam dan membiarkan apa yang dilakukan oleh Vicky karena masih merasakan nyeri pada bagian bawah tubuhnya. Hingga ia melihat pria yang masih berdiri di hadapannya tersebut sudah selesai melakukan tugasnya tanpa disuruh.
"Vicky, kenapa kamu sampai sekarang tidak kunjung menikah?" Entah mengapa ia bisa berbicara seperti itu karena ingin mencari tahu mengenai kehidupan pria yang selalu diandalkan oleh sang suami.
Vicky saat ini kembali memasukkan sapu tangan ke saku celananya dan mengembuskan napas karena kembali mendapatkan pertanyaan yang sama berulang kali. "Pertanyaan Anda sama persis seperti yang ditanyakan tuan Christian pada saya, Nona Ana."
"Bahkan ada banyak orang yang pernah menanyakan itu dan membuat saya bingung menjawab. Apakah saya harus menjawab belum mendapatkan jodoh ataukah mengatakan belum ada yang beruntung mendapatkan saya, bukankah itu sangat klise dan lebay?" Kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi setelah melihat Ana tidak lagi terlihat menahan kesakitan.
Ana seketika tertawa karena jawaban dari Vicky membuatnya terhibur dikala gugup memikirkan operasi nanti malam. Ia saat ini masih menatap ke arah sosok pria yang terlihat sangat santai dan dingin tersebut. "Sepertinya belum ada yang beruntung sebaik dirimu mendapatkan pria sebaik dirimu."
"Itu sangat cocok untuk menjadi tamparan bagi orang-orang yang bertanya padamu karena baru kali ini aku mendengar jawaban secantik itu," ucap Ana yang terkekeh geli mengingat ekspresi wajah Vicky tadi ketika menjawabnya.
"Ya, saya akan menjawab seperti itu saja nanti jika ada yang bertanya lagi mengenai kapan nikah atau kenapa tidak kunjung menikah?" Ia yang baru saja menutup mulut, merasa bingung dengan pertanyaan selanjutnya yang baru saja diungkapkan oleh bosnya tersebut.
"Memangnya tipe wanita seperti apa yang kamu sukai? Aku benar-benar penasaran dan ingin tahu." Ana benar-benar merasa sangat bosan harus beristirahat di dalam ruangan kamar perawatan, jadi memilih untuk menghilangkan kebosanan dengan berbincang.
Padahal dari dulu bukanlah tipe wanita yang ingin tahu dengan urusan pribadi orang lain, tapi karena bosan dan tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini, sehingga mencari tahu tentang hal-hal yang tidak diketahui dari Vicky.
__ADS_1
Berbeda dengan Vicky yang saat ini tengah kebingungan untuk menjawab karena jujur saja dari dulu sangat mengagumi wanita di hadapannya tersebut dan bermimpi bisa memiliki seorang pendamping hidup seperti istri bosnya itu.
Namun, tidak mungkin berbicara jujur seperti itu dan kini mengarang cerita agar dipercaya. "Bagi saya, menikah itu poin utamanya adalah komunikasi hal apapun harus selalu dibahas bersama, bukan. Jadi, saya ingin mempunyai seorang istri yang bisa membuat nyaman ketika berkomunikasi."
"Menikah adalah menjalani hidup bersama dengan satu orang seumur hidup dan harus ada rasa nyaman yang mendasarinya karena cinta terkadang bisa pupus seiring waktu. Kecantikan dan seksi juga bisa berubah." Ia yang baru saja menutup mulut, seketika merasa bersalah ketika indra pendengaran menangkap suara lirih wanita dengan wajah pucat pasi itu.
"Seperti cinta suamiku padaku yang berubah karena diam-diam menikah lagi tanpa sepengetahuanku." Ana saat ini mengingat sosok wanita yang menjadi ibu kandung yang telah melahirkan Valerio.
Kini, ia menatap tajam asisten pribadi sang suami dan membuatnya kembali bertanya. "Apakah kamu mengetahui keberadaan wanita bernama Laura itu? Jujurlah padaku dengan bersumpah atas nama ibumu," ucap Ana yang saat ini ingin mengetahui apa ada yang disembunyikan pria di hadapannya tersebut.
Sementara itu, Vicky seketika menelan saliva dengan kasar dan cukup jantung berdebar tidak karuan karena ditantang oleh Ana.
'Dasar bodoh! Harusnya aku tidak melakukan kesalahan yang membuatku terjebak seperti ini. Aku sekarang seperti pepatah 'senjata makan tuan'." Vicky hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati karena tidak mungkin langsung mengungkapkan nada protes pada wanita itu.
Vicky saat ini memutar otak untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang baru saja diungkapkan oleh Ana karena tidak mungkin jujur dengan mengatakan jika Laura tengah berjuang di meja operasi setelah mendapatkan kemalangan.
"Sepertinya kamu tahu sesuatu dan menyembunyikannya dariku," sarkas Ana yang semakin merasa yakin akan kecurigaannya pada asisten pribadinya tersebut.
__ADS_1
"Nona, bukan seperti itu," ucap Vicky yang masih mencoba untuk berusaha mengelak agar tidak diberondong oleh berbagai macam tuduhan.
To be continued...