365 Days With You

365 Days With You
Mengambil keputusan


__ADS_3

Ana yang baru saja mendengarkan pesan detektif mengabarkan tentang keluarga yang ada di Jakarta benar-benar sangat bersedih kehilangan dirinya. Hingga ia tahu jika sang suami sampai pingsan dan juga putranya berada di rumah sakit karena demam tinggi sampai kejang.


Ia bahkan berurai air mata begitu mengetahui semua itu karena tadinya berpikir jika orang-orang akan merasa senang saat ia pergi untuk selamanya. Bahkan berpikir jika yang paling senang adalah sang suami karena akhirnya bisa menikah dengan Laura.


Namun, sekarang semuanya terbantahkan karena Christian benar-benar terpuruk karena kepergiannya. Bahkan merasa sangat menyesal dan selalu menyalahkan diri sendiri.


"Apa aku yakin jika mereka benar-benar kehilangan saat aku meninggal?" Ana sebenarnya masih belum yakin dengan apa yang didengarnya dan takut jika salah informasi.


Sampai suara bariton dari seberang telepon kembali menggema di telinganya saat ini dan membuatnya semakin terharu.


"Saya kita akan mendapatkan kabar secara langsung dari pelayan di rumah Anda, Nyonya. Pelayan itu tadinya juga sangat terpukul dan bersedih atas meninggalnya Anda dan saya berusaha menghibur. Hingga akhirnya menceritakan semua yang terjadi pada saya," ucap Boby Setiawan yang saat ini tengah mengirimkan beberapa foto dari suami wanita itu agar lebih terlihat meyakinkan.


Bahwa semua berdasarkan bukti dan bukan hanya omongan semata. Ia selalu bekerja dengan mencantumkan bukti-bukti akurat yang bisa membuat klien merasa yakin tanpa ragu sedikit pun atas informasi yang diberikannya.


"Saat ini, putra Anda yang dirawat di rumah sakit, ditemani oleh wanita itu yang akhirnya meminta untuk tinggal bersamanya. Bahkan mertua Anda tidak berkutik saat wanita itu meminta putranya untuk dirawat sendiri. Dengan alasan jika tuan Christian dan mertua Anda akan sibuk mengurus acara selama 7 hari di rumah "


Sang detektif bahkan tadi baru saja pulang ke rumah setelah ia memeriksa sendiri di rumah sakit untuk mencari informasi mengenai bocah laki-laki yang selama ini dirawat oleh kliennya.


Ia yang mengetahui duduk perkara dari masalah kliennya, sehingga sehingga dengan mudah mencari apapun dengan satu kali informasi.


Sementara itu, Ana masih menganggap bahwa apa yang baru saja didengarnya adalah sebuah hal tidak masuk akal. Ia bahkan merasa yakin jika sang suami akhirnya akan bersatu dengan Laura setelah wanita itu meminta hak untuk mengurus putranya.


"Terus kabari semua berita tentang mereka padaku. Sampai akhirnya mereka bersatu lagi dan hidup sebagai pasangan yang berbahagia," ucap Ana yang saat ini hendak mematikan sambungan telepon.


Namun, ia tidak jadi melakukannya karena sang detektif tiba-tiba berteriak seolah mengingat sesuatu yang terlupakan.


"Nona, tunggu!" panggil sang detektif yang saat ini ingin memastikan jika Anda masih belum mematikan sambungan telepon.


Ana yang saat ini mengerutkan kening karena berpikir jika ada sesuatu yang terlupakan. "Apa ada yang belum kau sampaikan padaku?"


"Ya, Nona. Ini bahkan jauh lebih penting, tapi malah saya lupa. Maaf." Sang detektif tadinya ingin membahas hal tersebut di paling akhir dan hampir saja terlupa.


"Apa?" Ana yang makin penasaran dan ingin segera mengetahui apa yang dimaksud oleh sang detektif.


"Ternyata, wanita itu saat ini menerima cinta asisten pribadinya yang bernama Mario. Bahkan semua orang juga sudah mengetahui karena mereka terlihat sangat bahagia seperti pasangan yang baru saja jatuh cinta. Awalnya saya merasa sangat terkejut dan tidak percaya, tapi setelah melihat secara langsung, mereka benar-benar tidak bersandiwara."


Saat detektif ingin mengetahui respon dari majikannya, terdiam selama beberapa saat karena masih menunggu wanita yang diketahuinya pasti masa sangat syok atas sesuatu yang tidak pernah disangka, malah terjadi.


Ana bahkan saat ini tidak bisa berkata-kata untuk sekedar berkomentar karena jujur saja sama sekali tidak pernah terpikirkan jika Laura akhirnya akan menerima cinta Mario saat ia sudah meninggal.


'Apa rencanamu sebenarnya, Laura? Bukankah tujuanmu datang ke Jakarta untuk menghancurkanku dan juga merebut Christian serta putramu dariku? Lalu, saat aku pergi, kenapa kau malah menerima cinta pria yang dari dulu tidak pernah kau anggap?' gumam Ana yang benar-benar dibingungkan oleh sikap seorang Laura.


Ia juga tidak menyangka jika sang suami sangat terpukul karena kematiannya. Padahal selama ini berpikir jika Christian akan lega setelah beberapa hari kemudian akhirnya bisa menjalin hubungan dengan Laura lagi.

__ADS_1


"Baiklah. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Rasanya aku sedang melihat film dengan plot twist dan sangat sulit ditebak endingnya. Kabarkan lagi jika nanti mendapatkan informasi lagi," seru Ana yang saat ini mematikan sambungan telepon karena ingin menenangkan pikirannya yang saat ini pusing.


Ia menaruh ponsel miliknya di atas laci dan terdiam sambil menatap ke arah pelayan yang terlihat sangat penasaran atas semua yang dikatakan oleh detektif.


"Bagaimana, Nona? Apa yang terjadi di Jakarta setelah Anda meninggal?" Sang pelayan yang tadinya sibuk berlatih merajut dan merasa pusing karena masih belum menguasainya, sehingga menghilangkan stress di pikiran dengan mengalihkan pertanyaan pada majikannya.


Ana sebenarnya sangat malas membahas tentang keluarga di Jakarta yang telah meninggalkan luka mendalam di hatinya, tapi informasi dari pisang detektif membuatnya ingin membahas dan meminta pendapat dari pelayanan tersebut.


Ia pun saat ini menceritakan semua yang dikatakan oleh detektif tadi. "Jadi, semuanya seperti itu, Bik. Apa menurut Bibik, wanita itu benar-benar sedang mencari hubungan dengan asistennya?"


"Kenapa rasanya sangat aneh karena semua terjadi saat aku sudah meninggal? Jika itu terjadi saat aku masih hidup, mungkin aku tidak akan seperti ini. Bahkan Christian terlihat sangat tidak bersemangat untuk hidup," ucapnya dengan menatap foto Christian saat pemakaman.


Wajah pucat kurang tidur terlihat jelas dan bisa dilihat banyak orang jika sang suami benar-benar kehilangan dirinya yang sudah meninggal. Ia bahkan dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya dari wajah sang suami yang sangat muram penuh kesedihan.


Saat merasa jika ia berbicara terlalu jauh dengan sang majikan karena dari tadi duduk di sofa untuk mencari tempat ternyaman. Hingga ia bangkit berdiri dan mendekati sosok wanita yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Nona, jika tebakan Anda salah dan tuan Christian tidak menikah dengan nona Laura, apakah Anda akan kembali dengan suami jika nanti sembuh total?" Sebenarnya ia dari dulu selalu menganggap jika sama jika adalah pasangan suami istri romantis.


Bahkan menurutnya sangat serasi dan selalu membuat siapapun iri dengan kebahagiaan yang dimiliki. Namun, begitu mengetahui jika semua yang terlihat sempurna di mata orang belum tentu baik di mata sendiri, sehingga menyadari jika semua yang ada di dunia tidak ada yang sempurna.


Bahwa meskipun berusaha untuk membuat sempurna, tidak akan pernah bisa karena hanyalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan di mata Tuhan


Ruangan perawatan yang saat ini menjadi tempat Ana dirawat, seketika berubah penuh keheningan karena dua wanita itu sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Ana yang bahkan tidak tahu jawaban atas pertanyaan dari pelayannya masih diam dan ia saat ini belum bisa berpikir sampai ke arah sana. Ia hanya ingin fokus pada kesembuhannya agar bisa melanjutkan kehidupannya yang entah akan seperti apa.


Sang pelayan yang saat ini merasa bersalah karena terkesan seperti memojokkan majikannya agar menjawab, kini tidak lagi berani membahas karena khawatir akan membuat kesehatan dari majikannya tersebut drop.


"Maaf, Nona. Saya sekarang juga akan fokus membuat sarung tangan untuk Anda. Semoga bisa jadi," ucap wanita yang kini menatap ke arah buku di tangan majikannya. "Sepertinya Anda sangat suka dengan bukunya karena dari tadi tidak berhenti membaca."


Sementara ia dari dulu tidak suka membaca dan merasa kagum pada sang majikan yang lebih suka membaca daripada bermain ponsel. Bahkan dari tadi ponsel berada di atas lagi dan hanya digunakan untuk menerima telepon dari sang detektif.


Ia pun berdiri dari kursi dan berniat untuk kembali ke sofa agar majikannya bisa berkonsentrasi membaca lagi. Hingga ia menyadari jika sang majikan saat ini seperti mendapatkan sebuah penghiburan hanya dengan membaca buku yang berjudul filosofi cinta tersebut.


"Nanti Bibik Coba baca saja tiap rangkaian kalimatnya yang sangat menyentuh kalbu dan menenangkan hati. Aku sangat mengagumi penulis buku ini dan jika ada di hadapanku, benar-benar akan memeluknya karena sudah membuat hatiku yang telah mati serasa kembali hidup."


Ia pun kali ini menunjukkan kalimat yang sangat disukai. "Aku sangat menyukai bagian ini."


Saat sang pelayan ikut membaca yang ditunjukkan oleh majikan, di saat bersamaan mendengar suara perutnya yang keroncongan karena dari tadi belum makan.


Tadi sang sopir membelikan makanan untuknya, tapi belum dimakan. "Nona, saya makan dulu karena dari tadi belum makan. Sayang, makanannya sudah dingin."


Ana saat ini hanya menganggukkan kepala dan kembali fokus pada buku di tangannya. Ketika buku yang dibacanya itu ada beberapa bagian yang sama persis dengan kisah perjalanan hidupnya dengan Christian, ia seperti tengah mengenang momen-momen bahagia yang dulu dilalui.

__ADS_1


Hingga saat ini kembali mengingat foto yang dikirimkan oleh detektif ketika sang suami terlihat sangat suram wajahnya dan terpuruk ketika ia meninggal.


'Christian, apa kamu benar-benar bersedih saat aku meninggal? Apa kamu merasa bersalah atas meninggalnya aku? Lalu, apakah kamu akan melupakanku setelah waktu semakin lama berlalu?' Ia serasa ingin terbang ke masa depan agar mengetahui bagaimana seorang Christian menjalani hidup tanpanya.


'Apa yang sebenarnya terjadi padamu dan Laura? Kenapa Laura menerima cinta Mario saat aku meninggal? Kenapa malah tidak bersatu saat penghalang kalian sudah hilang?' gumam Ana yang saat ini masih sibuk dengan pemikirannya tentang suami.


Ketika ia masih bertanya-tanya tentang masa depan mengenai sang suami dan juga Laura, kini mendengar suara notifikasi ponselnya dan berpikir jika itu adalah pesan dari sang detektif.


Namun, saat membukanya, seketika sudah bibirnya terangkat ke atas karena saat ini melihat foto yang dikirimkan oleh sahabatnya ketika masih berada di Jepang.


Foto boneka yang bahkan sangat mirip dengan manusia aslinya. Ya, usah banyak itu membuat boneka diri sendiri dan seperti pinang dibelah dua karena sama persis.


"Dasar kurang kerjaan. Memangnya dia membuat itu untuk apa?" Ana saat ini merasa berterima kasih pada temannya karena membantu menyelesaikan permasalahan yang dialaminya.


Padahal dulu sama sekali tidak berpikir untuk membuat sebuah konspirasi besar dalam hidupnya. Ia awalnya berkeluh kesah pada sahabatnya dan mengungkapkan ide konyol.


Seandainya bisa membuat kematian diri sendiri seperti sesungguhnya, ingin melihat seperti apa orang-orang yang selama ini tidak menyukainya hanya gara-gara tidak bisa memiliki keturunan.


Ia pun saat ini mengirimkan pesan pada sahabatnya dengan mengucapkan terima kasih dan juga ingin selalu berteman selamanya. Bahkan mengatakan jika ia sangat merindukannya dan bertanya kapan kembali.


Ketika pesan panjang lebar yang dikirimkan langsung dijawab, ia saat ini seketika tertawa karena sahabatnya bercanda ingin ingin menjodohkan dengan bosnya di Jepang. Bahwa bos dari sahabatnya adalah seorang duda yang ditinggalkan oleh istri dan harus merawat anaknya sendirian.


Ana yang tidak ingin memberikan harapan pada siapapun, seketika menolak mentah-mentah dan tidak ingin dibebani dengan pikiran tentang pasangan kala hatinya yang terluka saja belum sembuh sepenuhnya.


Apalagi ditambah lagi ia melihat wajah sang suami terlihat sangat menyesali perbuatannya.


'Akan seperti apa reaksimu ketika mengetahui aku masih hidup? Apakah kamu akan sangat terkejut ataukah merasa senang? Ataukah berpikir jika aku adalah hantu yang bangkit dari kubur.' Saat sibuk dengan pemikirannya sendiri, Ana kini mengingat tentang sesuatu.


Bahwa dulu sempat membuat akun rahasia di media sosial yang bahkan Christian tidak tahu. Kini, ia kembali membuka akun yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Ia yang kini sudah berhasil masuk, kini mulai membuka semua foto yang ada di sana. Memang akun itu private yang bahkan hanya dirinya sendiri bisa memeriksanya.


Bahkan sama sekali tidak mengonfirmasi permintaan pertemanan dari orang lain agar tidak ada satupun orang yang bisa melihatnya selain diri sendiri.


Kini, ia menatap foto-foto kebersamaan mereka mulai dari kuliah hingga menikah dan juga ada foto yang dikirimkan oleh detektif juga disimpan di sana.


Foto saat Christian bersama dengan Laura dan terlihat bahagia juga ia simpan sebagai bukti. Ia bahkan tidak tahu akan diapakan akunnya tersebut. Sampai pada akhirnya ia lama tidak melihatnya dan kini kembali membukanya.


'Apakah aku akan kembali pada Christian setelah sembuh nanti jika benar Laura serius dengan Mario?' gumam Ana yang saat ini merasa seperti seorang wanita yang plin-plan dan tidak berpendirian.


Ketika ia saat ini mengharapkan sebuah kabar baik tentang pernikahan Laura dan Christian, tapi yang terjadi malah wanita itu melakukan sesuatu yang sangat mengejutkannya.


'Laura, sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Bukankah kau ingin membalas dendam padaku karena merebut putramu, tapi kenapa kau malah melakukan hal sebaliknya dengan menerima cinta Mario?' Ia terdiam selama beberapa saat untuk memutuskan sesuatu.

__ADS_1


'Baiklah, aku akan mengambil keputusan setelah melihat apa yang dilakukan Laura dan Christian,' gumam Ana yang saat ini merasa kantuk mulai menyerang hingga menguasai diri.


Hingga tanpa menunggu lama, bola matanya tertutup rapat dan kesadaran mulai menghilang karena larut dalam alam bawah sadar. Kini, hanya napas teratur yang menandakan jika sudah terbuai dengan mimpi.


__ADS_2