
Setelah aksi percintaan panas dari pasangan pengantin yang baru saja melakukannya di dalam kamar mandi, kini keduanya sama-sama keluar dari sana.
Saat ini, Laura bermanja-manja pada pria yang digelayutinya.
"Aku lelah dan malas bekerja kan jadinya."
'Siapa tahu dia mau memijat tubuhku yang benar-benar remuk redam karena dihajarnya habis-habisan tadi dengan berbagai macam gaya,' gumamnya di dalam hati.
'Aku bahkan sampai kewalahan mengimbanginya, benar-benar gila,' batin Laura yang kini masih sibuk mengendus aroma khas maskulin dari pria yang selalu memanjakannya.
Mendengar keluhan dari sang istri yang memang terlihat seperti seseorang yang kehilangan tenaga, merasa bersalah telah membuat wanita cantik yang memakai dress di bawah lutut itu kecapekan.
"Maafkan aku karena tadi tidak bisa menahan diri. Berbaringlah di ranjang, aku akan memijatmu untuk merilekskan otot-ototmu akibat perbuatanku."
Tentu saja Laura merasa sangat senang mendapat tawaran dari sang suami. "Aku hanya bercanda."
"Kenapa? Kamu takut sakit kupijat? Aku ingin bicara sebentar. Duduklah!" Mengarahkan tangannya untuk menghela tubuh sang suami agar duduk di pinggir ranjang.
"Ada apa sebenarnya? Jangan membuatku penasaran," rengut Laura yang terpaksa duduk di ranjang.
"Apakah kamu sudah tahu kabar terbaru?" tanya Mario dengan tatapan penuh sorot pertanyaan.
"Kabar terbaru? Memangnya ada apa? Aku tidak tahu." Laura saat ini benar-benar sangat penasaran dengan apa maksud dari Mario.
"Pria jahat itu terkena serangan jantung dan masih dirawat di rumah sakit."
Laura bahkan menampilkan ekspresi wajah muram setelah mendengar penjelasan Mario. Penderitaan yang selama ini dirasakannya seolah kini berakhir.
Tentu saja ia ingin sedikit demi sedikit memberitahu Laura agar mengerti semua hal mengenai tentang pamannya karena selama ini sang istri belum tahu mengetahui apapun tentang pamannya.
Di sisi lain, Laura terdiam begitu mendengar cerita dari sang suami. Tentu saja ia sangat tahu kalau sikapnya yang selalu tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakan.
Ia yang tidak tahu apapun mengenai itu, menyadari bahwa memang telah lama tidak mengecek berita, sehingga membuat sang suami yang menceritakan itu.
__ADS_1
"Apa aku harus berjingkrak bahagia? Aku pun bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana."
Kini, ia melingkarkan tangannya untuk memeluk pinggang kokoh pria yang duduk di sebelahnya dan menaruh kepalanya di dada bidang sang suami.
"Aku selama ini tidak pernah bertanya atau pun mencari tahu mengenai semua tentang paman setelah sibuk mengurus Valerio."
Sudut bibir Mario melengkung ke atas begitu mendengar kalimat dari wanita yang masih memeluknya dengan sangat erat.
"Itu karena kamu orang yang baik dan memang kenyataannya seperti itu. Semua yang terjadi adalah takdir," sahut Mario yang mencoba mengubah pikiran dari sang istri
"Aku tahu akan hal itu." Laura bahkan kini masih bingung dengan perasaannya.
Mario kini sudah sibuk mengusap lembut rambut panjang sang istri yang berada di pelukannya.
”Sekarang ceritakan semuanya padaku tanpa terkecuali." Laura kini terlihat serius menatap intens wajah dengan rahang tegas tersebut karena ingin mendengarkan semua hal mengenai pamannya.
Sementara itu, Mario hanya tersenyum simpul dan mulai menceritakan semua hal mengenai pamannya Laura sekaligus masalah di perusahaan.
"Jadi, sekarang perusahaan mengalami masalah, Mario?"
"Apa selamanya kamu akan memanggilku dengan nama saja?"
Mario melepaskan pelukannya dan sedikit memundurkan tubuhnya untuk bisa menatap ekspresi wajah dari sang istri.
Laura refleks langsung ber-sitatap dengan netra pekat dengan silinder hitam yang terlihat sangat mempesona di hadapannya. Tangannya menjulur ke pahatan sempurna di depannya dan meraba setiap inci bagian wajah suami dan kembali merasa tidak enak
"Kamu ingin aku memanggilmu apa? Ternyata suamiku sangat tampan," ujar Laura yang mencoba untuk merayu Mario agar tidak marah padanya.
'Aku merasa tidak enak pada Mario. Jadi, aku alihkan saja pembicaraannya,' batin Laura yang masih menunggu jawaban dari pria dengan tatapan mengintimidasi tersebut.
Mario kini sudah menahan tangan Laura.
"Aku sedang serius, tapi kamu malah balik bertanya padaku. Bukankah kamu yang harus menentukan sendiri?"
__ADS_1
Laura yang terdiam beberapa saat, kini memilih untuk duduk di pangkuan Mario karena ingin semakin menggoda sekaligus bermanja-manja.
"Cnta sejati itu akan menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangannya?" ucap Laura yang sudah terkekeh geli melihat ekspresi wajah masam Mario.
Kalimat skak mat dari sang istri, tentu saja membuatnya menjadi tidak berkutik untuk mengeluarkan bantahannya karena ia kini seolah terperangkap sendiri dalam perangkap yang dia buat.
'Istriku benar-benar sangat cerdas sekali memainkan kata-kata. Sepertinya aku telah dikalahkan oleh Laura Anastasya.'
"Sayang, ternyata kamu memang seorang wanita yang pandai bermain kata-kata. Aku tanya apa, tapi kamu jawab yang lain."
"Baru tahu, ya?"
"Iya, aku pikir kamu tidak secerdas itu."
"Kalau aku tidak cerdas, mana mungkin aku bisa membuat seorang Mario jatuh cinta padaku." Refleks Laura langsung terkekeh dan menggaruk tengkuknya. "Sepertinya hari itu kamu menganggapku seorang wanita cerdas."
"Kamu benar, bahkan cerdas bercinta juga," ejek Mario dengan tersenyum smirk. "Juga saat itu hanya sibuk mendesah dan melenguh saat aku melakukannya."
Wajah Laura sudah berubah seperti kepiting rebus saat mendengar kalimat bernada vulgar dari pria yang telah mengedipkan mata padanya. Refleks ia lagi-lagi mencubit paha pria yang masih mengarahkan tatapan nakalnya.
"Iiissh ... dasar! Ayo, kita berangkat ke kantor dan menjenguk pamanku."
Belum mendapatkan apa yang diinginkan, Mario memilih untuk menggelengkan kepala. "Cepat katakan padaku panggilan sayangmu."
Laura yang belum memikirkan panggilan sayangnya pada Mario , kini memilih cari aman.
"Bagaimana kalau suamiku?"
"Boleh juga," sahut Mario dengan wajah yang berubah senang.
"Baiklah, kalau begitu aku panggil saja suamiku sayang, mungkin juga lebih baik. Apa kamu senang, Suamiku sayang?"
Mario sangat senang mendengar panggilan sayang dari Laura yang terdengar sangat manis di telinga.
__ADS_1
Laura saat ini memilih untuk melingkarkan tangannya pada pinggang kokoh pria yang hampir membuatnya terhuyung ke belakang saat membungkam bibirnya.
To be continued...