365 Days With You

365 Days With You
Pelampiasan


__ADS_3

Ana sebenarnya merasa sangat malas berdebat dengan sang suami yang baru saja terlihat berjalan masuk menuju ke ruangan santai. 'Aku bersusah payah untuk menghargainya dengan tidak mengganggu ketenangannya yang saat ini tengah stres dengan masalah perusahaan, tapi malah membuatnya kesal padaku.'


Ingin sekali ia mengatakan jika masih belum bisa melupakan perkataan sang suami yang tadi melarangnya untuk ikut campur masalah perusahaan dan memilih fokus mengurus Valerio. Namun, ia sudah sangat hafal dengan karakter dari sang suami yang pastinya akan emosi saat pikiran tengah terbebani dengan masalah perusahaan jika dibantah.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk melakukan sesuatu yang buruk di belakangmu. Aku hanya khawatir melihatmu yang seperti menanggung beban berat di pundakmu hingga terlihat jelas di wajahmu yang penuh dengan kelelahan." Ana saat ini berusaha untuk mengerti jika sang suami tengah mengalami masalah besar di perusahaan.


Jadi, tidak berniat untuk menyalahkan pria yang masih terdiam dan tidak lagi marah padanya karena diam-diam menghubungi asisten pribadi suaminya tersebut.


Kini, ia memilih untuk memeluk erat tubuh kekar pria yang sudah 11 tahun membina duduk rumah tangga bersamanya. Tentu saja untuk menenangkan hati sang suami agar sedikit lebih tenang meskipun tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi.


"Aku terbiasa membantumu mengurus perusahaan dan membuatku ingin melakukannya meskipun tidak bekerja. Bukankah aku bisa membantumu saat putra kita sudah tidur? Izinkan aku membantumu seperti dulu lagi, Sayang karena merasa berguna jika bisa bekerja sama dengan suami sendiri untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi perusahaan."


Awalnya Ana berpikir jika sang suami akan langsung merasa senang dan setuju ketika ia berbicara secara halus untuk merayu, tapi usahanya sia-sia karena melihat gelengan kepala yang menunjukkan penolakan tanpa pikir panjang.


Christian sebenarnya juga merindukan saat-saat ketika dulu bekerja bersama dengan sang istri yang merupakan seorang wanita independen dan hebat dalam mengurus masalah pekerjaan.


Namun, ia merasa jika selama ini selalu dihantui oleh perasaan bersalah pada putranya yang dipisahkan dengan ibu kandungnya. Ia tahu bahwa kasih sayang ibu kandung tidak bisa diberikan olehnya dan khawatir jika putranya akan kekurangan kasih sayang karena dirawat oleh ibu tiri.


Hal itulah yang membuatnya menyuruh Ana resign dari perusahaan dan fokus mengurus putranya agar mendapatkan kasih sayang penuh dari seorang ibu. Meskipun tidak bisa mendapatkan dari ibu kandungnya.


Apalagi putranya hanya satu kali merasakan air susu dari ibu kandung memisahkannya dengan sangat kejam demi Ana yang memiliki penyakit. Ia kini masih tidak mengalihkan perhatian pada sang istri yang baru saja melepaskan pelukan.


"Tidak, Sayang. Aku sudah bilang bahwa kamu harus fokus mengurus putra kita agar tidak kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Sementara aku yang akan bekerja mencari nafkah untuk kalian. Aku ingin menjadi seorang pria yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan oleh anak dan istri."


Ia bisa melihat dengan jelas raut wajah penuh kekecewaan dari sang istri dan membuatnya merasa bersalah, tapi tidak bisa menuruti keinginan dari Ana yang berniat baik padanya. Jadi, saat ini berusaha untuk menghibur dengan apa yang ada di pikirannya agar sang istri mengerti.


"Bagiku, perjuanganmu untuk merawat putra kita, jauh lebih hebat dari apapun. Kamu sudah menjadi seorang ibu yang baik untuk putra kita. Aku tidak ingin membuatmu kelelahan, Sayang." Menampilkan wajah penuh permohonan agar sang istri mengerti apa yang dipikirkannya saat ini.


"Bukankah dokter sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh banyak pikiran dan harus rileks?" Mengusap wajah cantik sang istri yang selalu membuatnya terbayang pada wajah Laura yang sampai sekarang bahkan belum bisa dilupakan.


Sementara itu, Ana hanya diam dan membiarkan semua yang dilakukan oleh sang suami yang menelusuri wajahnya. Sejujurnya ia sangat tidak puas dengan jawaban dari pria di hadapannya tersebut.


Namun, karena tidak ingin berdebat dan malah membuat rumah tangganya runcing, akhirnya Ana hanya memilih pasrah dan tidak lagi menawarkan bantuan.


"Baiklah. Jika kamu memang tidak mengizinkanku untuk membantumu, memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku akan mematuhi perintah suami untuk mengurus Valerio dengan baik agar tidak kekurangan kasih sayang dari seorang ibu." Ana menyembunyikan rasa kecewanya dengan seulas senyuman penuh kepalsuan.


Ia yang sebenarnya ingin sekali membahas tentang kecerobohan dari sang suami saat memilih berinvestasi pada perusahaan yang berakhir membuat kehilangan uang cukup besar, tapi berpikir jika itu akan membuat perdebatan ataupun kemurkaan.


Akhirnya sekali lagi memilih untuk mengurungkan niat dan menahan diri untuk tidak ikut campur mengenai masalah perusahaan. "Ayo, kita makan malam karena pelayan sudah menyiapkan makanan di meja makan."


Christian sebenarnya tidak berselera makan setelah kehilangan uang cukup besar karena kecerobohannya yang tergiur dengan tawaran dari CEO perusahaan Prameswari Grup.

__ADS_1


Namun, karena tidak ingin membuat kecewa sang istri, memilih untuk menganggukkan kepala dan berjalan sambil memeluk pinggang ramping wanita itu.


"Putra kita sudah makan, bukan? Hari ini kamu membuatkan makanan apa untuknya? Aku tahu kamu selalu saja membuat menu baru untuk putra kita dan membuatnya sangat senang dengan masakanmu." Christian kini menarik kursi untuk Ana agar duduk terlebih dahulu.


"Terima kasih, Sayang." Ana yang baru saja mendaratkan tubuhnya begitu sang suami selalu bersikap romantis dengan menarik kursi untuk ia duduk.


"Tadi aku hanya membuatkan nasi tim dengan ikan salmon dan sayuran brokoli. Untungnya putra kita sangat suka sayur sepertimu. Jadi, tidak perlu memaksa karena sudah suka sendiri." Ana sebenarnya sedikit mengerti apa yang disukai dan tidak disukai oleh Valerio.


Saat sama dengan sang suami, berpikir bahwa darah lebih kental daripada air dan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun, saat mengetahui hal yang tidak disukai oleh anak laki-laki yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri tersebut, membuatnya berpikir bahwa itu adalah gen dari wanita bernama Laura.


Ingin sekali ia bertanya pada sang suami mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Laura, tapi berpikir jika itu hanya akan membuatnya merasa tersisihkan.


Jadi, hanya bisa memendam di dalam hati tanpa mengungkapkan pada pria yang sudah bergerak untuk mengambil nasi. "Biar aku ambilkan, Sayang."


"Tidak apa-apa. Biar sekali-kali aku melayani istri. Itu tidak akan membuatku lelah. Apa segini cukup?" Christian yang selalu mengingat Laura ketika disuapi olehnya saat makan di meja makan, tidak ingin melakukannya dengan Ana.


Itu karena hanya akan menyiksanya dan tidak bisa melupakan sosok wanita yang telah disia-siakan dan saat ini telah menghilang bagai ditelan bumi. Detektif untuk mengawasi gerak-gerik Laura, sudah menyerah karena sang istri tiba-tiba menghilang begitu saja setelah terakhir kali berangkat ke New York satu tahun lalu.


'Laura, apa kamu memilih untuk menetap di New York sekarang?' gumam Christian yang saat ini menyerahkan piring yang sudah diisi nasi untuk Ana.


"Kamu sudah hafal dengan selera istrimu, jadi tidak perlu bertanya lagi karena itu hanya malah akan terdengar sangat konyol, Sayang," sahut Ana yang saat ini tengah mengambil lauk dan sayuran.


Christian hanya terkekeh menanggapi hal yang membuatnya terlihat bodoh karena dari tadi memikirkan tentang wanita lain saat duduk satu meja dengan istri.


Ia kembali mengingat perkataan Ana mengenai putranya yang sangat menyukai sayuran. "Syukurlah putraku sepertiku yang menyukai sayuran. Jadi, tidak perlu dipaksa ataupun diberikan vitamin lagi. Anak kecil zaman sekarang sangat susah makan sayuran jika tidak dipaksa."


"Untungnya putraku tidak demikian. Ia juga sangat suka makan buah, kan? Jadi, kebutuhan vitaminnya tercukupi." Christian saat ini menatap ke arah buah anggur di keranjang buah yang berada di hadapannya.


'Sial! Anggur itu adalah kesukaan Laura. Apapun kesukaan Laura, pasti langsung membuatku disiksa rasa bersalah teramat sangat,' gumam Christian yang saat ini menuju ke arah buah anggur di hadapannya.


"Tumben ada anggur, Sayang. Bukankah kamu tidak suka dengan buah anggur?" Sengaja ia ingin mengorek mengenai perihal buah kesukaan Laura yang berada di meja makan.


Ia selama ini tahu bahwa Ana tidak suka dengan buah anggur, jadi merasa aneh melihat itu. Berpikir jika Ana sengaja melakukannya karena mengetahui jika itu adalah buah kesukaan dari Laura.


Ana yang baru saja mengunyah makanan dan menelannya perlahan, mengikuti arah pandang sang suami yang menatap ke arah buah yang tadi dibawa oleh mertuanya.


"Mama tadi ke sini membawa anggur. Kebetulan tadi aku mencoba untuk memberikan pada putra kita, ternyata dia sangat suka. Sepertinya tidak ada buah yang tidak disukai oleh Valerio. Makanya tubuhnya sangat gemuk dan sehat karena tercukupi semua kebutuhan vitamin serta gizinya."


Ana sebenarnya tadi merasa sangat aneh melihat mertuanya pertama kali membawa buah anggur, mengatakan bahwa itu untuk Valerio, sehingga membuatnya mematuhi perintah dari mertuanya yang dari dulu tidak pernah suka padanya karena tidak bisa melahirkan keturunan untuk meneruskan jejak keluarga Raphael.


"Oh ... aku pikir kamu yang membelinya untuk hiasan meja. Tidak apa-apa, biar nanti aku yang memakannya dengan Valerio saja." Christian ingin sekali meraba buah anggur itu dan membayangkan hal yang dulu sering dilakukan bersama dengan Laura.

__ADS_1


Ia selalu menyuapi Laura anggur ketika menonton TV bersama. 'Bahkan kenangan itu masih terbayang sangat jelas dan tidak bisa kulupakan. Apakah Laura saat ini juga tidak bisa melupakan kejahatan yang kulakukan padanya?'


'Laura, maafkan aku. Meskipun permohonan maaf seribu kali tidak bisa menebus kesalahanku padamu, tapi aku melakukan ini karena tidak tega pada Ana yang menderita karena divonis penyakit. Aku tidak pernah menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini.'


Sementara itu, Ana yang saat ini masih menatap ke arah buah anggur yang dilihat oleh sang suami dari tadi, jika ada sesuatu hal yang dipikirkan. 'Ada apa dengan buah anggur? Apa buah anggur adalah merupakan kesukaan dari wanita itu?'


'Jika benar begitu, apakah mertuaku mengetahui bahwa suamiku menikah lagi dengan wanita lain hingga melahirkan Valerio?' gumam Ana yang merasa menjadi badut di rumah tangganya sendiri.


Apalagi selama ini selalu mendapatkan tatapan penuh kebencian dari ibu mertua yang seolah menganggapnya hanyalah sombong sampah yang tidak patut untuk dihargai.


Kini, ia menatap ke arah sang suami yang baru saja menyelesaikan ritual makannya. "Sayang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu dan tolong jawab dengan jujur."


Sebuah hal yang paling dibenci oleh Christian adalah perkataan seperti itu dari Ana dan tidak bisa dihindari olehnya. "Bertanya apa, Sayang?"


Meskipun ia berpura-pura bersikap tenang, tapi pada kenyataannya saat ini dadanya berdetak sangat kencang. 'Kali ini hal apa yang ingin diketahui oleh Ana? Semoga tidak berhubungan dengan Laura karena hanya akan membuat rumah tangga kami tidak baik-baik saja.'


Karena tidak ingin bertele-tele dan ingin mengetahui sesuatu yang dari tadi menari-nari di pikirannya, kini Ana berdehem sejenak dan mengungkapkannya.


"Apa mama mengetahui semua hal tentang wanita itu dan juga Valerio?"


Serasa mendapatkan anak panah yang membunuh tepat di jantungnya saat ini, Christian merasa sangat bingung untuk menjawab. Ia seketika menelan ludah dengan kasar untuk menormalkan perasaannya yang kacau balau.


'Jika aku berbicara jujur, hubungan antara mamaku dan Ana akan makin memburuk. Namun, jika aku berkata bohong, dosaku makin besar pada Ana,' gumam Christian yang saat ini tengah merasa bimbang harus jujur atau berbohong.


Hingga ia mendengar suara Ana yang membuatnya makin merasa bersalah karena tidak langsung menjawab dan malah asik dengan mempertimbangkan jawabannya.


"Tidak perlu dijawab karena aku sudah mengetahui jawabannya dari diammu, Sayang." Ana saat ini sudah kehilangan nafsu makan dan tidak lagi berniat untuk menghabiskan makanan yang masih tersisa separuh di piring.


Ia pun merasa dipermainkan oleh suami dan mertua dan membuatnya menjadi seorang wanita tidak berguna dianggap bodoh tidak tahu apapun. Kemudian ia pun bangkit berdiri.


"Aku akan memeriksa Valerio dulu di depan." Tanpa menunggu tanggapan dari sang suami, Ana sudah melangkah pergi setelah sebelumnya memberikan perintah pada salah satu pelayan untuk membereskan makanan setelah selesai makan.


Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Christian saat ini. Ia seolah tidak ingin bangkit dari kursi yang ada di ruang makan itu. "Rasanya seperti berjalan di atas bara api saat mendapatkan tatapan tajam dari Ana."


Embusan napas kasar menghiasi ruangan makan yang penuh keheningan tersebut. Kini, Christian meraih ponsel miliknya dan mengirimkan pesan pada asisten pribadinya yang tadi berbicara dengan sang istri.


Gajimu bulan ini kupotong karena mengatakan pada Ana mengenai apa yang terjadi.


Kemudian mengirimkan pesan tersebut pada Vicky dan tidak peduli jika asisten pribadinya kesal padanya. 'Sekarang Aku butuh tempat sebagai pelampiasan. Hanya Vicky yang bisa kujadikan pelampiasan untuk meluapkan apa yang kurasakan saat ini,' gumam Christian yang memilih untuk bangkit berdiri dan berniat untuk kembali ke kamar karena kepalanya Hari ini benar-benar pusing.


"Aaarggh ... rasanya kepalaku seperti mau pecah saja saat ini." Berjalan menaiki anak tangga dengan mengacak frustasi rambutnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2