
"Bagaimana proses operasinya, Dokter?" ucap sang supir yang saat ini mewakili wanita dengan raut wajah penuh kekhawatiran tersebut untuk mencari tahu.
Ia tahu jika wanita tersebut belum fasih berbahasa Inggris dan memang disuruh membantu mendampingi oleh bosnya agar memudahkan semuanya.
Sementara itu, seorang pria berusia sekitar 40 tahunan yang masih memakai pakaian operasi, kini menatap ke arah dua orang di hadapannya.
"Proses operasi berjalan sesuai dengan prosedurnya. Sel-sel kanker sudah berhasil kami singkirkan, tapi karena pasien datang sudah dalam keadaan stadium 4, jadi ada kemungkinan jika sel-sel kanker menjadi tumbuh lagi. Tapi perlu dilakukan observasi secara detail untuk mengetahui semuanya." Sang dokter bisa melihat raut wajah dua orang di hadapannya.
Seperti yang sudah sering dilihatnya jika para keluarga pasien pasti berekspresi seperti itu ketika dijelaskan. Raut wajah kecewa tampak jelas saat ini dan membuatnya melanjutkan penjelasan tentang pasien yang baru saja dioperasi.
Kita harus menunggu perkembangan pasien terlebih dahulu. Apakah pasien akan segera sadar atau mengalami masalah, kita akan terus memantaunya. Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruangan." Kemudian berlalu pergi meninggalkan dua orang yang saat ini hanya diam saja, seperti orang yang kebingungan.
Sosok wanita yang saat ini tengah terdiam memahami semua yang dikatakan oleh dokter, ada beberapa poin yang belum dipahaminya dan menoleh ke arah sang supir.
"Jelaskan padaku tentang penjelasan dokter barusan karena aku hanya memahami beberapa poin saja." Ia kini menyesal karena tidak belajar berbahasa Inggris dengan baik seperti yang diperintahkan oleh bosnya.
Jadi, tidak begitu paham, meskipun mengerti beberapa hal. Ia bahkan saat ini berjanji pada diri sendiri akan mulai belajar agar lebih memudahkannya ketika berkomunikasi karena akan berada di sana cukup lama sampai majikannya sembuh.
Sang supir yang kini langsung menjelaskan semuanya tanpa terkecuali agar wanita tersebut paham tentang maksud dari dokter barusan.
"Jadi, seperti itu penjelasan dari dokter. Memang penyakit kronis yang sudah stadium akhir sangat sulit untuk disembuhkan, tapi tidak ada salahnya mencoba dan fokus pada pengobatan serta mengadakannya terbaik dengan menyerahkan semua pada Tuhan."
Saat ia baru saja menutup mulutnya, melihat pintu ruangan operasi yang kembali terbuka dan perawat mendorong brankar, di mana sosok wanita yang merupakan teman dari majikannya tengah terbaring di sana dengan kelopak mata tertutup rapat.
"Nona Ana," seru wanita yang saat ini langsung berjalan mengikuti para perawat yang mendorong brankar.
Ia yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya pada majikan, kini sibuk merapal doa untuk kesembuhan wanita itu. Bahkan tidak tega melihat wanita yang terlihat sangat cantik itu kini pucat.
'Nona Ana, Anda harus berjuang untuk hidup dengan baik tanpa penyakit ini. Meskipun Anda menganggap diri sendiri kesepian karena tidak ada yang mendampingi saat operasi, saya akan selalu ada,' gumamnya yang kini sudah memasuki ruangan perawatan dengan banyaknya alat di bagian kiri brankar.
Hingga ia saat ini terdiam di tempatnya karena melihat para perawat sudah melaksanakan tugas masing-masing untuk memasang alat pada tubuh pasien.
Hingga ia menoleh ke arah belakang begitu merasakan pundaknya ditepuk oleh sang supir.
"Biar aku ambilkan tasmu dulu dan bisa disimpan di ruangan ini. Kemudian mengambil ponsel miliknya dan memberikan pada wanita itu.
"Buat apa ini?" tanya wanita yang kini mengerutkan kening karena tidak paham apa yang harus dilakukan pada ponsel di tangannya.
Berpikir jika pria itu memberikan ponsel padanya karena berpikir ia tidak memilikinya, seketika mengeluarkan miliknya untuk memberitahu. "Aku sudah punya. Jadi, tidak perlu memberikanku ponsel."
Refleks pria tersebut menepuk jidat karena bukan itu yang diinginkannya. "Ketik nomormu di sana agar dengan mudah berhubungan jika nanti kamu membutuhkan apa-apa, bisa langsung menelponku tanpa melakukan telepati."
"Issh ... telepati," sahut sang wanita yang kini merasa malu karena terlalu percaya diri dan memilih langsung mengetikkan nomornya.
Ia yang tadinya menatap ke arah majikan, untuk sementara teralihkan saat memberikan nomornya. Kemudian ia langsung memencet tombol panggil dan terlihat nomor pria tersebut di ponselnya.
"Aku akan menyimpan nomormu." Kemudian memberikan nama supir yang saat ini juga terlihat tengah mengetik karena memang tadi ia sudah mengembalikan ponsel.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, pria tersebut berlalu pergi untuk mengambil tas wanita itu.
Beberapa perawat yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya, kini berjalan keluar setelah mengatakan jika membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan pasien, bisa langsung memencet tombol di atas brankar tersebut.
"Terima kasih," ucap wanita yang saat ini sudah membungkuk hormat pada aparat medis yang baru saja berlalu pergi dan menghilang di balik pintu.
Hingga ia pun mengingat tentang penjelasan dari sopir tadi mengenai majikannya dan ia saat ini masih berdiri di sebelah kiri wanita dengan raut wajah pucat spasi tersebut.
"Ya Allah, apakah ada kemungkinan nona Ana sembuh total? Berikan keajaibanmu pada wanita malang ini, Tuhan. Kasihan nona karena sudah hidup menderita tanpa bisa memiliki keturunan, tapi harus ditambah dengan masalah penyakitnya yang bahkan bisa kembali tumbuh setelah dioperasi."
Saat ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk dan didengar sendiri oleh sang majikan, ia merasa tidak tega dan benar-benar sangat iba.
"Semoga Anda kuat menjalani semua cobaan ini, Nona Ana. Semua ujian ini akan mengangkat derajat Nona di mata Allah." Kemudian ia kini mendapatkan tubuhnya di kursi karena merasa kakinya sangat pegal.
Ia bahkan menggerakkan kakinya agar tidak terlalu pegal setelah berdiri cukup lama. "Umur memang tidak pernah bisa menipu kondisi fisik," ucapnya yang saat ini berusaha untuk meluruskan kakinya terlebih dahulu.
Hingga ia mendengar suara dering ponsel miliknya yang berbunyi dan membuatnya heran siapa yang menelpon dini hari. Begitu kontak dari sang sopir terlihat, ia berpikir ada sesuatu hal yang ingin diberitahukan padanya.
Refleks langsung geser tombol hijau ke atas. "Iya, halo."
"Apa kamu membutuhkan makan malam? Sekalian biar aku belikan. Bukankah tadi belum makan karena hanya minum saja?" ucap sang sopir yang berniat untuk pergi ke kantin rumah sakit sebelum naik ke ruang perawatan.
Tidak ada nafsu makan sama sekali saat melihat sama jika yang belum membuka mata, wanita di atas kursi tersebut menggelengkan kepala seolah pria itu bisa mengerti. Hingga ia menyadari kebodohannya ketika kembali mendengar pertanyaan pria itu.
"Kenapa diam saja? Cepat katakan apa yang kamu inginkan untuk makan?"
Ia memilih untuk sibuk melihat sosok wanita yang sangat dihormati serta dikaguminya tersebut. "Jika Anda suatu saat nanti sembuh, semoga bisa menemukan seorang pria yang menerima Anda apa adanya tanpa mempermasalahkan keturunan."
"Meskipun sebenarnya itu sangat sulit ditemukan karena sejatinya semua orang di dunia ini menikah untuk memiliki keturunan. Mungkin lebih baik Anda menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki anak." Ia kini mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu.
Suara dari alat-alat yang menjadi penopang hidup tersebut bahkan selalu terdengar sangat mengerikan dan membuat bulu kuduk meremang.
"Pasti semuanya akan baik-baik saja dan bisa saling melengkapi." Memikirkan jika majikannya bisa hidup berbahagia dengan memiliki pasangan yang tidak membahas masalah keturunan," ucapnya yang masih berusaha untuk berpikir positif jika majikannya kelak bisa hidup berbahagia.
Bahkan ia saat ini juga membayangkan akan menjadi pelayan yang melayani wanita itu seumur hidupnya karena memang ia sudah tidak memiliki keluarga.
Ia sebenarnya dulu pernah menikah, tapi suami selingkuh dan akhirnya membuatnya trauma untuk menjalin hubungan dengan seorang pria dan memilih merantau ke Jakarta, sehingga akhirnya bekerja di rumah keluarga wanita itu.
Sebenarnya ia dulu sempat hamil, tapi keguguran karena ulah sang suami yang selingkuh dan membuatnya stres. Hingga pikirannya yang terlalu diforsir, membuatnya kehilangan janin yang masih berusia 4 bulan di kandungannya.
Hingga semenjak saat itu sudah tidak pernah berpikir untuk dekat dengan pria lain karena tidak mempercayai lagi lawan jenis. "Nona Ana, aku pikir hanya wanita jelek sepertiku saja yang ditinggalkan oleh seorang suami."
"Bahkan Anda yang merupakan wanita secantik ini dan berasal dari keluarga mampu, juga diselingkuhi. Meskipun itu karena satu kelemahan yang tidak bisa Anda atasi. Padahal tuan Christian selama ini terlihat sangat romantis dan mencintai Anda, tapi ternyata kenyataannya sama saja." Saat ia baru saja mengumpat, melihat pintu terbuka dan sudah bisa menebak siapa yang datang.
Ia hanya membiarkan pria yang membawa tasnya dengan menaruh di sebelah tempat duduknya. "Terima kasih."
Di saat bersamaan melihat paper bag baru saja diletakkan di atas nakas dan seketika menatap heran pria yang dianggap tidak mendengarkan perkataannya karena ia benar-benar tidak nafsu makan.
__ADS_1
"Aku akan pulang dan mungkin kembali besok pagi. Jadi, sekalian saja aku belikan makanan untuk jaga-jaga jika kau lapar, daripada nanti aku mendapatkan kemurkaan dari bosku karena tidak melayani dengan baik dan dipecat dari pekerjaan." Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke arah pintu setelah berpamitan.
Wanita yang saat ini menatap ke arah laci, kini terdiam beberapa saat dan memikirkan kira-kira apa yang dibutuhkannya. Namun, seperti tidak bisa berpikir karena otaknya seolah tumpul saat ini.
Ia hanya menoleh sekilas ketika pintu ditutup dari luar. "Aku tidak tahu jika dia itu tidak ada, mungkin akan benar-benar kebingungan karena aku hanyalah orang bodoh yang tiba-tiba terdampar di sini."
Merasa penasaran dengan apa saja yang dibelikan oleh sang supir yang dianggap sangat baik hati tersebut, ia membuka paper bag dan melihat kotak makan, lalu memeriksanya.
"Ada nasi ayam dengan kuah? Ini kuah apa? Kenapa bening sekali?" ucapnya yang saat ini merasa penasaran dengan makanan yang dianggap sangat asing.
Ia memang belum makan dari tadi karena hanya makan roti dan minum kopi. Sebenarnya ia ingin mencoba makanan khas luar negri, tapi langsung makannya benar-benar tidak ada dan kini kembali menutup kotak makan tersebut.
"Nona, aku akan makan saat Anda sadar. Jadi, cepatlah sadar karena aku akan pingsan jika tidak makan." Ia pun kini menguap beberapa kali dan menyadari jika saat ini sangat mengantuk.
Ingin ia menunggu majikannya sampai wanita itu tersadar, tapi rasa kantuk semakin melanda dan tidak dapat ditahannya lagi. Akhirnya ia memegang erat telapak tangan sang majikan karena berharap jika nanti sadar, pasti bergerak dan ia terbangun.
Kemudian ia mulai mendaratkan kepalanya pada ranjang di sebelah tangan wanita itu sambil menggenggam erat. "Nona, Anda harus sudah sadar saat aku bangun dari tidur. Itu harapanku padamu, Nona."
Kini, ia memejamkan mata dan berharap
jika beberapa jam kemudian, bisa kembali melihat majikannya berbicara padanya.
Hingga beberapa saat kemudian, suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan perawatan. Bahkan kesunyian malam semakin terasa mencekam dengan suara dari alat-alat yang berada di ruangan tersebut.
Beberapa jam telah berlalu dan tengah malam kini telah berganti pagi, tapi sinar mentari seolah masih malu menampakkan diri karena saat ini cuaca di luar tengah di selimuti awan hitam.
Bahkan beberapa orang yang masih bergelung di bawah selimut tebal, seolah tidak mau beranjak dari ranjang nyaman mereka masing-masing karena cuaca masih terlihat gelap.
Namun, berbeda dengan sosok wanita yang baru saja terbangun ketika merasakan lehernya sangat pegal karena semalaman tidur dengan posisi membungkuk di kursi.
Wanita yang tak lain adalah Miranti itu kini mengerjapkan mata dan perlahan pandangan yang blur perlahan-lahan terang dan kini bisa melihat jika sosok wanita yang dari semalam dipegang erat tangannya, belum kunjung sadar.
Hingga ia berjenggit kaget ketika mendengar suara petir dari luar yang sangat keras. Ia saat ini melirik ke arah jendela yang tertutup dengan kain gorden berwarna putih. Dari atas terlihat masih gelap, tapi waktu sudah menunjukkan pagi hari.
"Sudah pagi rupanya, tapi seperti masih malam hari." Hingga ia ini bisa melihat jika hujan mulai turun dengan sangat deras. Ia bangkit berdiri dari kursi dan memeriksa untuk melihat hujan yang diawali dengan suara petir menggelegar.
"Kenapa cuaca bahkan sangat mendukung dengan kondisi Nona saat ini? Mendung gelap itu seperti posisi Anda saat ini yang mengalami kesedihan dan juga kemalangan."
"Kapan Anda akan sadar, Nona?" Ia yang baru saja menutup mulut sambil menatap ke arah air hujan dari jendela kaca di hadapannya, seperti mendengar suara yang tertangkap indra pendengaran.
Hingga ia seketika menoleh ke arah wanita yang ada di atas pembaringan Rumah Sakit itu dan tidak salah dengar karena saat ini majikannya tengah merintih dan terlihat menggerakkan tangannya.
"Nona? Alhamdulillah, Anda sudah sadar." Di saat bersamaan, pintu terbuka dan melihat perawat melangkah masuk, sehingga ia tidak perlu memencet tombol yang kemarin dikatakan.
"Pasien sudah sadar, Suster." Ia berbicara sambil berjalan mendekati majikannya.
Sang perawat yang tadinya ingin mengecek kondisi pasien, kini seketika menelpon dengan telpon di dalam ruangan itu untuk memberitahukan pada dokter yang bertugas agar segera masuk untuk melihat pasien yang baru saja sadar setelah efek obat bius menghilang.
__ADS_1
To be continued...