
Tepat pukul setengah 6 pagi, dokter datang bersama perawat dan memeriksa keadaan Laura yang dari kemarin belum kembali sadar. Satu perawat berseragam biru itu mencatat apa yang diucapkan oleh dokter yang baru memeriksa pasien.
Sementara itu, Christian yang berdiri di sebelah sang dokter, awalnya hanya melihat saat Laura diperiksa untuk memastikan perkembangan saat ini.
Hingga ia pun seketika mengungkapkan banyak pertanyaan mengenai Laura agar mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Christian ingin mengetahui semua hal mengenai Laura yang sebentar lagi akan dinikahinya dan berharap bisa merawat dengan baik sampai wanita itu sembuh dan benar-benar pulih dari kondisinya yang mengenaskan akibat kecelakaan.
Ia memang belum sempat untuk pergi ke kantor polisi dan berbicara dengan sopir truk yang membuat taksi yang ditumpangi Laura dihantam dari belakang dan akhirnya beberapa kali ditabrak oleh kendaraan lain, hingga terbalik dan menyebabkan kondisi kepala harus dioperasi.
Namun, ia akan menyuruh asisten pribadinya agar pergi ke kantor polisi untuk berbicara pada sopir taksi itu sambil merekam pembicaraan karena ingin tahu seperti apa pria itu menjawab.
Jika ada kejanggalan, ia pasti akan menyelidikinya dan menyuruh orang yang bisa membuat pria itu berbicara jujur.
Christian mendengarkan semua penjelasan dokter dan satu hal yang sangat mengganggu pikirannya dari kemarin saat bersitatap dengan Laura.
"Jadi, kemarin ia menatap kosong seperti tidak mengenal saya. Apakah kemungkinan ada kemungkinan ia amnesia akibat kecelakaan itu, Dokter?" tanya Christian yang saat ini benar-benar sangat ingin menenangkan perasaannya yang kacau ketika memikirkan kemungkinan itu.
Ia tidak tahu bagaimana reaksi dari Laura jika kehilangan ingatan dan pastinya tidak akan mengenalnya. Lalu, bagaimana ia menikahi wanita yang sama sekali tidak bisa mengingatnya? Itu sebenarnya dari tadi sangat mengganggu pikirannya dan mengganjal di hati.
Namun, seolah tidak peduli dan tetap melaksanakan pernikahan karena berpikir bisa sepenuhnya menjaga dan merawat Laura tanpa melibatkan orang lain karena ia benar-benar tidak percaya pada siapapun setelah kecelakaan itu.
Sang dokter yang saat ini tengah menatap ke arah pasien yang masih memejamkan mata tersebut, kini beralih pada pria di belakangnya.
"Kemungkinan itu bisa dengan perbandingan 60:40. Jadi, Anda harus bersiap dengan berbagai macam kemungkinan yang terjadi karena benturan di kepala pasien sangat kuat. Jadi, sebuah hal yang wajar jika ia mengalami amnesia karena itu jauh lebih baik daripada mengalami kematian otak, bukan?"
Bahkan saat ini sang dokter menatap ke arah kaki yang berada di bawah selimut rumah sakit. Kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke sana. "Paling tidak, kondisi kakinya tidak mengalami kelumpuhan."
"Jadi, saat pasien pulih nanti, tidak akan merasa terpuruk karena cacat atau tidak bisa berjalan." Sang dokter berusaha untuk memberikan sebuah hal positif agar pria yang berdiri di sebelahnya tersebut tidak banyak mengeluh karena merupakan sebuah keajaiban jika wanita itu masih bisa selamat sampai sekarang.
Bahkan kematian seolah belum ditakdirkan oleh wanita yang mengalami kecelakaan hebat yang membuat sopirnya meninggal dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.
Christian saat ini merasa tertampar dengan perkataan dari sang dokter yang memang benar adanya. Meskipun sebenarnya perkataan dari pria paruh baya tersebut seolah mengejeknya tidak bersyukur atas keselamatan Laura, tapi Christian sama sekali tidak tersinggung.
Apalagi ia tahu bahwa semua itu memang benar adanya. Bahwa hilang ingatan jauh lebih baik dibandingkan koma atau cacat.
Karena sangat yakin jika Laura tidak akan pernah bisa menerima kenyataan buruk itu jika selamat dengan kondisi kaki yang tidak bisa berfungsi.
__ADS_1
"Iya, Dokter. Anda benar karena saat ini benar-benar bersyukur kekasih saya bisa selamat dari kematian karena berdiri di depan ruangan operasi dengan perasaan sangat kacau dan dipenuhi kekhawatiran mengenai hal-hal buruk, membuat saya lebih memilih seperti ini."
Christian yang baru saja menutup mulut, seketika mengingat sesuatu begitu sang dokter menepuk bahunya.
"Anda benar-benar adalah seorang pria yang baik. Semoga suatu saat nanti, Anda bisa menikah dengan wanita ini. Karena melihat keseriusan di mata seorang pria yang sangat mencintai kekasihnya."
Sang dokter kini memberikan kode pada perawat untuk berjalan kembali memeriksa pasien. "Aku harus memeriksa pasien lain," ucapnya sambil menatap mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sementara itu, Christian saat ini hanya menganggukkan kepala dan mengingatkan seseorang tentang sesuatu yang paling penting.
Bahkan ia berkali-kali menepuk jidat karena melupakan hal paling penting sebagai syarat pernikahan. Ia pun meraih ponsel miliknya di saku celana dan mengetik pesan pada asistennya.
Jangan lupa para saksi. Aku sampai lupa dengan hal penting itu.
Kemudian Christian langsung memecat tombol kirim dan berharap jika asisten yang merupakan orang kepercayaannya itu sudah mengerti tanpa ia menjelaskan secara detail.
"Aaarh ... aku sangat yakin jika Vicky sudah mengetahuinya meskipun belum menikah karena ia sangat cerdas dan cepat tanggap mengenai masalah apapun yang kuperintahkan padanya."
Christian masih menunggu pesannya dibaca oleh Vicky, tapi beberapa detik menunggu tidak kunjung centang biru dan membuatnya tidak sabar. Jadi, seketika ia memencet tombol panggil dan menunggu hingga mendapatkan jawaban.
"Ke mana dia? Apa sudah berangkat ke rumah sakit atau masih di apartemen?" Christian saat ini menatap mesin waktu yang ada di ponsel miliknya.
"Vicky harus berangkat bekerja nanti dan tidak boleh terlambat karena akan mendapatkan kemurkaan dari Ana. Aku tidak ingin Ana curiga pada Vicky. Jika sampai Vicky mendapatkan interogasi dari Ana yang sangat perfeksionis, bisa-bisa, namaku ikut tersangkutpautkan."
Christian saat ini berjalan menuju ke arah pintu keluar dan melihat ke kanan kiri untuk memeriksa apakah ada tanda-tanda kedatangan asisten pribadinya, tapi karena belum ada, ia kembali masuk ke dalam.
Karena tidak ingin membuang waktu untuk bersantai, Christian saat ini menyiapkan uang Dollar dari dalam tas kecil miliknya yang disimpan di laci. Ia mengambil 2000 Dollar yang jika ditukarkan dengan nilai rupiah sekitar 30 juta.
Kemudian menatap ke arah Laura saat memegang 20 lembar uang yang saat ini berada di tangannya. "Laura, maafkan aku karena hanya bisa menikahimu dengan ini karena hanya seadanya dan tidak ada persiapan sama sekali."
"Aku tidak bisa menikahimu secara resmi maupun besar-besaran karena statusku yang merupakan istri Ana. Aku harap kamu bisa mengerti dan tidak mempermasalahkan ini."
Christian mengingat jika mahar yang dulu diberikan pada Ana saat menikahinya, masih dipajang di dinding kamar dengan pigura yang sangat cantik.
Sementara sekarang, ia hanya memegang mahar yang akan diberikan pada Laura hari ini dan merasa bersalah karena tidak membuatnya lebih indah dipandang mata.
"Tidak apa-apa, kan Sayang? Aku tidak ada persiapan untuk membuat mahar untukmu menjadi lebih indah. Nanti aku akan menyuruh Vicky mengurusnya jika sudah selesai pernikahan dan kita sudah sah menjadi pasangan suami istri."
__ADS_1
Saat Christian baru saja menutup mulut untuk menyelesaikan perkataannya, seketika menoleh ke arah pintu karena terdengar suara ketukan dari luar dan berpikir bahwa itu adalah asisten pribadinya.
Hingga ia segera bangkit dari kursi karena berniat untuk membuka pintu demi memastikan bahwa itu bukanlah orang lain. Apalagi sama sekali tidak ada suara dan juga orang di luar belum masuk setelah mengetuk pintu.
Begitu melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu dan begitu terbuka, ia saat ini melihat 4 pria yang berdiri di hadapannya dan langsung membungkuk hormat padanya.
"Selamat pagi, Tuan Christian. Saya adalah Rudi yang merupakan teman baik Vicky dan membawa penghulu untuk menikahkan serta sekalian membawa saksi," sapa Rudi yang membungkuk hormat dan mengulurkan tangan.
Refleks Christian saat ini mengulurkan tangannya untuk menyambut dan menganggukkan kepala mengerti. Ia pun menjelaskan tentang pernikahan yang akan dilakukan.
"Oh iya, silakan masuk." Christian merasa sangat lega karena kekhawatirannya sudah tidak lagi membuatnya harus memutar otak.
Saat hendak masuk tadi, merasa heran karena Vicky belum datang. "Kenapa Vicky belum datang juga?"
"Tadi ia mengatakan sudah di jalan karena sebelum ke sini, mengambil cincin kawin terlebih dahulu," ucap Rudi yang ingin mengobati rasa penasaran dari pria yang terlihat sangat tampan serta gagah dan semua barang yang melekat di tubuhnya seolah sangat pantas dan pas.
Bahkan ia merasa jika pria di hadapannya tersebut tidak ada celah dan segala kesempurnaan dimiliki, sehingga membuatnya merasa kagum pada bos sahabatnya yang merupakan pria konglomerat dan pemimpin perusahaan besar yang terkenal di Jakarta.
Ia pun beralih menatap ke arah mempelai pengantin wanita yang saat ini masih memejamkan mata dengan banyak alat di tubuh dan membuatnya merasa sangat iba.
'Pria ini benar-benar adalah orang yang sangat luar biasa karena berniat untuk menikahi wanita yang bahkan mungkin tinggal menghitung hari menuju ke alam lain,' gumam Rudi yang saat ini mendengarkan tentang penjelasan wali nikah sebelum memulainya sambil menunggu kedatangan Vicky.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dan sudah bisa ditebak oleh semua yang ada di dalam ruangan tersebut.
Christian yang baru saja berbicara dengan wali nikah, kini bisa melihat pintu terbuka dan sang asisten sudah melangkah masuk sambil membawa paper bag.
"Selamat pagi, semuanya. Maafkan saya karena datang terlambat," ucap Vicky yang saat ini membawa kotak berisi cincin pernikahan dan langsung diserahkan ke pada atasannya.
"Ini cincin kawinnya, Tuan Christian." Vicky saat ini bertanya-tanya apakah bosnya tersebut akan melepaskan cincin kawin yang sudah 10 tahun melingkar di jari manis.
Hingga pertanyaannya terjawab sudah karena saat ini melihat bosnya tersebut menerima kotak yang diberikan dan langsung melepaskan cincin kawin yang mengikat selama 10 tahun.
Ia sebenarnya merasa sangat iba melihat bosnya tersebut ketika ragu-ragu melepaskan cincin yang selama ini tidak pernah dilepaskan.
'Pasti itu sangat berat untuk tuan Christian, tapi ia adalah seorang pria hebat dan sangat kuhormati karena menikahi wanita yang mengalami kemalangan dan tidak punya siapa-siapa yang bisa diandalkan.'
To be continued...
__ADS_1