
Sosok pria paruh baya yang saat ini baru saja keluar dari ruangan meeting setelah resmi mengumumkan jika putranya yang akan menggantikan posisinya untuk memimpin perusahaan.
Dengan alasan bahwa usianya sudah tua dan tidak lagi kuat mengurus perusahaan, sehingga mengangkat putranya yang bernama Andika Syaputra berusia 30 tahun yang kini berjalan di sebelahnya.
"Selamat, Putraku! Kamu harus memajukan perusahaan agar semakin berkembang dengan lebih baik dari sebelumnya." Rendy Syaputra kini menepuk bahu putranya dan mendapatkan sebuah senyuman.
Andika Syaputra yang kini sudah menjadi seorang CEO di perusahaan Prameswari, sebenarnya hanya berakting bahagia di depan sang ayah. Seolah menunjukkan jika ia sangat senang dengan pengangkatannya sebagai seorang CEO.
Padahal ia tadi bisa melihat tatapan dari beberapa orang yang seolah meremehkannya. Ia sangat yakin mereka berpikir jika ia hanya sementara duduk di kursi kepemimpinan yang nantinya akan direbut oleh putri kandung
'Rasanya aku tadi ingin mencongkel mata para pemegang saham itu yang berada di pihak Laura dan sangat menantikan kepulangannya.' Andika sibuk mengumpat di dalam hati karena selalu hidup dalam bayang-bayang Prameswari Grup yang didirikan oleh pamannya.
Bahkan dari dulu selalu mendengar banyak gunjingan miring dari orang-orang jika keluarganya bisa menikmati kemewahan karena harta dari pamannya yang telah meninggal karena kecelakaan.
Seolah ia dari remaja harus kenal dengan gunjingan itu dan sekarang kembali merasakan sendiri bagaimana saat beberapa pemegang saham yang tidak berada di pihak ayahnya menatap penuh cemooh.
'Aku sebenarnya sangat muak dengan ini semua, tapi jika tidak mengambil alih perusahaan mulai dari sekarang, akan diambil oleh Laura. Tidak, aku tidak mau kerja keras papaku selama 8 tahun ini sia-sia saat Laura kembali.'
Andika Syaputra kini tersenyum pada sang ayah dan kembali melanjutkan akting seperti layaknya aktor terkenal. "Tentu saja aku akan membuat perusahaan kita menjadi semakin terkenal, Pa."
"Papa tidak perlu khawatir dan serahkan semuanya padaku." Andika kini berjalan di samping sang ayah yang tengah menuju ke ruangan kerjanya.
Ia saat ini tengah menatap ke arah ruangan kerjanya yang baru karena kemarin masih menjadi wakil direktur. Kini, ia sudah melangkahkan kaki panjangnya memasuki ruangan yang selama ini ditempati sang ayah.
"Ini ruanganmu sekarang, Putraku. Papa sekarang hanya akan berada di belakang layar saja karena sudah tua." Rendy Syaputra kini melambaikan tangan pada putranya agar mendekat ke kursi kerjanya yang selama ini ia tempati.
"Duduklah di sana, Putraku."
"Iya, Pa," sahut Andika yang kini tersenyum pada sang ayah dan langsung mendaratkan tubuh di kursi kerjanya. "Wah ... ternyata kursi kerja Papa sangat nyaman dan berbeda dengan kursiku selama ini."
Bahkan Andika sudah berputar-putar karena saat ini ia ingin menikmati kenyamanan ketika duduk di kursi kebesaran sang ayah selama 8 tahun terakhir.
Rendy hanya tertawa melihat sikap putranya yang seperti anak kecil dibelikan es krim. "Kursi itu memang nyaman, tapi banyak beban yang harus kamu tanggung. Jangan sampai kamu membuat perusahaan hancur karena melakukan kesalahan."
Meskipun sebenarnya sangat tidak bersemangat karena memimpin perusahaan yang bukan miliknya, Andika saat ini hanya tersenyum simpul sambil mengangkat kedua ibu jari.
"Siap, Pa. Percaya padaku karena aku tidak akan mengecewakan kepercayaan Papa. Oh iya, Pa. Bukankah tahun ini Laura menyelesaikan studinya di New York? Jadi, apa ia kembali ke Jakarta sebentar lagi?"
Selama ini Andika tidak ingin tahu tentang sepupunya, tapi karena mengetahui jika tahun ini Laura mendapatkan gelar, jadi merasa sangat penasaran dengan apa tanggapan sang ayah.
__ADS_1
Ia bahkan heran kenapa sang ayah memberikan jabatan padanya saat Laura akan kembali, jadi ingin meminta penjelasan.
Sementara itu, Rendy yang saat ini hendak menjawab, mendengar suara dering ponsel miliknya dan memberikan kode pada Andika karena ia mau menjawab panggilan di luar.
Itu karena yang menelpon adalah pelaku yang mencopet tas milik Laura di bandara. Ia memberikan tugas masing-masing untuk mencopet serta melakukan eksekusi untuk keponakannya.
"Iya, Pa," sahut Andika Syaputra yang merasa sangat aneh kala sang ayah menjawab telpon di luar. Namun, ia memang tidak mau bertanya karena ayahnya tipe pria tertutup yang tidak pernah menceritakan hal-hal mengenai rencananya.
Sementara itu, Rendy Syaputra saat ini sudah berada di luar ruangan dan ia mendengar suara bariton dari seberang telpon setelah menggeser tombol hijau ke atas.
"Tuan Rendy, saya sudah mengamankan tas milik wanita itu. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Apakah mengantar tas ini ke kantor atau bertemu di mana?"
Rendy saat ini melihat mesin waktu di pergelangan tangan kirinya dan karena mendekati jam menemui salah satu klien, kini ia langsung membuka suara.
"Temui aku sekarang di restoran yang berada di dekat perusahaan. Aku akan ke sana sebentar lagi."
"Siap, Bos."
Kemudian mematikan sambungan telpon dan kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jasnya. Ia pun kembali masuk ke ruangan yang menjadi tempat kerja putranya.
"Papa harus menemui klien dulu untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar lengser dan bersantai di rumah. Bekerjalah dengan baik. Papa pergi dulu ke restoran sebelah." Rendy yang kini berbalik badan dan berniat untuk keluar dari ruangan, kembali mendengar suara bariton dari putranya.
"Papa belum menjawab pertanyaanku!" Andika benar-benar merasa seperti orang yang dicueki karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Nanti kau akan tahu jawabannya saat tiba masanya, Andika!" Kemudian berlalu pergi meninggalkan putranya yang dianggap sangat penasaran dengan nasib akhirnya.
Ia bahkan saat ini bersemangat karena sebentar lagi akan mendapatkan semua barang-barang dari keponakannya dan beberapa saat kemudian, melihat foto yang dikirimkan dari salah satu anak buahnya.
Bahwa gambar itu berisi gambar taksi yang terbalik dan dibelakangnya ada truk besar yang membuatnya kini tersenyum puas. 'Apa kamu sudah menyusul orang tuamu, Laura?'
Ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir menuju ke restoran karena ingin memastikan apakah keponakannya mati di tempat atau masih hidup.
"Bagaimana? Apa ia langsung meninggal?" tanya Rendy dengan wajah penuh raut penasaran.
"Belum, Tuan Rendy karena wanita itu masih bernapas dan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Saya tidak bisa ke rumah sakit karena khawatir akan dicurigai oleh para polisi. Apalagi tadi para polisi seperti mencium ada motif terselubung dan menduga adalah sebuah percobaan pembunuhan."
Saat ini Rendy mengepalkan tangan kanan, sedangkan tangan kiri masih memegang ponselnya. "Dasar bodoh! Bagaimana bisa para polisi mencium motif kita? Jika sampai kau menyebut namaku, aku akan memotong lehermu!"
Rendy kini langsung mematikan sambungan telpon karena menganggap jika anak buahnya tidak berguna. "Dasar tidak berguna!" umpatnya dengan wajah penuh dengan kilatan amarah.
__ADS_1
Sementara itu, sang supir yang baru saja berbelok ke parkiran, kini memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia. Kemudian menunggu hingga deru napas majikan tenang sebelum berbicara.
Tentu saja ia tidak ingin menjadi tempat pelampiasan amarah selanjutnya dan membuatnya mendapatkan kemurkaan seperti dipotong leher. Hingga beberapa saat kemudian, ia melepaskan sabuk pengaman dan menoleh ke belakang.
"Kita sudah tiba di restoran, Tuan."
Rendy yang kini mencoba untuk mengendalikan dirinya, seketika beranjak keluar dan berjalan menuju ke arah pintu masuk restoran. Ia harus segera mendapatkan tas milik Laura dan menyembunyikan di tempat aman.
Begitu melihat pria dengan mengenakan jaket dan topi hitam, segera menghampiri dan duduk di hadapannya. Kemudian menerima tas yang dari tadi dipangku oleh pria itu.
"Dasar bodoh! Seharusnya kau buang tas ini dan mengambil isinya, lalu memberikan padaku. Kau akhirnya menjadi pusat perhatian dari orang-orang!" Rendy kini mengarahkan tatapan tajam pada pria di hadapannya.
Bahkan ia tadi bisa mendengar percakapan sekilas dari beberapa wanita yang mengetahui dunia fashion bahwa tas milik keponakannya memiliki harga yang tidak murah.
Namun, ia tidak ingin memusingkan hal itu karena segera memeriksa isi dari tas itu. Mulai dari dompet berisi uang dollar, paspor, make up, ponsel dan masih banyak lagi.
Ia saat ini hanya tertarik dengan ponsel keponakannya dan langsung mengambilnya dari dalam tas. Hingga ia pun merasa kesal karena tidak bisa membukanya.
"Kenapa harus pakai sandi segala?" Beralih menatap ke arah pria di hadapannya. "Apa kau bisa membereskan ini?"
"Wah ... tidak bisa, Bos. Kalau salah sampai beberapa kali, itu akan dikunci total dan akhirnya tidak bisa dibuka." Pria dengan topi hitam itu hanya sekedar berbagi pengalaman karena ia tidak ingin nasib serupa pada ponsel di tangan bosnya.
Bisa-bisa ia nanti malah mendapatkan sebuah kemurkaan dari bosnya tersebut. Jadi, memilih jalur aman saja.
"Astaga! Kenapa dari tadi kalian membuatku benar-benar marah? Kalian benar-benar membuat tensiku naik!" sarkas Rendy yang kini bangkit berdiri dari kursi dan menatap pria itu. "Aku akan mentransfer uangnya."
"Terima kasih, Bos." Bangkit berdiri dan membungkuk hormat pada pria paruh baya yang kini berlalu pergi darinya.
Kemudian ia pun kembali duduk karena ingin memesan makanan. Apalagi sudah mendapatkan bayaran atas kerjanya hari ini.
Di sisi lain, Rendy Syaputra kini sudah kembali ke dalam mobil sambil membawa tas milik keponakannya. Karena suasana hatinya tidak baik, ia ingin kembali ke rumah dan tidak jadi menemui rekan bisnis.
Ia mengirimkan pesan pada rekan bisnis sekaligus teman baiknya itu untuk menunda pertemuan hari ini. Hingga ia pun membuka suara setelah supir mengemudikan mobil meninggalkan area restoran.
"Kembali ke rumah!"
"Iya, Tuan." Kemudian menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan saat membelah lalu lalang kendaraan di ibu kota.
Rendy saat ini mengirimkan pesan pada detektif untuk mencari tahu keadaan Laura di rumah sakit karena ia tidak ingin namanya terseret atas kasus kecelakaan.
__ADS_1
'Aku akan melakukan rencana selanjutnya setelah mengetahui keadaan Laura,' gumam Rendy Syaputra yang kini bersandar pada kursi mobil dan ada banyak hal yang kini dikhawatirkan jika Laura masih hidup.
To be continued...