
Beberapa saat lalu, Renita Padmasari yang merasa bersalah sekaligus iba mendengar suara menyayat hati dari Laura, kini langsung memeluk wanita yang tengah menggendong sang cucu.
Apalagi kalimat menyayat hati membuatnya tidak bisa lagi berkata-kata saat Laura menyebut mesin pencetak anak. Padahal sebenarnya Christian tidak pernah sekalipun menganggap Laura seperti itu karena benar-benar memiliki perasaan pada menantu kesayangan tersebut.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu seolah kamu bukanlah seorang wanita berharga. Kamu adalah seorang wanita berharga karena telah melahirkan Valerio ke dunia ini dan menjadi pelengkap hidup kami. Kamu pasti akan hidup berbahagia suatu saat nanti." Mengusap lembut punggung menantu yang sudah dianggap seperti putri kandung sendiri tersebut.
Ia saat ini tidak bisa menyalahkan putranya yang sangat khawatir pada keadaan Ana karena penyakitnya semakin parah. Jadi, berpikir bahwa saat ini hanya bisa menghibur Laura agar tidak semakin terpuruk.
"Lebih baik kita pergi dari sini dan membawa Valerio agar tidak rewel saat mengingat Ana. Kamu juga butuh refreshing agar tidak terus memikirkan hal-hal yang membuatmu bersedih." Ia saat ini menatap arah cucunya yang masih berada di gendongan Laura sambil memainkan robot-robotan.
Jadi, merasa lega karena tidak membuatnya kesusahan menjaga cucunya tersebut yang selalu tantrum ketika mengingat sang ibu.
Laura saat ini mengangguk lemah karena berada di rumah sakit membuatnya benar-benar stres. Apalagi bertemu dengan pria yang menjadi penyebab penderitaan, semakin membuatnya sakit kepala.
Hingga ia pun saat ini melangkah menuju ke arah lift bersama dengan wanita paruh baya tersebut menuju ke lobby rumah sakit. Ia sebenarnya ingin menunggu sampai perawat dan dokter keluar agar mengetahui apa yang terjadi pada Ana.
Hingga ia kini menoleh pada mertuanya setelah memasuki lift. "Mama tidak mau menunggu sampai mengetahui apa yang terjadi pada Ana?"
Refleks Renita Padmasari langsung menggiringkan kepala. "Ana saat ini sudah mempunyai Christian yang mencurahkan seluruh perhatian padanya. Jadi, bukankah sangat wajar jika saat ini Mama memilih bersamamu?"
Ia sebenarnya sama-sama tidak tega pada Ana dan Laura karena yang terjadi saat ini juga disebabkan oleh putranya yang berhubungan dengan dua wanita. Jadi, merasa ikut bertanggung jawab dan berharap perbuatan kecilnya yang menghibur Laura bisa sedikit menghibur wanita itu agar tidak selalu merasa terpuruk.
Apalagi tidak pernah bisa merawat putra yang dilahirkan dengan taruhan nyawa dan malah direbut secara diam-diam oleh Christian.
Laura sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena berpikir jika ia harus menerima nasib buruk yang saat ini menimpanya. Ia memilih untuk masuk ke dalam mobil setelah beberapa saat kemudian berjalan menyusuri lobi perusahaan menuju parkiran.
"Sebaiknya selama beberapa hari ini, Mama tidur di apartemenku karena kita tidak tahu jika sewaktu-waktu wanita itu ingin melihat Valerio." Meskipun sebenarnya sangat sakit mengatakan itu, tetap saja tidak ingin membalas dendam pada saat wanita itu lemah.
'Jika dia sehat, mungkin aku sudah menarik rambutnya dan menamparnya karena telah merebut putraku yang susah payah kulahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Namun, di saat seperti ini, mana mungkin bisa melakukannya karena hanya akan membuatku terlihat seperti seorang pengecut dan pecundang,' gumam Laura yang saat ini sudah mengemudikan mobil mewah berwarna merah miliknya keluar dari area Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan, ia sibuk dengan pemikirannya mengenai bagaimana keadaan Ana dan lamunannya seketika buyar begitu mendengar suara dering ponsel milik sosok wanita paruh baya yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Bahkan ia saat ini bisa mendengar suara dari Christian karena mertuanya sengaja memasang loudspeaker saat menjawab telepon dari putranya.
"Ana akan dioperasi karena sel kanker makin menyebar dan satu-satunya jalan hanyalah itu. Jadi, kalau bisa Mama dan Laura menenangkan Valerio tanpa membawanya menemui Ana. Suasana hati Ana semakin memburuk karena memikirkan operasi. Dia selalu menyebut kematian semenjak penyakitnya makin parah," ujar Christian yang saat ini berharap jika Ana sudah tidur dan tidak lagi berpikir macam-macam.
Ia sengaja duduk di luar saat menelpon sang ibu karena berpikir jika suaranya akan mengganggu Ana.
Renita Padmasari saat ini menatap ke arah Laura. "Bagaimana, Sayang? Kita harus bekerja sama untuk membuat Valerio tidak mengingat Ana."
Laura saat ini terpikirkan untuk membeli banyak mainan menarik agar putranya tidak bosan berada di rumah. "Aku akan melakukan apapun untuk membuat putraku betah di apartemen dan tidak mengingat wanita itu, Ma."
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan pindah ke apartemenmu untuk beberapa hari ke depan. Kita bersama-sama mengambil hati Valerio dengan memanfaatkan situasi ini." Kemudian kembali berbicara di telepon dengan putranya agar tidak memikirkan Valerio.
"Kamu fokus saja mengurus Ana. Mengenai Valerio, serahkan pada kami. Semoga operasinya berjalan lancar dan Ana bisa kembali sembuh seperti sedia kala." Kemudian ia langsung mematikan sambungan telepon setelah putranya mengaminkan doanya.
Saat ia memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas, beralih menatap ke arah sang cucu yang malah tertidur di pangkuannya. "Lihatlah, Valerio pasti sangat kelelahan. Jadi, sampai tertidur sambil memeluk robotnya."
Laura sekilas menatap ke arah putranya yang seperti malaikat kecil saat tertidur pulas dan selalu membuatnya ingin mencium dengan penuh kasih sayang. "Pasti sangat lelah, Ma. Bukankah biasanya anak kecil selalu beristirahat saat siang hari? Makanya sudah terbiasa."
"Di jalan raya kebut-kebutan seperti punya nyawa sepuluh saja!" umpatnya yang kini menatap ke arah Laura. "Dulu saat kamu kecelakaan, pasti sopir truk itu juga kebut-kebutan dan beralasan rem blong untuk menghindar dari hukuman." Ia masih menatap ke arah wanita dibalik kemudi tersebut.
"Luka jahitan di kepalamu bahkan cukup panjang, Sayang. Saat itu Mama benar-benar tidak tega melihat fotonya karena Christian menyimpannya." Hingga ia teringat akan sesuatu hal yang hampir terlupakan.
"Oh iya, saat itu Christian pernah bercerita sekilas tentang sopir yang menabrak taksi yang kamu tumpangi, Laura. Dia sebentar lagi bebas dengan jaminan. Itu benar-benar tidak masuk akal." Kemudian beralih menatap ke arah jalanan ibukota yang padat merayap.
Sebenarnya orang yang membebaskan pria tersebut adalah Mario setelah membayar jaminan. Ia sengaja melakukannya untuk mendapatkan semua saksi dari kejahatan yang dilakukan oleh pamannya agar bisa dengan mudah menjebloskan ke dalam penjara dalam waktu dekat ini.
Laura saat ini terdiam karena tidak berniat untuk menceritakan rahasia besar mengenai kehidupannya yang merupakan seorang putri dari pemilik Prameswari Grup.
"Mungkin dia mendapatkan belas kasih dari seseorang yang ingin membebaskannya. Makanya bisa keluar dari penjara dengan cepat." Laura sebenarnya tidak sabar untuk ketemu dengan orang yang telah membuatnya hilang ingatan karena ingin menghajarnya untuk meluapkan amarahnya.
Namun, tetap harus bertahan dan bersabar sampai saat itu tiba. Ia makan sudah mengamankan istri dan anak sopir tersebut agar tidak kabur darinya dan mau menuruti perintahnya untuk bersaksi di depan polisi serta pengadilan suatu saat nanti.
__ADS_1
Hingga yang dikemudikan berhenti di depan area pusat mainan anak-anak dan setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia, Laura berjalan keluar dan langsung masuk ke toko.
Ia yang tidak tahu kesukaan dari putranya, ini bertanya pada pegawai toko untuk menunjukkan rekomendasi mainan. Laura mengatakan jika putranya masih berusia satu tahun dan perlu berhati-hati saat membelikan mainan.
Kemudian ia mulai ditunjukkan beberapa mainan untuk anak berusia 1 tahun dan aman dari berbagai macam bahaya. Setelah memilih dan memilah yang cocok untuk putranya, ia langsung mendorong troli berisi banyak aneka mainan tersebut menuju ke kasir.
Setelah membayar dengan kartu kredit, kini langsung minta bantuan pegawai untuk membawa ke mobilnya dan memberikan tips.
"Terima kasih." Laura tersenyum begitu pria yang tadi diminta tolong sudah berlalu pergi setelah mengucapkan terima kasih kembali padanya atas tips yang diberikan.
Saat hendak masuk ke dalam mobil kembali, ia yang berjalan ke depan, sangat terkejut ketika ditabrak oleh seorang pria yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Namun, ia seketika merasakan kenyerian luar biasa di bagian belakang tubuhnya dan membuatnya langsung memeriksa dengan tangan sebelah kiri. Laura seketika membulatkan mata begitu menyadari jika pria yang tadi menabraknya dari belakang ternyata menancapkan pisau di pinggangnya.
"Aaaarggghh ... siapa pria itu? Kenapa melakukan ini padaku?" lirih Laura yang saat ini meringis menahan kesakitan luar biasa dan darah sudah memenuhi pakaiannya.
Ia yang merasa pandangannya semakin gelap, kini mencoba untuk berpegangan pada body mobil agar tidak terjatuh ke aspal. Hingga ia mendengar suara dari mertuanya yang baru saja keluar dari mobil dan menghampirinya sambil menggendong putranya.
"Laura, apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat sangat pucat?" Renita Padmasari yang merasa ada yang tidak beres, kini langsung menghampiri menantunya untuk memastikan apa yang terjadi.
Ia seketika membulatkan mata begitu melihat bagian belakang menantunya sudah bersimbah darah. Refleks ia berteriak dengan sangat kencang karena mengkhawatirkan keadaan wanita yang sudah jatuh terduduk di sebelah mobil.
"Laura, Menantuku! Tolong! Ada orang jahat yang melukai menantuku!" Ia saat ini berteriak sambil mengedarkan pandangan ke keliling untuk meminta bantuan karena tidak bisa menghadapi sendiri musibah yang dialami oleh menantunya.
Hingga beberapa saat kemudian banyak orang yang datang untuk membantu. Bahkan langsung membawa masuk tubuh wanita yang sudah kehilangan kesadaran tersebut ke dalam mobil.
Renita Padmasari menyuruh orang untuk mengemudikan kendaraan menuju ke Rumah Sakit yang sama dengan Ana. Bahkan ia langsung menghubungi putranya dan mengatakan apa yang terjadi.
"Laura, siapa orang yang berbuat jahat padamu, Sayang?" lirihnya dengan suara bergetar dan bola mata berkaca-kaca.
To be continued...
__ADS_1