365 Days With You

365 Days With You
Kamu sangat jahat


__ADS_3

Kesibukan tiga orang di dalam ruang bersalin masih berlanjut. Seorang suster menemani pasien dan berdiri di samping wanita itu. Menenangkannya dan memberi semangat pada wanita itu agar tidak menyerah.


Suara tangis bayi menggema mengisi ruang bersalin. Wanita itu mengembuskan napas lelah.


Suster yang mendampingi wanita itu membantu menyeka lelehan keringat yang bercampur dengan air mata.


“Selamat, Nyonya. Anda sudah berhasil melalui perjuangan keras ini,” puji sang suster sembari menerbitkan senyum dikedua sudut bibirnya.


Laura hanya membalas ucapan sang suster dengan sebuah senyum tipis. Ia menghela napas lega. Suster yang mendampingi membantu rekannya yang lain di sana.


“Selamat, Nyonya Laura. Bayi Anda laki-laki, lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Putra Anda lahir dengan berat 3,5 kg dan panjang 50 cm. Dia sangat tampan.” Dokter meletakkan bayi itu dia atas dada sang ibu guna melakukan kontak skin-to-skin dan Inisiasi Menyusui Dini.


Laura tidak bisa membendung rasa haru dan syukurnya saat melihat bayi mungil tersebut. “Terima kasih, Dokter,” ucap Laura dengan tatapan penuh haru.


Setelah melakukan IMD, perawat membawa bayi mungil itu untuk dibersihkan dan melakukan beberapa prosedur lainnya.


Dokter juga masih melakukan penanganan pada sang ibu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari proses melahirkan yang Laura lewati.


“Apa saya masih bisa melihat putraku, Dokter? Apa dia akan ditempatkan diruang terpisah dengan saya?” tanya Laura pada dokter yang baru saja selesai melakukan penanganan untuk ibu pasca melahirkan.


Dokter wanita itu tersenyum lembut sembari menatap Laura. “Bayi Anda lahir tanpa masalah. Anda tidak perlu khawatir."


"Suster akan segera membawanya kembali kemari setelah selesai dibersihkan. Anda juga bisa tidur bersama degan bayi Anda, Nyonya Laura,” jawab sang dokter.


Laura menghela napas lega mendengar penuturan dokter wanita itu. Ia pikir akan terpisah dengan putranya.


Rasa sakit akibat kontraksi yang Laura alami memang sudah hilang, tetapi sakit akibat luka tak kasat mata di hatinya, masih belum hilang. Ia saat ini benar-benar kecewa.


Laura menatap bayi berkulit putih tersebut. Hidung mancung dan bibir mungil menjadi penyempurna wajah tampan putranya. Ditambah lagi dengan alis tebal dan bulu mata lentik yang membingkai indah. Sempurna.


“Kamu terlihat tampan seperti papamu, Putraku,” ucap Laura dengan bulir air mata yang menganak sungai di pipi. Wanita itu mengulas senyum tipis saat melihat bibir mungil itu yang bergera-gerak.


Sementara di luar, derap langkah dari dua orang pria menggema di lorong rumah sakit. Suara decitan dari sepatu dan lantai rumah sakit mendominasi.


Sesuai dengan permintaan Ana, wanita itu mengizinkan suaminya pergi ke rumah sakit bersama satu orang suruhannya.


Christian sudah mendapat kabar dari dokter yang menangani Laura jika istri sirinya sudah melahirkan satu jam lalu. Kebahagian di hatinya membuncah manakala ia mendapat kabar jika Laura telah melahirkan seorang bayi laki-laki.


Laura mengalihkan pandangan dari putranya. Mata wanita itu memicing saat menyadari siapa yang datang.


“Sayang.” Christian tersenyum lembut menghampiri istrinya. Sebuah kecupan mendarat di kening wania itu. “Terima kasih,” sambungnya.

__ADS_1


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Laura. Ia hanya menatap pria yang terlihat begitu bahagia itu dengan tatapan kecewa.


‘Apa dia benar-benar bahagia dengan kelahiran buah cinta mereka?’ tanya Laura di dalam hati.


Lekas Laura menggeleng. Tidak. Ia tidak boleh tertipu lagi dengan wajah bak malaikat penolong milik pria itu. Itu bukan buah cinta mereka. Namun, itu adalah kebodohan Laura yang sudah percaya dengan pria yang dianggap sebagai dewa penolongnya.


Laura ingat jika Ana Maria mengatakan usia pernikahan mereka sudah bejalan selama sepuluh tahun. Itu artinya Christian juga mempunyai anak dari pernikahan pertamanya. Nyatanya Christian tidak mencintainya, bukan? Itulah isi pikiran Laura saat ini.


“Lihat, bukankah putraku sangat tampan?” tanya Christian.


Pria itu beralih sejenak untuk menatap Laura, kemudian kembali menatap bayi mungil itu dengan binar kebahagiaan.


Tangan Christian terulur untuk mengusap pipi bayi mungil tersebut.


Kemudian beralih pada jemari mungil yang bergera-gerak. “Lihat, Sayang. Dia menggenggam jari telunjukku,” ucap Christian dengan antusias.


Laura membeku. Matanya tak beralih barang sedetik pun dari Christian. Ia tidak menemukan sebuah sandiwara di sana.


Sang suami benar-benar bahagia melihat putra mereka. Apa itu artinya benar-benar mencintainya dan menyayangi bayi mereka?


“Kamu begitu tampan dan menggemaskan, Valerio,” ucap Christian lagi.


“Ya. Namanya Valerio Immanuel,” jawab Christian. “Aku sudah menyiapkan nama itu untuk putraku,” sambungnya.


“Putraku? Aku yang mengandung dan mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. Apa kamu lupa itu?” sentak Laura menjadi emosi karena sebuah kata yang Christian ucapkan.


“Sayang. Maksudku, putra kita. Maaf, aku terlalu bahagia mendapat hadiah indah ini,” sanggah Christian. Ia berjalan menghampiri Laura. “Apa kamu tidak menyukai nama yang aku berikan untuk putra kita?”


“Kamu bahkan tidak memberitahuku jika sudah menyiapkan nama untuknya,” ketus Laura.


“Itu karena aku ingin memberimu kejutan,” elak pria itu.


Laura mendengus kesal dan memalingkan tatapan dari suaminya. Tentu saja ia masih sangat marah pada Christian.


Selain kebohongan yang ia terima, juga telah meninggalkannya di saat membutuhkan pria itu untuk mendampingi persalinannya.


“Sayang, maafkan aku. Aku tahu sudah membuat kesalahan besar karena meninggalkanmu. Aku bahkan tidak menemanimu saat berjuang melahirkan putra kita.” Christian meraih tangan Laura dan menggenggamnya. Tidak terlalu erat karena tidak ingin menyakiti wanita itu.


“Apa benar semua yang dikatakan oleh wanita itu?” tanya Laura dengan suara yag sedikit bergetar.


Sebenarnya hatinya masih belum siap untuk mendengar jawaban menyakitkan itu. Namun, nalar terus mendesak dan menuntut sebuah kebenaran dari pria yang ia cintai.

__ADS_1


Tidak ada jawaban yang Cristian berikan. Pria itu hanya diam, menciptakan hening dalam ruangan tersebut.


“Diammu sudah cukup memberi jawaban dari apa yang ada dalam pikiranku,” imbuh Laura.


Ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Christian. Namun, pria itu tidak membiarakan begitu saja.


“Mafkan aku. Aku akan mengatakan semuanya setelah keadaanmu sudah benar-benar pulih.”


“Jelaskan sekarang!” pinta Luara dengan tegas. Ia melepas paksa tangannya dari genggaman Christian.


Laura tersenyum getir dengan iringan air mata yang lagi-lagi meluncur tanpa permisi.


Christian menggeleng dengan tegas.


“Apa aku melakukan kesalahan besar padamu? Kenapa kamu menghukumku sekejam ini? Kamu bahkan tidak memberiku penjelasan apapun. Kamu tahu, sikapmu itu seolah-olah membenarkan jika aku hanyalah wanita perusak hubungan orang,” lirih Laura.


Ia ingin beteriak dan mendaratkan tamparan keras di pipi pria itu. Namun, tenaganya sudah terkuras habis. Laura hanya bisa memukul-mukul pelan dada bidang suaminya.


“Maafkan aku.” Christian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Membiarkan Laura menumpahkan tangisnya di sana.


“Kamu meninggalkanku dan membiarkan aku berjuang sendiri di sini. Ku lebih memilih pergi, menemani dia di sana."


"Kamu telah membohongiku! Membodohi aku dengan statusmu. Menipu aku dengan sikapmu yang bak seorang malaikat. Kamu sudah menorekhan luka di hatiku, Christian, tapi kenapa aku tidak bisa membencimu?" teriak Laura pelan dengan sesenggukan karena isak tangisnya.


Lagi. Christian hanya diam. Ia terus memberi usapan lembut di punggung dan kepala istrinya.


Sementara Laura diam dan tenggelam dalam isaknya. Ia diam dan berpikir apa yang harus dilakukan. Kesalahan Christian cukup besar. Meskipun pria itu adalah orang yang sangat berjasa untuknya, tetapi Laura juga ingin memberi pelajaran pada suaminya itu.


Laura tidak ingin berbagi cinta dengan wanita mana pun. Ia juga yakin jika istri pertama pria itu tidak akan mau berbagi cinta pula.


Jika Christian saja mengawali pernikahan mereka dengan sebuah kebohongan, bukan tidak mungkin pria itu akan terus berbohong pada mereka.


Laura menarik dirinya dari pelukan pria itu dan menatap dengan mata yang masih dipenuhi oleh kabut air mata. “Aku ingin kamu memilih antara aku atau istri pertamamu,” ucap Laura.


Christian tersentak mendengar pertanyaan dari Laura. Ia membulatkan mata, tidak percaya jika Laura memintanya untuk memilih.


“Dokter bilang kamu belum makan. Aku akan meminta perawat untuk membawakanmu makanan,” imbuh Christian mengabaikan pertanyaan Laura. Ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan wanita itu.


“Kamu sangat jahat Christian.” Laura menunduk dengan uraian air mata.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2